Saturday, June 18, 2022

Anak Desa Pergi ke Kota. Pengalaman ke Jakarta dengan Bus Non AC.



Waktu itu tahun 2003.

Usiaku baru menginjak 13 tahun, dan duduk di bangku kelas 2 SMP. Aku bersekolah di sekolah yang terletak di desa pesisir, jauh dari keramaian. Apa yang kami anggap kota adalah sebuah tempat di mana terdapat supermarket. Pokoknya jika di sebuah tempat ada supermarketnya, maka itu sah dikatakan k-o-t-a.

Imajinasiku tentang kota memang baru sebatas adanya supermarket.

Bayanganku tentang Jakarta – kotanya kota, adalah sebuah tempat imajiner yang hanya kaum tertentu yang bisa ke sana. Gedung-gedung tinggi, rumah mewah memiliki pembantu seperti sinetron Bidadari yang terkenal saat itu, dan orang-orang pergi ke kantor setelah menyantap sarapan roti. Yah, semacam itulah.

Aku yang setiap hari makan tahu tempe dan disuruh-suruh cuci piring cannot related, Bun!

Barulah pada waktu 2003 itu, sekolahku melaksanakan study tour ke Jakarta. Aku dan teman-teman senang bukan main. Maklum saja, Jakarta itu dalam benakku adalah kota yang wow. Ia cuma ada di televisi dan semua orang yang habis pulang dari Jakarta, menurutku terlihat keren dengan cerita-cerita mereka.

“Di Jakarta nggak ada sawah. Adanya gedung tinggi”

Begitu kata tetanggaku yang mudik Lebaran habis pulang dari Jakarta. Waktu itu internet belum masuk kampung, jangankan internet rumah, warnet saja belum ada.

Kembali ke perjalanan study tour. kami yang berjumlah tidak kurang dari tiga ratus siswa dikumpulkan dan dibagi per bus. Soal fashion, janganlah ditanya. Kami memakai style baju paling norak keren menurut kami. Tapi tidak lama setelah masuk bus, timbullah beberapa suara hoek-hoek anak-anak mabuk kendaraan. Ternyata kombinasi tidak menyenangkan antara; parfum yang dipakai anak-anak, tidak terbiasa naik bus, bau bensin yang menyeruak ke dalam badan bus, dan busnya tidak pakai AC.

Yups, kamu tidak salah baca. Bus yang kami tumpangi dari sekolah pesisir di Jateng sampai Jakarta selama lima hari TIDAK PAKAI AC sama sekali. 

Bisa dibayangkan panasnya seperti apa. Dan aromanya, beuhhh. Udah mirip angkutan kota.

Mengapa pihak SMP tidak mengadakan bus yang ber-AC saja?

Hingga kini pun jadi misteri. Namun kemungkinan besarnya adalah karena ingin menurunkan biaya iuran untuk study tour ke Jakarta. Dengan akomodasi menyedihkan sederhana saja tidak semua siswa sanggup membayar. Apalagi dengan angkutan premium seperti bus AC. Kami adalah anak-anak dari kampung, yang mana banyak dari orang tua kami berasal dari kalangan kurang mampu.

Aku masih ingat, waktu itu kami disuruh bayar Rp 300 ribu untuk perjalanan study tour ke Jakarta. Itu sudah termasuk biaya bensin, tiket masuk, makan, penginapan, dll. Biayanya bisa murah, karena memang ditekan seminimal mungkin. Saking minimalnya, perjalanan berangkat dan pulang sengaja dibuat malam hari untuk mengurangi biaya penginapan. Anak-anak diminta membawa bekal sendiri untuk makan malam di jalan.

Sebuah bekal yang tidak jadi dimakan akibat mabuk kendaraan, atau jyjyk dengan sekresi lambung dari teman sebangku.

Jadilah malam pertama perjalanan ke Jakarta berlangsung dengan jauh dari khidmat. Bayangan mau ramai-ramai karaoke musnah sudah tergantikan dengan hoek-hoek yang tidak berhenti. Guru pendamping tak henti-hentinya menyalurkan antimo dan minyak kayu putih – yang baunya tidak memperbaiki keadaan malah justru memperparah.

Barulah saat jam 12 malam ketika bus (mungkin) sudah sampai Cirebon, suasana menjadi hening karena kami tertidur pulas. 

Saat di pagi subuh, tibalah kami di lokasi pertama. Masjid Istiqlal. Lupakan check in di penginapan. Agen study tour lebih memilih mampir di Masjid Istiqlal untuk mandi dan ganti baju. Lagi-lagi karena ingin ngirit. Barulah setelah itu berangkat ke tujuan hari pertama.

Hari pertama perjalanan wisata kami adalah berkunjung ke Monas. Tentu saja. Karena lokasinya dekat dengan Masjid Istiqlal tempat mandi kami tadi. Aku merasa, Monas kok bagus sekali ya. Bisa ada apinya di atas, tinggi, megah, dan memukau siapa pun yang lewat di sampingnya. Begitu masuk, kami disambut dengan kang pemotong rumput yang bahkan alatnya belum pernah aku lihat. Itu lho, yang alatnya berputar-putar untuk memotong rumput. Pantas saja rumput di Jakarta rapi-rapi. Alatnya saja canggih begitu.

Sampai di Monas, pertama kalinya aku mencoba naik lift. Awalnya pusing dan ada rasa khawatir karena ruangannya kecil. Begitu di dalam, malah keasyikan karena ada sensasi naik dan turun. Begitu sampai puncaknya, aku senang sekali karena bisa melihat pemandangan kota Jakarta dari puncak Monas. Ini adalah bangunan tertinggi pertama yang pernah aku naiki. 

Masih di hari yang sama, perjalanan dilanjutkan ke TMII. Namun sayangnya malah hujan deras. Akhirnya tamasya yang direncanakan turun sambil jalan-jalan di area TMII harus diganti dengan jalan-jalan sambil tetap di dalam bus. Pihak tur guide alias bapak supir sendiri sambil menjelaskan apa yang ada di kiri dan kanan. Ada bangunan tradisional dari Aceh sampai Papua di sana.

Lanjut, kemudian sore harinya kami check in di penginapan. Tolong jangan bayangkan penginapan yang bertaraf hotel bintang lima, yang satu kamar isinya satu sampai tiga orang. Tolong jangan.

Penginapan yang dipilih oleh planner study tour adalah asrama haji (atau mungkin pesantren) yang satu kamarnya diisi sepuluh orang. Mandinya, oho, tentu saja harus bergantian. Teman duduk aku, Romi, dia lupa membawa handuk. Yang akhirnya pinjam meminjam punyaku. Ah, Romi memang dikenal suka lupaan dengan barang yang mesti dibawanya..

Malam hari, saatnya para siswi-siswi berbincang ria. Mereka saling adu kehebatan tentang apa yang dilakukan seharian tadi. 

“Aku di puncak Monas sampai hampir jatuh ke bawah, tahu!”

“Masa sih? Aku di TMII lihat kolam renang”

“Kalian sih sepele. Aku tadi dapat kenalan cowok lho!”

“HAH? SIAPA?”

“Itu, pengamen ganteng yang tadi nyanyi lagunya Sheila on 7 yang Kupetik Bintang”

-......-

Tentu saja kami menggunakan bahasa daerah yang aku ragu orang Jakarta akan mengerti. 

Malam semakin larut, hari bergeming, dan petualangan perjalanan dilanjutkan hari kedua.

Hari kedua.

Kami packing sekalian check out penginapan. Inilah hari paling membahagiakan yang kami nanti-nanti selama setahun. Main ke DUFAN!

Hari itu kami sepakat pakai baju olahraga supaya tidak hilang. Bajunya khas baju olahraga sekolah di desa. Nggak ada yang namanya ukuran S, L, M XL. Adanya hanya XXL. Hanya satu ukuran untuk semua. Sangat tidak estetik untuk dipakai foto bareng Mickey Mouse. Tapi siapa peduli, toh dulu belum ada Tiktok dan aplikasi pencitraan bernama Instagram. Jangankan sosial media, hp berkamera saja tidak ada. Kami pakai hape monophonic Nokia 3315 atau 3310. Itupun bangganya sudah luber-luber. Dikalungin ke mana-mana dan dipeluk setiap malam saat tidur karena takut dicuri. Kontras sekali dengan sekarang di mana rumah-rumah sudah dipasangi internet rumah sekaligus perlengkapan elektronik yang canggih-canggih.

Jadilah hari di mana kami ke Dufan adalah momen live to the fullest. Kami nggak mau menyia-nyiakan waktu dan mencoba segala wahana yang ada. Meskipun ini piknik mode murah meriah, Dufan tidak boleh dianggap sepele. Dufan adalah HIDUP itu sendiri. Tentang menikmati hidup dan masa bodo dengan apa yang terjadi di luar sana.

Meski cuma pakai baju olahraga sekolah, meski pakai sendal ala kadarnya, meski nggak bawa uang banyak, bodo amat. Aku mau bersenang-senang di Dufan.

Waktu itu pertama kalinya aku melihat begitu banyak wahana permainan yang modern dan berkelas. Di mana kalau di kampung, yang aku tahu cuma odong-odong pasar malam. Dufan tentu saja lima kali lipat lebih besar dan memukau. Aku mencoba masuk ke Istana Boneka, Halilintar, Bianglala, Kuda-kudaan, dan mungkin masih dua atau tiga lagi. Sebetulnya kurang puas, tetapi mau bagaimana lagi, antrenya itu lho. :D

Usai dari Dufan, aku merasa telah resmi menjadi anak gaul segaul-gaulnya. Aku merasa sudah sah ngomong lu- gue sambil membusungkan dada. Wahai Jakarta, engkau telah aku taklukkan – dengan naik Halilintar Dufan.

Itulah sekelumit kisah kampunganku pertama kali ke Jakarta. Seorang anak desa yang tidak tahu apa-apa, menginjakkan kaki untuk pertama kali ke kota besar. Terkagum-kagum tanpa henti dan ingin kembali lagi. 

Di masa-masa mendatang, saat lingkungan dan perekonomian ku membaik, aku beberapa kali pergi ke Jakarta. Entah untuk perjalanan dinas, ataupun mengunjungi relasi. Kini aku tidak lagi menggunakan hape monophonic. Eranya digital telah membuat smartphone seharga kacang sebungkus, dan tiap rumah dapat memasang jaringan internet menyatukan Indonesia.

Jakarta sudah berkali-kali merayakan HUT yang tiap tahun selalu ramai. Aku bisa dengan mudah mengakses info Jakarta melalui Internet Rumah dengan Wifi Cepat. Untung layanan Telkom Grup IndiHome sudah sangat memadai. Sehingga pekerjaanku jauh lebih cepat.

Sebuah pekerjaan yang kadang-kadang membawaku pergi lagi ke Jakarta. Meski berkunjung beberapa kali, sampai kapanpun tidak akan lupa kali pertama ke Jakarta di tahun 2003. Selamat Ulang Tahun Jakarta yang ke-495.


Andhika Lady
Continue reading Anak Desa Pergi ke Kota. Pengalaman ke Jakarta dengan Bus Non AC.

Monday, May 16, 2022

Review: Kehebatan Generasi ke-7 Blue Hyaluronic Acid di Laneige Water Bank

Pasti kamu sudah kenal dengan brand skincare kawakan asal Korea, Laneige (baca: le-nej). Dulu sebelum demam skincare seperti sekarang, Laneige sudah lebih unggul mengenalkan produk pelembap yang menjadi rahasia kulit glowing ala Korea. Mereka percaya, bahwa asal muasal kulit sehat terawat adalah kulit yang lembap. Oleh karena itu, Laneige menciptakan inovasi-inovasi baru yang membantu kulit menjadi lembap, seperti kulit sehat yang seharusnya.

Kamu juga pasti ingat, Laneige Lip Mask & Laneige Sleeping Mask yang dulu ramai dibicarakan? Nah, aku juga pakai tuh. Setelah memakai itu, rasanya kulit seperti habis disiram dengan seember air tanpa terasa basah. Kerennya, kelembapan itu terkunci dan menyatu dengan kulit seakan-akan berasal dari dalam.



Laneige New Water Bank

Sekarang, Laneige kembali mengeluarkan inovasi terbarunya. Adalah Water Bank, serangkaian skincare yang mengandung BLUE Hyaluronic Acid yang memiliki butiran 1/2000 kali lebih kecil dari Hyaluronic biasa. Ia juga diklaim 300% lebih efektif memulihkan kulit. Nah inilah kunci dari Blue Hyaluronic Acid. Logikanya, semakin kecil molekul maka semakin mudah terserap oleh permukaan kulit dan memiliki manfaat yang lebih baik.

Packaging



Laneige Water Bank datang dalam bentuk kemasan warna biru yang dikasih box lucubanget! Mau tahu? Ini bentuknya:




Selain itu, desainnya juga futuristik. Khusus untuk serum, cara membukanya adalah dengan diputar lalu akan keluar tonjolan untuk mengeluarkan isi serum. Praktis, tidak perlu buka tutup, dan nyaman dipandang saat ditaruh di meja skincare. Kemudian pelembapnya juga sangat elegan sekali bentuk kotak dan tidak kalah dengan serum di sebelahnya.

Key Ingredients






1.       Blue Hyaluronic Acid

Oke, izinkan aku untuk menjelaskan, apa sih sebetulnya Blue Hyaluronic Acid itu?

Laneige telah melakukan riset selama 38 tahun untuk menghasilkan Blue Hyaluronic Acid yang memiliki molekul 1/2000 dari Hyaluronic biasa. Ia juga diklaim membantu penyerapan 263x lebih cepat ke dalam kulit.

Setelah proses pengecilan molekul Hyaluronic Acid, kemudian dilakukan fermentasi menggunakan Alga Fucoidan. Fucoidan adalah substansi yang dihasilkan alga cokelat seperti mustard laut dan kelp, untuk perlindungan diri dari kekeringan yang disebabkan oleh sinar matagari dan juga luka yang disebabkan oleh ombak.

Dari kedua langkah di atas, menghasilkan ingredients yang dapat memulihkan kulit 300% lebih kuat.

2.       Ceramide

Ceramide adalah ingredients skincare yang juga dihasilkan kulit untuk menjaga skin barrier. Adakalanya kita butuh ceramide tambahan dari luat untuk menjaga skin barrier kulit. Soal skin barrier ini menurutku jangan sampai sembarangan diabaikan. Pasalnya seringkali kulit kita terkena exfoliasi, penekanan berlebihan, iritasi, penyesuaian skincare, penggunaan retinol, dll. Itu bisa mengakibatkan lapisan kulit agak menipis. Agak ya bukan menipis banget. Nah ini bisa dibantu dengan ritual skincare Ceramide. Untungnya Laneige Water Bank itu kandungannya healing banget jadi nggak perlu khawatir.

3.       Beta Glucan

Beta Glucan juga bermanfaat sebagai skin soothing & antiaging. Kombinasi antara hyaluronic dan beta glucan diklaim mampu untuk memberi kelembapan ekstra sekaligus memberi efek plum dan mengurangi tampilan kerutan halus.

Menurut Female Daily, saat ini belum banyak skincare yang menjadikan Beta Glucan sebagai ingredients utama lho. So, Laneige is one of a kind.

4.       Panthenol

Pantenol bekerja sebagai pengunci kelembapan kulit supaya tidak ke mana-mana. Jadi, setelah dilembapkan oleh Hyaluron, Beta Glucan, dan Ceramide, semua itu dikunci supaya kulit tetap lembap dan ideal.

 

Cara Pakai





Saat kulit dalam kondisi bersih, usapkan serum Laneige Water Bank Blue Hyaluronic secukupnya. Kalau di aku nggak perlu banyak-banyak karena bisa over moisture. Setelah itu ditap-tap sampai agak kering. Kemudian ambil secukupnya Laneige Water Bank Blue Hyaluronic Cream ke seluruh wajah.

Tidak perlu skincare tambahan, kecuali kalau siang hari perlu ditambah sunblock. Ini bisa dipakai baik AM maupun PM.

 

Efek setelah pemakaian





Efek lembap dari Laneige memang tidak diragukan lagi. Plumpynya instant, lembapnya bisa langsung dirasakan. Aku pakai ini selama 2 minggu, kulitku juga membaik dari segi tekstur dan kenyamanan. Oh iya, kadang aku juga pakai exfoliant yang mana sering terjadi kulit pecah-pecah. Namun sejak pakai Laneige Water Bank, itu tidak terjadi lagi.

Yuk #RechargeYourDay dengan rangkaian Water Bank dari Laneige. Jangan lupa untuk follow official Instagram @laneigeid

@andhikalady

Continue reading Review: Kehebatan Generasi ke-7 Blue Hyaluronic Acid di Laneige Water Bank

Saturday, March 26, 2022

, , , , , ,

Review Facial Wash Avoskin Natural Sublime - Si Sage Green Ajaib Bikin Wajah Bersih

Memilih pembersih wajah yang pas itu gampang-gampang susah. Terutama untuk yang kulitnya rewel seperti aku. Ada beberapa tipe pembersih yang bukannya bikin kulitku tambah bersih, tapi malah jadi kering dan mengelupas. Oleh karena itu, aku cukup picky dengan facial wash. Karena, sekali kulit mengelupas, sakitnya bisa berhari-hari dan cukup mengganggu aktivitas.

Nah baru-baru ini aku nemuin facial wash yang fluffy, empuk, dan punya efek lembut yang ajaib sekali. Namanya Avoskin Sublime Facial Cleanser.




Packaging




Avoskin Sublime Facial Cleanser datang dengan kemasan berwarna hijau sage. Menurut mereka, pacaking ini terbuat dari material yang sustainable dari sisa limbah industri gula. Wah, legit sekali nih, selain ikut menyelamatkan lingkungan, juga mengurangi rasa bersalah karena kalap belanja skincare.

Kemudian poin plus berikutnya yaitu saat paket datang, ia tidak menggunakan bubble wrap dari plastik, tetapi dari KERTAS DAUR ULANG saudara-saudara! Yang mana ini selain satisfying di mata juga kembali lagi tentang mengusung konsep cinta lingkungan yang dicanangkan Avoskin.

Soal packaging dari Avoskin, aku sudah percaya tidak ada yang gagal. Dari bentukannya terlihat sangat jelas sudah dilakukan proses riset mendalam tentang bagaimana produk dimunculkan.


Key Ingredients


Facial cleanser ini mengandung setidaknya enam bahan utama:

-          Hyaluronic acid

-          Merula Oil

-          Kale Extract

-          Niacinamide

-          Pentavitin

Hyaluronic acid mengandung substansi yang membuat kulit terjaga kelembapan dan kekenyalan. Merula oil tinggi antioksidan dan vitamin E, Kale extract untuk antioksidan dan antimikroba – sangat cocok untuk bahan facial cleanser. Niacinamide juga untuk merawat kulit yang mana sudah terbukti manfaat luar biasanya. Dan Pentavitin untuk menjaga dan memperbaiki skin barrier.

Agaknya tidak berlebihan kalau Avosin sungguh-sungguh niat memasukkan seabrek bahan bermanfaat di atas ke dalam facial cleanser. Umumnya sabun wajah merek lain cukup pelit memasukkan kandungan istimewa di dalamnya selain pembersih.

Selain itu, produk ini juga diklaim tanpa alkohol, tanpa pewangi, dan tanpa animal testing. Para wanita pejuang lingkungan, ayo merapat. Kita nikmati dan coba tekstur dan kesan pemakaian Avoskin Sublime Facial Cleanser.


Tekstur



Definisi yang tepat adalah: empuk. Teksturnya kenyal seperti gel. Sempat bertanya-tanya. Ini serum atau cleanser sih sebenarnya? Tapi begitu aku coba bubuhkan air, ada sedikit busa keluar. Yang mana aku kembali yakin bahwa ini adalah facial cleanser. Hahaha.

Saat diaplikasikan ke kulit, rasanya seperti dishayang. Beneran! Kulitku terasa dimanjakan dengan kelembutan. Aku kaget, kok bisa sih ada cleanser seempuk ini? Yakin nggak ya, kotorannya terangkat? Sempat berpikir seperti itu.

Lagi-lagi produk ini membuat aku berlama-lama mencuci wajah. Rasanya ingin dipijat-pijat terus lebih lama. Nah, penting banget nih punya produk facial cleanser yang membuatmu betah memakainya. Pasalnya pernah aku baca di sebuah web skincare, durasi optimal untuk membersihkan wajah adalah 30-60 detik. Cukup lama lho, kalau bosan sama facial cleansernya paling cuma usrek-usrek bilas.


Cara Pemakaian

Cara pemakaiannya mirip seperti facial cleanser pada umumnya. Tuang secukupnya di telapak tangan, lalu busakan sampai jumlah yang cukup. Usap dan pijatkan ke seluruh wajah secara hati-hati sampai bersih. Setelah itu, bilas dengan air sampai bersih.

#jengantenTips

Menurut pakar perawatan wajah Korea, hindari mengelap wajah dengan handuk badan. Sebisa mungkin siapkan handuk khusus untuk wajah untuk menghindari kontaminasi bakteri antar anggota tubuh.


Kesan Pemakaian




Setelah aku pakai, kesan instant yang muncul adalah kulitku menjadi lebih bersih dan kenyal. Aku merasa ritual bersih-bersih muka menjadi lebih naik kelas setelah pakai Avoskin Sublime Facial Cleanser.

Dalam jangka waktu 14 hari sejak pertama pemakaian, aku juga merasa wajahku lebih terawat dan terhindar dari masalah klasik akibat salah pilih facial cleanser.

 

Andhika Lady

@jakartabeautyblogger @avoskinbeauty #JakartaBeautyBloggerFeatAVOSKIN

Continue reading Review Facial Wash Avoskin Natural Sublime - Si Sage Green Ajaib Bikin Wajah Bersih

Tuesday, March 8, 2022

Review Maxim Sensitive Antiperspirant Roll-On

Aku termasuk orang yang pilih-pilih terhadap produk ketiak. Pasalnya, aku punya tipe ketiak yang mudah berkeringat. Apalagi kalau sedang pakai baju yang mudah basah, makin kelihatan itu ketiak basahnya. Selain bikin nggak PD, adanya basah pada ketiak juga mengundang banyak bakteri yang jika berkumpul, mereka akan mengadakan pesta 'barbeque' dengan bau yang menyengat.

Ketiak basah dengan kombinasi bau badan adalah kejadian yang kita hindari.

Untuk itulah aku merasa butuh produk keringat yang memadai, untuk mengatasi keringat berlebih tersebut. Biasanya yang kita kenal itu deodoran dan antiperspirant. Mungkin selintas agak mirip, padahal sama sekali tidak lho.

Deodoran adalah produk berbahan alkohol yang fungsinya untuk mengendalikan bakteri di area ketiak. Harapannya, ini akan membuat keringat menjadi tidak bau. Tapi apakah deodoran mampu mengurangi keringat? Jawabannya, tidak. Keringat tetap keluar seperti biasanya tetapi tidak bau. Itu saja.

Adapun antiperspirant adalah produk berbahan klorida atau senyawa alumunium lain yang berfungsi untuk mengendalikan keringat berlebih. Caranya adalah dengan menghalangi kelenjar keringat untuk berproduksi. Ini penting sekali untuk yang punya keringat berlebih di area ketiak, seperti aku contohnya.

Bayangkan, kamu sedang beraktifitas di siang bolong, menggunakan pakaian warna terang yang mudah basah. Kemudian karena kamu sangat aktif, area ketiakmu mulai memunculkan tanda-tanda keringat berlebih. Nah, untuk situasi seperti inilah penemu antiperspirant layak masuk surga. :'P

Namun adakalanya antiperspirant memunculkan efek samping, seperti iritasi dan gatal. Tapi lain halnya dengan antiperspirant yang satu ini..



Maxim Sensitive Antiperspirant Roll-On


Diformulasikan khusus oleh dokter di USA untuk menciptakan antiperspirant yang efektif mengurangi keringat berlebih bahkan untuk kulit sensitif sekalipun. Maxim Sensitive ini merupakan sejenis roll on untuk perawatan ketiak, khususnya untuk yang berkeringat berlebih.

Ingat para keringat + bakteri yang berpesta 'barbeque'? Nah, Maxim Sensitive ini berperan membuat keringat macet di perjalanan menuju ketiak sehingga bakteri dan keringat gagal bertemu. Sehingga ketiak basah & bau badan tidak sampai terjadi.


Aroma & packaging





Maxim Sensitive diformulasikan tanpa aroma sama sekali. Tahu sendiri kan, kulit sensitif kerap tidak berteman dengan wewangian yang terlalu keras. So, untuk itulah Maxim secara ajaib bisa membuat keringat berkurang tanpa bekas apa-apa.

Jangan salah lho, wangi produk ketiak yang kurang sip juga bisa jadi sumber pesta 'barbeque' bakteri yang justru menghasilkan bau badan tipe lain. 

Nah, packagingnya juga sudah tertulis secara jelas nama produk dan ingredients nya. Selain itu juga tertulis keterangan "Doctor Recommended" dan "Prescription Strength". Jadi memang secara kandungan dibuat lebih kuat untuk tujuan menghambat keringat berlebih secara jangka panjang.


Key ingredients





Maxim Sensitive mengandung Alumunium Chloride 10,8% yang berfungsi untuk menghambat perpirasi/keluarnya keringat pada kelenjar ketiak. Produk ini juga hanya dipakai di luar tubuh dan tidak boleh diterapkan pada kulit yang terluka.


Cara pemakaian


Maxim Sensitive Antiperspirant Roll-on lebih efektif digunakan saat malam hari. Caranya adalah dengan membersihkan area yang berkeringat (baca: mandi), kemudian langsung oleskan Maxim Sensitive Antiperspirant secukupnya di area ketiak. Diamkan semalaman sampai keesokan harinya.

Nah untuk pemakaian siang hari, kurang dianjurkan. Karena produk ini bisa ikut luntur dengan keringat. Untuk pemakaian pertama kali, usahakan dipakai rutin setiap hari. Setelah keringat mulai berkurang/berhenti, pemakaian bisa dikurangi menjadi 2 hari sekali atau 2 kali seminggu sesuai kebutuhan.

Harap diingat, Maxim Sensitive Antiperspirant memang bertujuan mengurangi keringat jangka panjang. So, kalau tiba-tiba keringat langsung berkurang, jangan kaget yaa.


Kesan Pemakaian


Saat pemakaian pertama kali, aku langsung takjub dengan produknya yang hampir tidak ada wangi sama sekali. Aku malah senang lho, sama produk yang wanginya samar/sama sekali nggak ada. Pasalnya kulitku cenderung yang rewel dan tidak suka dengan wewangian. Bahkan kalau aku pakai parfum, mending aku semprotkan ke baju daripada ke kulit. Hehe.

Kemudian keesokan harinya aku langsung merasakan keringat berkurang secara signifikan. Yang tadinya nggak PD dengan ketiak basah, alhamdulillah jadi lebih terkontrol. 


Keunggulan


Produk ini diformulasikan tanpa alkohol sehingga meminimalisir iritasi. Fungsi utamanya adalah mengurangi produksi keringat dalam jangka panjang sehingga perlu diterapkan secara rutin. 

Pada siang hari, apabila kamu ingin memakai deodoran dengan wewangian, itu juga bebas kok. Karena Maxim hanya dipakai malam hari dan dibuat tanpa pewangi buatan, sehingga lebih aman digunakan.




Continue reading Review Maxim Sensitive Antiperspirant Roll-On

Thursday, March 3, 2022

Cerita 10 Tahun Blogging Sejak 2012 - 2022

 


 

Sepuluh tahun ngeblog dapat apa?

Tidak terasa sudah sepuluh tahun aku berkecimpung di dunia beauty blogging. Awalnya memang hanya iseng untuk mengisi waktu luang sembari mengulas produk-produk makeup yang aku punyai. Aku masih ingat, produk pertama yang aku ulas adalah Kelly Pearl Cream. Itu adalah cream sejuta umat di tahun ibu-ibu kamu saat remaja. Namun sampai sekarang aku masih menemukan orang yang memakainya.

Waktu itu bisa dibilang tulisanku cukup viral di masanya. Nyatanya banyak olshop yang mengambil fotoku (tanpa izin tentunya) untuk menjual produk mereka. Kalau dikenang, cukup bikin ketawa juga. Berasa jadi artis meski cuma sekadar terpampang di blog.

Setelah ulasan pertamaku tersebut, aku merambah ke aneka produk-produk kosmetik lainnya. Lipstik, hair care, toiletries, makeup, skincare, dan aneka perawatan kecantikan lainnya. Ada sebuah masa, aku sangat produktif sekali. Bisa setiap hari ada postingan. Pokoknya kalau punya makeup baru harus direview meski dengan foto seadanya. Tidak sekali dua, blog ini mengundang perhatian brand kosmetik yang bersedia bekerjasama dengan blog Jenganten.com.

Jangan ragu untuk bergabung dengan aneka komunitas blogger

Waktu itu keberadaan komunitas blogger sangatlah penting. Kita bisa bertukar backlink, saling komentar, mengadakan gathering, dan saling mendukung dan blogwalking satu sama lain. Aku pun bergabung dengan beberapa komunitas, Indonesia Beauty Blogger, Blogger Perempuan, Kumpulan Emak Blogger, dan yang sekarang masih aktif, Jogja Bloggirls.





Tahun demi tahun berlalu. Aku masih setia ngeblog, meski kadang ada on off. Semakin lama aku menyadari, penghasilan dari blog tidak selalu berupa kontrak-kontrak kerjasama, tetapi terbukanya banyak networking baru yang mengenalku karena membaca blog. Untuk itulah aku bisa bertahan sejauh ini.

Salah satunya pernah ditawari pekerjaan di media hanya karena mereka mengetahui profilku dari blog ini. Padahal basic pendidikanku adalah IT, bukan sastra, jurnalistik atau komunikasi. Namun, mereka tetap memberikan kepercayaan padaku dengan memberikan posisi sebagai editor.

Tulisan-tulisanmu di blog akan membuat orang lebih punya trust dan memperkuat portfolio.

Menulis blog juga membuat indeks kita tercatat di Google. Sejauh ini meski banyak gempuran aneka sosial media seperti Youtube, Instagram, Tiktok, Twitter, dll – blog masih menjadi primadona kalau untuk urusan indeks SEO. Coba aja, kamu posting soal – review mascara misal, kalau dipost di IG lama-lama postingan akan tenggelam kecuali ada orang selo yang scroll sampai ke bawah-bawah. Namun dengan blog, kamu tetap bisa menemukannya meski itu artikel yang sudah ditulis bertahun-tahun yang lalu.

Saingan utama blog menurutku bukanlah sosial media. Tetapi banyaknya media mainstream yang mengambil ceruk tulisan opini khas blogger. Misalnya ada website yang membahas topik mengenai review makeup. Ini tentunya menjadi tantangan para beauty blogger untuk dapat menyesuaikan perkembangan zaman. Kita perlu dan musti menjaga kesan autentik yang tidak dimiliki oleh blogger ataupun media manapun. Hanya kita, yang punya nilai spesifik yang tidak dapat ditiru oleh siapa pun.
Autentik itu dapat berupa konsistensi menjaga kualitas tulisan, writer persona, kualitas review, meningkatkan standar foto, dan melakukan langkah-langkah yang membuat blog kita semakin mudah dan cepat diakses.

Menjadi blogger yang autentik, layak untuk dijaga dan dipertahankan. 


Tentu kita sebal sekali apabila ketemu blog yang bagus tetapi lambat diakses. Atau bahkan kebanyakan iklan. Yang tadinya mau baca, eh ternyata disambut iklan berlapis-lapis, nggak jadi baca deh.
Salah satu keinginanku adalah mengubah platform blog ini menjadi Wordpress. Selain lebih banyak fitur, customisasinya juga lebih banyak. Dulu aku jiper sama Wordpress. Aku pikir, karena toolsnya sangat banyak, takutnya malah bikin aku bingung dan malah melalaikan kualitas konten. Pasalnya akan lebih banyak waktu terbuang untuk mengurus domain, hosting, endesbrey, endesbrey ketimbang mikirin ide tulisan.

Bukannya blogger itu utamanya adalah menciptakan konten? Bukannya mengurusi pritilan teknis yang bisa diserahkan ke ahlinya?

Kegalauanku ini cukup tercerahkan setelah membaca-baca tentang simple Wordpress di Niagahoster. Gampangnya, ini adalah layanan sederhana tapi powerfull yang mampu mendukung kinerja blog maupun website skala kecil-menengah. Bahkan ada juga fitur untuk online shop, khusus untuk UKM yang ogah bersaing perang harga di marketplace mainstream. Aku punya beberapa toko, dan kayaknya cocok juga kalau dipasangi Simple Wordpress.

 



Tahu nggak sih, sekarang ada promo diskon 70% dan tambahan 10% dengan kode ANDHIKALADY. Yuk segera cobain promo menariknya.

Kapan ya enaknya pindahnya?

@andhikalady

Continue reading Cerita 10 Tahun Blogging Sejak 2012 - 2022

Saturday, February 19, 2022

Sosok Pahlawan Tumbuh Kembang yang Mengajari Linam Berjalan

Ada banyak pihak yang terlibat dalam proses tumbuh kembang Linam selama ini. Mulai dari ia terdiagnosis GDD (Global Development Delay) hingga sekarang sudah bisa catch up dengan perkembangan sesuai usia (alhamdulillah). Semua ini adalah hasil kerja keras orang-orang luar biasa yang mendedikasikan ilmu dan waktunya untuk anak-anak dengan permasalahan tumbuh kembanmg seperti Linam. Mereka semua adalah Dokter Spesialis Anak Tumbuh Kembang, dokter Rehab Medik, kami sebagai orangtua, keluarga yang selalu mendukung, teman-teman online yang mendoakan, dan satu lagi....

Fisioterapis yang senantiasa mendampingi proses belajar berjalan Linam.

Di sini aku akan memberikan kredit kepada fisioterapis Linam. Ia adalah Mba Sari.


Aku masih ingat sekali, dengan sosok Mba Sari. Ia adalah fisioterapis yang mengampu tumbuh kembang Linam. Mulai dari pertama kali mendaftar, hingga sudah bisa berjalan. 

Saat usia 18 bulan, Linam betul-betul belum punya kemampuan untuk berdiri. Merangkak pun tidak bisa. Dia cuma bisa ngesot menyeret pant*t untuk berpindah tempat. Selain itu, postur tubuhnya juga buruk, yakni punggungnya terlampau melengkung ke depan. Kabarnya, itu karena terburu-buru didudukkan sebelum tulangnya kuat. Nah, padahal anak-anak seusianya wajarnya sudah bisa berjalan, bahkan berlari.

Sebelum bisa berjalan, anak sebaiknya harus melewati tahapan perkembangan berurutan. Mulai dari duduk sendiri, merangkak/merayap, berdiri berpegangan, rambatan, hingga berjalan sendiri.

Semua tahapan itu harus dilewati. Karena tahapan itu akan beriringan dengan pertumbuhan otak. Misal saat bayi merangkak, ada bagian otaknya yang jadi aktif untuk mengatur koordinasi antara gerak tangan, gerak kaki, mata untuk melihat, dan anggota tubuh lainnya. Koordinasi ini penting untuk motorik halus dan motorik kasar pada manusia di sepanjang hidupnya.



Saat pertama ketemu Mba Sari, kami dijelaskan bagaimana proses fisioterapis dan aturan-aturan yang harus ditegakkan saat latihan sendiri di rumah. Oh iya, kalau memutuskan untuk menerapi anak, pastikan tidak cuma latihan di klinik saja ya. Di rumah juga harus aktif bergerak supaya perkembangannya lebih pesat.

Untuk awal-awal terapi, Linam yang masih kecil itu langsung menangis. Wajar saja sih, dia belum pernah mengalami situasi di mana ia ditinggal sendirian di ruangan bersama orang asing. Tapi sebagai orangtua, aku harus tega. Karena kalau aku ikut di dalam ruangan terapi justru bisa mengaburkan fokus Linam untuk belajar.

Kadang sebagai orang tua mesti harus tega di situasi tertentu demi kebaikan anak, Bun.

Dan begitulah, selama aku dan Mba Sari satu koordinasi, semua bisa berjalan lancar. Meski kadang beliau galak sama Linam, tapi aku nggak khawatir. Karena galaknya juga masuk akal. Misal agak 'memaksa' memegangi pant*t Linam agar tidak berpindah posisi default ngesot. 

Menurut Mba Sari, kalau anak sudah terbiasa ngesot, settingan defaultnya, ya ngesot. Dia akan kesulitan menggapai posisi normal merangkak. Padahal merangkak untuk bayi itu penting sekali. Sehingga fisioterapis akan melakukan teknik-teknik yang dimaksudkan untuk mengajari anak merangkak.

Proses mengajari Linam dari ngesot ke merangkak membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Itupun dia masih suka ngesot kalau nggak sengaja.

Dan yaa, meskipun sekadar milestone kecil seperti merangkak aja aku udah senang banget. Artinya tinggal beberapa step lagi menuju berjalan. Rasanya udah nggak sabar lagi mengajak Linam jalan-jalan di taman bergandengan, sambil main bola, lalala.



Kemudian terapi masih berlanjut. Kali ini kelasnya berubah menjadi belajar rambatan. Nah, inilah pentingnya memberikan konsep berpindah tempat dengan dua kaki kepada Linam. Ribet juga ya ternyata fisioterapi itu, untung Mbak Sari orangnya sabare pool.

Hingga pada akhirnya Linam bisa melangkahkan langkah pertamanya, kami jadi sering ngobrol satu sama lain. Aku jadi tahu kalau rumah tinggal Mba Sari itu di Surakarta, padahal lokasi kerjanya di Jogja. So, Mbak Sari harus ngelaju dari Solo-Jogja setiap harinya menggunakan kereta dan kendaraan pribadi. Benar-benar sebuah dedikasi.

Tapi ini juga masuk akal, karena Mba Sari adalah lulusan Poltekkes Surakarta, di mana kampusnya membuka jurusan aneka terapi medis yang tidak dibuka di kampus-kampus lain. Untuk itulah banyak terapis-terapis handal yang domisilinya kalau nggak Solo, Klaten dan sekitarnya. Bahkan untuk program studi Okupasi Terapi malah cuma ada dua di Indonesia. Yaitu UI dan Poltekkes Solo. Padalah prospek kerja terapis medis ini terbuka lebar di mana-mana. Banyak rumah sakit yang harus menunggu lama sampai ada lulusan terbaru. 

Semakin banyaknya orangtua yang concern dengan tumbuh kembang anak, harusnya pemerintah juga memperhatikan bidang keilmuan ini. Terapi medis. Ingat, tidak hanya penderita strooke atau kaum lanjut usia saja yang kerap membutuhkan terapi, bayi-bayi yang berkebutuhan khusus juga. 

Kita tentu masih ingat, generasi orang tua terdahulu cenderung mengabaikan perkembangan anak. Atau malah justru menggunakan cara-cara tradisional nir-ilmiah untuk mengatasi masalah tumbuh kembang. Misalnya kalau terlambat jalan, kakinya disabetin belut. Atau kalau telat ngomong, entah mulutnya dikasih apa supaya mau ngomong. Ini tentunya menjadi bahan edukasi kita bersama. Salah satunya adalah dengan memperbanyak generasi-generasi handal para terapis profesional bersertifikat.

Mudah-mudahan sosok seperti Mba Sari yang harus ngelaju 50km setiap harinya bisa diminimal. Kayaknya aku ingin dia diberi voucher kereta komuter untuk setahun, supaya perjalanan Solo-Jogjanya lebih mudah. Besar harapan, para pahlawan-pahlawan tumbuh kembang tersebut mudah mencari pekerjaan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Caranya dengan apa? Ya dengan memperluas/membuka program studi terapi medis secara menyebar dan merata.

@andhikalady


=====================

Jangan lupa yuk ikut lomba artikel bertema #KadoUntukPahlawan yang diadakan Superapp.com. Ceritakan sosok inspiratif dan pahlawan di sekitarmu, dan raih hadiah jutaan rupiah plus hadiah untuk pahlawanmu. 

Continue reading Sosok Pahlawan Tumbuh Kembang yang Mengajari Linam Berjalan

Tuesday, February 8, 2022

,

Tahapan yang Harus Dilewati oleh Anak Sebelum Belajar Menulis

 



Sering BT karena anak suka corat-coret sembarangan di rumah, Bun?

Sabar dulu yaa. Sebetulnya di balik aktifitas anak yang 'menggemaskan' itu, aslinya mereka sedang belajar lho.

Menulis adalah salah satu ketrampilan motorik halus yang kompleks. Gerakan motorik halus sangat membutuhkan koordinasi antara anggota gerak dan otak. Misalnya aku sekarang. Aku sedang menulis kalimat yang akan aku post di blog. Bagian tubuh mana saja yang bekerja di kegiatan ini?

- Otakku aktif berpikir mengelola ide dan merancang kalimat apa yang sedang aku tulis

- Jari jemariku menekan tuts komputer untuk merangkai kata-kata. Karena sudah cukup terlatih, aku tidak perlu melihat keyboard untuk sekadar mencari huruf QWERTY

- Indera mata bekerja melihat layar komputer, memastikan kalimatnya sudah benar dan bebas kesalahan tulis

See?

Ada banyak koordinasi tubuh yang dilakukan saat sedang menulis/mengetik saja. Belum lagi telinga yang awas saat mendengar suara anak bangun, dan tangan yang sigap meraih teh hangat yang ada di samping kananku.

Begitu pula dengan anak-anak. Saat mereka belajar mengelola motorik halus, ada banyak sinyal-sinyal otak yang aktif untuk menggerakkan anggota tubuh sekaligus berkoordinasi. Ini adalah hal yang sulit di awal, namun akan terlatih secara alami. Kita sebagai orangtua, tugasnya untuk membimbing dan menemani anak untuk terus latihan koordinasi gerak tubuh dan tumbuh kembangnya.

Dan ternyataaa, untuk mencapai ketrampilan menulis ini butuh beberapa tahapan motorik yang harus dilewati. Setiap tahapan sebaiknya dilewati. Dokter menganjurkan hindari untuk loncat langsung ke menulis yang sambil memegang pena, duduk di meja, dst.

Kalau dipaksa langsung menulis, si anak bisa pusing dan stress, sekaligus belum terbiasa duduk manis di meja. Pernah melihat anak yang nggak suka duduk diam dan lebih suka lari-lari?

Ini kayak kenapa sebelum jalan, bayi sebaiknya harus melalui tahap merangkak dulu. Mirip-mirip begitu.

"Tapi kan, ada tuh bayi yang langsung bisa jalan tanpa merangkak"

Ya memang ada. Banyak malah. Tapi coba cek lagi fokusnya, pola duduknya, konsentrasinya, sebagus mereka yang merangkak tidak?

"Ada juga tuh anak yang langsung bisa menulis tanpa macam-macam dulu. Parenting jaman now kok apa-apa dilarang sih"

Benar, anak memang bisa langsung menulis tanpa latihan macam2. Tapi kan sayang kalau ada tahapan yang perlu dilewati. Pun kata dr. Guritno Aristyawan, Sp. KFR (dokternya Linam), itu bisa membuat si anak stress.

Bukan sekali dua Bun, ada anak yang kalau kita suruh duduk tenang konsentrasi belajar calistung malah nangis dan ogah-ogahan. Nah itulah salah satu akibat kalau nggak melewati tahapan2 yang mau aku jelaskan:









@andhikalady
Continue reading Tahapan yang Harus Dilewati oleh Anak Sebelum Belajar Menulis

Tuesday, January 11, 2022

, , , , ,

Tutorial Belanja di Pasar Tradisional untuk First Timer

 



Belanja sayuran di supermarket memang menyenangkan. Adem, lengkap, instagrammable, nggak ribet, harga pas, dan segala rupa kenyamanan yang diberikan oleh tempat luas dan aroma wangi dari deretan rak yang disusun rapi.

Tapi sekeren-kerennya Superindo, Carrefour, atau bahkan Lotte Mart, bisa jadi kamu harus berhadapan dengan situasi belanja di pasar tradisional. Bertemu dengan mbah-mbah berbau apak yang menjajakan kunir, atau mamang tukang daging yang tancapan pisaunya cukup bikin jari kita kesemutan.

Jangan salah, meski penampilan ala kadarnya, mbah-mbah itu adalah salah satu orang terkaya di kampungnya. Mobil-mobil mereka berjejer rapi di pinggir pasar agak jauh. Penghasilan mereka pun bisa tiga sampai empat kali UMR. Jadi, sebaiknya jangan menyombongkan diri kepada para penjaja pasar karena bisa jadi uang mereka jauh lebih banyak darimu. So, mending kita simak info tutorial belanja di pasar tradisional, terutama untuk first timer.

Disclaimer: Postingan ini khusus membahas bahan makanan mentah yang tidak awet, misal sayuran, daging, seafood, dan protein nabati. Kalau yang awet-awet seperti beras minyak telur dll aku anggap sudah pada ngerti.

 

1. Belanja Sayuran

Belanja sayuran di pasar adalah pilihan yang bagus, pasalnya kamu bisa dapat sayuran yang sangat fresh baru saja dipetik dari kebon. Minimal sehari sebelumnya. Malah bisa juga lho, kamu dapatin harga yang lebih murah. Umumnya sayuran di pasar itu digelar dan tidak dibungkus pack seperti di supermarket. Tapi jangan khawatir, kamu bisa menakar dan mengatur sendiri mau beli seberapa.

Belanja sayur di pasar like a PRO:

- sambil antre, sambil mengumpulkan sayur yang mau dibeli
- tidak menyerobot saat penjual sayur sedang menghitung penjualan orang lain
- meminta setengah dari pack sayuran (misal minta setengah pack tauge)
- membawa wadah sendiri untuk tempat bawang brambang
 
No for:

- menyerobot antrean orang
- mencampur/mengobrak abrik sayuran yang sudah digelar
 
Satuan ikat: bayam, kangkung, sawi, kenikir, kacang panjang, kemangi, daun bawang, seledri, daun singkong, daun pepaya
Satuan kiloan: jipan, tomat, wortel, buncis, terong, gambas, timun, jagung, kentang. Meski kiloan, kamu bisa mengambil sebesar kebutuhan.
Satuan ons: bawang, brambang, cabai
Satuan butiran/satuan: kol, petai, jagung, bawang bombay,
Satuan pack: tauge, pepaya muda iris, nangka muda iris, santan

Jadi, kalau mau bilang ke penjualnya kira-kira begini:
"Bu, mau tomat sekilo" >> yes
"Bu, mau jipan dua butir" >> ini juga yes
"Bu, mau bombay satu ons" >> nah ini agak susah milahnya. Iya kalo pas dua butir satu ons, kalau tidak?
 

2. Belanja daging & ikan


Daging, ayam, dan ikan di pasar umumnya masih betul-betul segar. Mereka saban hari menyuplai restoran dan warung bakso yang ordernya bisa kwintalan. So, nggak usah khawatir daging yang kamu beli adalah daging kemarin. 

Biasanya di pasar tradisional itu berbeda antara penjual daging, penjual daging ayam, dan penjual ikan. Kamu bisa prioritaskan kebutuhanmu dengan mendatangi mana yang kamu butuhkan. 

Urutan daging termahal hingga termurah: sapi > kambing > ayam kampung > ayam negri
Pritilan bagian sapi: iga, ati, paru, otak, tulang muda, koyor, kikil, daging giling, bakso
Pritilan bagian ayam: kepala, ceker, sayap, rempelo ati, usus, brutu
Hasil laut: tuna, layur, udang, cumi, teri
Ikan darat: lele, nila, gurami, sidat, belut, kutuk, dll tergantung produksi lokal

Belanja daging di pasar like a PRO:

- Bisa beli satuan rupiah. Misal beli daging sapi 50 ribu
- Minta daging ayam sekalian dipotong-potong supaya nggak perlu motong lagi di rumah
- Tanya harga per kilo dulu, karena harga daging dan ayam berubah-ubah
- Minta ikannya sekalian digaris-garis atau dipotong-potong
- Minta dada ayam/ikan sekalian difillet


3. Belanja protein nabati


Penjual tahu & tempe biasanya satu kios. Supaya praktis, beli saja langsung di situ. Kadang di penjual yang sama, mereka jual juga tempe gembus (ampas tahu yang dikasih ragi tempe), kulit lumpia, dan tahu bakso.

Jenis tempe: tempe bungkus daun, bungkus plastik, tempe garit, tempe mendoan, oncom,
Kacang tanah, kacang hijau dan aneka kacang bisa dibeli di kios palawija yang juga menjual beras.

Belanja protein nabati di pasar like a PRO:

- Beli tempe ukuran besar karena lebih murah dan banyak
- Beli tahu kopong untuk bikin tahu isi
- Beli tempe garit satuan rupiah, misal lima ribu


4. Belanja bahan pokok non beras


Umbi-umbian seperti ubi jalar, singkong, dan sagu juga bisa ditemukan di pasar. Umumnya dalam satuan kiloan. Harganya biasanya murah banget, misal singkong 6 ribu per kg, ubi jalar 8 ribu, dll. Selain itu juga kadang ada waloh, sukun, jantung pisang, bit, talas, inthik, dll.

Aneka umbi-umbi dan bahan makanan 'ndeso' ada di pasar tradisional.


5. Belanja bumbu


Bumbu basic biasanya tersedia dalam paketan seharga 2-4ribuan. Isinya ada daun salam, daun jeruk, kunyit, kencur, jahe, sereh, lengkuas. Tapi kamu juga bisa membelinya satuan. Bumbu pawon seperti ini lebih murah kalau beli banyak. Apalagi disimpan di freezer nicaya makin awet.

Yang harganya murah: daun-daunan, kunyit, sereh, jahe emprit
Yang agak mahal: jahe merah, lengkuas, kencur, temulawak



Tips Belanja di Pasar Tradisional like a PRO:

1. Berbusana seperlunya, tidak perlu mewah-mewah. Takutnya kalau outfit macam ke mall bisa-bisa dikepruk harga sama penjual.
2. Pakai masker double. Pandemi tidak pandemi pakai masker.
3. Kenali pedagang, jadiin langganan. Siapa tahu dapat diskon.
4. Bawa kantung belanja sendiri.
5. Pakai sunblock jangan lupa.
6. Hafalkan posisi masing-masing kios.
7. Boleh bawa kotak tupperware untuk tempat daging.
8. Jadwalkan ke pasar seminggu sekali biar nggak ribet bolak balik.
9. Rolling sayuran baru setiap minggu supaya tidak bosan.
10. Beli 'pajak anak' setiap ke pasar.
11. Foodprep dan rencanakan menu setiap minggu supaya tidak bingung mau beli apa.
12. Bawa kantung belanja tambahan akan sangat-sangat-sangat membantu.
13. Cuci tangan sebelum dan saat keluar dari pasar.
14. Pilih lokasi penjual yang ada di tempat terbuka untuk meminimalisir kontak udara di tempat pengap.



Belanja di pasar tradisional artinya kamu ikut membangun ekonomi wilayah setempat. Ada pedagang-pedagang yang sejahtera karena upayamu berbelanja di pasar mereka.


Selamat mencoba,

@andhikalady


Continue reading Tutorial Belanja di Pasar Tradisional untuk First Timer