Monday, February 8, 2021

, , , , , ,

Kilas Balik: Baru Berumur Dua Bulan, Anakku Harus Operasi Bedah Urachus

Ketemu dokter spesialis bedah anak -- adalah hal terakhir yang kamu inginkan sebagai orang tua.

Ini bukan lagi DSA (Dokter Spesialis Anak) yang kerap kamu datangi saat mau imunisasi ataupun ada masalah tumbuh kembang anak. Dokter spesialis bedah anak hanya akan kamu datangi saat ada masalah serius di tubuh anakmu yang harus segera dibereskan.

Inilah yang saya alami.

Meski sekarang anak saya sudah berumur 16 bulan, rasanya masih jelas teringat saat si kecil harus bertemu pisau bedah saat ia masih berusia dua bulan. Tepatnya Desember 2019.

Linam post operasi bedah urachus repair. (Pic not for shared)

Awalnya bermula ketika tali pusar Linam tidak kunjung kering. Meski sudah puput di usia seminggu, ternyata bagian dalamnya belum kering juga. Malah cenderung basah sepanjang hari dan mengeluarkan samar bau tidak sedap. Setiap hari saya lap dan kasih betadin sesuai anjuran DSA. Awalnya saya hiraukan, dengan harapan akan kering dengan sendirinya. Tetapi kemudian basah lagi, basah lagi. Ini berlangsung selama kurang lebih sebulan. 

Bentuk benjolan sebelum dioperasi


Feeling ibu tak pernah salah. Puncaknya adalah saat pusar yang basah itu mulai muncul semacam usus dan berubah menjadi benjolan membesar seiring berjalannya waktu. Kemunculan pertama saat Linam berusia sekitar 6 minggu. Makin lama makin besar, dan basahnya pun tidak berhenti. Kemudian saya bawa ke dokter di faskes BPJS kami.

"Bu, ini kemungkinan hernia umbilical, tapi harus dikonsultasikan ke dokter spesialis bedah anak dulu untuk diagnosisnya." Sebuah kalimat singkat dari dokter Anita yang langsung bikin 'deg' di relung dada.

"Lalu untuk pengobatannya bagaimana?" Tanya saya.

"Kalau diagnosanya benar, maka harus dibedah untuk memotong bagian yang abnormal." Jawab dokter Anita. Sebuah jawaban bijak mengingat belum pastinya diagnosis penyebabnya.

Kemudian kami diberikan secarik kertas berisi rujukan untuk periksa ke rumah sakit Hermina Yogyakarta dengan jadwal minggu depan.

Jiwa penasaran sekaligus khawatir bertubi-tubi menyerang saya malam itu. Hampir enam jam berikutnya saya habiskan untuk googling sana sini, mencari tahu tentang penyakit yang disebut oleh dokter sekaligus variasi penyakit sejenis. Hampir semua saya cari. Jurnal terkini, forum, sosial media, google, artikel, baik dari dalam maupun luar negeri. Bahkan ada juga orangtua yang anaknya memiliki penyakit sejenis, saya DM Instagramnya untuk sekadar sharing. Pokoknya kalau ngomongin jiwa kepo, hal-hal beginian sudah pasti ahli kalau buat emak-emak, mah.

Munculah beberapa penyakit yang muncul. Ada hernia umbilical, tapi kok gejalanya berbeda dengan pusar Linam? Benjolannya beda, dan nggak ada drama pusar basah. Lalu muncul lagi nama granuloma umbilical, dengan gejala sama persis dengan anak saya. Benjolan, yes. Basah, yes. Supaya tidak penasaran lagi, kami bawa ke dokter spesialis bedah anak di Hermina Yogyakarta. Kami bertemu dengan dokter Lhora, Sp. BA.

Tanpa ba bi bu, dokter Lhora membenarkan granuloma umbilical sebagai penyakit yang dialami Linam. Prosedur untuk penyembuhannya adalah dengan cara insisi dengan bius total. Langsung saja, kami menyepakati tindakan di minggu depannya. Bagi saya dan suami, semakin cepat semakin baik. Bagaimanapun juga, nggak baik kan membawa-bawa penyakit saat pertumbuhan anak?

Bhaiq, semua persiapan kami lakukan. Meski dengan hati yang ancur-ancuran, tetapi demi kesembuhan anak, ya tetap dilakoni.

Mulailah kami melakukan langkah-langkah pra tindakan. Pertama kali, menandatangani surat persetujuan tindakan operasi. Kemudian melakukan tes USG dan pengambilan sampel darah Linam untuk mengetahui kadar HB. Wawancara kami sebagai orangtua, apakah punya alergi dan sebagainya. Hmm, ternyata sebelum operasi cukup ribet juga. Alhamdulillah soal biaya nggak perlu ribet karena kami memakai BPJS.

Untungnya baik saya dan suami langsung tanggap birokrasi. Begitu Linam lahir langsung diurus KK, KTA, sekaligus mendaftarkan BPJS. Bukan pesimis, tetapi kalau ada kejadian seperti ini, dana berobatnya apa siap?

Di hari operasi, Linam diminta untuk berpuasa selama enam jam sebelum operasi. Prosedur ini tak terpikirkan oleh saya sebelumnya. Bayangin aja, namanya bayi usia dua bulan itu wajarnya minta nen sejam dua jam sekali. Nah ini disuruh nggak minum selama enam jam. Gimana nggak rewel dan kasihan coba? Untungnya suami tanggap dan kebanyakan fase puasa ini, dia yang gendong. Soalnya kalau saya yang gendong, Linam otomatis akan mencari nen. Antara nggak tega, tapi harus dilakukan. Karena saat dibius sebaiknya perut dalam kondisi kosong untuk mencegah masuknya makanan ke paru-paru yang dapat mengakibatkan gagal nafas.

Linam mendapat jadwal operasi jam 8 pagi. Artinya harus mulai puasa sejak jam 2 dini hari. Nah, saya menyiapkan 'sahur' Linam dengan memberinya ASIP. Walaupun dia tidur, terpaksa saya bangunkan supaya dia punya 'bekal' untuk puasa 6-10 jam nantinya (habis operasi nggak boleh langsung minum). Bagaimana mengajak bayi 'puasa' sebelum operasi? Ya jelas pasti NANGIS dan REWEL. Di tanggal 2 Desember 2021 ada dua jenis suara nyaring -- suara tangisan Linam dan suara teriakan wanita yang hendak melahirkan di kamar sebelah.

Lalu ada kejadian mengejutkan sebelum tindakan dimulai.

Dokter Lhora memanggil kami dari luar ruangan operasi, dan memberitahu bahwa beliau menemukan satu kejanggalan di saluran pusar Linam. Ternyata nggak hanya benjolan, tetapi ada kecurigaan saluran air seni bayi bocor hingga ke pusar. Itulah yang menyebabkan pusar selalu basah dan tidak kunjung kering, karena PIPISNYA BOCOR SAMPAI UDEL sodara-sodara!

Terkaget dan tambah pikiran, kemudian kami menyetujui adanya tindakan tambahan berupa pembedahan di area bawah pusar untuk memperbaiki saluran ini (menutup).

Saya belum pernah mendengar penyakit ini. Bahkan saudara, tetangga, netijen aja saya cari belum nemu yang memiliki penyakit serupa. Nama ilmiahnya adalah patent urachus. Langsung deh sambil deg-deg ser menunggu anak dioperasi sambil selancar mencari jurnal/info/artikel di google tentang urachus.


So, jadi menurut pencarian saya di Google, patent urachus adalah sebuah kondisi di mana saluran urachal (pembuangan urin) yang menghubungkan antara bladder (kandung kemih) dengan umbilical (pusar) tidak menutup saat bayi lahir. Saluran ini origin-nya berfungsi untuk membuang urin melalui plasenta saat janin masih di dalam rahim. Normalnya saat bayi lahir saluran ini sudah menutup karena organ pembuangan bayi sudah berfungsi sempurna. Pendek kata, pipisnya udah lewat penis bukan lagi lewat pusar. Namun karena penyebab yang belum diketahui, saluran urachal punya Linam gagal menutup sehingga ada sebagian excess urin yang keluar melalui pusar. Inilah yang menyebabkan pusar selalu basah hingga muncul benjolan seperti gambar di atas. Jika keadaan ini dibiarkan, maka bisa menimbulkan komplikasi serius di masa depan.

Usai operasi, Linam masih di bawah pengaruh obat bius dan belum boleh diberi nen. Singkat cerita, dokter Lhora telah melakukan prosedur menutup saluran urachal sehingga harapannya pusar Linam tidak basah lagi. 

Kami masih perlu stay selama satu malam lagi di Hermina hingga Linam cukup pulih untuk pulang. Perawatan setelah operasi paling penting adalah menjaga luka tetap kering supaya jahitan lekas sembuh. Untuk recovery, Linam menunjukkan hasil luar biasa. Dua hari setelahnya langsung happy dan semacam lupa dengan tangis rewelnya menahan sakit dan lapar saat operasi.

Alhamdulillah hingga kini pusarnya sudah kering sempurna.


Andhika Lady


5 comments: