Wednesday, March 4, 2015

Lucu Adalah...

Sebagai cewek, mata kita pastinya sangat responsif dengan hal-hal yang menarik. Kaum kita punya sebutan khas untuk mendefinisikan benda-benda yang menarik di mata cewek, yaitu dengan satu kata: lucu.

"Eh, tasnya lucu"
"Bonekanya lucu"
"Kipasnya lucu"
"Roknya lucu"

Padahal menurut KBBI, lucu adalah:

lucu /lu·cu/ a menggelikan hati; menimbulkan tertawa; jenaka: cerita ini -- sekali; tukang lawaknya tidak --;

berlucu /ber·lu·cu/ ark v melucu;
melucu /me·lu·cu/ v mengucapkan (berbuat) sesuatu yg menggelikan hati: ia pandai ~;
kelucuan /ke·lu·cu·an/ n kejenakaan
Padahal, ketika saya melihat sebuah pernak-pernik yang menarik, nggak berarti saya lantas jadi kepingkal-pingkal karena pernik itu terlihat jenaka. Percayalah, saya pun nggak paham kenapa bisa mulai ada istilah barang-barang lucu, meskipun saya paham apa yang dimaksud dengan lucu itu. Saya lebih setuju kalau tim KBBI mendefinisikan ulang kata lucu sebagai:

lucu/lu'cu/ adj

istilah ajaib yang membuat para cewek-cewek rela mengeluarkan uang sebesar tiga ratus ribu untuk barang senilai satu juta yang didiskon tujuh puluh persen, alih-alih mengeluarkan uang sebesar tiga ratus ribu untuk barang mirip seharga tiga ribu tanpa diskon.

See? Tahu kan bedanya? Lucu jaman sekarang sudah bergeser makna. Sudah bukan kejenakaan lagi. Bagi saya, lucu adalah...

Lipstick case. Beli di Krisna Souvenir Bali.

Tempat rokok, eh, tempat kartu nama.

Saturday, February 14, 2015

Blogging Tips: Cara Memasang Kolom Komentar Facebook di Blogspot

Hai Jeng,

Kamu yang kebetulan seorang blogger di platform Blogspot, silahkan masuk di mari. Saya mau kasih tips (yang mungkin sudah banyak orang tau sih), tentang cara memasang kolom komentar Facebook di Blogspot.

 
 
Kamu pasti pernah kan menemukan sebuah situs website atau blog yang menggunakan fitur komentar Facebook di postingannya? Nah itu fungsinya apa sih? Bedanya dengan komentar default bawaan Blogspot itu apa? Terus apa untungnya memakai komentar Facebook?

1. Fungsinya adalah untuk menautkan Facebook dengan Blog kamu. Jadi setiap ada pemilik Facebook yang menaruh komentar di post kamu, dia bisa memilih untuk menautkannya ke wall FB dia atau tidak. Semakin banyak pemilik Facebook yang menautkan post kamu, maka trafik yang menuju blog kamu semakin banyak.
2. Kegunaan lain adalah supaya kamu nggak perlu copy-paste link postingan blog ke wall kamu untuk sekadar nge-share postingan. Bahkan kamu nggak perlu membuka halaman Facebook kamu.
3. Buat keren-kerenan supaya keliatan kalo kamu pinter mainan .html. LOL


Oke, sebelumnya saya beri peringatan, bagi yang phobia dengan baris kode, silahkan minta tolong temen sebelah, pacar, kakak, adek atau siapa saja yang nggak phobia. Tapi, saya kira sih nggak ada yang phobia ya. Kan kamu blogger. Kan kamu mainan sistem internet. Kan kamu suka ngasih komentar-komentar. Kan kamu suka pake huruf miring, huruf tebal, huruf warna-warni. Masa sih, nggak pada penasaran dari mana itu dibikinnya?

Thursday, February 5, 2015

Pixy Pure Finish Compact Powder

Mari bahas sejenak tentang sebuah bedak yang sedang nangkring lucu di pouch makeup saya. Namanya Pixy Pure Finish Compact Powder. Ohya, sebelumnya saya cerita dulu yah, kalau saya sudah lama langganan produk Pixy, terutama bedak-bedak dan two way cake nya. Eh, maskaranya juga. Eh, removernya juga. Baru eyeliner gel dan foundation stick-nya yang saya kurang suka.
FYI, bedak ini sempet banyak direview oleh beauty blogger sekitar akhir tahun lalu, bebarengan dengan salah satu lomba blog tentang BB Cream baru yang diselenggarakan Pixy. Tapi tenaaang, post ini bukan buat lomba kok. Tetapi emang saya yang pengen review karena bedaknya lucu.

Well, nambah lagi satu alesan kepingin review: produknya lucu!

Suka sama desain kemasannya! Lace-lace gimana gitu. Kayak model taplak meja vintage.
Bedak ini asalnya memiliki box kemasan. Di box tersebut ditulis keterangan: dilengkapi dengan SPF 25&PA++, matte lucent powder, non comedogenic & clinically tested. Intinya, bedak ini menjanjikan perlindungan sinar UV, hasil matte di kulit, dan ramah untuk kulit yang mudah berkomedo.

Saturday, January 31, 2015

Athena Bright Breeze Eau de Toilette from Oriflame

Semenjak kecil, saya selalu berpendapat bahwa aroma adalah hal yang penting. Aroma makanan, aroma baju, aroma kertas baru, aroma bungkus handphone yang baru dibuka, aroma tanah, aroma hujan, aroma badan Ibu yang rasanya enak, aroma seseorang yang membangkitkan memori, sampai aroma produk kosmetik. Aroma itu penting dan matters. Saya bisa mabok kalau mencium aroma duren, saya bisa ilfil kalau berada di samping orang yang bau badan, saya bisa memilih untuk menutup hidung ketika melewati tumpukan sampah, atau saya bisa batal membeli skin care, jika dirasa aromanya terlalu menyengat.

Saya juga punya preferensi yang cukup aneh tentang aroma. Bagi saya, aroma itu memiliki warna. Misal, aroma fruity itu berwarna kuning, aroma bebungaan berwarna merah muda, aroma kayu berwarna cokelat, aroma musk juga berwarna cokelat. Hal ini berkaitan dengan ketika saya mencoba parfum. Saya bisa menebak sebuah 'warna' parfum hanya dengan mencium aromanya saja. Misalnya, saya mencium parfum X yang cairannya berwarna bening. Kemudian setelah tahu aromanya, saya bisa langsung menyimpulkan parfum tersebut warnanya peach.

OOT dikit. Waktu itu saya pernah mendengar info entah dari radio atau Twitter, yang membahas tentang kemampuan orang yang mampu mendefinisikan hal-hal yang berbeda dengan bentuknya dan tidak terukur. Misal menyebutkan "rasa cabe ketika dimakan bentuknya bulat seperti bola", "negara Perancis memiliki jenis kelamin wanita", "musik yang sedang saya dengar rasanya pedas", "lagu ini bentuknya kotak-kotak", dsb. Saya mencoba Googling, tapi belum menemukan istilahnya. Mungkin temen-temen Jenganten ada yang tahu? 

Balik ke tentang parfum, :). Dengan saya suka mendeskripsikan parfum ke sebuah warna, kesimpulan saya: parfum yang 'berwarna' dingin (biru, hijau, ungu) hampir selalu lebih enak dibanding parfum yang 'berwarna' hangat (pink, kuning, merah, dll). Nah, akibatnya, saya lebih memilih parfum yang kemasannya berwarna dingin itu, meskipun sesungguhnya antara aroma dan wadah parfum itu nggak ada hubungannya. Sering juga kok, saya menemui sebuah parfum yang diwadahi kemasan berwarna hijau, eh, pas saya cium, ternyata aromanya 'pink'.

Well, udah ngomongin panjang lebar tentang preferensi parfum, kini lanjut dulu ke review wewangian. Jadi ceritanya, kawan saya meminta untuk mencoba eau de toilette miliknya untuk di-review. Ceritanya semacam endorse, begitu. Meskipun si kawan ini nggak mau disebut Mbak-mbak endorser, hihi.

Awalnya saya nggak ngerti aroma wewangiannya seperti apa. Kawan saya cuman menunjukkan beberapa gambar botol wewangian, saya diminta memilih. Mana yang saya pilih? Tentu saja yang botol kemasannya berwarna dingin. Akhirnya saya pilih Athena Bright Breeze, dari Oriflame. Harapan saya cukup besar dengan wewangian ini: saya berharap wanginya juga 'biru'.

Athena Bright Breeze