Featured Post

Paket Wedding Makeup New Normal

Halo, Jenganten & team memberikan service sebagai MUA untuk segala acara, makeup wedding, makeup wisuda, makeup bridesmaid, makeup eng...

Frugal Living Selama Pandemi dan Hitungan Penghematannya (part 2)

Setelah kelar di artikel sebelumnya tentang Frugal Living, di sini lanjutannya. Sebelumnya saya sudah membahas trik hidup frugal dari segi sandang, alias pakaian. Dan di sini akan dibahas lebih lanjut bagaimana trik penghematan dari sisi pangan, papan, pendidikan, sekaligus hitungannya.

Baca sampai habis yaa..

Pangan

Baik pandemi atau tidak, pasti semua sepakat bahwa faktor pangan mengambil porsi besar dalam pengeluaran sehari-hari. Bagaimana tidak, dalam sehari setidaknya makan 3x, belum minuman, belum jajan, dan susu anak kalau dia minum susu. Kita juga pasti sepakat, bahwa dalam urusan apapun, makan tak boleh ketinggalan. Gizi anak juga tidak boleh terlewat apalagi di 1000 hari pertama kehidupan.

1. Masak setiap hari

Pandemi ini seakan membuat saya 'terpaksa' harus masak setiap hari di rumah. Bagaimana tidak, banyak restoran yang tutup dan mau keluar rumah kok was-was terpapar virus. Berkat ini, saya jadi bisa menguasai berbagai macam jenis masakan. Dari yang tadinya jiper dengan sambel tumpang, sekarang saya bisa memasaknya. Puncaknya adalah saat perayaan Idul Fitri kemarin, saya berhasil memasak satu set opor ayam + sambal goreng ati untuk dimakan bertiga di rumah. Mungkin buat orang-orang eh apaan sih cuma masak opor doang. Tapi percayalah, buat saya ini adalah pencapaian luar biasa. 

FYI sebelum punya anak, saya orangnya lebih suka jajan ketimbang masak sendiri. Gas 12kg bisa baru habis setelah 3-4 bulan. Sekarang? 1,5 bulan aja udah cengep-cengep. Mungkin di sinilah hikmahnya, saya jadi makin kreatif mengolah apa saja yang ada di kulkas. Cuma ada wortel dan kol, ziing, bisa berubah menjadi bakwan.


2. Menurunkan kualitas minyak goreng

Hal sesederhana minyak goreng yang selisih cuma seribu-dua ribu ternyata pengaruh banget lho. Biasanya saya pakai minyak merk B yang spesial, sekarang mesti legowo dengan merk S, F, F, ataupun H. Kalau dipikir-pikir rasanya sama aja kok, yang penting penggunaannya bijak ya. Jangan dipakai berkali-kali. Apalagi masak untuk bayi, jangan yaa.


3. Beli satu peti telur alih-alih beli kiloan

Ini berguna jika belinya rame-rame. Caranya adalah cari supplier telur dari pusatnya, beli 1 peti isi 15kg, lalu ambil secukupnya misal 2-3 kg, sisanya lalu dijual kembali.


4. Mengganti gas 12kg dengan gas melon

Karena kebetulan punya dua jenis gas, selama pandemi ini saya agaknya lebih berminat menggunakan gas melon. Itu lho, gas warna hijau yang tiga kiloan. Karena punya anak, penggunaan gas di rumah saya makin menggila: masak tiga kali, bikin MPASI anak, bikin air panas buat mandi anak. Akibatnya penggunaan gas melon dirasa lebih masuk akal meski harus mengisi bolak-balik. Pengehematan yang dilakukan? Hampir 100%, sebab harga gas 12kg (per kilo) adalah dua kali lipat harga per kilo gas melon.

5. Bayi minum ASI

Susu anak adalah salah satu komponen perawatan bayi yang paling boros. Apalagi jenis susu merk premium yang dibandrol dengan harga mahal. Padahal untuk ibu yang ASInya keluar, dengan ASI saja sudah cukup kok sebetulnya. Tentu saja ini perlu dikonsultasikan dengan dokter anak masing-masing.

Kalau saya sendiri alhamdulillah bersyukur karena ASI saya lancar sehingga bayi tidak perlu tambahan susu formula.


6. Bikin kue sendiri di rumah

Sebelum saya hamil, saya orangnya nggak begitu doyan ngemil. Kalaupun ngemil paling karena dikasih orang atau sedang benar-benar ingin. Berbeda dengan sekarang saat saya menyusui. Kayaknya ngemil itu kebutuhan pokok. Setiap saat camilan harus siap tersedia. Lalu karena di rumah saja, saya pun memutar otak bagaimana membuat camilan yang enak dan mudah dibuat. Maka jadilah saya mencoba bikin donat, brownies, kue klepon, puding, dan aneka jajanan lain bermodal tepung-tepungan.

7. Nyetok sayur lebih banyak supaya tidak sering keluar rumah

Saya menjadwalkan untuk nyetok kulkas seminggu sekali. Dalam sekali belanja, saya membuat list yang terdiri dari bahan untuk rencana menu seminggu. Kalau nggak punya rencana masak gimana? No problem, beli saja bahan makanan ini:

Harus selalu ada di dapur: beras, telur, terigu, tapioka, garam, bawang merah, bawang putih, bawang bombay, bumbu penyedap, kecap, minyak goreng, terasi, gula jawa, gula pasir, teh, kopi.

Belanja seminggu sekali:
- 2-4 jenis protein hewani (ayam, daging, ikan, seafood)
- 2-4 jenis protein nabati (tempe, tahu, kacang-kacangan)
- 2-4 jenis buah-buahan (pepaya, semangka, apel, jeruk, dll)
- bumbu dapur tidak awet (daun salam, laos, jahe, kunyit, daun jeruk, pandan)
- cabai rawit, hijau, merah
- santan kelapa
- 5-7 jenis sayur (tomat, timun, kangkung, selada, kacang panjang, terung, dll)

Dengan belanja itu semua, insyaAllah kamu nggak akan kebingungan mau masak apa selama seminggu. Sekali belanja memang agak mahal sekitar 200-300 ribuan, tetapi kalau bisa dipakai masak seminggu artinya sehari kita cuma ngabisin uang kurang dari 50 ribu untuk makan sekeluarga. Murah banget kan hitungannya? Gizinya sudah lengkap pula.

Nah, supaya nggak perlu keluar rumah, kamu bisa juga memanfaatkan layanan belanja online. Misalnya di @agrice.id untuk kamu yang berlokasi di Yogyakarta. Pelbagai sayuran, buah, aneka lauk bisa kamu pesan di sini tentunya harga masuk akal dan promo yang menarik. Semua belanjaan kamu akan diantar sampai rumah. Kamu tinggal klik pesanan kamu di link ini, lalu melakukan pembayaran melalui OVO/transfer/minimarket kemudian belanjaan akan datang. Mudah sekali bukan?

8. Food prep


Well, food prep adalah koentji supaya bahan makanan yang dibeli bisa awet di kulkas. Mungkin agak repot jika harus mengolah, mencuci, memotong-motong dll. Tetapi ini sangat bisa menyingkat waktu saat akan memasak terburu-buru. Istilahnya tinggal plung saja. Memang butuh waktu agak lama sekitar 2-3 jam untuk menyiapkan semua sayuran. Saya menyiasatinya dengan melakukannya saat weekend atau saat tidak sibuk. Modalnya adalah beberapa kotak sejenis tupperware atau thinwall, waktu, dan tentunya kesabaran.

Papan

Sandang sudah, pangan juga sudah. Sekarang mari bahas soal papan dan segala urusan rumahan. Biasanya yang memakan biaya lebih banyak adalah listrik dan internet. Tetapi ada beberapa trik penghematan yang bisa dilakukan, antara lain:

1. Hindari pemakaian listrik berdaya besar di sore menjelang malam

Untuk melakukan kegiatan mencuci pakai mesin, menanak nasi, dan menyetrika sebaiknya dilakukan di luar prime time pemakaian listrik (17.00-21.00). Biasanya saya melakukan itu saat dini hari. Banyak yang bilang dengan trik ini pemakaian listrik jadi lebih hemat. Namun karena saat pandemi lebih banyak di rumah saja, saya merasa tidak ada perbedaan yang kentara. Banyak sih yang mengeluh listrik tiba-tiba naik tanpa kejelasan, tetapi mengupayakan penghematan tak ada salahnya kan?

2. Naik motor instead naik mobil

Meski jarang keluar, saya sebisa mungkin naik motor saja karena lebih hemat di bensin. Kecuali untuk urusan penting misal harus imunisasi ke bidan, atau perjalanan jauh ke luar kota. Kalau cuma pergi ke minimarket depan rumah sih cukup jalan kaki atau naik motor saja sudah.

Pendidikan & Keagamaan

Akibat Covid 19, kegiatan berkumpul ditiadakan sama sekali. Termasuk ibadah dan gathering. Saya yang biasanya sering ketemu teman-teman di luar untuk sekadar makan-makan pun harus menyesuaikan. Saya menyiasatinya dengan banyak mencari info kulwap di sosmed, ataupun live IG dari ahlinya tentang berbagai ilmu yang relevan. Misal materi speech delay, MPASI, dan aneka ilmu yang membuat kehidupan seorang ibu menjadi lebih mudah.

Hitungan


Sampailah di saat yang ditunggu-tunggu yaitu berapa hitungan penghematan yang bisa dilakukan dengan hidup secara frugal.



Di atas masih hitungan kasar, pun tidak semua pos pengeluaran saya tulis. Misal listrik saya asumsikan konsumsi frugal no frugal sama saja. Pulsa pun demikian, saya anggap fix cost setiap bulan sehingga tidak ada selisih yang cukup berarti. Kerasa banget ya, penghematannya bisa menekan setengah lebih. Coba kalau hidup frugal semacam ini bisa bertahan terus saat income kembali normal, mungkin saya lekas punya rumah dan studio milik sendiri. Aamiin.


Agrice New Normal Groceries.
Whatsapp = wa.me/6285740394039
Pricelist = toko.ly/agrice
Dapatkan diskon free ongkir dengan menyebutkan Jenganten.com saat melakukan order.

Andhika Lady

1 Response to "Frugal Living Selama Pandemi dan Hitungan Penghematannya (part 2)"

  1. Yang pasti masa pandemi bikin sadar ternyata aku tuh konsumtif banget pdhl harusnya menabung biar ada pegangan kalau ada masa2 sulit begini. Sekarang lg mencoba memperbaiki pola konsumsi dan pola hidup huhuhu

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel