Monday, March 20, 2017

[Jogja Getaway] Noe Coffee Jogja. Kafe Baru yang Menawarkan Sesapan Kopi yang Nikmat di Jantung Kota Pelajar

Favorit Noe, Cappucino

Kopi dan saya, adalah hal yang tak terpisahkan. Sedari dulu saya gemar minum kopi. Apalagi kalau kopinya dibuat dengan penuh cinta oleh Ibu di rumah. Yang kemudian disajikan untuk Bapak, lalu Lady kecil nyeruput kopi punya Bapak sampai tahu-tahu mau habis. Hihihi. Hayoo, pada ngaku nggak, kalau suka ngincip kopi punya Bapak di rumah?

Begitupun ketika beranjak merantau, saya masih suka dengan kopi. Baik itu kopi tubruk, kopi instan ala-ala, permen rasa kopi, kopi susu dan aneka penganan dari kopi. Belakangan agak kurang menyukai kopi instan sebab kerap bikin sakit perut. Alhasil, saya lebih sering meminum kopi tubruk dan mencampurnya dengan susu.

Namun sayangnya, tubuh saya bukanlah tubuh yang ramah dengan kafein. Artinya, kalau dosis kopi yang saya minum kebanyakan, apalagi yang tipe espresso, dijamin saya bisa tidak tidur dua hari. Hehe lucu yah, suka kopi tapi tubuhnya nggak tahan kopi.

Oleh karena itu, saya mengakalinya dengan minum kopi jarang-jarang atau memesannya dalam dosis kecil saja. Cukup 2-3 gelas seminggu saja cukup. Kecuali kalau lagi pingin ya lebih-lebih dikit bisa lah.

Red velvet

Nggak cuma soal bikinnya, saya juga gemar nongkrong di kedai kopi. Apalagi jika kopinya enak dan baristanya ganteng. Biasanya saya sambil membawa laptop dan bekerja atau menulis di sana. Duduk di kedai kopi itu membuat saya merasa harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Pasalnya saya membayar untuk secangkir kopi dan camilan. Artinya, apa yang saya lakukan harus benar-benar produktif. 

Berbeda dengan bekerja dari rumah, yang mana karena tempatnya terlalu pe-we dan makanan sudah siap tersedia, saya jadi suka buang-buang waktu dan kerjaan jadi nggak selesai-selesai. Untuk itulah saya lebih suka bekerja di luar, saat ada kopi hangat terhidang di depan saya.

Carbonara pemuas lapar

Untungnya, masyarakat Jogja tak perlu khawatir lagi soal kedai kopi yang enak. Ada banyak tersebar di kota ini, bervariasi di setiap sudut kota, baik soal rasanya. Salah satu favorit saya adalah Noe Coffee yang baru bukaan minggu lalu. Tempatnya mudah dicapai di jantung kota Jogja, cukup melangkah ke luar Galeria Mal saja. Dari stasiun Lempuyangan pun dekat banget, cuman 10-15 menit jalan kaki.

Tempatnya juga nyaman dan cozy, cocok lah untuk kamu yang mencari tempat yang tenang untuk menuntaskan deadline dengan lancar. Wifi, jangan ditanya. Ada kok. Untuk kamu yang ingin berkumpul dengan komunitas atau teman-teman, Noe juga menyediakan ruangan VIP yang bisa memuat 10-15 orang yang bisa untuk meeting atau kumpul-kumpul.

Jangan kaget kalau begitu masuk ruang VIP, langsung disambut mural lucu seperti ini:



Selain menawarkan aneka kopi dan makanan yang ditangani oleh barista dan koki handal, kamu juga akan dimanjakan dengan suasanya kafe yang instagram-able. Hampir di sudut manapun bisa dijadikan tempat foto yang lucu. Hanya saja, untuk mendapatkan foto yang bagus, kamu harus menyetting kamera yang bersahabat untuk cahaya redup, karena di kafe ini penerangannya cukup redup.

Ingin tahu bagaimana suasana Noe kafe ini? Simak sampai habis foto-foto saya ini yuk.


Partner


Bersama rekan blogger Dhewi, Amel, Nia, Dian, Saya, Pak Iwan
Ohya, ada promo khusus di Noe Coffee yang berlaku sampai akhir Maret lho. Kamu bisa mendapatkan diskon makanan 30% dan kompliment beli 1 minuman gratis 1. Ayo, kamu masyarakat Jogja atau sedang main di Jogja, buruan ke Noe Coffee.

Saturday, March 18, 2017

[Review] House of Kya Jakarta Skin Care


Membangun startup usaha memang bukan hal yang mudah dilakukan, apalagi jika menyangkut istiqomah dan konsisten. Pas di awal bisa menggebu-gebu dan punya semangat empat-lima merencanakan soal produksi, penjualan, hingga bagaimana caranya menciptakan uang. Namun begitu jalan di tengah dan proses tak sesuai harapan, saat itulah konsistensi tengah diuji. Apakah mau lanjut, ataukah pivot ke startup lain?

Itulah salah satu hal pelik saat kamu sedang memulai sebuah usaha. Usaha apa saja. Baik itu online shop, yang usaha jualan MLM, jualan jasa, masker kefir, sampai usaha jualan bakso. Hampir semua hal yang besar dimulai dari startup.

Saya ingin memberikan contoh startup yang promising. Inilah House of Kya Jakarta, produk skin-care yang telah memasar luas dengan konsumen yang tersebar di berbagai pelosok Indonesia. Saya sebut promising karena memang saya sudah kenal produk ini secara langsung dan tahu persis bagaimana proses skincare ini membuat kulit saya membaik. Mau tahu bagaimana ceritanya saya memakai produk ini? Simak yuk sampai habis.


House of Kya Jakarta, namanya lucu dan simple. Usut punya usut, ternyata nama ini mengambil dari Sovetzkya, alias nama anak dari si owner-nya. Kya skincare ini punya bermacam varian produk. Konsepnya sendiri adalah brand simpel dengan beberapa krim perawat wajah. Ada pula yang varian antiaging-nya juga lho. Jadi untuk bermacam umur bisa disesuaikan.

Varian Day Cream mengandung nutrisi dan perlindungan terhadap sinar matahari. Dipakai pada bagi hari sebelum makeup dan bedak. Komposisi produk ini adalah: Aqua, cetyl alcohol, octocrylene, caprylic, c1215, propylene glycol, titanium dioxide, sulfonic acid, cetearyl alcohol, acrylates, benzopheone-3.

Varian Night Cream mengandung nutrisi untuk melawan flek hitam dan bekerja maksimal di malam hari. Komposisinya adalah: Aqua, cetyl alcohol, octocrylene, caprylic, c1215, propylene glycol, titanium dioxide, sulfonic acid, cetearyl alcohol, honey, goatsmilk, acrylates, benzopheone-3, tritonin b.

Untuk Night Cream ditambahkan ekstrak madu dan susu kambing yang mana kita sudah tahu manfaat dan faedah kedua bahan alami tersebut.

Sedangkan untuk varian bedaknya, berfungsi sebagai perlindungan ekstra untuk kulit dari sinar matahari sekaligus pelengkap riasan. 

Produk House of Kya Jakarta masih dalam proses BPOM, tetapi sudah diuji di lab UGM dan terbukti bebas bahan berbahaya seperti mercury, hidroquinon, dan steroid. Jadi insyaAllah aman dipakai untuk kamu yang ingin kulit lebih terawat tanpa khawatir terkena efek samping.




Yang saya rutin pakai sekarang adalah Kya Day & Night cream, facial soap, dan bedak tabur. Cara pakainya:

1. Pagi, wajah dibersihkan, lalu dipakaikan Kya Day Cream dan dilanjutkan dengan bedak.
2. Malam, wajah dibersihkan, lalu dipakaikan Kya Night Cream sebelum tidur.

Kadang jika dibutuhkan, saya menambahkan ritual pagi saya dengan makeup. Namun hitungannya jarang, kecuali benar-benar dibutuhkan. Saya sudah pernah menulis di sini, bahwa sekarang sedang diperbanyak perawatannya, ketimbang makeup-nya. Kamu mau tiru?

Hasil dan kesan memakai Kya Skincare:

+ Selama memakai produk ini kurang lebih 3 minggu, saya merasakan ada perbaikan di tingkat kehalusan kulit saya.
+ Ada tanggal-tanggal period yang biasanya muncul jerawat, ketika memakai Kya jerawat itu tidak muncul.
+ Tekstur kulit membaik dan pori-porinya berasa lebih bersih dan nggak mudah komedoan.
+ Noda bekas jerawat agak memudar, tetapi belum hilang sepenuhnya. Mungkin membutuhkan waktu tambahan untuk benar-benar hilang.
+ Kulit berminyak saya tetap stay, tetapi dengan minyak yang lebih berkesan sehat.

Saya merasa tidak ada masalah saat memakai produk cream-nya. Sejauh ini lancar saja, nggak ada breakout dan cenderung memberikan hasil yang diinginkan. Namun untuk bedak tabur, sepertinya masih kurang untuk menghalau dan menyerap minyak di kulit. Ketahanannya juga belum pas di tipe kulit saya. Alhasil, harus sering-sering touch up nih. Hasil yang berbeda mungkin bisa terjadi untuk kamu yang berkulit tidak berminyak.


Foto di atas adalah kondisi kulit setelah memakai Day Cream + bedak (tanpa ada tambahan foundation, bb cream, ataupun twc). Cukup wearable untuk dipakai di pagi hari 'kan? Tidak perlu pakai yang berat-berat untuk sekadar dandan sehari-hari. Yang diberatin justru di bagian mata dan bibir. Itu mah silakan kamunya saja mau bagaimana. :)

Tapi untuk kulit, keep it safe, mild, protected, dan nggak perlu pakai yang tebal-tebal terlalu sering.

Inilah yang sedang saya lakukan untuk merawat kulit, kamu?

Beli House of Kya Jakarta di:
Instagram House of Kya Jakarta

+Andhika Lady Maharsi



Wednesday, March 1, 2017

[Event] Avoskin Beauty Rhapsody, Milestone dengan Banyak Pembelajaran

avoskin event

Nama Avoskin memang terhitung masih baru di kancah skincare Indonesia. Namun perkembangan perusahaan yang baru dibangun dua tahun belakangan ini sudah merambah hingga nilai yang luar biasa. Makin tercengang lagi saat kamu tahu bahwa CEO-nya - Anugrah Pakerti -, masih berusia 23 tahun saat tulisan ini diterbitkan.

Kata "wow" tentu saja terucap untuk melakukan selebrasi untuk Mas Aan, begitu ia akrab disapa, dan timnya. Bagaimana tidak, ketemu orang yang usianya beberapa tahun di bawahmu tetapi sudah menuai kesuksesan dengan perusahaan yang punya valuasi tinggi, tentunya bikin kita berdecak kagum.

Kamis minggu kemarin (23 Februari 2017), menjadi event yang menyenangkan sekaligus mendebarkan. Pasalnya Avoskin tengah mengeluarkan lini varian skincare baru sekaligus mengenalkan brand ambassador-nya. Lokasinya ada di Canting Resto Galeria yang mana terletak di jantung kota Jogja. Ohya, Canting resto terkenal dengan olahan salmonnya yang enak lho.

Single name at every table(s)

Mendapati nama saya ada di daftar undangan, rasanya senang sekali menjadi bagian dari acara ini. Bisa ketemu sama teman-teman blogger, bisa tatap muka sama artis yang jadi wajah Avoskin, sekaligus ketemu dengan para pendiri Avoskin dengan pengalaman dan karirnya yang patut kita teladani.

On the record, saya kebagian tempat duduk paling depan. Hahaha.


Sambil menunggu, kami disuguh dengan apettizer spesial dari Canting yang lupa entah apa namanya. Paduan salad dengan roti, onion ring dan telur rebus. Rasanya cukup menggugah selera lho.

Kemudian di tengah-tengah acara makan dan ngobrol-ngobrol datanglah orang yang ditunggu-tunggu, yaitu brand ambassador Avoskin. Dialah Marissa Nasution (sebagai wajah Avoskin), dan Mike Lewis sebagai bintang tamu. Uw, siapa sih yang meragukan cantik dan gantengnya mereka? Pasangan yang seru ini sukses membuat semua mata yang sedang asyik makan dan berbincang jadi teralih perhatiannya.

Sumber
Ternyata penentuan Marissa jadi ambassador Avoskin bukan tanpa alasan. Mereka, baik Avoskin dan Marissa sama-sama punya visi untuk mengkampanyekan kulit sehat dengan perusahaan yang ramah lingkungan dan masyarakat. Terbukti dari kerjasama Avoskin dengan penduduk daerah pedesaan yang berprofesi sebagai petani. Mereka diberdayakan dan alhasil bisa menghasilkan sesuatu untuk bahan baku Avoskin.

Marissa pun begitu, punya visi yang kuat tentang impian yang terealisasi. Ia berkisah, setahun yang lalu sempat bermimpi untuk menjadi mermaid. Kalau dipikir-pikir, ngapain sih harus jadi mermaid? Kan itu cuma di film Disney doang. Marissa diketawain sama teman-temannya. Menurut mereka, impian Marissa itu konyol sekali.

Tapi Marissa tak tinggal diam. Berkat impiannya itu, saat ini dia telah membangun Mermaid inc, sebuah perusahaan penjualan ekor mermaid yang bisa dipakai berenang sungguhan. Selain untuk properti foto-foto juga tapi ya. Pasar Mermaid ini ternyata luas banget dan mendapat apresiasi baik dari masyarakat.

Impian yang sederhana dan tampak tak masuk akal pun bisa diwujudkan. Asalkan punya niat dan percaya 

Salmon
Belum lama berselang, giliran CEO Avoskin yang berbicara soal kemantapan branding Avoskin yang ingin menggandeng masyarakat marginal untuk produksinya. Juga tentang pengeluaran lini produk baru di sisi makeup yang memang semua wanita tunggu-tunggu.

Dari sini saya semakin mantap, kelak jika saya jadi CEO beneran, sayapun insyaAllah akan memerhatikan bagian kecil itu juga. Intinya jangan mau sukses sendirian. Sukses itu ya ngajak-ngajak.

Di akhir acara, saya dan rekan-rekan blogger menyempatkan foto bersama. Itung-itung ketemu lagi setelah sekian lama nggak jumpa.

Denia, Lady, Erny, Amel

Ohya, sampai lupa. Produk Avoskin yang dilucurkan pada malam itu adalah Intense Hydrating Lotion. Sebuah pelembap tubuh yang mempunyai kandungan pelembap yang baik untuk kulit. Aromanya yang wangi menyegarkan diklaim mampu membuat kulit jadi lembap, terlindungi, dan semakin cerah. Produk ini belum keluar di pasaran, jadi tunggu saja tanggal mainnya ya....


Salam,

+Andhika Lady Maharsi

Thursday, February 23, 2017

[Tips] Konsep 70 % Skincare - 30 % Makeup. Apa Itu?

Beberapa waktu lalu saya terbangun dengan kondisi wajah yang jauh dari kata ideal. Jerawatan di dagu, kusam di pipi, kantung mata menggantung, serta kulit cuping hidung yang kering. Ini maunya apa, kulitku kan aslinya berminyak. Tapi kok tau-tau kering dan bermasalah? Bagiku kurang ajar sih namanya, kalau ada kulit kering mengelupas terjadi pada kulit berminyak. Hoho.

Saya melakukan aktifitas pagi seperti biasa. Cuci muka, mandi, dandan, dan oles skincare dan makeup. Sengaja saya lebihkan di bagian concealer dengan harapan jerawat, kantung mata dan noda-noda bisa menutup. Tapi kok tetep aja ya? Wajah kusam dan bikin gak pede seharian. Iya sih, saya punya beberapa alat makeup yang bisa digunakan untuk membuat wajah jadi lebih bagus terlihat. Namun ya apa mau ketergantungan? Orang makeup-nya itu ada di beauty-case yang mana itu buat ngerias. Tapi pertanyaannya jadi begini:
Apa iya kudu pake makeup berat setiap hari?
Apa iya, kudu membiarkan wajah kumus-kumus mengabaikan skincare tapi tebel di makeup-nya? 
Nah, saya belajar dari para seleb dan artis Korea. Meskipun bukan Kpop-ers, saya mengaku salut dengan paradigma mereka merawat kulit. Bagi mereka, lebih baik investasi skincare lebih banyak ketimbang beli makeup berlebihan. Menampilkan kulit sehat glowly bercahaya lebih membanggakan bagi mereka daripada memakai riasan counturing, lengkap dengan strobing dan smokey eyes.

Lalu coba saya coba terapkan dengan mengambil konsep ala wajah Korea tersebut. Tapi saya revisi sedikit dengan diubah jadi konsep 70-30. 70 untuk skincare, dan 30 untuk makeup.




Kenapa dibuat 70-30, bukan 80-20 atau 60-40? Karena saya merasa masih butuh makeup, sekaligus juga nggak suka terlalu meribetkan diri memakai makeup berlebihan. Iya, saya MUA. Tapi kamu akan jarang menemui saya dalam kondisi memakai smokey eyes full sehari-hari.

Jadi begini, konsep 70-30 dapat dijelaskan seperti ini....

1. Dari seluruh pengeluaranmu dalam sebulan untuk pembelian kosmetik, alokasikan 70% dana untuk skincare, dan 30% untuk makeup.


Misalnya dalam sebulan kamu punya alokasi dana 1 juta untuk pembelian kosmetik. Setidaknya gunakan 700ribu untuk membeli skincare, dan sisanya untuk makeup. Investasi skincare itu jangka panjang kok. Hasilnya memang nggak ketahuan saat itu juga, tetapi dalam hitungan bulan bahkan tahunan, lama-lama akan terlihat. Kamu bisa gunakan 700 ribumu untuk membeli serum, pelembap, sunblock, atau untuk perawatan rutin salon sesuai dengan kebutuhanmu. 300 ribu sisanya baru dibelikan makeup.
Tapi Jeng, makeup kan mahal. Lipstik aja harganya 200ribuan
Ya kalau begitu, kamu tinggal menggabungkan alokasi dana makeup kamu dengan bulan berikutnya. Beli lipstik dua bulan sekali nggak bikin kamu mati kan?
Lalu bagaimana dengan yang punya dana kosmetik lebih sedikit, 200 ribu sebulan misalnya.
Ya sama saja. Kamu bisa gunakan 140ribu untuk skincare, dan 60ribu untuk makeup. Masih kurang? Berhematlah dan gabungkan dengan bulan lain. Botol-botol skincare itu habisnya lama kok, bisa 3-5 bulan. Beres kan?

2. Manfaatkan 70% waktumu untuk merawat diri. 30%-nya untuk menghias diri


Hobi maskeran, pakai scrub, pakai toner, dan melakukan ritual lapisan skincare sebelum tidur adalah kebiasaan bagus. Menyempatkan diri melakukan itu semua nggak butuh effort banyak kok. Memang sih, saya juga sering kelewatan pakai krim malam. Apalagi kalau sudah capek badan dan pegal-pegal. Tapi setidaknya tahu bahwa merawat kulit sesering mungkin adalah hal yang baik.

Lagian rugi juga sih, kalau sudah punya skincare ratusan ribuan tapi teronggok begitu saja. Eh, malah kalah sama deretan foundation dan bedak lalalala. Tidak lantas foundation dan makeup-makeup itu tidak baik, tapi kalau prioritasnya sudah menuju ke kebaikan kulit, kenapa nggak memprioritaskan ke skincare?

Saya masih mencoba menerapkan hal ini sehari-hari. Kebetulan memang sedari lahir dikasih kulit yang sensitif dan butuh perhatian. Kejadian bangun pagi dengan kondisi kulit kering dan jelek itu, pinginnya sih nggak bakal ada lagi. Rasa bersalahnya itu lho, seperti menzalimi badan sendiri.

Semoga saya maupun kamu bisa istiqomah menjaga kulit masing-masing ya,,

+Andhika Lady Maharsi

Sunday, January 22, 2017

[Random] Ancaman Kegiatan Wasting Time Berkedok 'Belajar Hal Baru'



Rasa penasaran itu seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, dia adalah senjata untuk memerangi hoax. Misalnya kamu punya rasa penasaran tinggi, kamu nggak akan mudah percaya dengan berita reremehan yang menghiasi timeline kamu. Kamu akan berusaha mencari sumber berita yang valid, dan menciptakannya sebagai informasi yang benar buat kamu pribadi. Namun apa jadinya kalau rasa penasaran itu menjadikanmu membuang-buang waktu untuk mengupas banyak hal atas nama 'belajar hal baru'?

"Kok buang-buang waktu, kan itu pengetahuan Jeng?"

Iya, rasa penasaran memang mampu membawa kita jadi tahu banyak hal. Tapiii, kalau kamu terus menuruti rasa penasaran untuk hal yang, tidak terlalu krusial untuk direlakan habis waktunya, kenapa musti dilakukan? Itulah hal yang jadi renungan saya selama beberapa waktu terakhir ini. Yang kemudian saya putuskan untuk menuliskannya di sini untuk bahan #postinganpertama2017. Tenang saja, postingan review dan biuti-biutinya bakal balik lagi kok.

2016, saya belajar hal-hal ini, dan insyaAllah akan saya terapkan di 2017.

Tidak perlu expert dalam segala hal. Sekedar tahu dan bisa, oke. Tapi tidak perlu semua harus dicapai secara mahir

Kadang kalau ketemu orang yang dianggap lebih sukses, lebih mumpuni, lebih terkenal, lebih banyak dolan, lebih (kelihatan) punya duit banyak, dan aneka lebih-lebih yang lain; secara nggak sadar kamu jadi muncul keinginan untuk mengikuti jejak dia. Contoh mudahnya, kamu ingin menekuni bidang yang dia geluti (padahal belum tentu kamu sudah kenal dengan bidang itu).

Ilustrasinya begini, kamu ketemu pemain harpa yang keren dan sudah melanglang buana dari panggung ke panggung, lalu kamu jadi ingin bisa bermain harpa. Segala hal kamu niatkan untuk diupayakan, misalnya kalau perlu les musik dan membeli harpa yang harganya puluhan juta pun dijabanin. Iya, kalau kamu basic-nya adalah seni musik, lha, kalau kamu anak teknik boga? Rasa-rasanya agak kurang masuk akal ketika memutuskan untuk belajar harpa di saat kamu sudah memulai karir sebagai artistan bakery, misalnya.

"Tapi kan menggapai mimpi nggak ada kata telat, Jeng"

Eit, tunggu dulu, dilihat dulu apakah kamu benar-benar bermimpi menjadi pemain harpa profesional? Apa sudah dipertimbangkan soal keberlangsungan bisnis artisan bakery-mu, atau sudah dipikirkan money-stream kamu sebagai pemain harpa? Lalu pikirkan juga effort waktu yang kamu korbankan untuk mencapai pemain harpa yang punya nilai jual. Kalau itu semua sudah dipikirkan dan hasilnya positif, silakan mengejar apapun impianmu.

Lebih memikirkan kembali konsep 'belajar hal baru'. Apakah sekiranya ilmu itu akan dipakai ke depannya, ataukah tidak

Di usia perempat abad, idealnya seseorang sudah punya pegangan tentang hal-hal apa saja yang akan difokuskan dalam karir ke depannya. Entah menjadi penulis, dosen, dokter, akuntan, bahkan ibu rumah tangga sekalipun. Rencana untuk pivot karir yang membutuhkan belajar dari nol (dan butuh waktu lama) tentu saja bukan hal yang direkomendasikan. Di usia segitu, biasanya seseorang telah selesai menuntaskan pendidikannya dan kemungkinan besar telah memulai karir pertamanya.

Katakanlah karirnya nggak sesuai dengan passion, dan kamu punya pilihan lain untuk menghabiskan sisa karirmu. Di situlah sebaiknya mulai dipikirkan bagaimana mengejar passion kamu,  apakah dengan pivot kerjaan, atau mulai belajar hal baru biar nggak keteteran nantinya. Tapii, ada banyak hal yang melenakan di balik 'belajar hal baru', yaitu kemungkinan adanya delusi untuk menjadi expert dalam waktu singkat, padahal kamu sebetulnya sudah mendekati expert di bidang yang kamu geluti sekarang.

Kamu adalah seorang manager di badan pemerintahan, lalu tau-tau kamu ingin jadi dokter dan memutuskan untuk kuliah kedokteran di usiamu yang, errr, 27 tahun? Fix, kamu bercanda!
Does it worth to pursue? Yes, you know the answer correctly

'Mahir' dan 'berwawasan' itu hal yang berbeda. Kamu bisa punya wawasan luas di banyak hal, tetapi untuk mahir, cukup 1-3 jenis saja

Saking penasarannya dengan bidang trading Forex, Sheila bela-belain membeli segunung buku tentang Forex, menghubungi pakar Forex, mencari aplikasi prediksi nilai saham, bahkan sampai melakukan investasi dengan nilai yang tinggi tanpa paham betul resiko. Semua dilakukan demi satu hal: menuntaskan rasa penasaran akan Forex. Sheila bermain grasa-grusu, alhasil, dia loss banyak dan gagal menjadi trader.

Bulan depan, Sheila ketemu dengan desainer pakaian. Dia bertanya-tanya soal bagaimana cara membuat pola, memintanya untuk mengajari menjahit dan memilih bahan. Lalu Sheila melakukan hal yang tak diduga: membuka tailor-nya sendiri dan membeli perlengkapan mesin jahit yang bagus. Karena persiapannya belum terlalu matang, (lagi-lagi) Sheila bangkrut dan bingung dengan masa depannya. Uang simpanannya habis untuk trading dan bikin usaha tailor.

Lalu Sheila mengeluhkan kenapa dia selalu gagal. Bahkan pertanyaan "kamu ingin jadi apa?" pun nggak bisa dijawab olehnya. Dia mengutuk kenapa orang lain bisa sukses dan bisa mencapai cita-citanya, sementara dia masih gitu-gitu saja.

Yang dilakukan Sheila bukan karena dia kurang usaha, bukan karena dia malas. Dia nggak malas, kok. Buktinya dia berani belajar dan berani membuka usaha. Tapi salahnya dia satu: gampang banget berubah pikiran dan pivot karir. Coba kalau Sheila memutuskan untuk terus menekuni trading. Gagal di awal adalah biasa, kalau diteruskan dan ditekuni dengan fokus, bukan nggak mungkin dia akan jadi trader profesional.

Belajar membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Pengorbanan terbesar kita justru adalah waktu

Bayangkan apa yang dilakukan Sheila barusan, lalu komparasikan dengan investasi waktu yang telah ia lakukan. Untuk belajar Forex dia butuh waktu setidaknya enam bulan, lalu untuk membuka tailor juga sebutlah enam bulan. Satu tahun untuk belajar dan mencoba hal yang seharusnya bukan konsumsi dia. Pivot ide yang kurang direkomendasikan kan?

Adalah oke, kalau Sheila adalah seorang mahasiswa berusia 20 tahun yang masih banyak belajar dan bahkan belum tau mau jadi apa. Mencoba banyak hal baru merupakan hal yang masuk akal untuknya. Namun lain kisah ketika Sheila sudah menginjak usia perempat abad, daripada menyumbangkan banyak waktu yang sia-sia, lebih baik memulai dari hal yang sudah kamu bekali sebelumnya.

Don't build from the scratch! Time is running out
Orang-orang yang terbukti berhasil sukses di dunia ini adalah orang yang fokus. Sekali lagi, orang yang fokus

Kalau melihat orang-orang yang berhasil, kebanyakan keberhasilan mereka ada di satu atau dua bidang saja. Bisa kamu bayangkan: bagaimana kalau Raisa menjadi dokter? Bagaimana kalau Michael Jackson menjadi tukang tambal ban? Bahkan di otak pun gak kebayang kan? Belajar dari hal itu, kembali lagi ke konsep awal, orang fokus ditengarai lebih berhasil ketimbang mereka yang punya banyak keterampilan.

Jangan serakah. Fokus saja sudah

Plin-plan tidak akan membawamu ke tujuan utama

Terlena dengan rasa penasaran yang membuncah, lalu diikuti dengan 'belajar hal baru' yang justru membuang waktumu, punya potensi besar untuk membuatmu nggak fokus. Layaknya anak kecil, ketika diberi mainan baru maka dia akan lupa dengan mainan lamanya. Tapi kita bukan anak kecil lagi. Saya juga bukan akan kecil lagi. Teori mainan tidak sama dengan teori kehidupan manusia milenial yang dituntut produktif.

Inilah saat di mana saya mulai berpikir untuk kembali fokus, tidak memulai dari nol, memanfaatkan kemampuan yang sudah ada, nggak serakah, dan buang jauh-jauh keinginan untuk mencoba hal baru yang membutuhkan banyak effort.

Nb: kemarin malam saya mengubah banyak daftar impian-impian dan mengerucutkan menjadi tiga buah saja. Bagaimana denganmu?

+Andhika Lady Maharsi 


Friday, December 23, 2016

[Review] Emina Lip Cream Matte Frostbite, Fuzzy Wuzzy, Flamingo

Pesona lip-cream memang seakan tidak ada habisnya. Saya sendiri punya koleksi banyak lip-cream di rumah. Bentuknya yang praktis, nyaman dipakai dan higienis (ketimbang lipstik batangan yang permukaannya banyak bersentuhan dengan udara), serta punya tangkai yang bisa dipakai ritual oles-oles ke bibir membuat si lip-cream ini menjadi favorit saya mewarnai bibir.

Selain itu, bibir saya yang relatif mini membuat saya agak kesulitan memakai lipstik batangan, karena ukurannya yang sering kebesaran. Maka dari itu, lip-cream jadi sip. Bukan berarti dengan lipstik batangan lantas saya jadi nggak suka ya, hanya saja, memakainya perlu sedikit effort dengan memakai kuas.

Baca juga; NYX Soft Matte Lip Cream, Antwerp, Stockholm & Milan

Sebelumnya sudah banya lip-cream keluaran luar negeri dengan segala variasi namanya. Lip-cream, soft matte, lip-matte, dsb. Namun belum ada produk lokal yang memproduksinya. Salah satu impian saya sejak dulu adalah menemui lip-cream merk lokal dengan harga terjangkau dan kualitasnya cukup bagus.

Beruntung sekarang ada malah hampir semua lini produk makeup lokal mengeluarkan lip-cream mereka masing-masing. Sebut saja Wardah, La Tulipe, Sariayu, bahkan lipstik indie seperti Rollover Reaction dan By Lizzie Parra. Dan kini ada lip-cream keluaran Emina, kosmetik yang masih satu saudari dengan Wardah.

Bagaimana bentuk lip-cream ini? Apakah sesuai dengan yang dikatakan Sociolla bahwa "lip-cream Emina adalah pewarna bibir yang dijual dengan harga 45ribu tetapi punya kualitas 100ribu"?



Kemasan


Seperti halnya lip-cream pada umumnya, bentuknya botol plastik kecil memanjang yang dilengkapi dengan aplikator berukuran mini. Standar-standar saja sih menurut saya. Hanya saja ukurannya jauh lebih kecil dibanding lip-cream biasa. Bagi saya ini bukan kekurangan, justru gebrakan marketing untuk menyesuaikan harga yang lebih terjangkau. Karena Emina ditujukan untuk pasar remaja putri yang baru bisa dandan.

Tapi saya atau kamu yang sudah 20 sekian tetap bisa pakai kok. Makeup itu nggak punya umur. Hanya marketingnya saja yang beda.

Swatch Frostbite, Fuzzy Wuzzy, Flamingo

swatch emina lip matte
Kiri ke kanan: frostbite, fuzzy wuzzy, flamingo
Frostbite:
Warnanya pink neon dengan karakter terang dan semi fuschia

Fuzzy Wuzzy:
Yang paling natural dari ketiga aneka warna. Warnanya oranye-peach dengan semi pink

Flamingo:
Pink gelap dengan nuansa semi ungu

Kalau di foto atas terlihat bahwa lip-cream masih basah. Tetapi pas sudah kering, hasilnya bagus dan memang matte kok.

Hasil di bibir

Frostbite

Fuzzy Wuzzy

Flamingo


Kesan

Saya rasa nggak berlebihan kalau lip-cream Emina disebut sebagai the-it-lip-cream alias pewarna bibir yang wajib dimiliki siapapun yang punya hasrat punya warna bibir yang awet dan stay di sana. Warnanya awet dan nggak transfer. Ingat ya, nggak transfer! Selain itu ketahannnya patut diacungi jempol. Saya pakai sampai sesiangan bahkan sore hari, bentuknya masih utuh seperti sedia kala.

Lalu untuk pernyataan lip-cream seharga 45ribu dengan kualitas 100ribu bagaimana?

Iya, kualitasnya memang setara dengan lip-cream 100 ribuan. Tetapi dengan isi yang lebih sedikit, dijual dengan harga 45 ribu terasa lebih masuk akal.

Kalau menurutmu bagaimana?


Wednesday, December 21, 2016

Jenganten Tahun 2012 vs 2016. Seberapa Jauh Kita Berubah?

Membahas resolusi tahunan memang (hampir) selalu bikin semangat. Saya ingin begini, saya ingin begitu, ingin ini ingin itu banyak sekali. Tapi kadang seringnya jadi begini: bikin resolusi awal tahun, semangat di awal, lalu seiring berjalannya waktu, semangat itu luntur dan kita kembali ke rutinitas yang mediocre (iya, itu saya, Hahaha). Padahal yang namanya resolusi itu nggak bisa jalan tanpa ada komitmen untuk mewujudkannya. 
Bikin komitmen itu mudah, Jeng. Tapi mewujudkannya yang butuh effort
Ketimbang mikirin bagaimana resolusi 2017-mu dibikin, apa nggak sebaiknya menengok ke belakang dan melihat kita berkembang sampai sekarang? Seenggaknya kita akan tahu seberapa berubah dan beranjak dari tahun ke tahun. Kalau terbukti menjadi lebih baik, artinya ada resolusi yang berhasil. Sebaliknya, kalau ada hal yang menjadi lebih buruk, maka perlu ada yang direvisi tentang komitmen resolusi yang dibuat.

Dan lalu, inilah perubahan saya selama beberapa tahun terakhir. Sebagian besar bikin ketawa-ketawa sendiri karena berbeda banget. Tapi justru dari situlah saya merasa "ternyata sudah sejauh ini saya melangkah".

Makeup skill


2012:
- bikin alis masih ngasal. Cukup alisnya terlihat hitam saja. Sudah
- masih malu-malu memakai eyeshadow
- masih dijepret pakai kamera android jadul dengan pencahayaan dari lampu langit-langit (iya saya foto di lantai. Lulz)

2016:
- sudah bisa bikin alis!
- sudah berani mainan eyeshadow warna-warni
- sudah investasi kamera mirrorless

Career



2012:
- Masih belum lulus S1
- Masih kerja jadi QA 
- Masih kurang peduli dengan gaya hijab

2016:
- Ternyata masih jadi mahasiswa. Dengan jenjang yang berbeda
- Punya banyak kegiatan seru dan sudah pindah kerjaan juga
- Berani mencoba bangun startup! Bismillah
- Gaya hijab? Well done

Raga



2012:
- Waktu masih kurus
- Pipi belum mekar

2016:
- Badan membesar (in a good way)
- Pipi mekar. Alhamdulillah
- Lebih sehat

Kesehatan mata


2012:
- Mata sehat. Nggak pakai kacamata

2016:
- Pakai kacamata minus 1.5 (dan kayaknya nambah).. :(

Koleksi baju


2012:
- porsi kaos lebih banyak di lemari

2016:
- lebih banyak punya baju ketimbang kaos. Pertimbangan saya adalah, baju bisa dipakai ke semua acara baik casual/formal.

MUA Skill


2013:
- belum piawai bikin alis
- sapuan eyeshadow masih aaaakkwkkw
- masih belum peduli kecocokan warna foundation. Baru punya sedikit soalnya

2016:
- alhamdulillah sudah lebih baik

Nah itulah perbedaan saya di tahun-tahun lalu versus sekarang. Ternyata, ketimbang semangat merancang resolusi awal tahun yang entah dilakukan atau tidak, masih lebih menyenangkan dengan melihat ke beberapa tahun yang lalu. Kamu akan tahu bagaimana waktu mengubahmu, dan sejauh apa kamu telah melangkah.

Ingin coba membuat postingan yang sama? Yuk, post perubahanmu coba....

+Andhika Lady Maharsi 

Wednesday, December 14, 2016

[Review] Revlon Ultra HD Matte Lip Cream - Seduction

Hayo ngaku, siapa yang di pouch makeupnya punya lipstick matte lebih dari lima? Hehehe. Tenang saja, lima adalah angka wajar untuk kepemilikan lipstik kok. Yang agak kurang wajar itu kalau lima-limanya punya warna yang sama semua. Misalnya nude semua, atau merah semua. Bayangin, punya lipstik lima, nude semua, matte semua?

Percayalah, orang akan tetap kesulitan membedakan lipstik lima puluh ribuan dan lima ratus ribuan dengan warna dan tekstur sama kalau hanya melihatnya di bibirmu saja. Kecuali, kamu adalah blogger yang tengah menulis tentang perbedaan lipstik tesktur matte dengan harga yang berbeda.

Well, untuk meneruskan kisah menyejukkan tentang lipstik, saya mau bahas soal review lip-cream nude yang satu ini. Revlon Ultra HD Matte Lipcolor warna seduction

Kemasan dan aplikatornya



Paket yang sempurna terdapat di botol kaca yang elegan dan touch-up-able. Artinya kalau dipakai touch-up di mana-mana nggak turun gengsinya lah. Tutupnya yang berupa gagang plastik dan dikombinasi dengan logam juga menjadikan lip-cream ini jadi lebih naik kelas.


Perlengkapan di dalamnya juga termasuk ergonomis, gagangnya yang cukup mini dan aplikatornya yang pas, bisa membuat dia bisa menjangkau lipatan bibir saya yang memang tipis dari sononya. Oh iya, ujungnya itu agak gepeng dan mudah dipakai. Saya jarang menemukan ada lip-cream yang punya ujung aplikator yang gepeng.

Swatch, seduction!


Jenis warna lipstik ini adalah seduction, merupakan warna paling nude dalam varian Revlon HD dan paling mendekati warna bibir pas diaplikasikan. Ketika di-swatch, bisa dilihat di gambar atas bahwa warnanya terlihat glossy di awal, namun lambat laun berubah menjadi tekstur matte yang menawan. 

Seduction artinya adalah menggoda. Lipstik ini berwarna nude dan diberi nama itu, menurut saya ada dua kemungkinan:

1. Bibir berwarna nude alias warnanya mirip kulit itu secara nggak langsung menunjukkan kondisi bibir yang bebas lipstik dan kiss-friendly. Sesuatu yang berhubungan dengan kiss bisa jadi mengarah ke godaan. 
2. Diberi nama seduction untuk menggoda para wanita untuk memiliki lip-cream ini. Ya, itu saya. :p

Teknologi HD (High Definition)

Sebelumnya saya pernah membahas foundation MUFE HD di sini.  Intinya adalah, teknologi HD memungkinkan adanya kosmetik berkualitas tinggi yang diformulasikan dengan bahan-bahan yang mampu membuat kulit terlihat lebih smooth tanpa bantuan editing kamera. Nah, Revlon lip-cream ini merupakan salah satunya.

Hasil di bibir


Hasil di bibir saya, terlihat seperti tidak memakai lipstik sama sekali. Memang menutupi garis hitam yang menggelora di bibir saya. Untuk mengimbangi, sebaiknya pakai riasan mata yang cukup cetar (yang di foto itu nggak saya lakukan. Heuheu). 

Soal ketahanan, lip-cream ini anti cracking dan nggak transfer ke mana-mana. Yang mana saya suka. Apa sih yang kamu harapkan dari pewarna bibir bertekstur matte? Kalau masih suka transfer, ya mana bisa disebut matte? Mending daripada transfer lipstik, lebih baik duit saja 'kan?

Nb:
Lipstik transfer: warna lipstik mudah berpindah dari bibir ke benda-benda lain jika bersentuhan. Misal: gelas, sedotan, tissue, dsb




Ads