Tuesday, November 23, 2021

Belajar Otodidak vs Cari Mentor

Mana yang akan kamu pilih?

Sebelumnya  aku mau cerita. Dulu aku orangnya percaya dengan 'bakat itu didapat dari lahir'. Jadi kalau kamu pintar (misalnya) menyanyi. Itu artinya kamu udah terlahir dengan bakat menyanyi. Karena berbakat dari lahir, kamu bisa dengan mudah belajar menyanyi tanpa effort. Tahu-tahu bisa jadi penyanyi terkenal, begitu aja.




Yang luput dari pengetahuanku adalah, di balik setiap penyanyi sukses dan terkenal, ada kerja keras berupa:

- menulis lagu

- bekerja sama dengan produser

- membuat tim pemain musik

- menjaga hubungan baik dengan broadcast

- berlatih setiap hari (aku pernah baca kalau Raisa berlatih nyanyi 12 jam sehari)

- dst


Dulu saat umur 6 tahun, aku dibelikan alat musik keyboard sama Bapak. Entah bagaimana caranya, aku langsung paham cara memainkan, meniru lagu, menemukan chord sendiri, mengkombinasikan tangan kanan dan tangan kiri, sampai membuat melodi sederhana. Sampai sekarang aku masih ingat melodinya. Aku juga senang setiap ada tayangan orang main piano di TV. Adegan memorable di film Petualangan Sherina adalah saat dia main piano sambil nyanyi "hatiku sedih, hatiku gundah. Tak ingin pergi berpisah....".

 

Foto: kompas.com

Kalau menonton band, yang aku perhatikan adalah keyboardist-nya. Aku sampai hafal, nama keyboardist Peterpan waktu itu adalah Andika. Wuih, sama dong kayak namaku! Kayaknya kalau nasibku mujur, aku akan menjadi pianis atau keyboardist keren seperti Andika.

 

Tapi, aku tidak punya privilege semacam itu. Masa kecilku tinggal di desa. Satu-satunya orang yang dianggap pintar main keyboard adalah pemilik orkes organ tunggal dangdutan yang main di hajatan. Sesuatu yang menurut orangtuaku kurang elit dibanding jadi PNS. 

"Ngapain kamu sinau keyboard kalo ujungnya jadi pemain orkes hajatan. Mending kamu belajar giat untuk jadi pegawe aja".  Maaf bukan untuk merendahkan profesi tertentu, hanya menjelaskan pemikiran orangtuaku saat itu.

 

Terus akhirnya, sesuatu yang kusebut 'bakat main musik' itu cuma berakhir di band kantor & Soundcloud. Paling mentok, bisa buat sepik cowok-cowok kualitas menengah yang langsung berdecak 'wow' pas tahu aku bisa main keyboard. Wkwkwkwk. Padahal ya bisa bisaan aja.

 

Karena cuma belajar otodidak dari Youtube, kemampuanku tidak berkembang sebagaimana mestinya. Aku pun butuh waktu yang lama sekali untuk bisa main Pachelbel Canon aja. Ditambah aku tidak mencancang cita-cita menjadi pemain musik profesional setinggi itu. Dengan kata lain, musik bukan prioritas. 

 

Aku pernah ngobrol langsung dengan guru piano beneran, lalu dijeberin kurikulumnya. Ternyata belajar piano nggak sesimpel kamu punya 'bakat' terus bisa main. Udah. Nooo...

Ada teknik menata jarinya, ada kiat membaca not balok, ada cara memainkan feeling, dll. Lalu si guru baik hati itu bilang kalau caraku bermain keyboard selama ini salah. Wkwk ya nggak apa-apa namanya juga main musik for fun only. Salah ya nggapapa yang penting kita senang, cowok inceran juga bisa lah dapet.

Di titik itu aku merasa, wah, sebetulnya sayang banget bisa main musik tapi kurang di-explor dan tidak dipakai latihan secara serius.




Lalu waktu berjalan. Aku menemukan passion lagi di makeup. Aku waktu itu masih percaya konsep 'bakat dan belajar otodidak'. Konsep ini tidak sepenuhnya salah. Memang ada benarnya, bakat ada, belajar otodidak juga bisa. Tapiii, yang nggak aku sadari adalah adanya 'bahaya' yang lebih besar mengincar...

 

Mau sampai kapan percaya istilah 'bakat itu dari lahir'?

Kalau nggak dilatih dan diasah ya sama saja.

Mau sampai kapan mengandalkan belajar otodidak aja?

Yakin belajar otodidak aja udah cukup?

Yakin kamu nggak akan kesulitan menyamai pace mereka yang belajar sungguh-sungguh?

Mau berapa tahun kariermu mentok di situ-situ aja karena nggak mau cari guru?

 

Dan begitulah, karena aku nggak menyadari 'bahaya' tersebut, lantas jadi MUA-nya juga cuma jalan di tempat. Ada sekitar 2 tahunan aku nggak pernah merias client lebih dari wisuda. FYI, merias wisuda adalah milestone begginer sebagai MUA, sebelum beranjak kompeten merias pengantin tradisional. Menguasai makeup wisuda adalah hal mudah. Tapi menjadi dukun manten (apalagi yang tradisional) adalah hal lain. Kamu butuh guru dan mentor yang memang menguasai ilmunya. Ini ilmu pakem, ilmu yang tidak sembarangan diaplikasikan. Begitu juga dengan makeup no makeup yang terlihat flawless tapi tetap cantik dipandang. Kamu tidak bisa hanya mengandalkan Youtube tanpa menerapkan langsung.

 

Aku sadar aku musti berubah.

Aku juga dikasih tahu sama Pak Rangga kalau aku nggak bisa begini terus.

Kata dia, konsep 'bakat dari lahir' itu nggak akan ke mana-mana kalau tidak mau berusaha.

Harus kerja keras, harus mengambil langkah tepat yang nggak membuang waktu.

Aku mulai cari guru. Guru yang memang sudah mengerti dan berkecimpung di bidangnya.

Aku ingin skill dan kompetensiku ter-akselerasi.

Kalau belajar otodidak butuh 2 tahun, dengan guru yang tepat bisa belajar 2 hari saja.

 

Sekarang aku sadar bahwa, untuk belajar dengan cepat butuh guru. Bukan sekadar belajar otodidak. Meski banyak orang mampu menyerap dan berlatih sendiri, tetap ada banyak value yang lebih bisa didapatkan dari mentor.

Kalau kaitannya adalah skill yang berpengaruh dengan hidup dan mati, aku rasa lebih bijak kalau memilih belajar melalui mentor. Namun apabila skill itu untuk for fun aja, dan kamu tidak masalah belajar sendiri, otodidak menjadi pilihan yang baik.

Aku tidak apa-apa tidak jadi pianis profesional, tapi aku mau jadi MUA profesional.


@andhikalady

Continue reading Belajar Otodidak vs Cari Mentor

Tuesday, November 16, 2021

, , , ,

Cara Periksa Tumbuh Kembang Anak dengan BPJS



Sedari awal, aku dan suami sudah tanggap kalau sedini mungkin Linam harus segera didaftarkan BPJS. Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Betul juga, beberapa kali kami menerima manfaat BPJS untuk pengobatan dan perawatan keluarga. Salah satunya yang cukup berbiaya besar yaitu saat Linam harus operasi Urachus Paten ketika berusia 2 bulan. Ini kalau dihitung-hitung mungkin bisa sampai puluhan juta kali ya. Untung semua ditanggung oleh BPJS sehingga 100% gratis.

Nah untuk tumbuh kembang anak juga bisa pakai BPJS asal tahu caranya. Kita sama-sama tahu lah ya, biaya terapi, dokter spesialis dan obat-obatan itu tidak murah. Apalagi untuk paket terapi yang harus dilakukan dalam masa yang tidak menentu. Tidak cukup sebulan dua bulan, bisa lebih lama lagi sampai si anak dinyatakan lulus catch up. Kalau dananya habis di tengah jalan, kasihan si anak. Terapi bisa terpaksa harus terhenti bahkan bisa diulang dari awal lho.

Untuk itulah aku menggunakan alur BPJS. Awalnya kita harus memantau redflag pertumbuhan anak. Jadi ada kisi-kisi kalau perkembangan anak terganggu. Ini Mom harus pantau terus. Misal dirasa ada semacam gangguan pertumbuhan & perkembangan, segeralah periksakan ke dokter. Pilihan kami ke dokter keluarga di faskes 1. Lalu bisa minta rujukan ke DSA khusus tumbuh kembang. Biasanya ada di rumah sakit besar. Mom harus banyak mencari tahu informasi klinik tumbuh kembang di kota masing-masing ya. Ada juga sih klinik swasta yang independen. Namun tipe ini jarang menerima rujukan BPJS.

Di Jogja sendiri, ada RSA UGM, RS Hermina, RS JIH, Klinik GMC, Bunda Novy, Yamet, dll. Tidak semua ter-cover BPJS. Konsultasikan saja dengan Faskes 1 Mom.

Selain itu, mencari support group sesama orang tua pejuang tumbuh kembang juga banyak membantu. Bisa jadi mereka punya info berlian yang tidak ditemukan di internet.

Nah, setelah konsultasi ke Faskes 1, Linam diperiksa oleh DSA (dr. Mei Neni) di Hermina. Kemudian langsung dirujuk untuk CT Scan kepala agar tahu apa ada penyebab di otak yang berpengaruh ke tumbuh kembang. Untuk proses CT Scan ini unik, tidak setiap anak yang bermasalah dengan tumbuh kembang akan dirujuk CT Scan. Untuk kasusnya Linam, kebetulan dia punya lingkar kepala yang lebih besar dibanding ukuran normal. Sempat dikhawatirkan ada hidrocephal tetapi alhamdulillah tidak ada. Hasil dari CT Scan itu adalah adanya hipotropi otak bagian depan yang belum berkembang sempurna.

Tapi itu saat Linam usia 19 bulan. Sekarang udah banyak banget kemajuan, harapannya otak yang belum tumbuh saat 19 bulan kini sudah tumbuh secara signifikan (terimakasih untuk resep obat, terapi, dan kurikulum stimulasi yang kami terapkan).

Setelah dirujuk ke DSA, Linam kembali dirujuk ke dokter spesialis Rehab Medik (dr. Thomas). Beliau akan menangani terapi dan menentukan dosis terapi. Kemudian Linam dijadwalkan untuk fisioterapi selama seminggu 2x. Lengkapi dokumen pendukung asuransi seperti:

- fc rujukan dari Faskes 1 (harus dipunyai banyak karena akan digunakan berkali-kali)

- lembar jadwal terapi

- fc rujukan DSA & dokter Rehab Medik

- fc BPJS & KIA (Kartu Identitas Anak)

Pengetahuan sederhana soal BPJS anak itu penting. Jangan mentang-mentang yakin anak sehat terus sehingga mengabaikan ketertiban dokumen. Akta kelahiran, kartu KIA, perubahan KK, dan BPJS adalah empat hal penting yang harus diurus pertama kali setelah anak lahir.

Apa ada perbedaan layanan BPJS dengan non BPJS. Berdasarkan pengalamanku tidak ada sama sekali. Semua sama aja. Cuma di beberapa tempat, antrean terapi cukup panjang. Namun untuk Linam, lagi-lagi alhamdulillah tidak terlalu antre.
Continue reading Cara Periksa Tumbuh Kembang Anak dengan BPJS

Wednesday, November 10, 2021

, , , , , ,

CEO Value ala Drakor Start-up. Mental Penting Seorang Pengusaha

Dulunya aku mikir, nonton Drakor adalah kesia-siaan karena episodenya panjang dan memakan waktu saat ditonton. Lagipula formula Drakor di kepalaku agaknya begitu-begitu aja. Ada cewek, disukai cowok, eh ada cowok lain yang perhatian. Lalu galau milih siapa. Repeat.

Tapi semua berubah sejak aku nonton Squid Game. Wah, boljug nih ide-ide drakor sekarang kayaknya udah makin kreatif. Maka dari itu, aku coba membuka hati (ciehh) untuk nonton drakor lain atas rekomendasi teman, yaitu START-UP.




Seperti namanya, drakor ini membahas perjalanan karier dari 0 menuju kesuksesan (dan lika-liku di dalamnya) membangun startup unicorn. Ini memang fiksi, tapi setelah aku cari lagi artikel Silicon Valley, drakor ini mendekati akurat.

Again, if you want to cut the bullshit of K-drama cliche, you can directly jump in to 4'th episode. Tenang aja, poin pentingnya nggak akan terlewat. Don't be surprised, you'll get huge amount of basic start up knowledge and CEO energy.

Oke, yuk kenalan sama tokoh-tokohnya.

Mbak Darmi





Seorang cewek dari keluarga biasa (tapi tasnya Lady Dior 63 juta rp) yang bercita-cita jadi Steve Jobs nya Korea. Ngaku kerja partime demi hidup sehari-hari (tapi bajunya 13 juta rp, lipstiknya & bedaknya merek Lancome 700ribuan). Mbak Darmi diperankan oleh Bae Suzy. Melihat gayanya & latar belakang finansialnya memang nggak match. Tapi ya sudah lah dia kan pura2 misqueen aja di K-drama.

Mbak Jaenab




Kakaknya Mbak Darmi. Sukses, cantik, diadopsi oleh ayah kaya. Level pengalamannya adalah CEO. Dia adalah 'saingan' Darmi dalam segala hal. Orang ini yang awalnya jadi motivasi Darmi untuk menjadi sukses karena tidak mau kalah sama kakaknya. Dia diperankan oleh Kang Ha-na.


Mas Dasino




Seorang programmer jenius yang ketiban wulung. Harus ketemu Mbak Darmi yang ayune ga ketulungan karena kesalahpahaman masa lalu. Mas Dasino tadinya adalah CEO Samsan Tech, tapi di bawah kepemimpinannya, tidak pernah sukses mendatangkan investor. Ganteng, tapi nggak sadar dirinya ganteng. Pinter tapi nggak mau keminter. Agak insecure, tapi paham sama kekurangan diri. Dia diperankan oleh our K-drama forever crush, Nam Joo-Hyuk.

Mas Aji (alias Mas Jipong)




Mas Aji ini investor sukses dan kaya raya. Diam-diam suka sama Mbak Darmi sejak kecil. Karena suka, dia melakukan banyak hal untuk membantu Samsan Tech sampai sukses. Karena tabiatnya suka menolong, kita panggil dia Mas JIPONG (Aji si Penolong). Dia diperankan oleh Kim Seon-Ho.

 
Singkat cerita, Darmi & Dasino ketemu di event startup Sandbox dan menjadi satu tim untuk sesi hackaton.  Dasino yang sadar dirinya tidak kompeten menjadi CEO, dengan besar hati memberikan posisi itu kepada Darmi yang cuma lulusan SMA. Di sini insight yang aku ambil adalah: sejenius apapun kamu dalam hal programming, belum tentu bisa memimpin dan membawa startup menjadi maju. Jadilah mereka, Darmi, Dasino, dan 3 anggota lainnya menjadi satu tim hackaton, Samsan Tech.

Perjalanan karier mereka akhirnya lolos menjadi anggota Sandbox dan mendapatkan investasi pertama sejumlah 100juta won (1,2M rp). Mereka bekerja mengembangkan layanan dan inovasi baru dalam bidang Artificial Intelligence. Intriknya pun nggak jauh-jauh dari dunia startup. Merka meniti dari 0 sampai membangun Unicorn. Bukankah itu hebat?

Nah apa saja moral value yang patut kita cermati dari Drakor ini?

1. Merekrut VS Direkrut




Ada perbedaan mendasar antara merekrut dan direkrut. Merekrut membuat posisimu di atas, begitu pula sebaliknya. Direkrut artinya kamu posisi di bawah. Dasino merekrut Darmi menjadi CEO alih-alih direkrut Jaenab menjadi developer. Padahal Jaenab lebih berpengalaman daripada Darmi.

2. Cara kenalan dengan calon potensial klien




Setelah acara Hackaton, dengan bodohnya Darmi malah tidur. Tetapi Jaenab lebih maju satu langkah. Ia menemui pemilik bank dan bertukar kartu nama. Hackaton adalah acara penting untuk saling kenalan dengan klien potensial. Karena tindakannya tersebut, Jaenab berhasil mendapatkan proyek sebesar 300juta won (2,4M rp). Sementara Darmi masih pusing dengan pendanaan Samsan Tech.

3. Jangan mudah memberikan teknologi perusahaan




Algoritma, source code, teknologi, dan haki perusahaan adalah hak milik perusahaan. Jangan pernah berikan ke pihak lain tanpa imbalan yang pantas. Ini sama halnya kayak restoran, bukankah resep nggak akan kamu bagi secara cuma-cuma?

Dasino dan timnya yang masih cupu harus sampai didamprat oleh Mas Jipong karena membolehkan tamu merekam seluruh proses sistemnya bekerja.

4. Jadi CEO yang baik bagaimana




Tidak ada cara menjadi CEO yang baik. Tapi ada cara mengambil keputusan yang terukur. Pekerjaan CEO adalah tentang mengambil keputusan yang optimal. That's it.

Mbak Darmi yang cuma lulusan SMA pun harus mendapat kuliah dari Mas Jipong untuk kekeh mengambil keputusan, terutama soal pemegang saham Samsan Tech.

5. Majunya perusahaan tidak akan melebihi mimpi sang CEO




                                                                                                                                  
Kalau CEOnya saja cemen dan takut bertindak, siap-siap saja perusahaan tidak akan maju. Besarnya perusahaan tidak akan lebih besar dari mimpi CEO. Mak Jaenab yang sudah berpengalaman menjadi CEO sedang memarahi Darmi karena takut merekrut Dasino dan teman-temannya.

6. Berani mencoba hal baru





Awalnya Dasino bertemu Darmi karena ketidaksengajaan. Itupun disuruh sama Mas Jipong. Dasino langsung kesengsem sama Darmi. Lalu Dasino menjadikan seluruh kata-kata dan cita-cita Darmi sebagai cita-citanya juga.

7. Mengelola risiko






Ada adegan di mana satpam-satpam Bank Jonan melakukan protes terhadap Jaenab karena proyek pengurangan karyawan dengan otomasi pengaman. Mbak Jaenab dengan sigapnya melakukan komunikasi dan turun ke lapangan langsung untuk berbicara dengan pentolan kang protes.

8. Kalau tidak bisa menyaingi musuhmu, jadilah pasukannya.




Ada adegan di mana seluruh programmer Samsan Tech termasuk Dasino 'dicolong' ke Amerika, sementara Darmi dipecat. Sedih karena ditinggal timnya, eh kekasihnya, Darmi memutuskan untuk mendaftar ke perusahaan milik Jaenab dan jadi karyawan di sana. Mau nggak mau Darmi harus rukun sama kakaknya dong.
 
Selain 8 value Start-up di atas, kita juga disuguhkan pengalaman romantis khas Drakor. Cinta segitiga antara Darmi, Dasino, dan Mas Jipong. Siapa yang Darmi pilih? Kayaknya kamu perlu menonton sampai tamat. Aku udah nonton 3x dan masih belum bosan.

@andhikalady
Continue reading CEO Value ala Drakor Start-up. Mental Penting Seorang Pengusaha
, ,

Pengalaman Frugal Living dengan Kebiasan Masak & Foodprep Sendiri

Ada sebuah parameter untuk melihat tingkat kemajuan sebuah negara, yaitu rasio antara belanja makanan dengan pendapatan. Kalo istilah englesh-nya Food Expenditure Ratio. Makin maju negara, makin kecil rasio belanja makanan terhadap pendapatan rata-rata. Sebaliknya, makin miskin negara, makin besar rasio belanja makanan terhadap pendapatan.

Dengan kata lain, semakin miskin negara, porsi gajinya sebagian besar digunakan untuk membeli makanan melulu.

Ini 7 negara yang paling sedikit rasionya. Amerika contohnya. Mereka hanya membelanjakan 6,4% dari penghasilan mereka untuk belanja makanan. Singapore di bawahnya, diikuti dengan 6 negara maju lainnya.



Sementara ini 9 negara terbawah dengan rasio terbesar. Nigeria bahkan menghabiskan 56% pendapatannya hanya untuk beli makan. Ibaratnya misal punya gaji 3 juta, 1,8 jutanya sendiri hanya untuk makan. Warga Nigeria hanya punya 44% sisa penghasilan untuk hal lain (tempat tinggal, sandang, pendidikan).



Lalu rasio Food Expenditure Indonesia berapa? 31%. Jadi, misal ada orang Indonesia punya gaji 3juta, rata-rata mereka menghabiskan 1juta hanya untuk beli makan. Gaji 5 juta, rata2 dihabiskan 1,5juta untuk makan.

Ini rata-rata. Meskipun agak susah membayangkan bisa makan sebulan hanya dengan 1juta. Mungkin yang penghasilannya 3jutaan, uang untuk belanja makanan lebih dari 1juta.

Nah kaitannya sama topik Andhikalady apa tuh? Kok bahas rasio2 belanja makanan segala?

Ini topiknya bakal aku giring ke arah frugal living. Sekarang coba cek penghasilan masing2, dan bandingkan dengan expenses yg kamu belanjakan untuk beli makanan. Makanan lho, kebutuhan utama hidup manusia yang harus dibeli dengan uang.

Lebih atau kurang dari 31%?

Jika kurang dari itu, selamat. Kamu mendekati life style negara2 yang lebih maju. Bisa jadi hidupmu lebih sejahtera dari rata2. Mungkin kamu pintar menabung, pintar berhemat, hidup frugal, dan sejenis itu mirip2 lah.

Tapii jika kalau lebih dari 31%, hmmm, this is not very good. Katakanlah kamu punya penghasilan tinggi misal dua digit. Tapi yang kamu belanjakan untuk makanan lebih dari sepertiganya, sama aja Malihh. Kamu menyia2akan potensi besar penghasilan yang bisa digunakan untuk hal lain. Misal pendidikan dan investasi.

Well, aku paham kalau sebagian orang punya prinsip "hidup untuk makan". Makan kalau nggak bermewah2 pantang. Telur itu cuma condiment bukan lauk. Makanan itu jadi daging dan otak jadi harus mewah, endesbrey, endesbrey.

Tapii, salah satu hal yang aku sesali adalah; duluu di saat aku single dan berpenghasilan, aku terlalu banyak nge-treat diri sendiri dengan makanan yang nilai gizinya tidak lebih unggul dari masakan buatan rumahan. Dikit-dikit jajan. 3x sehari jajan. Padahal ibuku udah ngasih rice cooker buat masak nasi sendiri di kost, tapi aku lebih memilih makan di luar.

Duh, sekarang aku ngerti betapa kecewanya ibuku kalau anaknya boros. Hahahaha.

Coba aja aku sejak dulu menerapkan konsep Food Expenditure, mungkin sekarang udah punya kost-kostan.

Sekarang keadaan berubah. Sebagai istri & ibu, aku bertanggungjawab dengan gizi dan kelezatan makanan di rumah. Aku mulai belajar masak, belajar belanja dengan mindfull. Belajar meramu makanan booster BB yang cocok dan enak untuk Linam, serta yang nggak bikin tekanan darah Pak Rangga makin naik. Termasuk membandingkan toko dengan harga termurah, dan juga bahan terbaik. Apa hasilnya?

Expenses yang dulu aku pakai untuk makan aku seorang ternyata cukup untuk memberi makan satu keluarga 3 orang, aku, suami & anak.

Ibarat misal dalam sebulan buat aku makan sendiri 2 juta (dengan jajan). Ternyata buat makan 3 orang juga habis 2 juta. Gizinya sama, enaknya sama, tapi jumlah perut yang kenyang lebih banyak. All you need to do is: masak sendiri.

Ini sukses menurunkan rasio Food Expenditure di keluarga kami. Biaya untuk makan bisa ditekan, sementara pendapatan yang lain dapat digunakan untuk pos lain. Hati juga lebih adem dan tenang karena dana darurat dan beberapa rancangan cita-cita sudah cukup aman.

Aku be lyke, what, ini mah ilmu PKK banget tapi manfaatnya benar-benar terasa. Tinggal penerapannya, apakah kalau penghasilan bertambah, Food Expenditure akan tetap, turun, atau celakanya malah nambah karena kalap jajan makanan2 mevvah?

Kamu nggak perlu meniru 100% langkah yang aku ambil, tapi coba deh pikir lagi. Misal kamu merasa boros banget di jajan, tidakkah lebih mindfull dan cermat apabila kamu mempertimbangkan untuk save a lot of money by cook and prepare the food by yourself?

Have a nice overthink night.

Andhikalady.

Continue reading Pengalaman Frugal Living dengan Kebiasan Masak & Foodprep Sendiri