Follow Us @jenganten

Sunday, September 22, 2019

Cerita Program Hamil dengan Dokter Enny Sp.OG di Yogyakarta

Saat menulis artikel ini saya sedang di penghujung kehamilan 38 minggu dengan perut yang semakin membesar (termasuk isinya). Itulah mengapa selama beberapa bulan terakhir ini saya vakum menulis blog. Ternyata ngopeni kehamilan itu tidak mudah, sodara-sodara!

Meski begitu saya dan suami tetap bersyukur karena kehamilan ini memang telah kami harapkan sejak kurang lebih 6 bulan setelah menikah. Apalagi kami baru dikaruniai garis dua saat usia pernikahan hampir satu tahun. Nah, ada cerita di balik kehamilan saya yang direncanakan (iya, direncanakan).

Awalnya saya dan suami tidak terlalu ngoyo untuk segera memiliki anak. Sedikasih-Nya deh, kapan pun insyaAllah kami terima. Alhasil setelah menikah, kegiatan kami sebagai pengantin baru lebih banyak didominasi aktifitas pro-kreasi dan pro-money, atau kasarnya work hard play hard. Mumpung masih muda, mumpung belum ada tanggungan, dan masih banyak kesempatan untuk menabung.

Namun setelah 6 bulan menikah, kami lalu kepikiran bahwa inilah saatnya untuk memikirkan punya anak mengingat usia saya sudah jelang kepala 3. Sementara dari informasi yang saya baca, usia ideal ibu hamil adalah di bawah 35 tahun. Masa iya saya hanya punya sisa waktu reproduksi sehat 'tinggal' 5-6 tahun lagi? Kalau bisa dimulai sekarang, ya kapan lagi memangnya.

Lalu langkah demi langkah mulai kami upayakan. Salah satu keputusan besar yang saya ambil waktu itu adalah rela resign dari kantor demi lebih fokus program. Oh iya, sebelum resign kegiatan saya lumayan padat, Senin-Jumat bekerja kantoran, Sabtu-Minggu melayani jasa makeup. Praktis, saya jarang sekali punya hari libur yang layak untuk sekadar istirahat dan rebahan. Sempat terpikir, jangan-jangan karena kelelahan, rahim saya gagal melakukan pembuahan. :P. Akhirnya saya memilih untuk fokus berkembang di makeup lalu dengan berat hati mengajukan resign dari kantor Hipwee.

Keputusan resign dibarengi dengan kunjungan ke salah satu dokter obgyn di Jogja yang saya cari via Google. Proses pencarian ini cukup lama sampai akhirnya kami memutuskan untuk ke dr. Enny S Pamuji, Sp. OG. Kenapa lama, pasalnya saya menghendaki dokternya kalau bisa perempuan, tidak jauh dari rumah, dan banyak review positif. Dokter Enny ini merupakan salah satu dokter obgyn di Rumah Sakit JIH, tetapi juga membuka praktik di rumahnya di Janti. Lalu timbul pertanyaan lagi, baik JIH maupun tempat praktik dr. Enny sama-sama dekat dari rumah, lalu sebaiknya periksanya di mana?

Setelah saya kepo lebih lanjut, ternyata biaya kontrol di tempat praktik dr. Enny lebih murah daripada di Rumah Sakit. Secara logika benar juga, kalau di RS kan ada skema biaya jasa rumah sakitnya, sementara kalau di tempat praktik tidak ada. Lalu kami memutuskan untuk periksa di tempat praktik mandiri dr. Enny di Janti. Pertama-tama kami menghubungi kontak yang tertera di Google untuk melakukan pendaftaran untuk program hamil. Eh ternyata saya baru bisa dapat jadwal periksa paling cepat sekitar dua minggu lagi. Wow, ternyata selaris ini sampai antrenya harus berminggu-minggu. Tanpa pikir panjang (karena kami selo juga), segera saya mendaftarkan diri untuk periksa dua minggu kemudian saat tanggal perkiraan haid hari kedua.

Saya juga baru tahu kalau berencana promil di obgyn itu sebaiknya dilakukan kontrol saat haid hari kedua/ketiga, atau di perkiraan masa subur (13-15 hari setelah hari pertama haid terakhir). Pasalnya kondisi ovarium dan rahim sedang bagus-bagusnya untuk dianalisis dan dinilai subur tidaknya.

Hari H periksa pertama kali di dr. Enny

Pagi di hari itu saya mendapatkan SMS konfirmasi yang menyebutkan bahwa dr. Enny masih ada tindakan di rumah sakit dan tidak memungkinkan untuk buka praktik di rumah. Yaah, sedih deh nggak jadi periksa. Akhirnya jadwal periksa saya yang harusnya di hari kedua haid harus diundur 10 hari lagi di perkiraan masa subur. Sempat takut juga kalau dokternya sesibuk ini apa ada waktu buat program hamil secara kontinyu? Setelah dipertimbangkan masak-masak, ya sudah tetap dicoba saja ke dr. Enny dan sabar menunggu 10 hari lagi.

Tiba di hari H periksa, saya sudah nggak sabar ingin tahu apa yang terjadi di dalam tubuhku kenapa belum hamil juga padahal sudah kurang lebih 9 bulan menikah. Pertama kali datang, saya ditensi, berat badan, serta ditanyai oleh bagian administrasi beberapa hal basic terkait promil di antaranya:

1. Sudah berapa lama menikah
2. Hari pertama haid terakhir
3. Pekerjaan istri & suami
4. Suami merokok apa tidak
5. Tinggal bareng suami apa tidak
6. Pekerjaannya bersinggungan dengan bahan kimia atau tidak
dst

Lalu saya ikut mengantri seperti pasien lainnya. Banyak di antara mereka datang dengan perut yang besar untuk kontrol kehamilan. Setelah 1,5 jam menunggu, akhirnya nama saya dipanggil untuk mulai kontrol. Begitu masuk (bahkan saya belum duduk), tanpa ba bi bu dr. Enny yang masih pakai jas dokter JIH-nya langsung menanyai sudah nikah berapa lama, kapan haid terakhir, haidnya teratur tidak, dan langsung menyuruh saya berbaring untuk USG. Batin saya, 'wah nggak mau buang-buang waktu nih dokternya'. Ya gimana mau banyak basa-basi, pasiennya saja bejibun. Kasihan kalau harus menunggu lama.

Saat USG, dr. Enny menjelaskan kalau rahim saya bagus, tidak ada benjolan atau kista. Posisinya juga normal, cuma ukurannya yang lebih kecil dari rata-rata. Kemudian USG berlanjut ke trans-vaginal. Jadi tidak hanya via perut saja, alat USG trans-V juga diperlukan untuk melihat ovarium melalui pencitraan dari vagina. Awalnya sempat takut juga kalau bagian intim saya harus dimasuki alat, tetapi pada kenyataannya nggak kenapa-kenapa juga. Juga tidak sakit seperti yang banyak orang bilang. Oh iya, tak perlu takut alatnya jorok karena dipakai banyak orang. Standar USG trans-V itu pasti menggunakan kondom sekali pakai untuk satu kali pemeriksaan pasien. Jadi sudah jelas aman dan higienis yaa.

Ternyata saya diindikasi PCOS


Nah, baru ketahuan masalah reproduksi saya itu setelah USG trans-V. Dr. Enny menyebutkan kalau sel telur saya kecil-kecil dan tidak/belum matang. Padahal seharusnya saya sedang dalam masa subur. Inilah salah satu sebab yang disinyalir membuat telur gagal dibuahi. Ya gimana mau dibuahi, matang saja enggak. Jadinya sperma cuma lewat aja dan zonk ketemu saluran telur yang nggak ada isinya. Dr. Enny juga menyebutkan bahwa ini merupakan indikasi PCOS (Policystic Ovarian Syndrome), semacam sindrom reproduksi kelainan hormon yang dialami wanita. Beberapa ciri-cirinya adalah sel telur yang terlihat kecil-kecil, dan ketidakseimbangan hormon insulin yang menyebabkan tubuh wanita gagal ovulasi. Efeknya adalah haid tidak teratur, wajah berminyak, dan sederet keluhan yang sayangnya 75% persis sekali dengan yang saya alami. :(

Begitu mendengar penuturan dokter, saya merasa syok sekaligus sedih. Saya memang belum tahu banyak soal PCOS tapi sebelumnya pernah mendengar kisah penyintas PCOS yang harus menunggu bertahun-tahun agar sampai bisa hamil. Itu pun sudah banyak usaha promil yang mereka lakukan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa PCOS adalah musuh terbesar ketidaksuburan pada wanita.

Setelah pemeriksaan, dr. Enny memberikan kertas yang kemudian saya diminta menulis semua hasil konsultasi hari itu. Seingat saya, catatannya adalah:

1. Olahraga diperbanyak. Terutama lari-lari dua hari sekali sampai nafas ngos-ngosan. Disebutkan bahwa olahraga bisa memacu sel telur lebih besar dan matang.
2. Berhubungan suami istri 2-3 hari sekali.
3. Melakukan tes hormon AMH di lab. Jadi, AMH atau Anti Mullerian Hormon itu adalah angka yang menunjukkan cadangan sel telur pada ovarium wanita. Semakin tinggi kadarnya, maka semakin banyak cadangan sel telur dan punya indikasi ke arah PCOS. Namun semakin rendah kadar AMH-nya, semakin dekat dengan menopause. Jadi, angka hasil tes AMH harus benar-benar memenuhi syarat normal.
4. Diresepkan vitamin asam folat yang berguna untuk menyiapkan tubuh untuk menerima kehamilan. Siapa tahu kan, di dalam proses promil tahu-tahu hamil sungguhan sehingga tubuh sudah siap.
5. Makan-makanan bergizi, kembali ke alami.

Kemudian kami keluar dan di hasil pemeriksaan itu saya diberikan foto hasil USG, dan membayar administrasi plus vitamin kurang lebih IDR 250k.

PR saya belum selesai. Setelah konsultasi itu, saya langsung menajamkan pencarian Google., Facebook, Instagram dan berselancar di internet untuk mencari tahu tentang PCOS. Saya sampai gabung di grup PCOS Fighter baik di dalam maupun luar negeri. Saya mempelajari banyak hal tentang pola hidup para penyintas. Ada yang melakukan pengaturan pola makan, ada yang olahraganya mantap sekali, ada pula yang sudah melakukan bermacam cara promil tetapi masih belum hamil juga. Memang tidak sedikit yang berhasil hamil, tetapi khusus penyintas PCOS harus berusaha lebih ekstra untuk meningkatkan peluang hamil, bahkan ada yang sampai bayi tabung segala. Waduhh, otak saya langsung menghitung biaya yang dibutuhkan untuk program hamil jika memang benar-benar 'sesusah itu' untuk hamil. Baik untuk biaya obat, inseminasi, bayi tabung, periksa a,b,c (padahal mah cuma khawatir aja toh belum tentu juga saya harus melakukan itu semua. Wkwkwk). Untung suami menyemangati dan tidak memburu untuk segera cepat hamil dan mengajak untuk ikhtiar sebisanya dan sisanya serahkan ke Allah.

Tiba saatnya saya melakukan tes lab. Hasilnya adalah hormon AMH saya melebihi standar normal yang mana berhubungan dengan PCOS. Dunia serasa hancur setelah melihat diagnosis satu per satu memang mengarah ke sana. Apakah kami akan diuji dengan lamanya punya anak, apakah harus ikhtiar lebih panjang, apakah prioritas hidup kami harus diubah dulu, dan prasangka-prasangka yang lain. Mencoba untuk tegar tapi tetap saja kepikiran banyak hal.

Hasil lab saya serahkan kembali saat kontrol kedua ke dr. Enny. Tak disangka, dr. Enny malah encourage untuk tetap tenang dan mengatakan bahwa angka AMH punya saya itu masih di taraf normal. "Punya Ibu angkanya 6, itu masih normal. Kalau PCOS itu 10 ke atas. Sekarang lanjutin saja olahraga, makan makanan bergizi dan tetap happy", begitu katanya. Di sesi konsultasi ini, dokter juga menyebutkan kalau rahim saya mulai menebal. Ini adalah pertanda kalau menstruasi akan segera datang, atau malah hamil. Baiq, kita tunggu saja kalau telat dicoba untuk testpack. Begitu selesai konsul, langsung berasa senang gitu. Padahal positif hamil saja belum. :D. Dr. Enny juga menyebutkan untuk berkunjung kembali bulan depan saat masa subur untuk melihat progres sel telur.

Ternyata benar juga, nggak ada yang bisa menggantikan sesi konsultasi langsung dengan dokter. Kalau kebanyakan baca artikel Google yang ada malah banyak parnonya kayak saya. Hahaha.
Karena di konsul kedua saya hanya USG dan nggak pakai tambahan vitamin, saya hanya mengeluarkan biaya konsul sebesar IDR 137 ribu.


Ketika testpack berkata garis dua

Ternyata benar, saya terlambat menstruasi. Tapi karena dasarnya saya sudah terbiasa telat-telat dan sering ke-PHP jadinya nggak begitu berharap banyak. Oh iya, kayaknya sudah puluhan testpack garis satu yang sudah kami lewati selama hampir setahun pernikahan, saking antusiasnya. 

Dan benar saja, saat baru telat seminggu, testpack masih menunjukkan garis satu. Pikir saya, 'ah sebentar lagi mens juga datang, saatnya booking konsultasi lagi ke dr. Enny'. Di momen ini saya masih aktif bekerja kantoran, sehingga kegalauan promil masih bisa teralihkan. Namun saya sudah ancang-ancang resign dan sudah disetujui untuk keluar bulan depan. 

Menstruasi ditunggu, sehari, dua, tiga, masih belum datang juga. Sampai lewat dua minggu dari tanggal seharusnya. Ada apa ini, apakah saya kudu testpack lagi? Apakah saya harus kecewa lagi dan lagi? Demi usir rasa penasaran akhirnya ya sudah testpack saja. Toh murah kok harga testpack, nggak sampai 5 ribuan. Kalau kecewa lagi ya tinggal dibuang.

Hasil testpack tak disangka garisnya keluar dua!

Oke, saya berusaha re-calling memori yang terjadi 9 bulan lalu di tanggal 21 Januari 2019. Waktu itu saya mau salat Subuh bareng suami. Niatnya sih pengen bikin kejutan dan divideo ala-ala Raisa, tapi apa daya udah nggak sabar ngasih tahu suami saat itu juga. Gagal bikin kejutan, tapi tetap saja kami pelukan. 👪

Hari itu juga saya membuat jadwal dengan dr. Enny. Niat di awal adalah untuk konsultasi sel telur, tapi malah sudah hamil duluan, alhamdulillah. Pada konsultasi itu, kantung saya masih belum kelihatan dan diminta kembali lagi selang seminggu. Saya juga diresepkan penguat kandungan, aspilets dan ditambah vitamin hamil. Seminggu kemudian saya datang konsultasi dan mendapatkan konfirmasi membahagiakan bahwa kantung kehamilan sudah terlihat, tidak di luar rahim, sekaligus perkiraan umur kehamilan yang kurang lebih baru 6 minggu.

Hasil USG pertama kali saat ketahuan hamil

Review dr. Enny

Satu kata: mantap! Beliau orangnya tidak neko-neko, praktis dan solutif. Nggak salah kalau pasiennya banyak sekali sampai rela antri berminggu-minggu untuk sekadar tatap muka. Meskipun beliau seorang dokter, saya dan suami sepakat menilai kalau dr. Enny juga seorang engineer. Bagaimana tidak, sesi konsultasi dibuat sepraktis dan secepat mungkin tapi sangat efisien. Mulai dari meminta pasien untuk menulis di kertas yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing, menjelaskan konsep promil dan kehamilan secara gamblang, serta menggunakan boneka untuk menyebutkan anggota tubuh.

Untuk program hamil juga nggak serta merta disama ratakan antara pasien satu dengan yang lainnya. Saya sempat diskusi dengan sesama pasien promil dr. Enny yang mana obat yang diresepkan berbeda dengan saya. Inilah pentingnya langsung konsultasi, sehingga bisa diketahui permasalahan setiap individu beserta solusi yang cocok.

Selama hamil pun begitu. Saya sampai umur kandungan 8 bulan masih setia dengan dr. Enny, meskipun secara biaya lebih mahal daripada rerata obgyn lain di Jogja tapi saya sudah merasa cocok. Apalagi saya merasa terbantu sekali sampai berhasil hamil.

Kalau membahas kekurangan, palingan di antrenya yang terlalu lama. Pernah saya baru konsultasi jam 11 malam karena pasiennya sangat banyak. Tapi mengingat pelayanan dan betapa banyak yang saya dapat saat sesi konsultasi rasanya itu worth it.



Tips Program Hamil

Disclaimer: ini bukan tips untuk cepat hamil, tetapi tips untuk program hamil.

Pada dasarnya, hamil itu adalah perkara probabilitas. Sperma bisa membuahi sel telur adalah probabilitas dari jutaan sel yang ada. Embrio yang berhasil terbuahi juga harus melalui kemungkinan gagal menempel ke rahim. Belum lagi adanya kemungkinan gagal tumbuh atau janin BO di dalam rahim. Jadi, ya, semua probabilitas itu harus terpenuhi untuk bisa berhasil hamil.

Begitu pula dengan program hamil. Inti dari promil adalah upaya meningkatkan peluang untuk hamil. Tidak ada yang menjamin semua program akan berhasil hamil, tetapi jika dilakukan dengan benar dan konsisten, peluang hamil insyaAllah akan meningkat. Nah, promil nggak bisa disama ratakan antara pasien satu dengan yang lainnya. Bisa jadi lo, apa yang efektif di saya juga akan berhasil juga di kamu, karena masalah setiap individu jadi berbeda. Untuk itulah perlu diketahui dulu penyebab ketidaksuburannya, baru diputuskan jenis program apa yang cocok dilakukan. Tentunya harus dikonsultasikan dulu dengan dokter yang kompeten, dalam hal ini dokter obgyn.

Saya pribadi merekomendasikan kalau mau promil ya langsung ke dokter, bukan meminum jamu/metode yang belum terbukti ilmiah di mana mengklaim bisa bikin hamil dalam kurun waktu tertentu. Apalagi sekarang banyak banget akun-akun Instagram berfoto bayi lucu yang menawarkan paket promil yang ujung-ujungnya disuruh beli produk mereka yang harganya bisa empat kali lipat konsultasi ke dokter obgyn. Seriusan deh, saya pernah iseng kepo ternyata 'obat' yang mereka jual harganya bisa sejutaan lebih. Padahal konsultasi dokter itu hanya seperlimanya.

Tentunya saya nggak bermaksud mematikan rezeki mereka, tapi sebagai konsumen bisa kan lebih cerdas dikit? Masak iya, setiap orang dianggap sama rata dan dengan solusi yang sama bisa menghasilkan result yang sama pula. Kalau misal gangguan ketidaksuburannya adalah saluran telurnya yang mampet, mau minum 'obat' jenis apa pun ya nggak akan meningkatkan peluang pembuahan.

Begitu pula dengan pasangan suami istri, ternyata penyebab susah hamil tidak serta merta faktor istri saja. Bahkan pernah saya baca sebuah penelitian, faktor ketidaksuburan itu 30% disebabkan wanita, 30% pria, dan 40% sisanya tidak diketahui. Nah, jika dari awal sudah diketahui penyebabnya apa, maka dokter akan membantumu menentukan program yang cocok untuk dilakukan. Untuk itulah wahai bapak-bapak, kalau kalian ingin program, jangan males untuk ikut mendampingi istri. Kalau diminta tes, ya tes aja. Siapa tahu permasalahan justru ada di pihak pria.

Untuk yang sedang program hamil, semoga segera berhasil yaa.. We love you!

@andhikalady
Info jasa MUA makeup Jogja di @jenganten


No comments:

Post a Comment