Friday, May 22, 2015

Apa itu Pidih?

Kita-kita yang doyan pakai make-up, barangkali ada yang kurang familiar dengan yang namanya Pidih. Pidih memang bukan make-up yang lazim dimiliki orang kebanyakan. Bukan karena harganya yang mahal dan susah dicari, tetapi kegunaannya yang cenderung hanya dipakai di saat-saat tertentu saja.

Lantas apa itu Pidih? Jadiii, Lilin Pidih, atau bisa juga disebut Pidih saja adalah pewarna yang dipakai untuk mewarnai hiasan dahi/paes di rias pengantin. Umumnya ada dua jenis warna Pidih, hitam dan hijau. Pidih hitam dipakai di paes Yogyakarta. Sementara Pidih hijau dipakai untuk pengantin gaya basahan Surakarta. Rias-rias pengantin dari daerah lain juga ada yang memakai pewarna dahi berwarna hitam, tetapi saya kurang paham apa sebutannya. Apakah namanya juga Pidih, wahai para suhu juru rias seluruh Indonesiah yang membaca tulisan ini?

Sumber.  Paes gaya Yogyakarta, memakai pidih warna hitam.
Sumber. Paes gaya Surakarta, memakai pidih warna hijau.

Monday, May 18, 2015

Harem Makeup Inspiration

Waktu kecil, saya pernah membaca artikel di majalah Intisari tentang kisah seorang wanita Harem di istana Topkapi, Turki. Harem di sini tentunya bukan celana harem yang lagi ngetren, Jeng, tetapi tentang sebuah istana di jaman kesultanan Ottoman yang digunakan para wanita 'milik' Sultan berkumpul. Ketika membaca artikel tentang Harem itu, saya langsung terpesona dan takjub sama kisah wanita-wanita penghuni Harem yang penuh dengan ritual-ritual kecantikan. Kayaknya kok seru banget hidup di sana. Di mana kegiatanmu sehari-hari adalah memakai henna, mandi susu (dibantu mandi oleh budak wanita), menggariskan eyeliner kohl, memakai pakaian bagus, latihan menari dan tinggal di istana penuh permadani. Mereka nggak mikirin gimana cara bayar kost bulan depan atau mengira-ngira bagaimana topik yang pas untuk ditulis di blog.

Saat ini ketika Google sudah menjadi jawaban kita semua, saya menemukan fakta baru bahwa Harem tidak melulu sebagai tempat para wanita cantik lenjeh-lenjehan merawat diri. Akan tetapi, Harem lebih diketahui sebagai tempat selir Sultan berada. Wanita-wanita penghuni Harem didapatkan dari pasar budak atau hadiah dari negara sahabat. Katanya, jika ada budak wanita yang dinilai cantik, hampir dipastikan kisah hidupnya akan berakhir di Harem. Tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam kawasan Harem. Konon istilah Harem berasal dari kata haram, yang artinya terlarang. Pengistilahan ini mirip dengan penyebutan Masjidil Haram. Tempat suci umat Islam tersebut memang terlarang untuk dimasuki orang-orang dari kalangan tertentu. 

Wanita-wanita Harem secara hukum adalah milik Sultan. Seorang Sultan yang kaya raya bisa 'memelihara' ribuan wanita Harem. Wanita Harem akan 'naik level' jika doi melahirkan anak laki-laki Sultan. Untuk itu persaingan antar wanita Harem selalu terjadi. Kamu nggak akan mudah percaya sembarang orang, makanan yang kamu makan bisa jadi beracun, dan tidurmu malam ini bisa jadi tidur terakhir kamu. Hee, serem ya? Penjaga di istana Harem adalah orang Kasim, yaitu budak pria yang sebaiknya kamu klik linknya untuk mendapatkan penjelasan yang lengkap. 

Harem adalah tempat terlarang yang selama ratusan tahun belum pernah terjamah apapun. Baru setelah tahun 1800an informasi tentang Harem menyebar luas. Buku-buku ditulis, kisah romantika menyeruak, hingga lukisan-lukisan artistik diciptakan . Akhirnya karena isu HAM, feminisme dan modernisasi, segala jenis Harem-hareman dibubarkan di awal abad 20. Kalau sekarang masih ada begituan, bisa-bisa kena undang-undang perdagangan manusia. CMIIW.

Jadi kesimpulannya, di balik kisah romantika dan ritual kecantikan, tersimpan juga sisi kelam kehidupan wanita Harem. Mereka berasal dari perbudakan, berlanjut menjadi wanita simpanan Harem (konon nggak boleh sembarang keluar masuk), menjadi hak milik Sultan, harus bergelut dengan persaingan antar wanita untuk menarik perhatian Sultan, dan sederet kekelaman lainnya. Namun bagaimana juga, kisah tentang Harem selalu menarik untuk disimak.

Terinspirasi dari sosok wanita Harem, saya mencoba bikin FOTD ala-ala Harem. 


Saturday, May 9, 2015

Jenganten-Related Instagram Pick

Saya demen banget dengan sosmed Instagram, bahkan sejak pertama kali diluncurkan di piranti cerdas Android, saya antusias banget dan langsung bikin akun. Berapa jumlah foto saya sekarang? 1700an! Banyak banget kan? Selebgram yang punya pengikut ratusan ribu aja fotonya nggak sampe limaratus. Tapi wajar saja, akun IG yang rame biasanya punya minimal satu dari lima alasan: 1. Artis, 2. Punya konsep, 3. Olshop yang gemar sfs, 4. Victoria Secret model, 5. Dijah Yellow. Jadi kalau kamu bukan artis, nggak ada konsep spesifik, bukan olsop yang sering sfs, bukan Victoria Secret Model, apalagi bukan Dijah Yellow, harus cukup berpuas dengan pengikut yang pas-pasan. Kabarnya Dijahyellow udah nggak ada di IG ya? Ah, auk ah, yang penting Mbak Doutzen, Mbak Raisa, dan Mas Adam Levine nggak ilang.

Selain akun-akun di atas, saya punya banyak referensi akun IG yang asik ditongkrongin. Banyak di antara akun-akun di bawah ini, memiliki relasi dekat dengan beauty, makeup, fashion, dan kawan-kawannya. Sesuai to, sama temen-temen pembaca Jenganten? Sesuai dong ah,



Mas Ahmad yang ini bukan Mas-Mas berbasuh wudhu yang sering kamu tunggu lewat depan rumah kalau mau Jumatan. Bukan pula Abang-Abang fotokopian yang kamu panggil Amad atau Mamed. Tapi Mas-Mas makeup artist yang tinggal di Lebanon sonoh. Saya tau akun ini awalnya dari @samerkhouzami (nanti juga dibahas). Usut punya usut, ternyata Mas Ahmad ini adalah asisten dari Samer Khouzami.

Sunday, May 3, 2015

Candi Abang Bersama Gang Girang

Di salah satu agenda bulan lalu, saya dan kawan-kawan (sebut saja Gang Girang) pergi tamasya dan rame-rame melakukan photosession untuk kado nikahan salah satu kawan kami, Utari. Kami pengen memberikan sesuatu yang spesial dan anti mainstream untuk pernikahan sahabat kami. Lalu, disusunkan konsep foto sesyen yang melibatkan kami berempat, termasuk sang bride-to-be (sekarang udah merit). Lokasinya dipilih di Candi Abang, Berbah. Sekitar 20 km arah timur kota Yogyakarta.

Candi Abang, errr, agak susah menjelaskannya. Namanya memang candi, tapi penampakannya tidak lebih dari gundukan bukit kecil yang keseluruhannya ditutupi rumput. Kabarnya candi yang sesungguhnya tersembunyi di bawah gundukan tanah ini. Saya kepo sekilas ke Wikipedia, memang benar, di Candi Abang ini ada setumpukan bebatuan candi beserta simbol Yoni di kawasannya. 


Kini selain jadi obyek wisata sejarah, Candi Abang juga jadi tempat favorit para fotografer yang ingin mencari spot-spot menarik untuk difoto. Memang, pemandangan di sini bagus. Lokasinya agak naik di atas bukit dan dapat melihat pemandangan kota Jogja dari atas. Tiket masuknya nol rupiah, tapi kamu harus bayar parkir untuk kendaraanmu. Ohya, jangan lupa untuk beli-beli makanan kecil yang dijual penduduk setempat ya. Hitung-hitung membantu perekonomian masyarakat sekitar.

Saya, Utari, Monica, dan Ajeng
Untuk mencapai tempat ini, tinggal menelusuri jalan menuju Berbah. Atau dari kawasan Bandara Adisutjito ke arah selatan. Atau gampangnya, klik di sini deh untuk referensi lokasi. Dari parkiran ke lokasi, kamu harus jalan kaki melewati bebatuan yang agak menanjak. Hindari memakai sepatu berhak tinggi. Kalau memang mau foto-foto cantik, pakai sendal tepos atau jepit sekalian dahulu untuk jalan kaki naik. Lalu di atas, baru deh, ganti alas kakimu pakai sepatu princess untuk foto-foto.