Follow Us @jenganten

Tuesday, February 25, 2014

Maybelline Makeup Remover

February 25, 2014 9 Comments
Saya pernah denger quote dari salah satu kawan beauty blogger "Sesuka-sukanya sama makeup yang tahan lama, waterproof, oilproof, dll tetap pada saat-saat tertentu makeup-makeup dengan kekuatan macam-macam proof itu akan kalah dengan dempulan yang gampang dibersihkan".Saya sendiripun kerap merasa berat jika setiap hari harus pakai foundation yang tebel -meski hasilnya cantik- atau pakai eyeshadow dan eyeliner berlapis-lapis padahal cuman beli susu coklat di alfamart. Ditambah lagi sepulangnya dari aktifitas, saya mesti harus membersihkan muka dengan teliti. Pakai cleanser baik itu jenis oil, milk, gel, soap, wash dan kawan-kawan supaya nggak dimarahi para beauty blogger yang bilang "mau ternak jerawat sama bikin lapangan kulit kusam? Gampang! Nggak udah bersihin wajah abis pake makeup!!"

Jadi, saya mengulangi lagi perkataan para beauty blogger tadi: jalan supaya kulit kita senantiasa aman tetapi bisa tetep pakai makeup adalah dengan telaten membersihkan wajah. Saya yakin di antara temen-temen pasti sudah punya minimal sabun wajah di rumah masing-masing. Nah sabun wajah itu salah satu pembersih. Namun kalau hanya pakai sabun saja masih sangat kurang untuk membersihkan makeup yang tebal. Apalagi kalau mata dan bibir kita dilumuri dengan bermacam produk seperti eyeshadow dan eyeliner.

Maka dari itu jika kamu terbiasa memakai produk makeup mata yang cukup tebal, miliki paling tidak remover khusus untuk mata dan bibir. Dua bagian ini memang dikenal lebih sensitif dari bagian kulit wajah lain. Untuk itu memang dibutuhkan formulasi khusus untuk membersihkan. Untuk saat ini, remover yang saya pakai adalah Maybelline Makeup Remover. Namun jika tidak ada, remover mata juga bisa pakai EVOO atau baby oil.

Well, kembali ke review singkat. Jadi di sini saya mau cerita tentang Maybelline.




Dari kemasan, bentuk cairan, dan cara pemakaian, saya rasa sudah jelas ya? Dan untuk saya sendiri sejauh ini tidak ada masalah. Kemasannya transparan, wadah harus dikocok merata dulu supaya cairan dapat digunakan untuk membersihkan. Ohya, ritual shaking-shaking larutan remover ini sampai mencampur adalah salah satu kegiatan paling menyenangkan di dunia. Mungkin salah satu alasan dibikin cairan terpisah adalah supaya kita jadi nggak males membersihkan makeup. Hihihi.

Daya bersihnya gimana?

Saya coba untuk membersihkan eyeliner Ranee, Lipstik Wardah (salah satu warna), Stick Foundation Pixy, dan eyeshadow cream Viva, hasilnya seperti ini:

Masih stay di tangan.

Remover dikocok + taruh di kapas.

Sekali oles.

Beberapa kali oles.
Pas ketika sekali oles, langsung kelihatan kalau makeup langsung terangkat dengan mudah. Namun, setelah saya coba usrek-usrek beberapa kali, ternyata residu makeup masih tersisa. Saya berpikir, barangkali ini sisa-sisa makeup yang sudah terangkat di kapas, malah teroles lagi di kulit. Nah, ini yang perlu diperhatikan: remover Maybelline (atau mungkin juga remover lain) mungkin diciptakan untuk pembersihan sekali usap. Artinya, kapas yang sudah dipakai untuk membersihkan jangan dipakai ulang.

Wah, sebenernya repot juga ya kalau makeupnya sangat nampol dan susah dibersihkan dengan sekali oles? Musti sedia beberapa kapas nih. Tapi bisa kok diakali dengan membersihkan pakai sisi kapas di baliknya.

Lalu gimana dengan rasa perih? Biasanya remover atau toner bisa menyisakan rasa perih di mata setelah digunakan. Namun untuk produk ini, saya rasa aman-aman saja dan tidak menuai rasa perih, baik di mata maupun di hati -maupun di kantong, soalnya harganya masih terjangkau sekitar 35 ribu. :p-

Oke, terimakasih sudah mampir dan selamat siang.
@andhikalady

Tuesday, February 11, 2014

Olay Total Effect Foaming Cleanser 7 in 1 Anti Ageing

February 11, 2014 2 Comments


Olay, sebagai merk yang dikenal memproduksi skin care varian anti aging dengan 7 kelebihan, ternyata memiliki dedikasi yang tinggi dalam mengeluarkan produk pembersih dengan jenis serupa. Ini yang saya sukai, beberapa merk lain kebanyakan hanya berfokus pada varian krim-krim skin care saja. Baik itu krim pagi, malam, dan sebagainya. Malah ada juga yang tidak begitu memperhatikan varian produk pembersih. Menurut saya, sebagai produsen skin care dengan kegunaan tertentu, setiap merk harus mengeluarkan paket produk yang terdiri dari minimal krim pagi, malam, sunblock dan pembersihnya. Percuma kalau konsumen sudah mahal-mahal membeli krim-krim anti aging, namun produk pembersih kulit tidak disupport. Yang ada nanti krim-krim itu akan menumpuk terakumulasi dengan sel kulit mati dan menghasilkan kulit kusam.

Review Olay Total Effect Foaming Cleanser 7 in 1 Anti Aging:
  1. Aromanya lembut dan manis. Ketika dipakai di wajah dapat membuat suasana rileks seketika.
  2. Kemasannya kokoh dan tidak mudah tumpah.
  3. Busanya cukup lembut dan berkualitas untuk membersihkan wajah.
  4. Mempunyai kandungan anti aging. Namun untuk poin ini, hasilnya akan lebih baik jika pemakaian dibersamai dengan produk Olay Total Effect yang lain.
  5. Poin negatif adalah kuantitas busa untuk ukuran facial foam masih kurang, sehingga membutuhkan banyak produk untuk sekali membersihkan muka. Akibatnya saya jadi berpikir ini sebenernya produk facial foam atau facial wash.





Pada poin sebelumnya, saya sempat membahas facial wash dan facial foam. Hmm, jadi begini. Kita mengenal ada dua jenis sabun pembersih wajah, facial wash dan facial foam. Apa sih perbedaanya? Facial wash adalah sabun wajah, gunanya sama saja dengan sabun pencuci tangan, yaitu membersihkan kotoran pada kulit. Sedangkan facial foam adalah busa pembersih wajah, dimana yang bekerja membersihkan dan mengangkat kotoran pada wajah adalah busanya. Facial foam diperuntukkan bagi yang memiliki kulit sensitif, meskipun tidak menutup kemungkinan pemilik kulit non sensitif boleh saja memakai facial foam. Cara pakai facial wash dan facial foam pun sebenarnya cukup berbeda. 

Cara pakai facial foam (agak berbeda sama facial wash yang tinggal usrek-usrek, basuh, selesai. LOL):

  • Basahi wajah menggunakan air.
  • Ambil facial foam secukupnya, busakan di tangan sampai sebanyak yang kira-kira cukup dipakai seluruh wajah.
  • Usapkan busa tersebut ke wajah, pelan-pelan dengan gerakan memutar. Akan lebih baik kalau tangan tidak menyentuh kulit secara langsung. Biarkan busa-busa itu ‘menari’ di kulit wajah kita. :p
  • Setelah menjangkan seluruh bagian wajah, basuh wajah dengan air. Lebih baik kalau membasuh pakai air mengalir, semisal air dari shower langsung diarahkan ke wajah.
  • Selesai deh. 

 

Friday, February 7, 2014

Wardah Lip Palette Chocoaholic

February 07, 2014 0 Comments


Beberapa waktu lalu, saya sudah mereview Wardah Lip Palette Perfect Red di sini. Kesimpulannya: saya suka sama lipstik palet tersebut. Meskipun sana-sini banyak yang bilang kekurangannya banyak, seperti teksturnya nggak nyatu di bibir, pas dipakai sedikit berbeda dengan lipstik aslinya, gampang kering, dll. Tapi sejauh ini, saya masih oke-oke saja dengan lipstik yang datang ramai-ramai delapan warna dalam satu wadah itu. 




Saya suka dengan lipstik yang datang berramai-ramai. Ihihi. Melihat warna-warni lipstik dalam satu waktu itu rasanya surga. #eh

Kiri: Chocoaholic, kanan: Perfect Red (sudah dicolek)

Oke, kembali ke topik. Wardah sebagai produsen kosmetik lokal memproduksi tiga jenis palet lipstik yang terdiri dari varian lipstik keluaran Wardah. Masing-masing palet tersebut berisi delapan variasi warna yang berbeda. Tipe Perfect Redadalah kumpulan lipstik nuansa warna merah. Tipe Pinky Peach kumpulan warna pink, dan yang akan saya review singkat kali ini adalah tipe Chocoaholic, yaitu kumpulan lipstik dengan nuansa warna cokelat/nude natural. 


Menurut saya, tipe kemasan lipstik palet begini cocok diterapkan untuk kawan-kawan yang suka bereksperimen dengan warna-warni lipstik. Cara pakainya menggunakan kuas dan bisa dicampur dengan warna lainnya. Selain itu, karena faktor harganya yang cukup murah, tipe lipstik palet ini juga cocok dipakai kawan-kawan yang ingin belajar pakai lipstik macam-macam tanpa harus membeli banyak warna. Lebih hemat kan?

Yuk kita bahas soal warnanya, 



Wardah Chocoaholic, meskipun judulnya cocoa/nude/cokelat, tetapi pada kenyataannya warna-warna lisptiknya sangat bervariasi. Dari warna merah menyala, merah darah, pink agak peach sampai warna nude natural ada dalam satu palet. Begini warna-warnanya:
 

Exclusive 44:Berwarna merah gelap, agak seperti merah darah. Tekstur lembut dan mudah menempel ke bibir tanpa menggumpal.
Matte 09:Berwarna merah hangat/warm menyala. Teksturnya matte, hampir tidak ada kilap sama sekali. Cocok untuk makeup retro. Seperti temen saya, Santi yang memakai makeup Arabian.





Excluseive 26:Berwarna merah dingin/cool dengan level kemerahan yang lebih natural dari Matte 09. Cocok untuk kawan-kawan yang berkulit cool.
Exclusive 41:Warna peach natural.
Exclusive 49:Warna peach dengan hint orange.
Matte 20:Warna nude yang sempurna menutup bibir. Tekstur matte. Cocok dipakai untuk yang pengen pakai lipstik tapi nggak kelihatan pakai lipstik.

Saya memakai Matte 20. Seperti tidak memakai lipstik, namun mampu menutup kekurangan pada bibir.

Exclusive 48:Warna pink dengan hint cokelat yang natural.

Exclusive 37:Warna pink hint cokelat dengan kondisi warna yang hampir mirip dengan Exclusive 48.
  

Oh iya, review tentang kuas, kemasan, tekstur, dan lain-lain bisa tengok di post saya yang Review Perfect Red Lip Palette.

Yang foto terakhir, saya pinjem gambar mbak Aprissya dan Desiana untuk ngikut nampang di jenganten.com. Hihi. Foto tersebut diambil ketika kami Yudisium di Fakultas Teknik bulan kemarin. Alhamdulillah, akhirnya saya yudisium juga. Status mahasiswa S1 hilang sudah. Kelak impian saya dandanin wisuda yang bukan ke orang lain akan terlaksana juga.:')

Kabar lain, saya sekarang sedang di Manokwari untuk urusan kerjaan. Kalau kata Jeng Hana Anindhita, makanan di sini enak-enak, makannya saya kemarin kulineran Papeda yang katanya makanan khas sini. Apa sih Papeda? Itu semacam makanan terbuat dari sagu, bentuknya kenyal kayak lem. Rasanya tawar, tetapi ketika dihidang bersama kuah ikan dan cah kangkung, rasanya jadi 10 kali lipat lebih nikmat!! Apalagi dimakan di daerah asalnya.

Papeda

Btw, btw, saya ke Papua cuma bawa satu palet lipstik ini loh. Dan selesailah semua masalah pergincuan. Hehe.