Tuesday, November 16, 2021

, , , ,

Cara Periksa Tumbuh Kembang Anak dengan BPJS



Sedari awal, aku dan suami sudah tanggap kalau sedini mungkin Linam harus segera didaftarkan BPJS. Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Betul juga, beberapa kali kami menerima manfaat BPJS untuk pengobatan dan perawatan keluarga. Salah satunya yang cukup berbiaya besar yaitu saat Linam harus operasi Urachus Paten ketika berusia 2 bulan. Ini kalau dihitung-hitung mungkin bisa sampai puluhan juta kali ya. Untung semua ditanggung oleh BPJS sehingga 100% gratis.

Nah untuk tumbuh kembang anak juga bisa pakai BPJS asal tahu caranya. Kita sama-sama tahu lah ya, biaya terapi, dokter spesialis dan obat-obatan itu tidak murah. Apalagi untuk paket terapi yang harus dilakukan dalam masa yang tidak menentu. Tidak cukup sebulan dua bulan, bisa lebih lama lagi sampai si anak dinyatakan lulus catch up. Kalau dananya habis di tengah jalan, kasihan si anak. Terapi bisa terpaksa harus terhenti bahkan bisa diulang dari awal lho.

Untuk itulah aku menggunakan alur BPJS. Awalnya kita harus memantau redflag pertumbuhan anak. Jadi ada kisi-kisi kalau perkembangan anak terganggu. Ini Mom harus pantau terus. Misal dirasa ada semacam gangguan pertumbuhan & perkembangan, segeralah periksakan ke dokter. Pilihan kami ke dokter keluarga di faskes 1. Lalu bisa minta rujukan ke DSA khusus tumbuh kembang. Biasanya ada di rumah sakit besar. Mom harus banyak mencari tahu informasi klinik tumbuh kembang di kota masing-masing ya. Ada juga sih klinik swasta yang independen. Namun tipe ini jarang menerima rujukan BPJS.

Di Jogja sendiri, ada RSA UGM, RS Hermina, RS JIH, Klinik GMC, Bunda Novy, Yamet, dll. Tidak semua ter-cover BPJS. Konsultasikan saja dengan Faskes 1 Mom.

Selain itu, mencari support group sesama orang tua pejuang tumbuh kembang juga banyak membantu. Bisa jadi mereka punya info berlian yang tidak ditemukan di internet.

Nah, setelah konsultasi ke Faskes 1, Linam diperiksa oleh DSA (dr. Mei Neni) di Hermina. Kemudian langsung dirujuk untuk CT Scan kepala agar tahu apa ada penyebab di otak yang berpengaruh ke tumbuh kembang. Untuk proses CT Scan ini unik, tidak setiap anak yang bermasalah dengan tumbuh kembang akan dirujuk CT Scan. Untuk kasusnya Linam, kebetulan dia punya lingkar kepala yang lebih besar dibanding ukuran normal. Sempat dikhawatirkan ada hidrocephal tetapi alhamdulillah tidak ada. Hasil dari CT Scan itu adalah adanya hipotropi otak bagian depan yang belum berkembang sempurna.

Tapi itu saat Linam usia 19 bulan. Sekarang udah banyak banget kemajuan, harapannya otak yang belum tumbuh saat 19 bulan kini sudah tumbuh secara signifikan (terimakasih untuk resep obat, terapi, dan kurikulum stimulasi yang kami terapkan).

Setelah dirujuk ke DSA, Linam kembali dirujuk ke dokter spesialis Rehab Medik (dr. Thomas). Beliau akan menangani terapi dan menentukan dosis terapi. Kemudian Linam dijadwalkan untuk fisioterapi selama seminggu 2x. Lengkapi dokumen pendukung asuransi seperti:

- fc rujukan dari Faskes 1 (harus dipunyai banyak karena akan digunakan berkali-kali)

- lembar jadwal terapi

- fc rujukan DSA & dokter Rehab Medik

- fc BPJS & KIA (Kartu Identitas Anak)

Pengetahuan sederhana soal BPJS anak itu penting. Jangan mentang-mentang yakin anak sehat terus sehingga mengabaikan ketertiban dokumen. Akta kelahiran, kartu KIA, perubahan KK, dan BPJS adalah empat hal penting yang harus diurus pertama kali setelah anak lahir.

Apa ada perbedaan layanan BPJS dengan non BPJS. Berdasarkan pengalamanku tidak ada sama sekali. Semua sama aja. Cuma di beberapa tempat, antrean terapi cukup panjang. Namun untuk Linam, lagi-lagi alhamdulillah tidak terlalu antre.

0 komentar:

Post a Comment