Thursday, February 23, 2017

[Tips] Konsep 70 % Skincare - 30 % Makeup. Apa Itu?

Beberapa waktu lalu saya terbangun dengan kondisi wajah yang jauh dari kata ideal. Jerawatan di dagu, kusam di pipi, kantung mata menggantung, serta kulit cuping hidung yang kering. Ini maunya apa, kulitku kan aslinya berminyak. Tapi kok tau-tau kering dan bermasalah? Bagiku kurang ajar sih namanya, kalau ada kulit kering mengelupas terjadi pada kulit berminyak. Hoho.

Saya melakukan aktifitas pagi seperti biasa. Cuci muka, mandi, dandan, dan oles skincare dan makeup. Sengaja saya lebihkan di bagian concealer dengan harapan jerawat, kantung mata dan noda-noda bisa menutup. Tapi kok tetep aja ya? Wajah kusam dan bikin gak pede seharian. Iya sih, saya punya beberapa alat makeup yang bisa digunakan untuk membuat wajah jadi lebih bagus terlihat. Namun ya apa mau ketergantungan? Orang makeup-nya itu ada di beauty-case yang mana itu buat ngerias. Tapi pertanyaannya jadi begini:
Apa iya kudu pake makeup berat setiap hari?
Apa iya, kudu membiarkan wajah kumus-kumus mengabaikan skincare tapi tebel di makeup-nya? 
Nah, saya belajar dari para seleb dan artis Korea. Meskipun bukan Kpop-ers, saya mengaku salut dengan paradigma mereka merawat kulit. Bagi mereka, lebih baik investasi skincare lebih banyak ketimbang beli makeup berlebihan. Menampilkan kulit sehat glowly bercahaya lebih membanggakan bagi mereka daripada memakai riasan counturing, lengkap dengan strobing dan smokey eyes.

Lalu coba saya coba terapkan dengan mengambil konsep ala wajah Korea tersebut. Tapi saya revisi sedikit dengan diubah jadi konsep 70-30. 70 untuk skincare, dan 30 untuk makeup.




Kenapa dibuat 70-30, bukan 80-20 atau 60-40? Karena saya merasa masih butuh makeup, sekaligus juga nggak suka terlalu meribetkan diri memakai makeup berlebihan. Iya, saya MUA. Tapi kamu akan jarang menemui saya dalam kondisi memakai smokey eyes full sehari-hari.

Jadi begini, konsep 70-30 dapat dijelaskan seperti ini....

1. Dari seluruh pengeluaranmu dalam sebulan untuk pembelian kosmetik, alokasikan 70% dana untuk skincare, dan 30% untuk makeup.


Misalnya dalam sebulan kamu punya alokasi dana 1 juta untuk pembelian kosmetik. Setidaknya gunakan 700ribu untuk membeli skincare, dan sisanya untuk makeup. Investasi skincare itu jangka panjang kok. Hasilnya memang nggak ketahuan saat itu juga, tetapi dalam hitungan bulan bahkan tahunan, lama-lama akan terlihat. Kamu bisa gunakan 700 ribumu untuk membeli serum, pelembap, sunblock, atau untuk perawatan rutin salon sesuai dengan kebutuhanmu. 300 ribu sisanya baru dibelikan makeup.
Tapi Jeng, makeup kan mahal. Lipstik aja harganya 200ribuan
Ya kalau begitu, kamu tinggal menggabungkan alokasi dana makeup kamu dengan bulan berikutnya. Beli lipstik dua bulan sekali nggak bikin kamu mati kan?
Lalu bagaimana dengan yang punya dana kosmetik lebih sedikit, 200 ribu sebulan misalnya.
Ya sama saja. Kamu bisa gunakan 140ribu untuk skincare, dan 60ribu untuk makeup. Masih kurang? Berhematlah dan gabungkan dengan bulan lain. Botol-botol skincare itu habisnya lama kok, bisa 3-5 bulan. Beres kan?

2. Manfaatkan 70% waktumu untuk merawat diri. 30%-nya untuk menghias diri


Hobi maskeran, pakai scrub, pakai toner, dan melakukan ritual lapisan skincare sebelum tidur adalah kebiasaan bagus. Menyempatkan diri melakukan itu semua nggak butuh effort banyak kok. Memang sih, saya juga sering kelewatan pakai krim malam. Apalagi kalau sudah capek badan dan pegal-pegal. Tapi setidaknya tahu bahwa merawat kulit sesering mungkin adalah hal yang baik.

Lagian rugi juga sih, kalau sudah punya skincare ratusan ribuan tapi teronggok begitu saja. Eh, malah kalah sama deretan foundation dan bedak lalalala. Tidak lantas foundation dan makeup-makeup itu tidak baik, tapi kalau prioritasnya sudah menuju ke kebaikan kulit, kenapa nggak memprioritaskan ke skincare?

Saya masih mencoba menerapkan hal ini sehari-hari. Kebetulan memang sedari lahir dikasih kulit yang sensitif dan butuh perhatian. Kejadian bangun pagi dengan kondisi kulit kering dan jelek itu, pinginnya sih nggak bakal ada lagi. Rasa bersalahnya itu lho, seperti menzalimi badan sendiri.

Semoga saya maupun kamu bisa istiqomah menjaga kulit masing-masing ya,,

+Andhika Lady Maharsi

Sunday, January 22, 2017

[Random] Ancaman Kegiatan Wasting Time Berkedok 'Belajar Hal Baru'



Rasa penasaran itu seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, dia adalah senjata untuk memerangi hoax. Misalnya kamu punya rasa penasaran tinggi, kamu nggak akan mudah percaya dengan berita reremehan yang menghiasi timeline kamu. Kamu akan berusaha mencari sumber berita yang valid, dan menciptakannya sebagai informasi yang benar buat kamu pribadi. Namun apa jadinya kalau rasa penasaran itu menjadikanmu membuang-buang waktu untuk mengupas banyak hal atas nama 'belajar hal baru'?

"Kok buang-buang waktu, kan itu pengetahuan Jeng?"

Iya, rasa penasaran memang mampu membawa kita jadi tahu banyak hal. Tapiii, kalau kamu terus menuruti rasa penasaran untuk hal yang, tidak terlalu krusial untuk direlakan habis waktunya, kenapa musti dilakukan? Itulah hal yang jadi renungan saya selama beberapa waktu terakhir ini. Yang kemudian saya putuskan untuk menuliskannya di sini untuk bahan #postinganpertama2017. Tenang saja, postingan review dan biuti-biutinya bakal balik lagi kok.

2016, saya belajar hal-hal ini, dan insyaAllah akan saya terapkan di 2017.

Tidak perlu expert dalam segala hal. Sekedar tahu dan bisa, oke. Tapi tidak perlu semua harus dicapai secara mahir

Kadang kalau ketemu orang yang dianggap lebih sukses, lebih mumpuni, lebih terkenal, lebih banyak dolan, lebih (kelihatan) punya duit banyak, dan aneka lebih-lebih yang lain; secara nggak sadar kamu jadi muncul keinginan untuk mengikuti jejak dia. Contoh mudahnya, kamu ingin menekuni bidang yang dia geluti (padahal belum tentu kamu sudah kenal dengan bidang itu).

Ilustrasinya begini, kamu ketemu pemain harpa yang keren dan sudah melanglang buana dari panggung ke panggung, lalu kamu jadi ingin bisa bermain harpa. Segala hal kamu niatkan untuk diupayakan, misalnya kalau perlu les musik dan membeli harpa yang harganya puluhan juta pun dijabanin. Iya, kalau kamu basic-nya adalah seni musik, lha, kalau kamu anak teknik boga? Rasa-rasanya agak kurang masuk akal ketika memutuskan untuk belajar harpa di saat kamu sudah memulai karir sebagai artistan bakery, misalnya.

"Tapi kan menggapai mimpi nggak ada kata telat, Jeng"

Eit, tunggu dulu, dilihat dulu apakah kamu benar-benar bermimpi menjadi pemain harpa profesional? Apa sudah dipertimbangkan soal keberlangsungan bisnis artisan bakery-mu, atau sudah dipikirkan money-stream kamu sebagai pemain harpa? Lalu pikirkan juga effort waktu yang kamu korbankan untuk mencapai pemain harpa yang punya nilai jual. Kalau itu semua sudah dipikirkan dan hasilnya positif, silakan mengejar apapun impianmu.

Lebih memikirkan kembali konsep 'belajar hal baru'. Apakah sekiranya ilmu itu akan dipakai ke depannya, ataukah tidak

Di usia perempat abad, idealnya seseorang sudah punya pegangan tentang hal-hal apa saja yang akan difokuskan dalam karir ke depannya. Entah menjadi penulis, dosen, dokter, akuntan, bahkan ibu rumah tangga sekalipun. Rencana untuk pivot karir yang membutuhkan belajar dari nol (dan butuh waktu lama) tentu saja bukan hal yang direkomendasikan. Di usia segitu, biasanya seseorang telah selesai menuntaskan pendidikannya dan kemungkinan besar telah memulai karir pertamanya.

Katakanlah karirnya nggak sesuai dengan passion, dan kamu punya pilihan lain untuk menghabiskan sisa karirmu. Di situlah sebaiknya mulai dipikirkan bagaimana mengejar passion kamu,  apakah dengan pivot kerjaan, atau mulai belajar hal baru biar nggak keteteran nantinya. Tapii, ada banyak hal yang melenakan di balik 'belajar hal baru', yaitu kemungkinan adanya delusi untuk menjadi expert dalam waktu singkat, padahal kamu sebetulnya sudah mendekati expert di bidang yang kamu geluti sekarang.

Kamu adalah seorang manager di badan pemerintahan, lalu tau-tau kamu ingin jadi dokter dan memutuskan untuk kuliah kedokteran di usiamu yang, errr, 27 tahun? Fix, kamu bercanda!
Does it worth to pursue? Yes, you know the answer correctly

'Mahir' dan 'berwawasan' itu hal yang berbeda. Kamu bisa punya wawasan luas di banyak hal, tetapi untuk mahir, cukup 1-3 jenis saja

Saking penasarannya dengan bidang trading Forex, Sheila bela-belain membeli segunung buku tentang Forex, menghubungi pakar Forex, mencari aplikasi prediksi nilai saham, bahkan sampai melakukan investasi dengan nilai yang tinggi tanpa paham betul resiko. Semua dilakukan demi satu hal: menuntaskan rasa penasaran akan Forex. Sheila bermain grasa-grusu, alhasil, dia loss banyak dan gagal menjadi trader.

Bulan depan, Sheila ketemu dengan desainer pakaian. Dia bertanya-tanya soal bagaimana cara membuat pola, memintanya untuk mengajari menjahit dan memilih bahan. Lalu Sheila melakukan hal yang tak diduga: membuka tailor-nya sendiri dan membeli perlengkapan mesin jahit yang bagus. Karena persiapannya belum terlalu matang, (lagi-lagi) Sheila bangkrut dan bingung dengan masa depannya. Uang simpanannya habis untuk trading dan bikin usaha tailor.

Lalu Sheila mengeluhkan kenapa dia selalu gagal. Bahkan pertanyaan "kamu ingin jadi apa?" pun nggak bisa dijawab olehnya. Dia mengutuk kenapa orang lain bisa sukses dan bisa mencapai cita-citanya, sementara dia masih gitu-gitu saja.

Yang dilakukan Sheila bukan karena dia kurang usaha, bukan karena dia malas. Dia nggak malas, kok. Buktinya dia berani belajar dan berani membuka usaha. Tapi salahnya dia satu: gampang banget berubah pikiran dan pivot karir. Coba kalau Sheila memutuskan untuk terus menekuni trading. Gagal di awal adalah biasa, kalau diteruskan dan ditekuni dengan fokus, bukan nggak mungkin dia akan jadi trader profesional.

Belajar membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Pengorbanan terbesar kita justru adalah waktu

Bayangkan apa yang dilakukan Sheila barusan, lalu komparasikan dengan investasi waktu yang telah ia lakukan. Untuk belajar Forex dia butuh waktu setidaknya enam bulan, lalu untuk membuka tailor juga sebutlah enam bulan. Satu tahun untuk belajar dan mencoba hal yang seharusnya bukan konsumsi dia. Pivot ide yang kurang direkomendasikan kan?

Adalah oke, kalau Sheila adalah seorang mahasiswa berusia 20 tahun yang masih banyak belajar dan bahkan belum tau mau jadi apa. Mencoba banyak hal baru merupakan hal yang masuk akal untuknya. Namun lain kisah ketika Sheila sudah menginjak usia perempat abad, daripada menyumbangkan banyak waktu yang sia-sia, lebih baik memulai dari hal yang sudah kamu bekali sebelumnya.

Don't build from the scratch! Time is running out
Orang-orang yang terbukti berhasil sukses di dunia ini adalah orang yang fokus. Sekali lagi, orang yang fokus

Kalau melihat orang-orang yang berhasil, kebanyakan keberhasilan mereka ada di satu atau dua bidang saja. Bisa kamu bayangkan: bagaimana kalau Raisa menjadi dokter? Bagaimana kalau Michael Jackson menjadi tukang tambal ban? Bahkan di otak pun gak kebayang kan? Belajar dari hal itu, kembali lagi ke konsep awal, orang fokus ditengarai lebih berhasil ketimbang mereka yang punya banyak keterampilan.

Jangan serakah. Fokus saja sudah

Plin-plan tidak akan membawamu ke tujuan utama

Terlena dengan rasa penasaran yang membuncah, lalu diikuti dengan 'belajar hal baru' yang justru membuang waktumu, punya potensi besar untuk membuatmu nggak fokus. Layaknya anak kecil, ketika diberi mainan baru maka dia akan lupa dengan mainan lamanya. Tapi kita bukan anak kecil lagi. Saya juga bukan akan kecil lagi. Teori mainan tidak sama dengan teori kehidupan manusia milenial yang dituntut produktif.

Inilah saat di mana saya mulai berpikir untuk kembali fokus, tidak memulai dari nol, memanfaatkan kemampuan yang sudah ada, nggak serakah, dan buang jauh-jauh keinginan untuk mencoba hal baru yang membutuhkan banyak effort.

Nb: kemarin malam saya mengubah banyak daftar impian-impian dan mengerucutkan menjadi tiga buah saja. Bagaimana denganmu?

+Andhika Lady Maharsi 


Friday, December 23, 2016

[Review] Emina Lip Cream Matte Frostbite, Fuzzy Wuzzy, Flamingo

Pesona lip-cream memang seakan tidak ada habisnya. Saya sendiri punya koleksi banyak lip-cream di rumah. Bentuknya yang praktis, nyaman dipakai dan higienis (ketimbang lipstik batangan yang permukaannya banyak bersentuhan dengan udara), serta punya tangkai yang bisa dipakai ritual oles-oles ke bibir membuat si lip-cream ini menjadi favorit saya mewarnai bibir.

Selain itu, bibir saya yang relatif mini membuat saya agak kesulitan memakai lipstik batangan, karena ukurannya yang sering kebesaran. Maka dari itu, lip-cream jadi sip. Bukan berarti dengan lipstik batangan lantas saya jadi nggak suka ya, hanya saja, memakainya perlu sedikit effort dengan memakai kuas.

Baca juga; NYX Soft Matte Lip Cream, Antwerp, Stockholm & Milan

Sebelumnya sudah banya lip-cream keluaran luar negeri dengan segala variasi namanya. Lip-cream, soft matte, lip-matte, dsb. Namun belum ada produk lokal yang memproduksinya. Salah satu impian saya sejak dulu adalah menemui lip-cream merk lokal dengan harga terjangkau dan kualitasnya cukup bagus.

Beruntung sekarang ada malah hampir semua lini produk makeup lokal mengeluarkan lip-cream mereka masing-masing. Sebut saja Wardah, La Tulipe, Sariayu, bahkan lipstik indie seperti Rollover Reaction dan By Lizzie Parra. Dan kini ada lip-cream keluaran Emina, kosmetik yang masih satu saudari dengan Wardah.

Bagaimana bentuk lip-cream ini? Apakah sesuai dengan yang dikatakan Sociolla bahwa "lip-cream Emina adalah pewarna bibir yang dijual dengan harga 45ribu tetapi punya kualitas 100ribu"?



Kemasan


Seperti halnya lip-cream pada umumnya, bentuknya botol plastik kecil memanjang yang dilengkapi dengan aplikator berukuran mini. Standar-standar saja sih menurut saya. Hanya saja ukurannya jauh lebih kecil dibanding lip-cream biasa. Bagi saya ini bukan kekurangan, justru gebrakan marketing untuk menyesuaikan harga yang lebih terjangkau. Karena Emina ditujukan untuk pasar remaja putri yang baru bisa dandan.

Tapi saya atau kamu yang sudah 20 sekian tetap bisa pakai kok. Makeup itu nggak punya umur. Hanya marketingnya saja yang beda.

Swatch Frostbite, Fuzzy Wuzzy, Flamingo

swatch emina lip matte
Kiri ke kanan: frostbite, fuzzy wuzzy, flamingo
Frostbite:
Warnanya pink neon dengan karakter terang dan semi fuschia

Fuzzy Wuzzy:
Yang paling natural dari ketiga aneka warna. Warnanya oranye-peach dengan semi pink

Flamingo:
Pink gelap dengan nuansa semi ungu

Kalau di foto atas terlihat bahwa lip-cream masih basah. Tetapi pas sudah kering, hasilnya bagus dan memang matte kok.

Hasil di bibir

Frostbite

Fuzzy Wuzzy

Flamingo


Kesan

Saya rasa nggak berlebihan kalau lip-cream Emina disebut sebagai the-it-lip-cream alias pewarna bibir yang wajib dimiliki siapapun yang punya hasrat punya warna bibir yang awet dan stay di sana. Warnanya awet dan nggak transfer. Ingat ya, nggak transfer! Selain itu ketahannnya patut diacungi jempol. Saya pakai sampai sesiangan bahkan sore hari, bentuknya masih utuh seperti sedia kala.

Lalu untuk pernyataan lip-cream seharga 45ribu dengan kualitas 100ribu bagaimana?

Iya, kualitasnya memang setara dengan lip-cream 100 ribuan. Tetapi dengan isi yang lebih sedikit, dijual dengan harga 45 ribu terasa lebih masuk akal.

Kalau menurutmu bagaimana?


Wednesday, December 21, 2016

Jenganten Tahun 2012 vs 2016. Seberapa Jauh Kita Berubah?

Membahas resolusi tahunan memang (hampir) selalu bikin semangat. Saya ingin begini, saya ingin begitu, ingin ini ingin itu banyak sekali. Tapi kadang seringnya jadi begini: bikin resolusi awal tahun, semangat di awal, lalu seiring berjalannya waktu, semangat itu luntur dan kita kembali ke rutinitas yang mediocre (iya, itu saya, Hahaha). Padahal yang namanya resolusi itu nggak bisa jalan tanpa ada komitmen untuk mewujudkannya. 
Bikin komitmen itu mudah, Jeng. Tapi mewujudkannya yang butuh effort
Ketimbang mikirin bagaimana resolusi 2017-mu dibikin, apa nggak sebaiknya menengok ke belakang dan melihat kita berkembang sampai sekarang? Seenggaknya kita akan tahu seberapa berubah dan beranjak dari tahun ke tahun. Kalau terbukti menjadi lebih baik, artinya ada resolusi yang berhasil. Sebaliknya, kalau ada hal yang menjadi lebih buruk, maka perlu ada yang direvisi tentang komitmen resolusi yang dibuat.

Dan lalu, inilah perubahan saya selama beberapa tahun terakhir. Sebagian besar bikin ketawa-ketawa sendiri karena berbeda banget. Tapi justru dari situlah saya merasa "ternyata sudah sejauh ini saya melangkah".

Makeup skill


2012:
- bikin alis masih ngasal. Cukup alisnya terlihat hitam saja. Sudah
- masih malu-malu memakai eyeshadow
- masih dijepret pakai kamera android jadul dengan pencahayaan dari lampu langit-langit (iya saya foto di lantai. Lulz)

2016:
- sudah bisa bikin alis!
- sudah berani mainan eyeshadow warna-warni
- sudah investasi kamera mirrorless

Career



2012:
- Masih belum lulus S1
- Masih kerja jadi QA 
- Masih kurang peduli dengan gaya hijab

2016:
- Ternyata masih jadi mahasiswa. Dengan jenjang yang berbeda
- Punya banyak kegiatan seru dan sudah pindah kerjaan juga
- Berani mencoba bangun startup! Bismillah
- Gaya hijab? Well done

Raga



2012:
- Waktu masih kurus
- Pipi belum mekar

2016:
- Badan membesar (in a good way)
- Pipi mekar. Alhamdulillah
- Lebih sehat

Kesehatan mata


2012:
- Mata sehat. Nggak pakai kacamata

2016:
- Pakai kacamata minus 1.5 (dan kayaknya nambah).. :(

Koleksi baju


2012:
- porsi kaos lebih banyak di lemari

2016:
- lebih banyak punya baju ketimbang kaos. Pertimbangan saya adalah, baju bisa dipakai ke semua acara baik casual/formal.

MUA Skill


2013:
- belum piawai bikin alis
- sapuan eyeshadow masih aaaakkwkkw
- masih belum peduli kecocokan warna foundation. Baru punya sedikit soalnya

2016:
- alhamdulillah sudah lebih baik

Nah itulah perbedaan saya di tahun-tahun lalu versus sekarang. Ternyata, ketimbang semangat merancang resolusi awal tahun yang entah dilakukan atau tidak, masih lebih menyenangkan dengan melihat ke beberapa tahun yang lalu. Kamu akan tahu bagaimana waktu mengubahmu, dan sejauh apa kamu telah melangkah.

Ingin coba membuat postingan yang sama? Yuk, post perubahanmu coba....

+Andhika Lady Maharsi 

Wednesday, December 14, 2016

[Review] Revlon Ultra HD Matte Lip Cream - Seduction

Hayo ngaku, siapa yang di pouch makeupnya punya lipstick matte lebih dari lima? Hehehe. Tenang saja, lima adalah angka wajar untuk kepemilikan lipstik kok. Yang agak kurang wajar itu kalau lima-limanya punya warna yang sama semua. Misalnya nude semua, atau merah semua. Bayangin, punya lipstik lima, nude semua, matte semua?

Percayalah, orang akan tetap kesulitan membedakan lipstik lima puluh ribuan dan lima ratus ribuan dengan warna dan tekstur sama kalau hanya melihatnya di bibirmu saja. Kecuali, kamu adalah blogger yang tengah menulis tentang perbedaan lipstik tesktur matte dengan harga yang berbeda.

Well, untuk meneruskan kisah menyejukkan tentang lipstik, saya mau bahas soal review lip-cream nude yang satu ini. Revlon Ultra HD Matte Lipcolor warna seduction

Kemasan dan aplikatornya



Paket yang sempurna terdapat di botol kaca yang elegan dan touch-up-able. Artinya kalau dipakai touch-up di mana-mana nggak turun gengsinya lah. Tutupnya yang berupa gagang plastik dan dikombinasi dengan logam juga menjadikan lip-cream ini jadi lebih naik kelas.


Perlengkapan di dalamnya juga termasuk ergonomis, gagangnya yang cukup mini dan aplikatornya yang pas, bisa membuat dia bisa menjangkau lipatan bibir saya yang memang tipis dari sononya. Oh iya, ujungnya itu agak gepeng dan mudah dipakai. Saya jarang menemukan ada lip-cream yang punya ujung aplikator yang gepeng.

Swatch, seduction!


Jenis warna lipstik ini adalah seduction, merupakan warna paling nude dalam varian Revlon HD dan paling mendekati warna bibir pas diaplikasikan. Ketika di-swatch, bisa dilihat di gambar atas bahwa warnanya terlihat glossy di awal, namun lambat laun berubah menjadi tekstur matte yang menawan. 

Seduction artinya adalah menggoda. Lipstik ini berwarna nude dan diberi nama itu, menurut saya ada dua kemungkinan:

1. Bibir berwarna nude alias warnanya mirip kulit itu secara nggak langsung menunjukkan kondisi bibir yang bebas lipstik dan kiss-friendly. Sesuatu yang berhubungan dengan kiss bisa jadi mengarah ke godaan. 
2. Diberi nama seduction untuk menggoda para wanita untuk memiliki lip-cream ini. Ya, itu saya. :p

Teknologi HD (High Definition)

Sebelumnya saya pernah membahas foundation MUFE HD di sini.  Intinya adalah, teknologi HD memungkinkan adanya kosmetik berkualitas tinggi yang diformulasikan dengan bahan-bahan yang mampu membuat kulit terlihat lebih smooth tanpa bantuan editing kamera. Nah, Revlon lip-cream ini merupakan salah satunya.

Hasil di bibir


Hasil di bibir saya, terlihat seperti tidak memakai lipstik sama sekali. Memang menutupi garis hitam yang menggelora di bibir saya. Untuk mengimbangi, sebaiknya pakai riasan mata yang cukup cetar (yang di foto itu nggak saya lakukan. Heuheu). 

Soal ketahanan, lip-cream ini anti cracking dan nggak transfer ke mana-mana. Yang mana saya suka. Apa sih yang kamu harapkan dari pewarna bibir bertekstur matte? Kalau masih suka transfer, ya mana bisa disebut matte? Mending daripada transfer lipstik, lebih baik duit saja 'kan?

Nb:
Lipstik transfer: warna lipstik mudah berpindah dari bibir ke benda-benda lain jika bersentuhan. Misal: gelas, sedotan, tissue, dsb




Monday, November 28, 2016

[Jenganten Talk] Konsep Bridesmaid di Indonesia, Patron Mempelai atau Tamu Kehormatan?

Setidaknya ada tiga hal yang mengaitkan saya dengan dunia nikah-menikah atau kawin-mawin yaitu:

1. MUA, Buat yang nikah ataupun bridesmaid.
2. Jasa Henna untuk nikahan,
3. Editorial artikel segmen wedding di Hipwee. 

Ada satu lagi sih pertanyaan paripurna yang kerap melanda insan (masih) muda seperti saya, yakni "kapan nikah?" yang entah kenapa makin ke sini makin jarang yang menanyakannya karena selalu saya jawab dengan "doakan saja ya. Bisa lebih cepat sih kalau kamu bantu bayarin". Lalu mereka jadi bosan bertanya dengan sendirinya. Hehe.

Buat mereka yang masih single dan belum menikah, seringnya sih dimintai untuk jadi bridesmaid atau mbak-mbak pengiring pengantin yang gemarnya melakukan selfie ria. Eh, beneran lho, tugas bridesmaid 'kan harusnya membantu mempelai wanita menyiapkan pernikahan dan turut menolong menenangkan pengantin yang biasanya gelisah menjelang akad. Lha, tapi yang dilakukan malah datang telat, memanfaatkan seragam untuk ngeceng, dan ujung-ujungnya selfie. Kontribusi terhadap acara nikahannya cukup sebatas unggah foto selfie diri di Instagram ditambah caption "Selamat ya, Galih dan Ratna, semoga samawa, #kiss #emmuah".

Sering melihat yang begitu? Atau kamu juga pernah melakukannya? Semoga sih enggak yaa.

Pada dasarnya, menjadi seorang bridesmaid adalah kehormatan. Karena kamu dianggap cukup dekat dengan pengantin untuk mendampinginya di hari bahagia. Pun mereka sudah effort memberikan kamu sepotong atau dua potong kain untuk dikenakan di acara nikahan. Fasilitas lain misalnya makanan dan tempat buat persiapan. Bahkan makeup bisa jadi sudah disediakan. Rasanya kok kayak kurang tau diri kalau kamunya sudah datang telat, nebeng pakai seragam bridesmaid, lalu lebih mementingkan selfie ketimbang melayani.

Sumber

Padahal tugas bridesmaid itu nggak cuma datang dengan selfie. Atau menghabiskan makanan. Atau memanfaatkan momen kondangan dengan berfoto di booth saja. Lebih dari itu, Jeng. Bridesmaid justru memegang peranan penting di kelangsungan pernikahan si mempelai cewek.

Lansiran dari wikipedia, bridesmaid justru adalah orang yang ikut serta dalam persiapan pernikahan. Mereka turut mikirin gimana cari undangan, menyiapkan katering, mencari venue, sampai menemani untuk memilih gaun terbaik. Di Barat sana, memang upacara pernikahan itu adalah milik si mempelai, dengan sedikit atau tanpa campur tangan orang tua. Sehingga, hampir semua persiapan pernikahan diselenggarakan sendiri oleh si mempelai dan kawan-kawannya (si bridesmaid itu). Orang tua lebih ditempatkan sebagai tamu undangan kehormatan.

Sumber

Bridesmaid di negara Barat sono diwajibkan mengeluarkan dananya sendiri lho. Datang ke acara dan turut serta menjadi partron-nya acara. Belum ditambah dengan membantu mengurus tetek bengek persiapan acara jauh-jauh hari sebelum hari h dilakukan. Iya, memang capek menjadi bridesmaid. Makannya mereka dipilih dari saudara atau sahabat si mempelai cewek.

Tapi begitu diadopsi di Indonesia, saya agak melihat fenomena yang agak sedikit bergeser. Misalnya saja nih, biaya untuk seragam bridesmaid kini ditanggung penyelenggara pernikahan. Lalu urusan persiapan pernikahan, hampir si bridesmaid nggak terlibat banyak. Bahkan, di acaranya sendiripun, bridesmaid lebih terlihat sebagai tamu ketimbang patron acara.

Okelah, ini memang sudah semacam jadi hal yang lazim.. Sejauh yang punya acara (mempelai, orang tua, keluarga) nggak mempermasalahkannya.

Tapi dari saya pribadi, yang kerap bikin risi yang melihat adalah; para bridesmaid itu datang di acara seolah sebagai tamu kehormatan. Lalu mementingkan selfie dan foto-foto. Kontribusinya sedikit sekali. Dan agaknya sih, menurut kata suudzon saya, bridesmaid Indonesia jarang sekali yang betul-betul membantu mempelai menyiapkan pernikahan. Bahkan saya sendiripun pernah diceritakan teman saya yang jadi bridesmaid, ujarnya "seneng banget jadi bridesmaid-nya Mbak X, bahan baju yang dikasih bagus. Nggak kayak Mbak Y, bahan bajunya biasa banget kayak beli di pasar-pasar"

Ini mau bandingin attire, atau mau secara tulus membantu sahabatmu jadi penganten yang paripurna sih?

Jadi bridesmaid yang baik yuk.

------------
Nb: gambar ilustrasi yang saya pakai adalah dari Amanda Dress. Aneka gaun nikahan dan bridesmaid Cheap Simple Wedding Dress Australia dengan harga terjangkau bisa kamu dapat di sana.

+Andhika Lady Maharsi


Tuesday, November 22, 2016

[Review] Rimmel Stay Matte, Bedak Padat Asal London yang Bikin Kulit Gak Berminyak

Pernah mendengar produk Rimmel? Atau mungkin pernah melihat beberapa beauty-guru di Youtube memakai produk ini dan menyebutnya sebagai drugstore makeup? Yes, inilah Rimmel. Kosmetik produksi London-Inggris yang mendunia. Disebut sebagai drugstore makeup karena di negara asalnya, kosmetik ini banyak dijual di apotek-apotek, berjejeran dengan drugstore makeup lainnya seperti Maybelline, ELF, dsb.

FYI, di beberape negara di luar negeri, kosmetik dijual bebas di toko obat. Nggak seperti di Indonesia yang kudu ketemu bawelnya BA di counter kosmetik dulu untuk beli lipstik. Kalau kamu mending beli di yang mana?

Oke, kembali ke topik.

Produk Rimmel yang saya coba adalah Rimmel Stay Matte Long Lasting Pressed Powder. Produk ini saya dapat dari online shop Racun Warna Warni. Sebuah bedak padat yang dibuat untuk mengurangi minyak di wajah dan membuat kulit pemakainya terlihat matte.

Kemasan: ringan tapi tak lengkap


Kemasan bedak ini terdiri dari sebuah jar bedak, tutup plastik (yang terlihat ringkih), tanpa spons, tanpa kaca. Dari hal ini saya menyimpulkan bahwa:

1. Rimmel berasumsi bahwa pemakai bedak ini nggak mudah ceroboh sehingga merancang tutup yang ringkih.
2. Bedak ini bukan buat touch up, karena nggak ada kaca dan spons.
3. Dari kemasannya langsung keliatan bahwa bedak ini lebih cocok ditaruh di meja rias saja. Nggak perlu dibawa kemana-mana
4. Saya juga bingung apakah ini bedak buat profesional ataukah drugstore, karena sekilas terlihat seperti bedak untuk profesional, tetapi harganya yang drugstore. Pertanyaan selanjutnya: apakah bedak ini bisa digunakan untuk profesional MUA?

Tekstur: lembut, dan jauh dari kata powdery


Tekstur bedak ini terlihat padat banget. Iya, padat banget. Bahkan saya harus mencolek beberapa kali sampai spons saya 'mengangkat' bedak itu dari jarnya, untuk kemudian menepuknya di kulit saya. Berbeda yah, dengan bedak lokal kebanyakan yang teksturnya powdery dan awul-awul bikin bersin, Rimmel nggak seperti demikian, malahan saya percaya kalaupun bedaknya jatuh, isinya nggak akan pecah saking padatnya.

Varian bedak ini adalah transparant. Yang mana warna ini bisa masuk ke semua jenis warna kulit. Jadi nggak perlu bingung kalau warnanya nggak cocok.


Ukiran seni di bedaknya bikin sayang kalau sering dicolek-colek. Ugh. Saya biasa memakainya dengan spons, tetapi kalau ingin lebih presisi lagi, bisa juga dipakai dengan kuas. Namun bisa lebih lama dengan kuas. Sementara ini belum saya coba untuk keperluan profesional. Jadi masih saya pakai sendiri dulu.

Pemakaian: iya, beneran awet dan nggak bikin cakey!


Saya memakai bedak ini di wajah saya yang memang berminyak dari sononya. Hasilnya, iya, memang ada perubahan pengaruh terhadap kulit berminyak saya. Jadi lebih matte, tetapi nggak sampai 5 jam seperti yang diklaimkan. Saya bisa tahan selama kurang lebih 4 jam, dan setelah itu perlu touch-up lagi untuk mendapatkan makeup yang benar-benar matte

Rimmel mengklaim bisa menyamarkan pori-pori. Namun karena pori saya sudah kelewat besar, saya nggak melihat hasil yang signifikan di perubahan pori-pori. Mungkin akan punya efek yang berbeda untuk mereka yang berpori lebih kecil.

Bedak ini bisa dipakai dengan atau tanpa foundation. Di foto tersebut saya memakai foundation tipis. Tapi ini cuma untuk keperluan foto supaya noda-noda di wajah saya tersamarkan. Namun di pemakaian sehari-hari, saya jarang memakai foundation. Cukup pelembap+sunblock+bedak. Hasilnya kurang lebih sama kok.


Sejauh ini saya suka dengan bedak ini. Hasilnya cukup memuaskan seperti yang dijanjikan. Plus minusnya bisa dijabarkan di bawah ini:

+ Tekstur nggak powdery
+ Membuat kulit lebih matte dan nggak berminyak lebih lama
+ Mengklaim bisa menyamarkan pori

- Kemasan kurang dilengkapi dengan alat touch up
- Kurang travel-friendly

Bedak ini harga aslinya sekitar 5.49 USD. Namun ketika sampai di Indonesia, harganya bisa mencapat 90-100ribu tergantung online shop yang menjual. Kamu yang ingin punya produk ini, bisa beli di Racun Warna-Warni dengan harga yang lebih murah dibanding online shop lain.

Borong yuk borong.. ^^


Saturday, November 19, 2016

[Event] Tips Datang ke Fashion Show dan Apa yang Kita Dapat di Sana

Kalau mendengar kata "fashion show", hal yang pertama kali saya pikirkan adalah adanya mbak-mbak atau mas-mas yang memperagakan busana desainer dan berjalan di catwalk dengan anggun dan menarik dilihat. Saya sebetulnya cukup jarang datang ke acara fashion show, padahal di Jogja lumayan sering lho acara beginian. Entah itu pagelaran batik, Jogja Fashion Week, show di mal, dan masih banyak. Tapi sejak jadi editor style di Hipwee.com, saya mulai mencoba menyukai dunia ini dengan lebih mendalam. Jadi pas saya diajak sama Ajeng untuk nonton Jogja Batik Bienalle di Jogja Expo Center, ya ayuk-ayuk aja.


Sebenarnya, apa sih yang ada di dalam fashion show selain lenggokan model? Nah, buat kamu yang belum pernah datang ke FS, saya pengen cerita dikit tentang apa saja yang ada di sana.

1. Modelnya dong


Model adalah orang yang memperagakan busana di dalam FS. Mereka punya ciri khas antara lain: punya tubuh yang tinggi, badan proporsional (tapi kebanyakan kurus sih), wajah ber-makeup, dan menguasai teknik jalan a la model. Model catwalk berbeda dengan foto model, meskipun terkadang seorang model bisa melakoni dua profesi itu bersamaan. Jika model catwalk harus melakukan koreografi langkah yang bagus, foto model kebanyakan punya pose fotojenik.

2. Busana yang diperagakan. Couture or Easy to Wear

Busana couture

Menurut saya ada sedikitnya dua jenis busana dalam fashion show. Busana couture busana easy to wear. Busana couture adalah baju yang dirancang untuk keperluan tertentu dan biasanya terlihat lebih wah dan glamor. Misalnya baju pengantin, baju seni, kebaya, dsb. Ciri busana couture adalah bentuknya yang cukup rumit dan nggak dipakai sehari-hari.

Sementara busana easy to wear adalah baju yang dirancang untuk penampilan sehari-hari. Misal baju kerja, baju main, dan sebagainya. Konsep 'mudah dipakai' digunakan untuk mendefinisikan baju-baju yang kita pakai sehari-hari. Jadi, jangan kaget kalau pas datang di FS, yang kamu lihat adalah rancangan yang sekilas terlihat 'biasa saja'. Ya, kemungkinan karena itu adalah busana easy to wear.

3. Iringan Musik


Supaya peragaan lebih meriah, biasanya koreografer (atau kadang malah desainernya sendiri) mempersiapkan iringan musik untuk menemani langkah gemulai para model. Tema musik ini tentu disesuaikan dengan tema busana. Jika busana yang diperagakan adalah batik misalnya, maka contoh iringan musik yang tepat adalah modern gamelan. Begitu pula kalau busana kontemporer, maka musiknya adalah musik kontemporer.

4. Desainer



Setelah para model dan busananya diperagakan, di akhir akan tampil desainer yang merancang dan membuat busana tersebut. MC akan menyebut nama dan karyanya. Hal yang lazim terjadi, biasanya ketika desainer tampil di depan, akan ada sahabat atau keluarga sang desainer yang maju memberikan bunga. Kamupun kalau suka dengan karyanya, boleh kok memberikan bunga atau cinderamata untuk desainer.

5. Cowok ganteng. Ups


Sebagai cewek ya, tentu saya nunggu-nunggu banget penampilan cowok model busana. Mereka itu nggak pernah gagal untuk tampil keren dan nggak owol. Model cowok biasanya menarik untuk dilihat, seperti profesi sejenis misalnya pramugara cowok. Mereka jarang ada, tapi kalau muncul langsung bikin mata berbinar. Ihik.

6. Tips buat datang ke Fashion Show


Gimana? Sudah tertarik ingin datang ke fashion show? Nggak ada salahnya kok. Apalagi kalau kamu ingin dapet inspirasi. Supaya nggak gagap (misalnya belum pernah dateng), saya kasih tipsnya satu-satu:

a. Datang lebih gasik. Biar dapet tempat duduk di depan dan area foto menawan.
b. Jangan lupa bawa kamera favoritmu. Atur shutter speed agar foto nggak blur pas menangkap pose para model yang sedang berjalan.
c. Pakai baju yang stylish dan sebaiknya dandan dulu dong. Kan mau datang ke acara fashion.
d. Catet kontak desainernya. Atau minimal Instagramnya deh. Siapa tau kamu butuh juga kan.
e. Kalau kamu cukup ngefans dengan desainernya, bisa bawa buket bunga sebagai tanda ucapan selamat.

Jadi gitu tipsnya. Semoga berguna ya.

Sama Ajeng



Ads