Follow Us @jenganten

Thursday, May 30, 2013

Karena Matahari tak perlu Ditakuti

May 30, 2013 11 Comments



Lihat baik-baik foto di atas. Yang memegang selendang itu adalah saya, di samping kanan dan kiri yang membawa bokor itu adalah kawan saya. Ceritanya kami sedang berlatih tari Bali Minggu siang. Saya membawakan tari Cendrawasih dengan properti selendang, sedangkan dua kawan saya membawakan tari Sekar Jagat.  Kita bertiga berfoto bersama di taman depan sanggar. Tapi tahukah kamu, kalau di foto atas itu ada yang aneh? Latihan tari kok panas-panasan begitu sih? Apa tidak takut hitam? Apa tidak makin keringatan berpanas-panasan? Lhawong menari saja sudah bikin keluar keringat to the max, apalagi ini ditambahn panas-panas. Atau memang saya dan kawan-kawan itu kurang kerjaan?

Ada benarnya juga kalau kami kurang kerjaan. LOL. Tapi intinya, itu bukan sekedar saya dan kawan-kawan sedang bernarsis ria di taman sambil berpanas-panasan di bawah matahari siang bolong. Foto di atas adalah semacam manifestasi betapa kita sangat tidak mungkin menghindari sinar matahari. Katakanlah saya dan kawan-kawan cuma butuh sepuluh menit untuk mengambil foto di taman. Gaya – jeprat – jepret – selesai . Tapi apakah kita cuma sepuluh menit saja waktu yang kita pakai untuk ketemu matahari?

Saat pagi hari keluar rumah, kita langsung disambut terpaan vitamin D dari matahari pagi. Ketika siang, terpaan vitamin D dari sinar matahari yang kita tempa di pagi hari berangsur berubah menjadi sinar yang terik. Intensitas sinar Ultra Violet juga makin meningkat. Jika terpapar kulit dalam jangka waktu lama, peningkatan intensitas sinar ini berpotensi menciptakan efek kulit terbakar sinar matahari (sunburn) dengan ciri-ciri kemerahan rupa terbakar di kulit. Untung tubuh kita memiliki mekanisme  perlindungan yang hebat. Bagaimana cara tubuh melindungi diri? Caranya yaitu kulit membuat semacam tameng dengan cara membentuk melanin penangkal sinar Ultra Violet setiap kali terkena. Efek samping dari perlindungan jangka panjang ini adalah kulit menjadi lebih menggelap karena proses pigmentasi. Skenario ini secara otomatis dilakukan oleh kulit setiap kali tubuh tertimpa sinar Ultra Violet. Jika kita terkena matahari kurang lebih tiga jam sehari, tinggal hitung saja berapa kali lipat kemungkinan kulit berpigmen akibat proses perlindungan yang dilakukan. Makin tanner? Iya. Makin cokelat? Iya. Tapi itu masih mending, yang paling parah adalah terjadinya sunburn, yaitu kulit kemerahan melepuh karena terbakar sinar matahari. Hiii, nggak mau kan?

Sebenarnya kemampuan kulit normal manusia berbeda-beda dalam menangkal sinar UV. Menurut sumber ini, ukuran ketahanan manusia terhadap sinar UV dapat dilihat dari warna kulit, warna rambut dan warna mata. Secara singkat, datanya adalah sebagai berikut : 

1.  Kulit cerah, rambut pirang kemerahan, mata biru/hijau bertahan 10 - 20 menit.
2.  Kulit putih, mata biru/kecokelatan, rambut pirang bertahan 15 - 30 menit.
3.  Kulit kuning langsat, rambut cokelat, mata cokelat bertahan 20 - 40 menit.
4.  Kulit cokelat muda, rambut hitam, mata cokelat tua bertahan 25 - 50 menit.
5.  Kulit sawo matang, rambut hitam, mata cokelat bertahan 30 - 60 menit.
6.  Kulit hitam, mata hitam, rambut hitam bertahan 40 - 74 menit.

Jika dikomparasi dengan keadaan kulit wanita Indonesia, kita berada di posisi nomor 4 - 5 atau memiliki ketahanan sekitar 40 menit perlindungan alami kulit. Nah, kulit sudah berbaik hati melindungi tubuh kita. Senang kan? Giliran kita dong, yang bantu kulit untuk meringankan beban kerjanya sebagai pelindung tubuh. Ada banyak caranya, di antaranya mengkonsumsi vitamin yang baik untuk kulit, memberinya pelembap, dan yang paling penting adalah mengolesinya dengan Hand & Body Lotion (atau bisa juga disebut lotion saja) yang memiliki perlindungan optimal sepanjang hari dengan extra protection terhadap sinar UV.

Apa ciri-ciri lotion yang memiliki bahan perlindungan terhadap sinar UV? Yang paling mudah diamati adalah tertulis terdapat kandungan SPF (Sun Protection Factor) di dalamnya. SPF ini merupakan bahan aktif yang melindungi kulit dari sinar Ultra Violet yang berpotensi merusak kulit. Bahan utama yang lazim digunakan sebagai materi SPF adalah TitaniumDioxide, Zinc Oxide atau kombinasi keduanya. Cara kerja tabir surya beragam, ada yang berfungsi sebagai sunscreen yang menyerap sinar UV dan sunblock yang secara kimiawi menangkis sinar UV. SPF memiliki bilangan yang menyatakan tingkat perlindungan kulit dalam kelipatan. Sebagai contoh, jika dalam keadaan normal seseorang dapat mengalami sunburn dalam waktu satu jam, pengaplikasikan tabir surya ber-SPF 15 dapat membantu orang tersebut bertahan lima belas jam di bawah matahari. (Sumber). Jika dihitung berdasar kemampuan kulit wanita Indonesa yang memiliki ketahanan rerata 40 menit, maka SPF 15 mampu melindungi kulit kita sebanyak 15 x 40 atau sekitar 600 menit atau 10 jam!! Itu sudah cukup banyak sodara-sodaraa.. :D

Saya berkesimpulan sendiri, kulit orang Indonesia sebenarnya tidak perlu lotion dengan SPF banyak-banyak (tapi ini kesimpulan saya sendiri lho ya). Kulit kita kan sudah cukup berpigmen dengan rerata warna kulit variatif dari kulit putih hingga kecokelatan. Dengan asumsi matahari bersinar sekitar 12 jam dan tidak setiap saat kontak dengan sinar matahari langsung, jika touch up lotion dimisalkan dua kali sehari, dengan SPF 15 saja sudah cukup terlindung lho. 

Kemudian saya juga dikejutkan oleh hasil Googling ke sana ke mari yang menyatakan bahwa perlindungan SPF 15 tidak begitu berbeda dengan perlindungan SPF yang jauh di atasnya. Lihat saja grafik berikut ini :

Sumber
Wow, saya kira, makin tinggi angka SPF, makin tinggi pula tingkat perlindungan. Ternyata pola perlindungan berada pada titik balik di angka 15 sodara Jenganten! Menurut penelitian tersebut, intinya SPF 15 mampu melindungi sebanyak 94% paparan sinar Ultra Violet, tidak jauh berbeda dengan nilai SPF yang jauh di atasnya. Horee! Berati kesimpulan pribadi saya yang sudah disebutkan di atas tidak sepenuhnya salah dong.

Ngomong-ngomong lotion ber-SPF, saya sudah lama menjadi pengguna tetap Hand & Body Lotion Marina. Dahulu, yang saya pakai adalah Marina UV White Radiant. Tapi begitu Marina mengeluarkan produk baru dengan tambahan perlindungan SPF 15, PA+, plus Yoghurt, saya langsung tertarik. Seperti review sebelumnya, saya juga suka lotion Marina yang ini. Ada beberapa alasan yang membuat saya suka lotion Marina yang ini :

  • Aromanya lembut dengan ketegasan yang tidak mengganggu. Beberapa lotion yang pernah saya pakai memiliki aroma yang cukup keras dan mengganggu. Saya pribadi cenderung menyukai lotion yang wanginya lembut dan soft. Apalagi untuk lotion ber-SPF. Sebaiknya memang memilih lotion yang aromanya seminimalis mungkin.

  • Lotion Marina memiliki varian kemasan yang cukup banyak. Ada yang ukuran kecil untuk dibawa traveling, ada pula ukuran jumbo yang dapat disimpan manis di meja rias. Variasi ini secara langsung mempermudah saya memanajemen penyimpanan lotion untuk kulit. Jadi bisa touch up lotion di mana saja deh. :)

  • Tekstur lotion Marina sangat lembut dan mudah meresap di kulit. Cobalah ambil lotion secukupnya dan oleskan ke kulit, tunggu sebentar. Ternyata tidak sampai 30 detik, seluruh lotion sudah rata dan terserap ke kulit dengan sempura. Nah ini membuat saya senang, karena memperkecil effort dalam ritual memakai lotion. Tinggal keluarkan lotion dari kemasan, oles sana, oles sini, dan tuingg, langsung terserap dan lembap seketika. Simpel dan praktis.
  • Terbukti membuat kulit saya lebih cerah. Saya berani menulis ini sebenarnya bisa jadi terdapat dua kemungkinan : perlindungan lotion Marina memang bagus sehingga kulit saya yang dari sononya putih (uhuk) tidak berubah menggelap, atau memang kulit saya yang sempat kusam kegelapan berubah menjadi lembap dan cerah. Tapi intinya kulit saya sudah jarang belang lagi karena rutin pakai lotion Marina setiap hari.
  • Memiliki bahan perlindungan dan perawat kulit yang optimal. Di antaranya saja SPF15 yang optimal melindungi 94%  paparan dari sinar UV. PA+ yang membantu menghambat proses penggelapan kulit. FYI, lotion baru dapat optimal melindungi kulit kalau sudah tersedia dua bahan aktif ini (SPF dan PA+). Selain itu lotion Marina juga dilengkapi dengan bahan alami yang mampu meratakan dan mencerahkan warna kulit seperti Yoghurt dan Vitamin B3. Serta Vitamin E dan moisturizer yang membantu merawat kulit senantiasa halus dan lembut.
  • Harga lotion Marina sangat-sangat-sangat terjangkau. Saya mencoba membandingkan harga lotion yang ada di supermarket dengan taraf kualitas yang hampir setara (memiliki kandungan SPF 15, PA+ dan bahan aktif hampir serupa), lotion Marina-lah yang harganya paling terjangkau.

Pagi ini saya memulai hari dengan mengoleskan Hand & Body lotion Marina ke tangan, kaki dan beberapa bagian kulit tubuh saya yang dirasa perlu dilindungi. Kemudian saya bawa tubuh ini ke mana-mana, mengendarai motor, berjalan di bawah matahari, termasuk berfoto-foto cantik di taman sanggar sambil mengenakan selendang. Sore harinya saya mengecek kulit tangan dan kaki saya ternyata tidak berbelang dan masih tetap lembut. Itu sudah merupakan tanda kan, kalau Lotion Marina UV White SPF 15 dengan bahan aktifnya telah mampu melindungi kulit saya dari terpaan sinar matahari?

Karena matahari tak perlu ditakuti dan berjalanlah di bawahnya dengan percaya diri.








Disclaimer : Tulisan ini adalah tulisan saya sendiri. Semus isi tulisan adalah di luar tanggung jawab PT. Barclay Tempo Scan Pacific dan Marina dengan semua asetnya

Monday, May 27, 2013

Bicara tentang Pewarna Bibir

May 27, 2013 6 Comments


Apa persamaan antara makanan, minuman, ciuman, senyum, huruf M, B, P dan lippen? Menurut Lady, persamaan dari kedelapan istilah barusan adalah semuanya dilakukan dengan bibir. Mana bisa kamu ngomong ‘Mama’, ‘Papa’, ‘Baby’, berciuman, tersenyum, makan, minum, dan pake lippen tanpa memakai bibir?

So, karena bibir itu banyak gunanya, perlakukanlah bibir dengan sebaik-baiknya. Kalau dia kering, kasih pelembap atau lipbalm. Kalau dia pecah-pecah, jangan dijilat dengan alasan untuk membasahi. Air ludah memang membasahi bibir dalam sekejap, tapi setelah itu justru membuat bibir makin kering lho. Kalau dia pucat, warnai dengan lipstick. Gitu kan?

Nah, karena Jenganten.com adalah beauty blog, di sini saya mau ngomongin pewarna bibir. Sudah sejak 5000 tahun silam, wanita-wanita di dunia hobi mewarnai bibir. Cleopatra sang ratu Mesir memecah kumbang merah untuk diambil warnanya sebagai pemulas bibir (FYI, jika ingin tahu info kehalalan kumbang merah sebagai pewarna lipstik dapat menengok posting ini atau ini , ditulis oleh Momzhak). Ratu Ur dari bangsa Sumeria terbiasa menggunakan batu besi untuk pemerah bibir. Di Yunani kuno, lipstik dianggap sebagai kosmetik yang hanya dipakai oleh pelacur. Mereka memakai formula dari anggur, rumput laut dan murbei untuk pemerah bibir. Lain lagi dengan Inggris. Sebelum tahun 1770, wanita yang memakai lipstik dianggap sebagai penyihir dan ahli guna-guna. Sumber1. Sumber2.

Tiba-tiba saya jadi bersyukur hidup di jaman sekarang. Coba di jaman Yunani atau Inggris kuno, masa pengen pakai lipstik saja kudu jadi pelacur atau penyihir dulu? *macak Narcissa Malfoy* XD

Kebangkitan era per-lipstick-kan mulai berkembang ketika pasca Perang Dunia II. Di saat itu, wanita-wanita sudah mulai bekerja mandiri dan mampu membeli kosmetik sendiri, termasuk lipstik. Gelegar lipstik makin merajalela ketika banyak ikon artis-artis Hollywood yang mempopulerkan bibirberwarna merah. Sebut saja Katharine Hepburn, Marylin Moenroe, Rita Hayworth, dan sebagainya.

Enam dasawarsa setelah berakhirnya Perang Dunia II, sekarang ada banyaaak sekali macam-macam pewarna bibir. Tidak hanya lipstik, tapi ada lipgloss, colour lipbalm, lipstik cair, lip tint dan seabrek macam pewarna bibir. Warnanya pun makin beragam tidak cuma merah saja. Kalau dahulu warna lipstik cuma merah itu-itu saja,  teknologi yang ada sekarang memungkinkan adanya kombinasi warna-warni lipstik yang luar biasa banyak.

Bersyukur part #2 hidup di jaman sekarang. 

Tapi secara gampangnya warna lipstik bisa dikategorikan menjadi dua = warna natural dan warna bold.

Warna natural ciri-cirinya adalah warnanya mendekati warna bibir, terkesan alami, jika dipakai menghasilkan warna yang tidak mencolok (seperti tidak pakai pewarna bibir). Beberapa orang dilahirkan memiliki warna bibir yang natural berwarna kemerahan, sehingga tidak pakai lipstikpun sudah bagus warna bibirnya.

Sedangkan lipstik warna bold ciri-cirinya nggak jauh-jauh dari tingkatan warna merah. Merah darah, merah bata, merah hati, merah maroon, merah ungu dan keluarga warna merah lainnya.Warna bold cenderung rapih menutup warna asli bibir.

Kalau disuruh memilih warna lipstik bold atau natural, dengan tegas saya memilih warna bold. Kenapa? Inilah alasan-alasan saya :

  • Pada umumnya, lipstik bold dapat di-build tipis-tipis dan bisa menghasilkan warna natural. Jadi, seperti mendapat dua warna dalam satu lipstik gitu. Sementara kalau lipstik natural tidak dapat memberikan hasil yang sama.
  • Warna bibir alami saya cenderung nggak bermasalah. Meski tidak sempurna, saya tidak memiliki warna kehitaman yang kentara di tepi bibir. Jika kepingin warna bibir yang natural pake banget, tinggal dikasih lipbalm saja sudah cukup kelihatan fresh.


  • Ada rasa percaya diri yang tidak terbantahkan ketika memakai lipstik warna bold. Menurut saya, warna bibir bold adalah bahasa makeup untuk “I’m me. This is me”. Untuk itu, ada istilah ketika seorang wanita memakai lipstik warna bold, itu artinya dia memakai lipstik untuk dirinya sendiri. Logikanya, jika kamu laki-laki, pasti mikir beberapa kali kan, sebelum mencium wanitamu yang sedang berlipstik bold? Kamu mau pipi atau bibirmu jadi kemerahan bekas lipstik? Bisa berabe kalau ketahuan istri entar. Lain halnya jika si wanitamu itu memakai lipbalm bersemu merah dengan rasa stroberi atau marshmallow. #eh




  • Saya adalah seorang Balinese dance performer, di mana ketika pentas, tampilan makeup tegas (baca : menor) adalah kewajiban, termasuk lipstik bold. Makeup panggung jelas berbeda dengan makeup sehari-hari dong. We want something dazzling and glamour on the stage, right? Apalagi kostum tari Bali cenderung dominan warna cerah dengan aksen keemasan, masa makeup-nya nggak ngimbangin glamour dan eksotisnya sih?

  • Meski sebagian orang berkata lipstick bold dapat membuat pemakainya terkesan tua, saya tidak terpengaruh dengan istilah tersebut. Menurut saya, tua dan muda itu perkara jiwa/soul. Ada orang berusia masih muda, tapi tidak punya tujuan hidup sehingga jiwanya galau dan aura penampilannya jadi terkesan tua. Ada pula orang berumur sudah lebih dari setengah abad tapi hidupnya ceria menyebar aura muda karena meski sudah setua itu tapi dia masih punya cita-cita dan pencapaian. (Masih menurut saya) warna lipstik itu tidak ada korelasinya dengan usia seseorang. Mengistilahkan “lipstik merah jika dipakai orang muda itu jadi terkesan tua” itu sama halnya dengan “tua-tua pakai lipstick pink, nggak inget umur”. Mau usia berapapun, pakai lipstik warna apa saja itu kan hak asasi si wanita (dan juga beberapa pria yang suka pakai lipstik). Yang penting kita tahu situasi yang tepat untuk memakai warna lipstik tertentu. Ya masak mau ke pemakaman malah pakai lipstik ungu bold?
  • Lipstick bold favorit saya saat ini adalah ini Estee Lauder Electric Intense Lip Crème Rouge Couteur Intense 743 Danger (Buset panjang banget namanya). Lipstik ini hasilnya cover banget. Warnanya merah darah, tidak matte finish tapi awet, dan vampy. Saya suka banget sama lipstik ini.

  • Saya suka FOTD dengan bibir monyong. Kalau warna bibirnya natural kurang nendang gimana gitu. :*
  • Saya kepingin dapet lipstik bold giveway dari MerillaMay, beauty blogger yang juga berkontribusi di Looxperiments. Mbak Mer ini meski sudah punya anak tapi masih cantik dan seksooy (Kalimat ini adalah konfirmasi bahwa saya ngomong jujur. Kalimat ini adalah konfirmasi bahwa kalimat sebelum ini adalah kalimat jujur. Huahahhaa) Saya sudah sering komunikasi pribadi dengan beliau lewat Twitter. Sebelum berpindah ke blog yang ini, beliau sudah duluan ngeblog di platform Wordpress. Tapi kemudian karena suatu alasan, beliau hijrah ke platform Blogspot. Baguslah, saya jadi bisa follow blog beliau melalui Google Friend Connect. Postingan yang paling saya suka adalah post FOTD Black Swan. Waktu itu pas jaman film BlackSwan lagi ngetren dan Mbak Mer ini membuat FOTD dengan dandanan Natalie Portmandi film Black Swan dengan sangat sempurna!! Oh banget nggak sih. XD
@andhikalady

Thursday, May 16, 2013

Hak Cipta

May 16, 2013 21 Comments
Jeng, apakah kamu aktif di dunia internet? Punya blog? Punya seabrek akun media sosial yang rutin kamu update? Punya jaringan sosial yang luas di dunia maya? Dan kebetulan kamu memang ‘eksis’ alias banyak dikenal orang di dunia netizen? Jika memenuhi minimal tiga kriteria dari pertanyaan di atas, ada baiknya kamu memperhatikan hal-hal yang dinamakan hak cipta. Apapun karyamu, baik tulisan, gambar, foto, quotes, itu bagusnya dikasih hak milik. Contoh saja gambar, sebaiknya ditaruh semacam watermark yang menunjukkan identitas kamu. Kemudian tulisan, berikanlah style unik yang menunjukkan gaya tulisan kamu. Yeahh, kecuali kalau kamu itu orangnya ikhlasan ya, mau ada yang copas atau pakai hak ciptamu nggak masalah buat kamu.

Baru-baru ini saya jadi sadar kalau saya ternyata orangnya kurang ikhlasan. Yaitu ketika ada yang pakai karya saya tanpa ijin dan tanpa sumber. Awalnya saya dapat mention dari reader seperti ini :

   

Kemudian saya cek ke TKP. Voilla, memang benar ada satu orang yang pakai header blog lamaku sebagai cover profil FB, tanpa ijin dan tanpa menyebutkan sumber! Saya sih nggak masalah selama orang yang bersangkutan menuliskan sumber dari mana dia mendapat gambar itu. Kan bisa jadi dia Googling, kemudian nggak sengaja menemukan gambar ini dan "Horeee, saya dapet gambar oke buat cover FB!" tapi sayangnya, belum semua orang sadar akan adanya hak milik sebuah karya.




Bagi yang belum tau, sebelum memiliki domain, dulu blog ini bernama Beauty Under 100k dengan alamat beautyunder100ribu.blogspot.com . Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, meningkatnya trafik, dan keinginan saya untuk ekspansi ke produk yang lebih luas (masa selamanya mau pake yang under 100 terus siiih)  , saya memutuskan untuk membeli domain, mengganti identitas, dan mencopot header yang lama dengan yang baru seperti yang kalian lihat sekarang ini.

Termasuk juga tulisan, header yang terdapat dalam blog-blog saya baik dulu maupun sekarang adalah bikinan saya. Jadi boleh dong, saya nggak ikhlas kalau ada yang pakai karya saya tanpa ijin (udah ga ijin, ga pake sumber lagi. LOL)?

Daaan, mbak-mbak yang pakai header tersebut sudah saya PM (sampai sekarang belum dibales. :( ), tapi alhamdulillah dia sudah mengganti cover FBnya. Walaupun gambar saya itu masih bertengger manis di folder foto cover FB mbak-mbak itu. :(

Baiklahh, saya ikhlas sampai di sini. 

Mungkin karena desain saya cute dan eye catching, sehingga ada orang yang tertarik dan memajangnya sebagai cover profil FB.

Mungkin karena blog ini sebegitu terkenal sehingga sampai header yang sudah lawas itu muncul di jaringan pencarian mbak-mbak itu. #GeeR

Tapi tentu saja, ini semacam warning buat saya dan buat kita semua para netizen. Ada beberapa teman yang juga mengalami kejadian serupa. Kasusnya mirip, hanya saja gambar punya teman saya malah disalahgunakan untuk promosi komersial. Nah lo, nah lo. Lebih parah kan? Kalau saya sih cuman dipakai cover FB saja, bukan untuk tujuan komersial. Ada pula yang postingannya yang berisi review masker tertentu (sebut saja merk Mawar), ehh, malah dimanfaatkan si penjual masker Mawar sebagai media promosi. Tanpa ijin pula. :|

Dan untuk siapapun kamu, kalau mau memakai tulisan, gambar, foto, atau apapun yang ada di dalam blog ini (dan blog siapapun harusnya), jawabannya adalah boleh banget. Tapiiii, pastikan kalau kamu mencantumkan sumbernya. Lebih baik lagi kalau minta ijin sama empunya blog. Kan nggak susah ngemail atau mention saya di Twitter dan bilang "Mbak Lady yang cantik, boleh ya, pakai tulisanmu buat nggombalin pacar saya", atau "Mbak Andhika, ijin ngeprint fotonya ya untuk ditaruh di dompet yaa". 

Paling-paling saya jawab "Maaf, situ ganteng?" XD. "Boleeeeeh,, silahkaaaann..." XD

Oke, cukup sekian postingan yang random ini. Saya baru pulang kantor dan badan masih pegal-pegal. Anyone mau pijitin?

Nb, gambar ini boleh dijadikan header/cover FB kok.
Wanna see more? Just follow my Instagram @andhikalady

Monday, May 13, 2013

Pink, Bunny, Piglet, dan Cerita Soal Warna.

May 13, 2013 23 Comments
Bukan, ini bukan dalam rangka OOTD, FOTD, dan semacamnya. Kalau dilihat dari cara saya berdandan yang nggak pakai foundation, pakai eyeshadow ala kadarnya, terus dibantu dengan pakai outfit yang serba pink (tiba-tiba setelah dandan jadi berhasrat pake ini itu), saya berkesimpulan kalau foto-foto ini siap narsis mejeng di blog Jenganten.

See,







Layak nggak layak, yang penting narsis deh. Iyo ra? Ngomong-omong warna pink, dulu saya pernah nggak suka sama warna itu. Menurut saya (waktu itu) pink itu warna yang cengeng, manja, nggak mandiri, dan kekanak-kanakan *siap-siap ditoyor penyuka warna pink*. Saya malah lebih suka warna ungu (sampai sekarang). Efeknya, saya dibilang janda lah, tua, tante-tante, dan stigma negatif lain. Entahlah, saya sih tetap suka warna ungu tuh, sama sekali nggak kepikiran kalau dengan saya suka warna ungu, kemudian tuinggg, saya bisa berubah menjadi tante-tante bersasak tinggi yang kesepian.

Hingga suatu hari saya mulai belajar tentang warna. Iya lho, belajar warna itu penting ternyata. Tempo hari saya bikin status begini :

 
Kemudian ada salah satu yang membalas twit saya. Bunyinya kurang lebih begini "Tiga warna itu beda loh". Saya mencelos seketika. Langsung sadar, bahwa pengetahuan saya menyoal warna itu masih payah banget. :((. Padahal saya termasuk orang yang harus berkecimpung di dunia warna. Desain grafis, pakai warna (selama ini pakai bantuan kombinasi warna Photoshop sih). Desain web, pakai warna. Makeup, itu juga sangat wajib fardhu harus paham soal warna.

Dan warna itu nggak cuma warna eyeshadow, lipstick atau blush on saja. Lihatlah kulitmu, apakah cukup dideskripsikan sebagai kuning, sawo matang, putih, atau gelap, begitu? Ternyata tidak, ada jenis warna yang dideskripsikan sebagai undertone seperti cool dan warm. Ada yellow tone, ada pink tone. Ada hint warna, ada warna komplemen, ada warna pokok, ada roda warna, ada racun warna warni. #abaikan

Bahkan warna lipstick pun bermacam-macam. Ada peach, pink, ungu, merah. Masing-masing itu masih dibedakan lagi, seperti baby pink, sheer pink, tawny peach, blood red, merah hati, merah bata, pink muda, fuschia dan masih ada ribuan warna-warni untuk lipstick.

Pengetahuan tentang warna-warni ini berpengaruh banget dalam makeup, contohnya saja untuk memilih warna foundation. Kalau tonenya pink, pakenya foundation warna apa? Kalau kulitnya cenderung kemerahan, pakai primer dengan warna apa? Kalau kulitnya gelap, cocoknya pakai concealer macam apa? Terus bagaimana cara memilih warna eyeshadow untuk membuat tampilan mata yang cantik. Warna gelap berefek seperti apa, bagaimana dengan warna terang shimmer ketika dipakai di mata, dan sebagainya.

Makin lama saya makin sadar bahwa warna-warni pada makeup tak sesederhana set warna krayon yang sering kita pakai untuk menggambar ketika taman kanak-kanak dulu.

Nah, tuh kan banyak banget kan, hal yang perlu dipelajarin dari sebuah warna. Terutama dalam make up, di mana warna itu bisa memiliki ribuan kombinasi. Kombinasi itu bertambah dua kali lipat ketika warna-warna itu diaplikasikan ke kulit. Untuk itulah saya mencoba menerima pink dalam hidup saya. Karena hidup sendiri penuh warna. Sayang banget kan, kalau suka sama satu warna doang?

@andhikalady