Monday, August 20, 2012

Tentang Berdandan


Beberapa hari yang lalu ketika saya belum pulang ke kampung halaman, seorang teman meminta saran ke saya untuk dipilihkan sebuah produk yang mampu melindungi kulit dan bibir dari sinar matahari. Teman tersebut rupanya menang sebuah kompetisi yang kegiatannya adalah berlayar di kapal pesiar menjelajahi kepulauan Indonesia. Kabarnya mau sampai ke Raja Ampat segala. Huah, sebagai perempuan yang suka jalan-jalan, sudah pasti saya iri-to-the-max. :((

FYI, teman saya ini cowok. Sebagai cowo, dia menyerahkan segala keperluan kebutuhan pelindung kulitnya pada saya sepenuhnya. "Wes, pokoknya saya kasih uang segini, saya nggak ngerti kosmetik apalagi dandan, tolong pilihkan produk yang bagus dan bisa dipake sebulan gak abis".

Tak panjang jalan, kemudian kami menuju toko kosmetik legendaris Yogyakarta = Mutiara. Sampai sana, saya pilihkan produk sunblock tubuh merk Parasol, sunblock wajah Loreal dan sebuah lip balm merk Inez. Kesemuanya bernilai sekitar seratus limapuluh ribu. Selesai. Bayar. Pulang. Teman saya senang, saya senang. Semuanya senang.

Akhirul, sampai di base camp (tempat kerjaan teman saya, saya dan temannya teman saya), hasil belanjaan kami dibuka ramai-ramai. Salah satu orang bilang "Berati, kalau sudah menikah, seorang pria harus mengeluarkan kocek minimal dua ratus ribu untuk dandan istrinya", "Wah, kamu high cost juga yah", "Gakpapa, dandan kan buat suami juga", dan sederet kata Wah wah yang lain.

Perlu diketahui, gerombolan itu hanya terdiri dari pria-pria dari jurusan teknik saja. Ceweknya cuma dua orang salah satunya adalah saya. Jadi, menuju siapa lagi sambutan wah wah itu kalau bukan untuk saya? Cuma saya yang saat itu memakai maskara dan eyeliner. Cuma saya yang suka teriak-teriak melihat diskonan kosmetik di counter-counter mal. Hehehe.

Banyak yang bilang, berdandan, baik itu makeup, skin care, dan segala hal berbau grooming itu adalah hal nomor sekian yang perlu diperhatikan setelah hal lain. Anggapan high cost (cewe yang suka dandan pasti biaya hidupnya tinggi), sombong (yang eyelinernya tebal pasti anaknya judes), kerap kali menghampiri beberapa perempuan yang menghabiskan 30 menit di awal harinya untuk menyisir rambut, menghias kerudung dan mengoleskan blush on. Padahal, kalau dicerna lebih lanjut, nggak begitu juga kali. Semua orang termasuk perempuan itu juga memiliki kebutuhan hidup, sandang, pangan dan papan. Itu pernyataan yang kita dapatkan ketika pelajaran IPS SD. Tapi ada satu lagi kebutuhan yang tidak kalah penting. Yaitu kebutuhan untuk mengaktualisasi diri, untuk dikenal, untuk dihargai, dan untuk merasa senang. Oke, kita punya makanan lezat beserta pelayan, pakaian a la putri raja dan rumah besar bak istana. Tapi kalau kita tidak nyaman, tidak bahagia lantaran eksistensi kita tidak diakui? Sudahkah lengkap kebutuhan pokok kita? Saya tidak bilang kalau berdandan adalah satu-satunya hal untuk meraih hal tersebut, tapi dandan adalah salah satu alat untuk menuju hal tersebut.

Apa dandan bisa membuat kita senang? Bisa banget. Buat saya, dandan sendiri adalah terapi. Mari kita hitung indera kita. Kenapa indera? Karena sumber terapi kesenangan berasal dari indera.
  • Indera Penglihatan.
Ketika berdandan, mata kita dimanja dengan warna-warni eyeshadow, blush on, lipstick dan lain-lain. Tulisan pada kemasan produk skin care dan klaim-klaimnya (bisa memutihkan, mencerahkan, melembabkan) itupun bisa membuat hati senang. Angan akan kondisi kulit menjadi cantik bisa membuat kita senang kan? Berlanjut lagi ke wadah-wadah kosmetik lucu, iklan yang menarik dan semua yang dapat dipandang mata menjadi hiburan untuk kita. Terlebih lagi ketika selesai berdandan dan kita mendapati wajah kita makin cantik, makin sedap dipandang. Makin senang deh kita. :)
  • Indera Penciuman
Mencium produk make up dan skin care juga menstimulasi rasa senang. Lembutnya lotion, harumnya sabun mandi yang kita pakai mampu membuat mood kita naik. Beberapa produk pun sudah memiliki kandungan aromaterapi yang mampu meredakan stress. Jadi benar sekali kan, kalau berdandan itu bisa membuat mood kita naik melalui aroma?
  • Indera Peraba alias Kulit
Kulit! Siapa yang tidak senang memiliki kulit sehat karena perawatan skin care? Taruhlah ada yang berkata "lebih baik cantik alami, tidak pakai dokter kulit, tidak pakai alat kosmetik mahal, dsb". Baiklah kalau kita terlahir dengan kulit yang sempurna? Kalau seperti saya ini yang kulitnya nggak sempurna, tentunya pingin dong, memiliki kulit yang sehat juga. Apalagi kulit, kuku dan rambut adalah bagian pertama yang dilihat dari luar. Indikator tubuh sehat juga bisa dilihat dari sehatnya kuku, kulit dan rambut. Logikanya, jika kulit terlihat sehat, maka secara keseluruhan tubuh juga dapat disimpulkan sehat juga.
  • Kinestetik
Sebenarnya bukan termasuk indera ya, tapi bagian ini perlu disebutkan karena nggak bisa dilepaskan dari kegiatan ber make up. Sebagai orang yang berdandan, tentunya tangan kita dipakai dengan sangat teliti untuk menepuk foundation, menepuk bedak, menggaris eyeliner, membentuk alis, membaurkan eyeshadow dan sebagainya. Hal ini jika dibuat kebiasaan, makin lama akan terus terlatih. Bentuk terlatih inilah yang membuat kita senang. Sama halnya ketika orang rajin ke gym dan mendapati tubuh mereka makin langsing.
  • Emosi
Dengan berdandan, kita juga terlatih untuk mengatur emosi dan kesabaran. Menepuk foundation harus pelan-pelan supaya hasilnya rata, bersabar untuk menyembuhkan jerawat setelah bermasker, bersabar untuk menggaris eyeliner dengan rapi, dan sebagainya. Dan yang nggak kalah penting, khusus untuk yang sudah level MUA (Make Up Artist), kita harus membangun ikatan komitmen emosi dan kesabaran yang luar biasa. Berdasarkan pengamatan, tidak sedikit seorang MUA menghadapi klien yang rempong yang minta macem-macem. Dengan melatih emosi dan kesabaran, maka hasil make up dan kepuasan kita (atau klien) menjadi hal yang luar biasa membahagiakan. Baru-baru ini saya telah membaca cerpen tentang seorang dukun manten, judulnya lucu, Bu Geni di Bulan Desember cerpenkompas.wordpress.com/2012/05/20/bu-geni-di-bulan-desember/ . Silahkan dibaca, barangkali Jenganten akan menemukan nilai komitmen dan hati menjadi seorang MUA. :)

Banyak sekali ya, unsur yang membuat orang ber-make-up itu bahagia. Saya punya asumsi (just my humble opinion), berdandan itu mungkin dapat mencerdaskan otak. Menurut pendapat saya pribadi, melatih beberapa indera sekaligus mampu membuat otak bekerja lebih giat. Jika otak bekerja lebih baik, maka keberlangsungan hidup otak akan terjaga. Kita akan lebih lama produktif dan jauh dari kepikunan (cuma pendapat pribadi, untuk fakta yang lebih valid, ada baiknya membuka jurnal penelitian).

Dan buat saya sendiri, perempuan yang berdandan itu lebih disiplin dan telaten. Mereka sanggup bangun lebih pagi untuk sekedar memastikan dirinya sendiri lebih rapi. Mengenai high cost, saya sangat setuju jika kosmetik adalah kebutuhan nomor sekian yang tidak lebih penting dari sandang dan pangan. Tapi tidakkah berpikir jika orang membeli kosmetik itu merupakan indikator bahwa sandang dan pangan sudah terpenuhi? Taruhlah wanita memiliki kosmetik mahal. Yew, kalau dia mampu, kenapa tidak? Jikapun tidak mampu atau karena sayang dengan harga mahal, gunakanlah kecerdasan kita. Kosmetik tidak semua mahal. Bahan tradisonal dimana-mana ada dan mudah diolah untuk merawat diri. Air putih melimpah. Minumlah sebanyak yang Jenganten bisa.

Hehe, menelusuri catatan sendiri, kok rasa-rasanya saya betulan pro (pro loh ya, bukan profesional) dengan aktifitas ini ya? Yes, ini adalah hobi. Bermain PES dan bermain bola adalah salah sekian hobi manusia (terutama laki-laki) yang belum saya mengerti sampai saat ini. Tapi saya dapat melihat pelaku hobi itu dapat merasa bahagia dengan kegiatan mereka. Kesimpulan saya, hobi bisa membuat orang senang. Dan untuk masalah ini, sepertinya hanya ranah pribadi masing-masing yang mampu menilainya.

@andhikalady

20 comments:

  1. kereeen postingannya!! d(^_^)b Setuju...setujuhh..

    klo aku sendiri dandan emang buat kepuasan batin, bukan karena apa dan siapa. Sebelum kenal cowok, aku udah kenal duluan sama bedak & lipbalm *lol dan pake keduanya karena bikin puas... haha..

    klo sekarang mah udah ada swami, jadi lg mood ga mood harus ttp cakep *lol

    Setuju bgt tuh, emang semua cewek terlahir dengan kulit normal? yg meski jarang rawat kulitpun, ga akan rusak kulitnya??
    Lha, gimana klo kayak ane? udah berminyak, acne prone pula? Klo dirawatnya cuma pake aer cucian beras gimana jadinya??
    Lagian, merawat kesehatan kulit kan sama aja bersyukur dgn apa yg udah Tuhan kasih?

    Makanya suka males klo ada orang bilang:
    dandan = penopengan
    rawat kulit pake skinker bebas = ga natural dll,
    jangan ke dokter kulit meski jerawat ratusan nempel di muka dll.. *hah?

    IMO, klo semuanya dilakukan dgn proporsional, tahu tempat n batasan, ya gapapa kan??

    huh, jadi curhat ya... :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasiih Jeng Ami, *kecup klomoh*

      Betul banget. Suka gimana gitu mendengar orang komentar cewe suka dandan demi menarik cowo, (kalo mau narik cowo tinggal ambil tali jemuran iket tangannya, tarik deh), untuk menyombongkan diri, dsb. Ieh, padahal kita dandan itu ya karena hobi, karena merasa lebih pantas, atau yang lebih dalem lagi : passion alias kepuasan batin. Bener banget kalo mbak bilang untuk kepuasan. Heuheu.

      Wah, bikin iri nih, harus tetep tampil cantik di depan suami. *doain ya mbak, biar cepet dapet. Hehe*

      Iya bener banget kalo nggak semua cewe punya kulit normal, sehat, alus, bebas jerawat. Lha yang ditakdirkan punya kulit ga sesempurna itu? Aku salah satunya.

      Sip mbak, merawat diri adalah bagian dari bersyukur kepada Tuhan dan bagian beribadah (tampil cantik di depan suami). hehehe.

      Mudah-mudahan Tuhan memberkati alat-alat makeup kita. Hihihi

      Lanjutkan mbak.!..

      Delete
  2. setuju banget nih sama postingannya. suka bete juga kalo ada yang komen, ribet amat sih pake dandan. banyak amat sih peralatanmu. padahal yang komentar sesama wanita jugak..errrr...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, sama-sama Jenganten Diah,

      Biarin, namanya juga hobi. Kalopun menurut orang lain ribet, bagi kita itulah letak kesenangannya. IMO.

      Tengs udah mampir, dear :*
      :))

      Delete
    2. hihihi..
      seneng deh ada temen sehobi..

      ngomong-ngomong jeng, blogger jogja kan ya ?
      bisa berguru langsung ini :))

      Delete
    3. Iyaaa. aku dari Jogja Jeng.

      Ayo ikut gabung bareng komunitas Beauty Blogger Jogja. Namanya Makeup Nista. Yuk yuk. :)

      Delete
    4. gimana cara gabung nya jeng ? mauk mauk..
      masih pemula nih *malu-malu*

      Delete
    5. Ikutan aja make up chalengenya tiap bulan jeng jeng. :))

      Delete
  3. setujaaa..aku kalo dandan ada kepuasan batin tersendiri apa lagi kalo mempercantik orang lain dengan pengetahuan dandanku uhh bahagianya gak ketulungan >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi, bener banget Jeng Lee,

      bisa milihin produk ke orang lain, ndandanin, dsb itu bahagianya bikin pengin koprol dan kayang di prapatan deh. :))

      Delete
  4. setuju banget mbak jenganten.. ><
    temen-temenku yah, malah dilarang dandan sama cowok2nya..
    duh prihatin deh kalo pacarnya kayak gitu..
    coba deh, kalo cowok2 itu dilarang suka bola/motor..
    pasti juga sedih kaaaan ><

    untungnya suamiku malah mendukung kalo aku dandan,
    asal dandannya juga ga seheboh ondel-ondel..
    dibeliin juga kalo aku perlu.. hihihi..

    setiap orang punya interest sendiri2..
    bersyukur lewat blog bisa ketemu temen2 yang punya hobby sama :) :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ha, kok bisa dilarang? Kalo si cewe setuju2 aja sih gak masalah. Lain halnya kalo udah hobi. masa mau ngelarang dari hobinya. hehe.

      ya iyalah, masa mau lenongan ky ondel2. mau ngeceng prapatan Buk? hehe. Senengnya udah berkeluarga. Salam ya, buat putranya, dari tante Lady. :*

      yups, aku juga seneng bisa ketemu orang-orang yang hobby sama, passion sama dan seru2. Hihi. :)

      Delete
    2. iya mbak Lady :)
      ma'acihhhh :D

      Delete
  5. Waah... super skali postingan Jeng Lady yg satu ini.
    Setuju... (jempol tangan&kaki kalo perlu)
    Ya, buat orang yg kulitnya ngga sempurna kayak aku gini, dandan memang wajib! Supaya orang lain juga nyaman melihat kita yang terawat, n anak kecil ngga ketakutan liat bekas pasca jerawat yang bertebaran di muka aku (he he jadi curhat)
    Dandan emang udah jadi kodrat perempuan dari sono-nya menurutku.
    Kadang suka mbatin sendiri kalau ada sesama jenis yg bilang "haduh, ngapain juga dirimu pakai ini itu, ribet & ngabis2in duit aja, emangnya pengen ngegebet siapa sich? Atau cari perhatian?" Adawww aw aww... biasanya aku cuma menjawab "Kamu perempuan bukan sich?" ha ha... (ujung2nya curhat lagi)
    Ya, buat aku pribadi, seseorang yang menghargai dirinya sendiri, bisa dilihat dari bagaimana dia merawat diri, salah satunya dengan dandan.
    Dan aq seneng juga kena dunia beauty blogger, jadi bisa sharing ama temen2 yg punya hobi sama, n bisa nambah pengetahuan jg^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Super juga komenna Desy. :*. Wah, perlu dibikin NOTD khusus jempol tangan dan kaki nih. Hehehe..

      Hehe, jadi mikir liat muka sendiri. Aku juga gitu Jeng, kulit ga sempurna, berminyak dan gampang brekout.

      wkwk, bsk kalo ada yang tanya begitu, jawab aja, ini hobby aku, ini caraku menghargai diriku sendiri.

      Hyuk hyuuk... :))

      Delete
    2. Gapapa kali curhat di sini. Hehe. Aku seneng malah kalo dicurhatin. Jadi bisa ngerti banyak hal dari sudut pandang orang lain.

      Makasih Desy. :)

      Delete
  6. Jeeeenggg, setuju banget lahhh...
    Aku sering juga dulu, di komen2 reseh kalau lagi tacap di kantor apa di mana gitu. Sekarang sih udah enggak jeng, soalnya yang berani komen udah tak keplret!!!
    Tapi sedih juga ya, masa sih kita dandan, biar rapi enak diliat dan wangi malah di kata2i ceweq ribet? Kalau aku sih gapapa laa terserah juga mau dikatain apa. Mending dikatain deh dari pada harus keluar dengan muka kaya entut :|.

    Ceweq elener tebel itu pasti judes? Belum tentyu. liat aku donk. Elener tipiiiisss tapi tetep judes juga :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku mbayangin jeng Arum ngepretin orang yang reseh ituh..

      "mas, ada apa? situ oke? liat-liat bluson saya? mau minta? sini tak colekin"

      :))

      ribet yang ribet kita inih. not your bisnis.

      btw, emang muka yang kaya entut yang kaya gimana ses? :3

      iyalah jeng, saia tahu persis kalo njenganten itu muka2 ibu tiri gitchuuh.. :p

      Delete
  7. Tul banget, lagian hasil dandan bikin orang2 di sekeliling kita seneng liatnya. Aku aja seneng liat temen kantor perempuan yang dandan. Seger diliat, apalagi kalo cuaca mendung, masa ketemu orang muka kucel juga, hehehe... Lagian merawat badan itu sama dengan mensyukuri apa yang dikasih sama Tuhan kan...

    Visit me:
    LeeAnne, Style N Season
    http://stylenseason.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berati kita sama Jeng. #toast.

      Aku malah kurang begitu respek sama perempuan yang dandan tapi tujuannya cuma untuk menarik lawan jenis. Biasanya tuh yang begini nanti setelah bersuami, malah jadi nggak dandan. Kalo kata mbak Mizha di atas, kebaca banget mindsetnya, kalau dandan bukan untuk diri sendiri atau menghargai orang lain. Pathetic. Huehehe..

      Bener banget kalau apa yang sudah Tuhan kasih sebaiknya kita rawat dan syukuri.

      Btw, dirimu fashion blogger ya? Aku abis kepo2 blogmu. Bajunya cantek canteeek. Orangnya juga canteek.. :))

      Delete

Ads