Sunday, May 3, 2015

Candi Abang Bersama Gang Girang

Di salah satu agenda bulan lalu, saya dan kawan-kawan (sebut saja Gang Girang) pergi tamasya dan rame-rame melakukan photosession untuk kado nikahan salah satu kawan kami, Utari. Kami pengen memberikan sesuatu yang spesial dan anti mainstream untuk pernikahan sahabat kami. Lalu, disusunkan konsep foto sesyen yang melibatkan kami berempat, termasuk sang bride-to-be (sekarang udah merit). Lokasinya dipilih di Candi Abang, Berbah. Sekitar 20 km arah timur kota Yogyakarta.

Candi Abang, errr, agak susah menjelaskannya. Namanya memang candi, tapi penampakannya tidak lebih dari gundukan bukit kecil yang keseluruhannya ditutupi rumput. Kabarnya candi yang sesungguhnya tersembunyi di bawah gundukan tanah ini. Saya kepo sekilas ke Wikipedia, memang benar, di Candi Abang ini ada setumpukan bebatuan candi beserta simbol Yoni di kawasannya. 


Kini selain jadi obyek wisata sejarah, Candi Abang juga jadi tempat favorit para fotografer yang ingin mencari spot-spot menarik untuk difoto. Memang, pemandangan di sini bagus. Lokasinya agak naik di atas bukit dan dapat melihat pemandangan kota Jogja dari atas. Tiket masuknya nol rupiah, tapi kamu harus bayar parkir untuk kendaraanmu. Ohya, jangan lupa untuk beli-beli makanan kecil yang dijual penduduk setempat ya. Hitung-hitung membantu perekonomian masyarakat sekitar.

Saya, Utari, Monica, dan Ajeng
Untuk mencapai tempat ini, tinggal menelusuri jalan menuju Berbah. Atau dari kawasan Bandara Adisutjito ke arah selatan. Atau gampangnya, klik di sini deh untuk referensi lokasi. Dari parkiran ke lokasi, kamu harus jalan kaki melewati bebatuan yang agak menanjak. Hindari memakai sepatu berhak tinggi. Kalau memang mau foto-foto cantik, pakai sendal tepos atau jepit sekalian dahulu untuk jalan kaki naik. Lalu di atas, baru deh, ganti alas kakimu pakai sepatu princess untuk foto-foto.



Tempatnya terbuka dan masyaallah panas nian, apalagi kalau datang di siang hari. Tapi gimana ya, cahaya terbaik untuk foto-foto ya siang hari itu. Maka, demi kualitas foto, kami abaikan dulu kenyamanan dan rasa panas. Hihi. Tips dari saya kalau mau niat foto-foto di sini:

1. Datang pagi hari, kurang dari jam 8.
2. Buka ramalan cuaca dulu. Pastikan nggak mendung banget.
3. Bawa payung!
4. Bawa sandal nyaman untuk naik bukit.
5. Pake sunblock, suncsreen dan sejenisnya. Dengan kadar SPF tinggi.
6. Bawa minum yang banyak. Atau beli saja dari masyarakat sekitar yang suka buka lapak.
7. Jika pengen foto di sore hari, datanglah sore hari. Kabarnya sunset di sini keren. Sayang kemarin kami pulang ketika masih siang.

Jealously melanda, karena dia yang menikah duluan di antara kami. Hohoho.
Ada insiden ketika saya maksain naik bukit pakai hak tinggi, terus saja jatuh. Sebelum jatuh, saya sempet mau meraih tangan Monica, tapi belum sampai meraih, saya sudah duluan nyakar secara nggak sengaja. Huohoho. Maafkan aku Muomooonn, semoga nggak jadi luka seumur hidup.

 Nah, kira-kira hasil akhir pemotretannya jadi kayak gini:
Kami nge-kiss Utari pas pakai lipstik merah (harus lipstik merah), lalu nyuruh doi pulang ke rumah tetapi nggak boleh menghapus bekas lipstik di mukanya! Wkwkwk. Konsep yang seru, kalau kami bilang. Karena gift seperti ini bakal terkenang karena Utari harus majang foto kita ini di dinding rumahnya dan kalau anaknya kelak bertanya, terpaksalah aib kami harus dibongkar, lalu keaiban kami akan diketahui anak-anaknya Utari selama tujuh turunan yang namanya sahabat harus tetep dikenang seumur hidup.

Who cares? I'm awesome.
Sesi foto-fotoan ini tak akan bisa berjalan lancar tanpa peran orang-orang hebat ini:
1. Ajeng. Monica, Utari.
2. Sang fotografer yang sangat berbakat, Enand. Untuk melihat karya-karya Enand, bisa dilihat di sini:


It's not the ending, it's beginning.
+Andhika Lady Maharsi

0 comments:

Post a Comment

Ads