Monday, June 25, 2012

Make Your Own Love Story (Resensi The Orange Girl)



Judul Asli            : The Orange Girl
Terjemahan         : Gadis Jeruk
Pengarang           : JosteinGaarder
Penerbit              : Mizan Pustaka
Alih bahasa         : Yulianti Liputo
Cetakan              : Juli 2011 (Gold Edition)
Tebal                  : 256 hlm  
Harga                 : Rp 39.500,00

Ketika saya menemukan ulasan tentang Hubble Space Telescopepada bagian belakang buku ini, saya langsung berkesimpulan bahwa novel yang akan saya beli ini pasti isinya sangat menarik. Terlebih lagi ketika JosteinGaarder, begitu nama pengarang novel ini, memberi novel ini judul Gadis Jeruk dan tags “Bagaimana perasaan Anda jika mendapat surat seperti di atas dari Ayah Anda yang meninggal sebelas tahun yang lalu?”

Sebagai seorang perempuan penikmat luar angkasa dan pecinta dongeng (dan penyuka rasa jeruk juga), Gaarder telah sukses memukau saya dengan pandangan pertama atas novel ini.

Kisah yang disajikan di novel ini adalah tentang seorang anak berusia lima belas tahun yang tiba-tiba mendapat surat dari ayahnya yang meninggal sebelas tahun yang lalu. Dalam surat tersebut, si Ayah menceritakan tentang perjalanan hidup dan kisah cintanya dengan seorang gadis misterius yang disebutnya Gadis Jeruk ketika si Ayah berusia duapuluhan. Tokoh Gadis ini sangat penting dan hampir diceritakan dalam seluruh alur surat si Ayah. Seperti dalam ucapan awal surat tersebut “Aku sudah berniat untuk menceritakan kepadamu kisah Gadis Jeruk suatu waktu nanti, semasa kau hidup”.

Siapa sebenarnya “Gadis Jeruk” tersebut? Ayah, atau dalam novel memiliki nama Jan Olav, pertama kali bertemu dengan seorang gadis mempesona dalam sebuah trem kereta. Gadis tersebut membawa sekarung buah jeruk yang dimasukkan dengan kantong kertas. Selain itu si Gadis mengenakan busana yang kurang lazim dipakai pada musim dingin, sebuah anorak (sejenis poncho atau pakaian hangat) berwarna oranye macam buah jeruk. Pemandangan yang aneh tersebut (mana ada orang membawa buah jeruk dalam kantong kertas?), telah membuat Jan Olav penasaran luar biasa. Jan Olav ingin berkenalan dengan gadis tersebut, namun kejadian berkata lain. Ketika trem tersebut bergoyang, gadis tersebut hampir menjatuhkan jeruk-jeruknya. Jan Olav hendak menolong, tetapi sebelum sempat menolong, jeruk-jeruk tersebut duluan tumpah berhamburan dalam seluruh trem.  Jan Olav malu. Terlebih ketika si gadis hanya tertawa mengambil satu buah jeruk dari tangan Jan Olav dan pergi meninggalkan dia dari keributan tentang jeruk.

Momen pertemuan pertama tersebut sangat berkesan di hati Jan Olav. Sehingga dia berjanji pada diri sendiri untuk mencari si Gadis Jeruk berpakaian anorak orange itu lagi, entah bagaimana caranya. Beberapa kali dia memang berhasil bertemu dengan si Gadis Jeruk, tapi hasilnya selalu berakhir sama : si Gadis meninggalkan Jan Olav dengan menyisakan rasa penasaran yang luar biasa di benak laki-laki itu.

Jan Olav terus mencari keberadaan si Gadis Jeruk, termasuk menempuh perjalanan dari daerah Skandinavia ke daerah subtropis Negara Spanyol. Jadi, apa pula namanya jika seorang rela mencari hingga batas benua untuk seseorang kecuali seorang itu sangat berarti baginya?

Bagian mengejutkan dari novel ini adalah ketika pencarian Jan Olav membuahkan hasil. –ya, dia berhasil bertemu Gadis Jeruk di Sevilla, Spanyol- si Gadis Jeruk akhirnya mengaku kalau dia melakukan itu semua dengan sengaja. Menjatuhkan buah jeruk, meninggalkan si laki-laki dengan rasa penasaran, mengirimi kartu pos bergambar kebun buah jeruk dari Spanyol, mengatakan “sebagai kekasih, penting rasanya untuk saling merindu”, semua dilakukan dengan sengaja. Si Gadis juga melakukan pencarian, menganggap si laki-laki adalah kupu-kupu yang harus ditangkap, dan membuat kupu-kupu itu mengejar penangkapnya.
“Saya bukan sekedar kupu-kupu yang akan kau tangkap. Saya adalah bagian dari cerita ini. Saya juga mencarimu, Jan Olav”.

Satu kalimat : So Amazing. Si Gadis Jeruk berhasil menemukan cintanya dengan cerita yang dia buat sendiri. Dengan aturan yang dia tepati. Saya menyebutnya “flirting yang super-sangat-elegan”. Dia memposisikan dirinya sebagai kupu-kupu yang tidak mudah ditangkap, padahal dialah yang telah menyiapkan sarang untuk penangkapnya.

Kisah mengenai “jebakan Gadis Jeruk” hanyalah sebagian kecil dari muatan novel ini. Karena bagian utamanya adalah mengenai hidup seorang Jan Olav beserta siratan filsafat yang disajikan secara apik oleh Jostein Gaarder.

Dan kisah lanjut tentang Hubble Space Telescope, saya sarankan sebaiknya apresiasi karya pengarang dengan membeli buku ini.

“If I’d chosen never to the foot inside the great fairytale, I’d never have known what I’ve lost. Do you see what I’m getting at? Sometimes it’s worse for us human beings to lose something dear to us than never to have had it at all.”
Jostein Gaarder,
The Orange Girl 

:))

Gambar dari :


2 comments:

  1. Kamu ngereviewnya keren jeng. Aku jadi pengen. Silihi to bukune :)))

    *aku paling nggak bisa ngereview novel & film*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ha? Padahal aku gak pinter nulis2 amat. Hihi. Soale aku terkesan sama novelnya sih mbak.

      Wuaaw, sekarang lg dipinjem temenku..

      Hehehe, tapi kan review mek ap mbak bagus2 dan great2.. :))

      Delete

Ads