Follow Us @jenganten

Thursday, August 30, 2012

Tips : Maskara Sangar

August 30, 2012 10 Comments
Pertama-tama, saya ingin banget ngucapin terima kasih untuk kamu, siapapun kamu, di manapun kamu, yang sedang membaca dan mungkin rajin mengunjungi blog sederhana ini. Banyak kejutan yang menghampiri saya melalui blog ini. Dari follower yang bertambah sedikit demi sedikit, kunjungan yang semakin naik. Satu hal penting yang saya rasa = saya jadi merasa memiliki banyak kawan baru. :’).

Beberapa ada yang bilang kalau mereka telah banyak terbantu dengan membaca blog ini. Ada yang bilang beruntung bisa nemu tips sederhana, review make up yang ramah di kantong, dan ada pula yang minta untuk diajarin. Wow, ini betul-betul membuat saya terharu to the max pokoknya. Padahal saya sendiri masih newbie. Apa yang saya tulis di sini bukanlah hal yang saya dapat dari hasil kursus make up macem-macem atau gimana. Murni dari hasil kepo saya dengan orang-orang lain atau coba-cobi dengan alat make up.

Hehe, seperti biasanya, saya juga mau ngasih sedikit tips lagi. Kali ini tentang hal sederhana lainnya yaitu : Mempertebal maskara.

Aslinya, bulu mata saya ini sangat-sangat tidak sangar. Saya bukan orang yang terlahir memiliki bulu mata panjang lebat sempurna. >.<
Mata asli saya.
Memang dapat diakali dengan bulu mata palsu. Tapi apakah saya mampu menyisakan lima belas menit sendiri setiap hari untuk pasang bulu mata? Ya enggak lah. Rempong banget. Kecuali memang ada acara khusus. Jadi saya mengandalkan maskara. Tapi tidak jarang pula maskara yang saya pakai tidak menghasilkan apa-apa di bulu mata saya. Tidak ada hasil yang signifikan dan masih saya terlihat tipis.

So, jadi harus pakai apa untuk membuat maskara yang sangar? Saya memakai bedak bayi. 

Johnson baby powder dan maskara Pixy
Bedak Johnson Pink Blossom ini favorit saya banget. Teksturnya lembut, aromanya harum dan enggak bikin iritasi. Tapi untuk tips ini, bisa juga memakai bedak bayi merk lain. Maskara Pixy adalah satu-satunya maskara yang sedang saya punyai sekarang. Dia waterproof, dan mudah dipakai. Karena daya simpan maskara itu pendek, saya jadi tidak pernah menyetok maskara. Tidak harus menggunakan maskara bermerk Pixy. Pakailah maskara apapun yang kamu punyai. :)

Jadi caranya adalah begini :


Pakai maskara, lapisi dengan bedak bayi.
1. Rias mata (pake eyeshadow, eyeliner, dsb) terlebih dahulu kalau perlu.
2. Jepit terlebih dahulu bulu mata. Karena jepitan saya hilang, saya menyekip proses ini.
3. Pakai maskara. Saya biasanya memakai dengan gerakan kanan-kiri-atas, geser-geser perlahan di sela bulu mata agar merata.
4. Dengan menggunakan tangan, lapisi bulu mata yang masih basah karena maskara dengan bedak bayi tipis-tipis.
5. Tunggu hingga bulu mata kering.

Lap tipis pakai tissue, pakai maskara lagi, dan hasil akhir.
6. Setelah bedak kering, lap tipis-tipis bedak yang tidak menempel memakai tissue.
7. Ulangi lagi memakai maskara.
8. Jadii.

Hasil akhir. Perbedaan mata yang memakai dan tidak memakai.

Bulu mata sangarku.
  • Membersihkan
Untuk membersihkan pekerjaan sangar macam begini, memang harus sedikit telaten. Memakai eye make up remover atau milk cleanser menurut saya kurang mantep untuk menghilangkan sisa maskara dan bedak. Kita harus menggunakan oil cleanser. Jika tidak ada, dapat memakai olive oil. Jika masih tidak ada, gunakan baby oil.

Saya memakai Cussons Baby Oil.

Cara membersihkan :

Mata dengan baby oil. Ewww.
1. Bersihkan dulu kulit kamu dengan milk cleanser atau cleansing oil, angkat pakai kapas.
    Kenapa muka dulu? Banyak yang lebih suka membersihkan mata dulu, tapi saya lebih suka muka dulu. Karena jika muka belum bersih, proses membersihkan mata kurang maksimal. Tissue-tissue yang harusnya dipakai untuk membersihkan eyeshadow/maskara dkk akan terganggu dengan foundation dari sekitar mata.
2. Olesi bulu mata dengan baby oil dengan cara ditepuk-tepuk
3. Angkat pakai tissue/kapas.
4. Baru bersihkan dengan eye make up remover / cleanser.
5. Cuci muka.
6. Pakai toner.
7. Tidur.
8. Jangan lupa senyum. :)

Adonan Mata
- Viva Eyeshadow Black
- Viva Eyebrow Brown
- My Darling Eyeliner

Harga :
- Pixy Mascara : Rp 34.000,00
- Johnsons's baby powder pink blossom : Rp 6.000,00
- Cussons baby oil : Rp 5.000,00
- Viva Face tonik & Cleanser Green Tea : @ Rp 4.000,00

* harga dapat berbeda-beda di masing-masing tempat.

Cheers, semoga tips ini berguna ya, Jenganten.


XOXO, untuk para Jenganten di manapun kalian berada.

@andhikalady

Updated

Ternyata saudari Jenganten Anita Widi sudah duluan pernah memosting tips serupa di sini . Kebetulan saya memang belum baca, Jenganten. :). Saya mendapat tips ini dari teman saya yang nggak mau namanya disebut. Untuk kesamaan tips dan lain-lain merupakan hal yang nggak disengaja, Jenganten. Stay peace, dan semoga membantu. :)

Tuesday, August 28, 2012

Beauty of Friendship, Reunion

August 28, 2012 2 Comments
Entri ini ditulis untuk memenangkan free entry untuk Looxclass Beauty Blogging & Make Up Workshop Jogja (plus hadiah paket makeup sebesar sampai Rp. 250.000). Klik ini deh untuk detil acaranya : http://www.looxperiments.com/2012/07/yogyakarta-looxclass-beauty-blogging.html dan klik ini deh, kalau mau ikutan blog contest-nya : http://www.looxperiments.com/2012/08/blog-contest-beauty-of-friendship-rules.html

Haloo, Jenganten. Gimana? Sudah baca paragraf pertama postingan ini? Yups, bener banget. Saya sedang bermaksud mengikuti blog-contest dari beauty blog paling hip saat ini, @looxperiments. Bagi yang penasaran, bisa langsung cek di websitenya www.looxperiments.com . 
Di dalamnya ada bermacam-macam review make-up, tips make-up, tips fashion, hasil kompetisi make-up, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan kecantikan. Perempuan banci make-up macam saya tentu saja sangat senang bisa nemu blog semacam ini. Ditambah lagi, setiap dua minggu, Looxperiments selalu mengadakan make-up challenge. Mereka menantang setiap orang -iya, benar, setiap orang, nggak peduli gender, pokoknya suka make up- untuk bermain merias diri dengan tema tertentu yang berbeda-beda setiap edisi. (setiap edisi, kayak sinetron ajah. Hihi). Pokoknya seru deh, sesuai dengan tag mereka, Mari Bermain dengan Make-up.

Tapi, untuk bulan ini, tantangan mereka agak berbeda. Tapi tetap tidak jauh-jauh dari beauty. Mereka menantang setiap orang untuk menulis sesuatu yang bertemakan Beauty of Friendship. Meski bukan tema make-up, tapi tantangan ini menarik juga lho, untuk diikuti. Terimakasih Looxperiments, saya jadi membuka-buka foto lama dengan shabat yang akan saya ceritakan di sini. :).

Bicara soal beauty dan persahabatan, saya langsung teringat dengan salah dua sahabat saya. Mereka teman satu kelas sejak masuk kuliah. Sekarang kami masing-masing sudah bisa disebut menjadi -orang-. Vivi, lulusan tercepat dan mendapat predikat cumlaude. Dia berhasil mendapat beasiswa S2 dari Dikti. Sekarang sedang mengambil gelar master sambil nyambi bekerja. Dua atau tiga tahun lagi barangkali dia sudah berhak memegang title Bu Dosen. Eka, yang ternyata di tahun kedua kuliah dia diterima di STAN dan sekarang sedang berkutat dengan tugas akhir, wisuda dan penempatannya. Tidak lama lagi, pasti dia sudah mengantongi Blackberry edisi terbaru, atau iPad seri terakhir, atau melingkarkan cincin kawin di jari manisnya. Saya, yeah, meskipun judunya kuliah sambil bekerja, kini saya masih berkutat di skripsi S1, pun masih galau menyoal asmara. Menyedihkan? Mungkin. Tapi saya sangat bersyukur dengan apa yang saya miliki sekarang. Karena saya -boleh jadi- bisa lah, disebut sebagai blogger yang suka jalan-jalan.
Re : -jalan-jalan di pikiran kamu- Hehe. :)

Kalau ngobrolin tentang -sudah jadi apa kami sekarang- saya jadi teringat masa-masa di saat kami masih menjadi sekelompok wanita yang suka ngeluyur dari jam kuliah dan makan pizza mie. Itu loh, indomie yang disajikan dengan omelet telur dadar. Atau menggosip tentang daftar pria kece no #1 di kelas kami. FYI, wanita merupakan makhluk langka di kampus kami. Saking banyaknya makhluk bergen Y di sana, sehingga kami mudah sekali menyusun daftar cowok paling hip se-antero kampus. Tapi ujung-ujungnya pasti kembali ke daftar kelas sendiri. Makan kisah temen sendiri, berbisik tentang mas X,Y,Z yang tiba-tiba tertidur di kelas sambil memuntahkan ilernya. Salah satu dari kami, Vivi bahkan berhasil mendekati salah satu pria di kelas. Tapi entah karena sebab yang tidak diinginkan, pendekatan itu bubar jalan.

Pernah suatu ketika kepanitiaan membutuhkan uluran tenaga kami untuk menjadi pemandu ospek. Kami bela-bela tidak liburan pertengahan tahun, demi cari muka dan caper terselubung dengan brondong menjadi mahasiswa yang berguna dan berdedikasi bagi lembaga kepanitiaan.  Karena lokasinya paling dekat kampus, kost saya selalu menjadi basecamp pujaan kami, bahkan hingga sekarang. Di dalamnya kami menonton film Korea sampai pagi, menyeruput kopi, bermasker atau ngemil melebarkan badan saya. Pernah pula kami mencuci rok hitam yang setadi siangnya baru dipakai berkubang rumput basah di lapangan, tapi harus dipakai keesokan harinya untuk memandu ospek lagi. Hai, Vi, ingat ketika kita memutar-mutar rok seperti Bruce Lee memainkan rantai andalannya, di jemuran supaya airnya cepat tiris? Hihi :)

Tugas kuliah merupakan hal yang tidak bisa dihindari. Kami pernah bareng-bareng menggotong PC dan seperangkat monitor tabung milik saya ke salah satu kost teman untuk membuat tugas jaringan. Atau pernah juga copy-paste tugas pemrograman dari teman yang mahir bahasa Java, herannya kami tetap saja dapet B. Nilai yang bisa dibilang nilai sial. Hihi. Jangan tanya berapa kali pintu kostan saya digedor malam-malam untuk misi mengerjakan tugas berjamaah yang deadlinenya besok harinya. Sekali dua, kerap juga basecamp mengerjakan tugas gantian dengan kost Nisa, kos Eka, kos Siti, dan teman-teman lain yang sudi kostan dan cemilannya kami jajah. Yang penting kami bersama-sama. :)

Banyak kisah menyelimuti kebersamaan kami dulu. Soal asmara yang pahit manis, kabur dari jam kuliah (jebul kaburnya buat makan atau shoping) --> tolong jangan ditiru ya, Jenganten. Berkuliner kemana-mana, mencoba eyeshadow atau blushon baru sambil nggosip rekan sebelah.

Sekarang kebersamaan sekitar ngabur di kampus itu sudah jadi kenangan di benak saya. Ada saat di mana saya pengen banget mengulang saat membeli siomay, nasi telor, indomie, atau mengicip manisnya pizza mie sepiring bertiga. Pun juga ketika merangkai cerita asal-asalan. Seperti saat kami pernah menginap di rumah Vivi, kami malah merangkai kisah wagu tentang salah satu orang di kelas kami. Jadinya cerita utuh tapi aneh. Seru. Alhasil kami ngakak tanpa henti sampai pagi.

Kurang dari dua bulan lalu, kami bertiga sepakat melakukan reuni kecil-kecilan di kota tempat kami kuliah, Yogyakarta. Eka bahkan bela-bela datang jauh dari kampusnya di Jakarta untuk berkunjung dan napak tilas di Jogja. Katanya sih mau mencari kebaya untuk wisudanya, jadii, mari kita rock seantero Jogja mencari kebaya. Hehehe.

Pada hari itu, kami berempat (ada satu orang lagi yaitu adiknya Eka), kami mbubur ayam di warung langganan ketika kuliah dulu. Beralih menuju jalan Solo untuk mencari kain kebaya. Lanjut ke Bringharjo dan Petra untuk membeli aksesori. Lebih tepatnya, kami menjajah seluruh pasar Beringharjo untuk menyentuh semua barang yang ada demi mendapat barang idaman : kebaya. Aktifitas macam begini sudah biasa bagi kami, hanya berbeda dalam barang yang kami beli. Dahulu kami mengubek-ubek toko buku untuk mencari buku tentang Algoritma, sekarang kebaya untuk wisuda. Hehe. Sesuai yang saya pernah tulis di blog andhikalady.blogspot.com sekitar dua bulan lalu, bunyinya begini :

Awalnya kami bertiga ketemuan di depan KPLT UNY - Ngomongin cowo - makan bubur di depan Cheers - Nggosipin cowo - Nyari kain di jalan Solo - Dapet gosip si X ternyata nyepik si Y - Nyari kebaya di Beringharjo - Nyeletuk "kapan aku pake kebaya manten kaya begituan ya?" - Lihat aksesoris di Petra - "Eh, ini mahkotanya bagus loh, buat di pelaminan. Eh" - Maem siang bakso siomay mie ayam di Pakuningratan - Ngomongin "kemarin aku abis ketemu si Y loh" - Shopping di Sakola - "Whatt? Si itu mau bubaran? Sih!" - Main narsis di kost ku - "Aku nikah satu tahun lagi, kalau kamu?" - Foto-foto - Tobat.



Hari yang menyenangkan. Apalagi sekarang kami kian susah untuk bertemu. Meski di Jogja, Vivi sekarang sibuk dengan kuliahnya, Eka dengan pekerjaannya, saya (tentu saja) dengan jalan-jalan saya. Hehehe.

Kiri ke kanan, Eka, saya, Vivi


Hemm, sebetulnya ada banyak foto-foto menggila kami. Sayanganya hanya diijinkan untuk upload lima biji. Padahal masih banyak foto reuni, termasuk foto aib. Jika mau melihatnya, tinggal hubungi saya dengan catatan : Wani Piro. Hihihi.
Sekian tahun, ternyata kami nggak berubah juga ya? Hehe. A lil bit of friendship can make a bigger applause, tons of laughter and much much love.

xoxo, untuk Vivi, Eka, dan semua pembaca yang berbaik hati membaca tulisan ini. :)

@andhikalady 

Note :
Jebul : ternyata
Wagu : aneh

Monday, August 20, 2012

Tentang Berdandan

August 20, 2012 20 Comments

Beberapa hari yang lalu ketika saya belum pulang ke kampung halaman, seorang teman meminta saran ke saya untuk dipilihkan sebuah produk yang mampu melindungi kulit dan bibir dari sinar matahari. Teman tersebut rupanya menang sebuah kompetisi yang kegiatannya adalah berlayar di kapal pesiar menjelajahi kepulauan Indonesia. Kabarnya mau sampai ke Raja Ampat segala. Huah, sebagai perempuan yang suka jalan-jalan, sudah pasti saya iri-to-the-max. :((

FYI, teman saya ini cowok. Sebagai cowo, dia menyerahkan segala keperluan kebutuhan pelindung kulitnya pada saya sepenuhnya. "Wes, pokoknya saya kasih uang segini, saya nggak ngerti kosmetik apalagi dandan, tolong pilihkan produk yang bagus dan bisa dipake sebulan gak abis".

Tak panjang jalan, kemudian kami menuju toko kosmetik legendaris Yogyakarta = Mutiara. Sampai sana, saya pilihkan produk sunblock tubuh merk Parasol, sunblock wajah Loreal dan sebuah lip balm merk Inez. Kesemuanya bernilai sekitar seratus limapuluh ribu. Selesai. Bayar. Pulang. Teman saya senang, saya senang. Semuanya senang.

Akhirul, sampai di base camp (tempat kerjaan teman saya, saya dan temannya teman saya), hasil belanjaan kami dibuka ramai-ramai. Salah satu orang bilang "Berati, kalau sudah menikah, seorang pria harus mengeluarkan kocek minimal dua ratus ribu untuk dandan istrinya", "Wah, kamu high cost juga yah", "Gakpapa, dandan kan buat suami juga", dan sederet kata Wah wah yang lain.

Perlu diketahui, gerombolan itu hanya terdiri dari pria-pria dari jurusan teknik saja. Ceweknya cuma dua orang salah satunya adalah saya. Jadi, menuju siapa lagi sambutan wah wah itu kalau bukan untuk saya? Cuma saya yang saat itu memakai maskara dan eyeliner. Cuma saya yang suka teriak-teriak melihat diskonan kosmetik di counter-counter mal. Hehehe.

Banyak yang bilang, berdandan, baik itu makeup, skin care, dan segala hal berbau grooming itu adalah hal nomor sekian yang perlu diperhatikan setelah hal lain. Anggapan high cost (cewe yang suka dandan pasti biaya hidupnya tinggi), sombong (yang eyelinernya tebal pasti anaknya judes), kerap kali menghampiri beberapa perempuan yang menghabiskan 30 menit di awal harinya untuk menyisir rambut, menghias kerudung dan mengoleskan blush on. Padahal, kalau dicerna lebih lanjut, nggak begitu juga kali. Semua orang termasuk perempuan itu juga memiliki kebutuhan hidup, sandang, pangan dan papan. Itu pernyataan yang kita dapatkan ketika pelajaran IPS SD. Tapi ada satu lagi kebutuhan yang tidak kalah penting. Yaitu kebutuhan untuk mengaktualisasi diri, untuk dikenal, untuk dihargai, dan untuk merasa senang. Oke, kita punya makanan lezat beserta pelayan, pakaian a la putri raja dan rumah besar bak istana. Tapi kalau kita tidak nyaman, tidak bahagia lantaran eksistensi kita tidak diakui? Sudahkah lengkap kebutuhan pokok kita? Saya tidak bilang kalau berdandan adalah satu-satunya hal untuk meraih hal tersebut, tapi dandan adalah salah satu alat untuk menuju hal tersebut.

Apa dandan bisa membuat kita senang? Bisa banget. Buat saya, dandan sendiri adalah terapi. Mari kita hitung indera kita. Kenapa indera? Karena sumber terapi kesenangan berasal dari indera.
  • Indera Penglihatan.
Ketika berdandan, mata kita dimanja dengan warna-warni eyeshadow, blush on, lipstick dan lain-lain. Tulisan pada kemasan produk skin care dan klaim-klaimnya (bisa memutihkan, mencerahkan, melembabkan) itupun bisa membuat hati senang. Angan akan kondisi kulit menjadi cantik bisa membuat kita senang kan? Berlanjut lagi ke wadah-wadah kosmetik lucu, iklan yang menarik dan semua yang dapat dipandang mata menjadi hiburan untuk kita. Terlebih lagi ketika selesai berdandan dan kita mendapati wajah kita makin cantik, makin sedap dipandang. Makin senang deh kita. :)
  • Indera Penciuman
Mencium produk make up dan skin care juga menstimulasi rasa senang. Lembutnya lotion, harumnya sabun mandi yang kita pakai mampu membuat mood kita naik. Beberapa produk pun sudah memiliki kandungan aromaterapi yang mampu meredakan stress. Jadi benar sekali kan, kalau berdandan itu bisa membuat mood kita naik melalui aroma?
  • Indera Peraba alias Kulit
Kulit! Siapa yang tidak senang memiliki kulit sehat karena perawatan skin care? Taruhlah ada yang berkata "lebih baik cantik alami, tidak pakai dokter kulit, tidak pakai alat kosmetik mahal, dsb". Baiklah kalau kita terlahir dengan kulit yang sempurna? Kalau seperti saya ini yang kulitnya nggak sempurna, tentunya pingin dong, memiliki kulit yang sehat juga. Apalagi kulit, kuku dan rambut adalah bagian pertama yang dilihat dari luar. Indikator tubuh sehat juga bisa dilihat dari sehatnya kuku, kulit dan rambut. Logikanya, jika kulit terlihat sehat, maka secara keseluruhan tubuh juga dapat disimpulkan sehat juga.
  • Kinestetik
Sebenarnya bukan termasuk indera ya, tapi bagian ini perlu disebutkan karena nggak bisa dilepaskan dari kegiatan ber make up. Sebagai orang yang berdandan, tentunya tangan kita dipakai dengan sangat teliti untuk menepuk foundation, menepuk bedak, menggaris eyeliner, membentuk alis, membaurkan eyeshadow dan sebagainya. Hal ini jika dibuat kebiasaan, makin lama akan terus terlatih. Bentuk terlatih inilah yang membuat kita senang. Sama halnya ketika orang rajin ke gym dan mendapati tubuh mereka makin langsing.
  • Emosi
Dengan berdandan, kita juga terlatih untuk mengatur emosi dan kesabaran. Menepuk foundation harus pelan-pelan supaya hasilnya rata, bersabar untuk menyembuhkan jerawat setelah bermasker, bersabar untuk menggaris eyeliner dengan rapi, dan sebagainya. Dan yang nggak kalah penting, khusus untuk yang sudah level MUA (Make Up Artist), kita harus membangun ikatan komitmen emosi dan kesabaran yang luar biasa. Berdasarkan pengamatan, tidak sedikit seorang MUA menghadapi klien yang rempong yang minta macem-macem. Dengan melatih emosi dan kesabaran, maka hasil make up dan kepuasan kita (atau klien) menjadi hal yang luar biasa membahagiakan. Baru-baru ini saya telah membaca cerpen tentang seorang dukun manten, judulnya lucu, Bu Geni di Bulan Desember cerpenkompas.wordpress.com/2012/05/20/bu-geni-di-bulan-desember/ . Silahkan dibaca, barangkali Jenganten akan menemukan nilai komitmen dan hati menjadi seorang MUA. :)

Banyak sekali ya, unsur yang membuat orang ber-make-up itu bahagia. Saya punya asumsi (just my humble opinion), berdandan itu mungkin dapat mencerdaskan otak. Menurut pendapat saya pribadi, melatih beberapa indera sekaligus mampu membuat otak bekerja lebih giat. Jika otak bekerja lebih baik, maka keberlangsungan hidup otak akan terjaga. Kita akan lebih lama produktif dan jauh dari kepikunan (cuma pendapat pribadi, untuk fakta yang lebih valid, ada baiknya membuka jurnal penelitian).

Dan buat saya sendiri, perempuan yang berdandan itu lebih disiplin dan telaten. Mereka sanggup bangun lebih pagi untuk sekedar memastikan dirinya sendiri lebih rapi. Mengenai high cost, saya sangat setuju jika kosmetik adalah kebutuhan nomor sekian yang tidak lebih penting dari sandang dan pangan. Tapi tidakkah berpikir jika orang membeli kosmetik itu merupakan indikator bahwa sandang dan pangan sudah terpenuhi? Taruhlah wanita memiliki kosmetik mahal. Yew, kalau dia mampu, kenapa tidak? Jikapun tidak mampu atau karena sayang dengan harga mahal, gunakanlah kecerdasan kita. Kosmetik tidak semua mahal. Bahan tradisonal dimana-mana ada dan mudah diolah untuk merawat diri. Air putih melimpah. Minumlah sebanyak yang Jenganten bisa.

Hehe, menelusuri catatan sendiri, kok rasa-rasanya saya betulan pro (pro loh ya, bukan profesional) dengan aktifitas ini ya? Yes, ini adalah hobi. Bermain PES dan bermain bola adalah salah sekian hobi manusia (terutama laki-laki) yang belum saya mengerti sampai saat ini. Tapi saya dapat melihat pelaku hobi itu dapat merasa bahagia dengan kegiatan mereka. Kesimpulan saya, hobi bisa membuat orang senang. Dan untuk masalah ini, sepertinya hanya ranah pribadi masing-masing yang mampu menilainya.

@andhikalady

Merias Diri dengan Kosmetik Halal di Hari yang Fitri

August 20, 2012 12 Comments

Sebelum menulis lebih lanjut, Andhika Lady beserta keluarga tempat saya dibesarkan (karena belum punya keluarga yang saya bangun) mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 19 Agustus 2012 untuk umat Muslim di seluruh dunia. Mohon maaf lahir batin, semoga kita menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. 

Semoga istilah “menjadi manusia yang lebih baik” tidak hanya wacana saja tapi benar-benar direalisasikan. Dari yang punya dendam terpendam, menjadi maaf yang  luar biasa. Dari yang tidak disiplin, menjadi disiplin. Dari yang masih belajar, menjadi pembelajar. Bukan hanya untuk umat Muslim saja, tapi semua orang. Rasa-rasanya siapapun, tidak peduli agama, hari raya dan usia harus menjadi lebih baik dibanding sebelumnya. Bukankah ada istilah, “manusia yang sama dengan hari kemarin adalah manusia yang rugi”?

Termasuk hari ini. Di saat Idul Fitri. Saya dan Ibu saya sengaja mempersiapkan diri untuk melakukan hal sebaik-baiknya di hari istimewa. Dari acara masak memasak, membuat ketupat, bersih-bersih rumah, memilih baju Lebaran (Alhamdulillah punya rejeki untuk sekadar membeli baju lebaran), membayar zakat, dan tentu saja : Tampil cantik dengan merias wajah untuk acara Idul Fitri di Masjid dan silaturahim setelahnya. Maklum, saya dan Ibu memang pasangan wanita ganjen. Hehehe.

Saya dan Ibu pilah-pilih banget dalam memakai kosmetik. Yang pertama, harus sudah memiliki nomor BPOM. Yang kedua harus yang terbukti aman di kulit. Dan yang nggak kalah penting, kosmetik yang kami pakai harus yang halal. Apa saja sih, parameter sebuah kosmetik bisa disebut halal? Mari kita simak daftarnya :
  1. Tidak terbuat dari saripati hewan yang diharamkan untuk dimakan.
  2. Tidak terbuat dari saripati hewan halal yang disembelih dengan cara yang tidak Islami.
  3. Tidak terbuat dari saripati binatang yang sudah mati tanpa proses penyembelihan terlebih dahulu, alias dibuat dari bangkai. Hyiiii.. >.<
  4. Tidak hanya bahan kosmetik saja, tapi kuas dan spons juga perlu dipastikan tidak terbuat dari bulu binatang yang diharamkan. Misal : Bulu Babi.
  5. Kosmetik itu dibeli bukan dari hasil korupsi. (mau kosmetik sehalal, semahal apapun kalo dibeli dari duit korupsi tetep aja jadinya haram. LOL)
  6. Kosmetik itu bukan didapat dari hasil mencuri. (ya iyalah. Sama kaya poin lima kalo begini. Hehe)
Hehehe. Banyak juga ya, poin-poinnya? Tapi tenang saja, saat ini sudah banyak produk kosmetik yang sudah memiliki daftar kehalalan yang diresmikan oleh badan BPOM dan LP MUI kok. Salah satunya adalah produk Wardah. 



Siapa yang tidak tahu Wardah? Kosmetik yang sedang naik daun seiring dengan kampanye kosmetik halal ini memang sedang giat-giatnya menunjukkan taring. (emang harimau punya taring? Hehe). Di mana-mana ada iklan Wardah, di toko manapun dijual Wardah. Terakhir kali, saya melihat kosmetik Indonesian Idol pun memakai Wardah. Terlebih banyak beauty blogger yang mereview produk Wardah yang katanya bagus-bagus. Gimana saya nggak penasaran? 

Rasa penasaran itu berlanjut ketika hari Idul Fitri. Guess what, di mana tempat shalat Ied di kampong halaman saya? Di lapangan! Panas-panasan, debu dan lalu lalang kendaraan menjadi hal yang tidak dapat dihindari. Saya dan Ibu sepakat harus menggunakan pelindung wajah dari debu dan panas. Apa pilihan kami? Kami menggunakan Wardah Suscreen Gel untuk keperluan tersebut. Sunscreen ini berfungsi untuk menghalau sinar UV yang merusak kulit. Nggak mau kan, oleh-oleh dari ibadah adalah muka gosong akibat kejemur matahari. Ohya, FYI, aku pernah mereview sunscreen ini di blog ini loh. Cek di sini.


Setelah sunscreen apa lagi yang kami butuhkan? Bedak yang menjamin riasan tahan lama sampai sore. Di kampung saya ada tradisi, setelah ibadah shalat Ied di lapangan, kegiatan selanjutnya adalah keliling rumah saudara untuk bersilaturahim bermaaf-maafan. Jadi, riasan yang dipakai wajib tahan dipakai untuk semua acara itu. Apalagi jika udah dalam suasana fitri, yang namanya air mata, haru dan bahagia jadi satu, pasti udah nggak inget riasan lagi. Pokoknya yang kami inginkan adalah riasan yang bagus, minim touch up, acara silaruhaim lancar. Simpledeh. Hehe.


Untuk keperluan bedak-berbedak ini, saya dan Ibu memakai Wardah Compact Powder. Bedak ini stay powernya bagus, bisa tahan lama untuk kulit berminyak (saya dan Ibu sama-sama punya wajah berminyak). Terbukti dari jam enam pagi hingga jam 12 siang (enam jam), bedaknya masih setia nempel di kulit saya. Kemasannya berwarna hijau semi toska yang elegan. Selain itu bentuknya juga kecil, jadi bisa kami bawa-bawa di tas, alias nggak menuh-menuhi tas ketika dijejalkan dengan mukena dan sajadah. Jadi kalau mau touch up, bisa langsung capcuz. 

Karena terbuat dari bahan yang halal, kami nggak khawatir bakal membatalkan wudhu. Hehe. Pernah ada kejadian di Lebaran beberapa tahun yang lalu. Saya sudah mandi, sudah full make-up. Tiba-tiba baru inget kalau belum wudhu. Aaaaak. Akhirnya buru-buru wudhu terus pake make-up lagi dua kali. Sampai lapangan, shalatnya sudah dimulai. Hihi. Untung tahun ini nggak terulang lagi.
Meski produknya sama, kami punya dua bedak. Satu untuk Ibu satu punya saya. Saya dan Ibu juga punya aturan, meski kami sering share kosmetik, tapi khusus untuk kosmetik yang berbentuk jar, bedak, dsb itu sebisa mungkin jangan dipakai bareng-bareng, atau minimal memakai dua saput. Demi kehigienisan masing-masing wajah sih. Hehehe.

Mau tau kekompakan saya dan Ibu di hari Lebaran? Nih saya share foto-fotonya.



Share juga foto famili saat silaturahim.
Ohya, jika ada yang bertanya produk Wardah itu saya beli di mana, jawabannya : di mana-mana ada. Dari toko kecil, mini market, hingga toserba yang besar dapat ditemui produk Wardah. Nggak cuma bedak dan sunscreen saja, Wardah juga mengeluarkan produk kosmetik lainnya seperti eyeshadow, lipstick, lipgloss dan lainnya. Skin carenya juga sangat lengkap, dari seri whitening, acne care, hingga paket untuk ibadah haji pun ada. Jadi nggak usah ragu memakai produk Wardah. Dia memiliki ijin BPOM, terbuat dari bahan berkualitas dan dijamin halal. 



Note :
Tulisan ini saya maksudkan untuk mengikuti kompetensi blog yang diadakan blogdetik.com, bekerjasama dengan Wardah dan MUI. Kalau mau ikutan, lihat di link ini ya. Buruaan, masih ada waktu hingga tanggal 24 Agustus.



Bagi yang baru pertama kali mengunjungi blog ini, saya ucapkan selamat datang di Negeri Para Jenganten.  Blog ini adalah diary saya yang berisi tentang review-review produk beauty yang mayoritas berharga terjangkau (kurang dari seratus ribu rupiah). Setiap minggu selalu ada posting baru. Silahkan follow melalui Google Friend Connect untuk mengikuti postingan-postingan berikutnya.

Salam hangat, Jenganten. :)

Saturday, August 18, 2012

Lotion Review : Marina UV White Radiant

August 18, 2012 9 Comments

Saya bukan tipe orang yang rajin memakai lotion. Entah kenapa, kebiasaan yang baik ini mulai saya tinggalkan sejak saya memakai hijab. Pada pikirku, jika kulit sudah tertutup pakaian, maka dengan sendirinya kulit akan terlindung dari sinar matahari. Memang ada benarnya. Tapi apakah masalah kelembaban juga terlindung??? Doeng doeng..!

Ternyata, meskipun kulit tertutup dari sinar matahari langsung, dia tidak 100% terlindung lho Jenganten. Sinar UV tetep bisa masuk ke sela-sela serat pakaian dan menimpa kulit kita. Belum lagi, kelembaban. Sejak saya meninggalkan kebiasaan memakai lotion, kulit saya sangat mudah kering. Terutama bagian kaki yang deket sama mata kaki itu. Kegaruk sedikit aja langsung bersisik. Ditambah lagi bagian punggung tangan yang sering kena matahari ketika mengendarai motor. Deuhh. Jadi,  sejak saat itulah saya jadi lebih concern dalam memakai lotion. Demi investasi kulit di masa depan. :) . Karena penuaan kulit hanya dapat dicegah. Bukan disembuhkan. 

Pada dasarnya, orang memakai lotion itu bisa karena empat hal :
1. Untuk melembabkan kulit
2. Untuk mencerahkan
3. Untuk melindungi kulit dari sinar matahari
4. Untuk memberi aroma pada kulit alias mewangikan kulit
(sumber : pribadi. Hehehee)

Beberapa lotion mampu melengkapi empat fungsi di atas. Sebagian lagi tidak. Tapi buat saya sendiri, lotion itu dipakai untuk melembabkan dan melindungi dari sinar saja. Kalau mencerahkan, saya kurang begitu percaya dengan iming-iming pencerahan dari sebuah lotion. Bagi saya, kalau udah dipaket warna kulit dari-Nya, entah itu putih, sawo matang, atau hitam, mau dioles lotion atau bleaching sekalipun, warna asli kulit nggak akan berubah. Jadi saya cukup mensyukuri saja apa yang sudah saya punya saja tanpa pernah berniat untuk mengubah warnanya. Hehe. Sementara untuk mencari aroma atau wangi, sebaiknya jangan gunakan lotion. Gunakan body butter atau body cream. Dia lebih wangi dan lebih tahan lama dibanding lotion biasa. Sementara kalau untuk mencari yang wanginya nggak terlalu tajam, lotionlah jawabannya.

Banyak lotion-lotion yang pernah saya coba. Dari yang harga tiga ribu hingga puluhan ribu pernah. Salah satunya adalah produk ini :

Marina UV White Radiant.
Yang akan saya review sekarang.
  • Kemasan
Botol terbuat dari plastik berwarna putih, seperti isinya. Dilengkapi pula dengan keterangan di bagian belakang. Produk ini memiliki kandungan Yoghurt, UV A, UV B, Vitamin B3 yang diklaim mampu mencerahkan kulit.

  • Tekstur
Tekstur lotion ini berbentuk krim berwarna putih yang emulsinya kental. Bentuknya tidak mudah mengencer dan tidak selembut gel. Saya suka jenis lotion seperti ini. Selain mudah dioleskan ke kulit, juga tidak mudah mengalir (aduh, saya agak kesulitan mencari kosakata yang pas untuk kata “mengalir”), jadi intinya lotion ini tidak mudah berpindah tempat jika saya tempelkan ke kulit. Warnanya putih. Mungkin ini yang disebut strategi lotion pencerah. Logikanya, jika menjanjikan kulit yang putih cerah setelah pemakaian, maka bentuk dan warna produknya disesuaikan dengan warna janjinya = putih.

  • Aroma
Tak perlu saya jelaskan panjang lebar, karena saya sendiri suck jika disuruh mendeskripsikan aroma, tapi bagi saya, aroma lotion ini wangi enak dan lembut. Tidak seperti lotion Marina varian lain yang wanginya terlampau tajam. Atau lotion Citra yang wanginya bikin mabuk. Atau seperti lotion Nivea yang beraroma khas pemutih. Saya suka wewangian lotion yang netral dan ringan. Jadi, menurut saya, aroma lotion Marina UV Radiant ini cukup bisa diterima hidung saya dengan alasan lembut, ringan, dan tidak terlalu tajam. (seandainya ada produk lotion yang mengeluarkan varian tanpa aroma).
  • Melembabkan dan mencerahkan?
Saya tidak begitu tergantung banyak dengan janji mencerahkan pada lotion. Tapi untuk melembabkan, saya percaya. Lotion ini sangat melembabkan. Jika dibandingkan saya tidak memakai lotion dengan memakai, hasilnya sungguh berbeda. Lotion ini mampu menghilangkan sisik kering kulit saya.

Dan satu hal lagi yang hampir lupa saya sebutkan. Lotion ini ternyata mengandung shimmer. Setelah saya oles ke kulit, perlahan muncul kerlap-kerlip dari kulit saya seakan nama saya ini Andhika Lady Cullen. Hehehe. Jadi jika dipadukan dengen foundation ber-shade cerah, softlens kuning, lipstick merah darah, eyeshadow smokey, kamu bisa cocok banget deh untuk menyaru menjadi vampir. 

Harga :
Sekitar Rp 6.000,00 

Suka :
- Wangi lembut
- Melembabkan
- Melindungi dari sinar UV
- Stay power kelembaban lumayan tahan lama
- Ada shimmernya
- Teksturnya tidak mudah mbleber

Tidak suka :
- Nothing 

Monday, August 13, 2012

Review : Mustika Ratu Hair Mask Cem Ceman

August 13, 2012 21 Comments
Sekarang saya berada dalam fase #selo. Setelah puas travelling ke Medan, (cerita jalan-jalan bisa di lihat di Jalan-jalan ke Istana Maemoon Medan) dan pekerjaan sudah perlahan berkurang, akhirnya saya bebass... *kepakan sayap mimpi*. Heuheu. Kebebasan ini saya rayakan dengan berbelanja dan menulis review. (ya iya lah, punya blog masa ga dipelihara). Jadi maaf ya jika sempat menghilang beberapa saat dari ranah per-blog-an. Saat ini saya akan balas dendam. *siapkan peso* *pesonya orang Filipina*.

Ketika saya berada di tanah Deli itu, saya mengalami masalah rambut yang klasik. Kering, lepek, kusut, dan tidak ternutrisi. Memang sih, rambut saya selalu ditutup hijab. Tapi kan gak enak banget melihara rambut rusak, meski itu tertutup hijab. Yang setuju, RT ya. :). Dalam kondisi antara menunggu pulang baru ke salon, atau langsung aja nyari produk yang bisa dipakai untuk menolong rambut saya, akhirnya saya mampir ke salah satu supermarket di Medan untuk membeli ini :

Mustika Ratu Hair Mask Cem-Ceman Akar Wangi.
Dalam kemasan tertulis "Merawat rambut agar tetap sehat, subur dan mudah diatur". Karena penasaran, saya langsung masukin ini ke dalam troley belanja untuk dipakai di hotel. Jadi mari kita review.

  •  Kemasan
Seperti pada gambar, hair mask ini dikemasani dengan wadah tube berwarna putih non transparan, dengan label merk di bagian depan dan belakang. Saya cenderung menyukai kemasan tube ini dibanding hair mask pada umumnya yang menggunakan jar. Lebih higienis, menurut saya. Kalau memakai jar, pastinya ada resiko kecampur air ketika keramas, dan kecampur bakteri dan kuman. Dengan kemasan tube model ini, resiko tersebut dapat diminimalisir.

Pamer kuku saya yang lagi cantik.
 

  •  Komposisi
Pada bagian belakang terdapat keterangan mengenai ramuan, kegunaan, dan cara pakai. Saya belum pernah melakukan ritual hair mask sendiri di rumah, selalu saya lakukan di salon langganan. Jadi keterangan ini sangat berguna buat saya, terutama keterangan cara pakai.


Merawat rambut agar tetap sehat, subur dan mudah diatur. Membantu menghilangkan ketombe dan membantu merawat kekuatan akan rambut. Menjadikan rambut tampak sehat dan bercahaya.
 
Cara  pakai:  Pijat  lembut  selama  10  menit kemudian  tutup  dengan  handuk  selama  10 menit. Bilas rambut sekali lagi dengan shampo yang  sesuai  dengan  jenis  rambut  dan  kulit kepala Anda hingga bersih.

Adapun pada bagian komposisi, tidak jauh berbeda seperti bahan untuk perawatan rambut pada umumnya. Tapi bahan utama dari hair mask ini adalah minyak kelapa (cem-ceman). Saya sempat browsing ke sana kemari, mencari khasiat minyak kelapa untuk rambut, ternyata banyak yang menunjukan kalau minyak kelapa bagus untuk perawatan rambut kering dan anti ketombe. Contoh ulasannya dapat dilihat di sini. dan di sini.
  • Tekstur
Hair mask ini berbentuk krim pekat berwarna hijau, dan mudah dioleskan ke rambut. Saya suka dengan teksturnya. Semuanya, baik kemasan maupun tekstur tidak ada yang mengecewakan saya. Tapi, setelah negara api menyerang dan saya mencium bau isinya, jeng jeeng, mirip aroma daun/minyak yang bagi saya kurang enak. Tapi aroma ini cepat diadaptasi rambut dan tidak begitu mengganggu setelah beberapa saat dipakai.


Terpesona dengan kuku saya?
  • Cara pakai
Saya memakainya dengan cara standar.

- Cuci rambut dengan bersih (saya pakai shampo Clear anti ketombe), kemudian bilas.
- Baru deh, pakai hair mask ini. Karena rambut saya panjang, saya cukup boros memakainya. Apalagi - kondisinya kering dan kusut, makin boros deh jadinya. >.<*.
- Setelah merata seluruh rambut, pijat perlahan kepala (paling maknyus kalo yang mijat kepala itu orang lain).
- Bungkus dengan handuk hangat (atau cukup digelung dan biarkan sekitar 20 menit).
- Setelah itu, bilas, dan keramas lagi seperti biasa.
- Keringkan rambut
- Kibaskan rambut
- Sisir rambut
- Elus-elus rambut
- Minta orang membelai rambutmu
Sebetulnya pemakaian saya belum sempurna karena masih mencampur produk, alias beda merk shampo dan hair mask. Tapi setelah saya pakai, saya merasakan hasilnya : rambut mudah disisir, nggak kering, nggak kusut, lebih lembut daripada memakai shampo tanpa hair mask dan rambut jadi tetap sejuk meski memakai hijab.

Secara keseluruhan, saya merasa terbantu dengan hair mask ini. Saya jadi bisa berhemat dengan melakukan treatment hair mask sendiri di rumah daripada di salon. Ohya, saya juga jadi rajin keramas dan maskeran rambut loh. Memang prosesnya lebih lama dibanding keramas dan memakai conditioner biasa. Tapi hasilnya juga lebih oke dan memuaskan.

Harga :
Rp 18.000,00   200 ml

Suka :
- Melembutkan
- Rambut jadi mudah disisir
- Nggak lepek
- Stay away from bad hair day
- Sejuk di kepala
- Kemasannya tube. Higienis.

Nggak suka :
- Aroma. Mirip daun dan minyak.

Beli lagi?
- Yups. Dan sekalian produk serupa. Shampo dan minyak cem-ceman Mustika Ratu.

@andhikalady

Tuesday, August 7, 2012

Latah : Inside My Travel Kit

August 07, 2012 16 Comments
Saya akui, tulisan ini berdasarkan latah saya dengan beberapa blogger yang sudah mendahului memajang peralatan 'perang' untuk traveling. Nah, karena kebetulan saya juga sedang bepergian (laporan dari Medan), saja jadi membawa beauty case deh. Karena saya membawa beauty case, saya jadi berhasrat untuk menulisnya di blog. Karena saya nulis di blog, kalian jadi tahu saya. Karena kalian tahu saya, kalian jadi cinta sama saya. Karena kalian cinta sama saya, pasti bakal ada yang nembak saya (???). Karena ada yang nembak saya, saya jadi mati dan masuk surga. (???)

Well, sampai mana tadi? Yak. Sampai pada beauty case. Jadi inilah peralatan tempur yang saya jejalkan ke tas saya :
  •  Toiletries alias benda-benda penimbul keinginan mandi.
Biasanya sih saya mandi sekali sehari jarang mandi. Tapi demi keperluan pekerjaan (yah masa mau nemuin klien pake bawa bau ketek belum mandi), saya akhirnya memutuskan untuk meningkatkan frekuensi mandi saya dari dua kali menjadi tiga kali. Berhubung air panas mudah didapat dan kamar mandi hotelnya pun mbikin betah, saya membawa peralatan yang kira-kira bisa bikin aku makin semangat mandi deh, pokoknya.

Permen Blaster (???), Sabun Lux, Shampo Clear, Larissa tea tree, Kelly lemon, Rexona, Close Up.



Simple aja sih, peralatan mandi saya. Sempat berkeinginan untuk membawa lulur tapi lulur saya ukurannya segede drum aspal jadinya belum saya bawa (emang mau luluran aspal?). Sabun muka saya wajib pakai Larissa. Tapi jika kulit saya mengering, saya pakai Kelly Lemon. Sabun mandi saya pakai Lux hasil bonus dari majalah Cita Cinta entah bulan apa. Shamponya saya pakai Clear. Sebetulnya saya sedang mencari Holy Grail shampo yang cocok untuk rambut saya yang kering-ketombean-rontok nih. Deuh, pokoknya lengkap deh masalah rambut saya. Masa harus ke salon terus sih kalo mau bikin rambut a la iklan shampo? Heuheu.
  • Skin Care & Dasar
Hada Labo Milk, BB Cream Caring, Sunscreen wardah, TWC, TWC, Vitacid, Sample BB Cream

Bepergian tanpa bawa skin care sama artinya kaya bawa singa tanpa kandangnya. Bencana! Belum tau aja sih, kulit muka saya itu kaya singa, gampang marah, gampang breakout kalo nggak dikandangin #eh, dilindungin pakai perlindungan macem-macem. Pelembab dan sunblock wajib saya pakai. Sementara BB cream hukumnya cuman sunnah. #halah. Karena kebetulan saya harus ketemu banyak orang, jadinya saya harus memberi effort untuk penampilan. Salah satunya memakai BB cream dan make-up. Haisyahh.
Daan, Vitacid alias Tretinoin, saya masih rutin memakainya sebagai perawatan wajah saya setiap malam. Hasilnya lumayan ok juga lho.
  • Make up

 

Kalau bepergian tidak membawa skin care itu seperti membawa singa tanpa kandang, bepergian tanpa membawa make-up sama halnya dengan makan mendoan tapi nggak pakai cabe rawit. Hambar.
Hidup tanpa make-up itu hambar. Nggak ada warnanya. Jadinya saya membawa seperangkat pewarna muka di tas saya. Eyeliner, mascara, eyebrow, eyeshadow, dan eye-eye yang lain saya bawa. Termasuk lipstick, lipgloss, peraut, dan parfum tak lupa masuk absen kotak rias saya.
  • Aksesori
 

Kalau ini kiasannya apa ya? Mikir dulu deh. Ohya, bepergian tanpa aksesoris itu ibarat kaya kuburan tanpa pohon kamboja. Serem. Muka udah Ok, baju udah matching, badan udah wangi, tapi nggak pakai aksesoris, rasanya serem. Apalagi tuh, kalo make kerudung nggak pake bros. Euwww, nggak mungkin sih, kalo saya. Masa cuma peniti-peniti doang? Heuheu.
  • Bacaan

Okee, semua sudah masuk tas. Baju, daleman, aksesoris, make-up, skin-care, mandi, mukena, air mineral, laptop dan kekabelan, tiket, tapi ada yang kurang. Bacaan! Biar nggak bosen di sewawat atau di manapun ketika saya kehabisan bahan obrolan sama orang. Pelarian saya ya ke bacaan itu. Saat ini saya sedang merampungkan novel (cieeh, bahasanya "merampungkan", macam udah jadi penulis novel ajah. Hehehe) berjudul Ratu Mawar Putih. Pengarangnya adalah pengarang yang sama pada novel The Other Boleyn Girl yang dibintangi Natalie Portman itu loh. Untuk yang suka hal berbau British kuno, royal family, girl power, oke nih, buat dibaca. Rencananya nanti kalau sudah selesai, novel ini mau saya review di blog sebelah saya di andhikalady.blogspot.com.
Dan majalah Cinta Cinta. Saya nggak langganan secara resmi sih. Tapi saya rajin beli ini setiap terbit. Majalah ini salah satu favorit saya karena isinya lengkap. Informatif sekali isi-isinya. Mulai dari fashion hingga tips finansial ada. Makannya saya suka. :)

Well, mbikin posting tanpa menyertakan foto saya itu seperti makan tapi ga minum air. Seret! Jadinya biar gak seret, saya mau share foto jalan-jalan saya tadi sore ke Istana Maimoon Medan. 
Loh? Kerja kok jalan-jalan? Yo ben tho? Wong ini blog-blog saya. (deuh, mulai lagi. Hahaha)


Dan perlu di ingat lagi, Makeup Nista mengadakan tantangan makeup bulan Agustus bertema Kemerdekaan. Untuk info lebih lanjut, lihat di sini yah. Yuk. Pokoknya harus ikutan. :))

@andhikalady