Tuesday, July 26, 2022

, , , , , , ,

Mengatasi Jerawat dengan Skintific Anti Acne Serum 2% Salicylic Acid

Meskipun aku sudah lewat masa puber, kadang-kadang masalah kulit seperti jerawat tetap saja bisa muncul. Apalagi di fase-fase hormon bulanan sedang tinggi-tingginya, yaitu saat PMS. Nah, untuk mengakali jerawat sebetulnya tidak terlalu susah kalau mengerti caranya.
Pertama, tentunya kita harus membersihkan wajah secara presisi. Karena salah satu penyebab utama jerawat adalah berkumpulnya bakteri dan minyak wajah yang mengakibatkan terjadinya sumbatan di pori-pori.
Sumbatan itu menggumpal, dan membentuk gundukan jahanam bernama komedo. Yang kalau dibiarkan terus akan berkembang menjadi jerawat.
Kedua, umumnya jerawat timbul di lahan kulit berminyak. Yang mana, kita harus menggunakan produk yang cocok untuk kulit berminyak untuk meluluh-lantahkan jerawat.

Bahan aktif tersebut bernama Salicylic Acid


Salicylic Acid telah dikenal selama ribuan tahun sebagai obat topikal untuk perawatan kulit wajah. Masih ingat zaman kita kecil dulu, kalau kulit gatal-gatal, Ibu atau Nenek kita pasti menyarankan “Pakai salisil aja”. Dan memang, salicyl terbukti seampuh itu. Termasuk untuk merawat kulit berjerawat.
Unggulnya lagi, Salicylic Acid adalah salah satu dari sedikit acid yang larut dalam lemak. Itulah mengapa kulit berminyak cocok memakai Salicylic Acid. Ia akan menembus ke lapisan terdalam kulit, masuk melalui pori-pori, dan menghempaskan sel kulit mati yang ada di permukaan kulitmu.
Sel kulit mati itu punya protein yang mengikat dengan lapisan kulit baru di bawahnya seperti lem. Nah, Salicylic Acid bekerja memutus rangkaian protein tersebut, agar sel-sel kulit mati meluruh dan berganti menjadi yang baru.
Inilah jawaban mengapa kulit yang rajin diberikan exfoliasi seperti Salicylic Acid akan senantiasa halus, lembut, cerah, dan terlihat segar.
 

Kenalkan, Skintific Anti Acne Serum



Kini, serum dengan bahan Salicylic Acid mudah ditemukan. Salah satunya Skintific. Bukan main-main, Skintific adalah jenama skincare asal Kanada yang dipasarkan ke seluruh dunia dan sudah terbukti khasiatnya.


Khusus serum Anti Acne ini, Skintific mengandung 2% Salicylic Acid dan beberapa bahan lain seperti:

Niacinamide

Sebagai antioksidan untuk merawat dan meregenerasi kulit. Selain itu juga bisa untuk memudarkan bekas jerawat. Jadi, setelah jerawatnya sembuh, lanjutkan saja pakai ini nanti baik bekasnya juga akan cepat hilang.

Ceramide

Untuk menjaga skin barrier kulit supaya jarang terkena masalah kulit lanjutan. Kamu pernah ketemu/mengalami saat kulit gampang kena masalah? Tahu-tahu mudah kusam, tahu-tahu muncul jerawat. Nah itu karena skin barrier-nya bermasalah. Skin barrier adalah semacam daya tahan kulit dari dalam maupun dari luar.

Centella

Sebagai calming untuk kulit di saat kulit menerima ‘bahan-bahan aktif’ di atas. Jadi, saat Salicylic Acid, Niacinamide, dan Ceramide sedang bekerja keras melawan jerawat, Centella membantu menenangkan kulit supaya tidak terjadi efek samping berlebihan.

Nah, lengkap sekali bahan-bahannya bukan? Apalagi hero ingredients- nya sudah terbukti mengentaskan masalah-masalah kulit.
 

Kemasan




Skintific Acne Serum datang dengan kemasan pump yang higienis. Menurutku pribadi, lebih suka yang begini daripada yang drop. Karena modelan drop itu membuka kemungkinan paparan dengan udara luar yang membuat peluang bakteri bisa masuk.

Kalau model pump begini kan kita tidak perlu takut isinya terkontaminasi. Poin plus lainnya, kita cukup memakai satu tangan saja untuk mengeluarkan isinya.

Aku tim skincare tanpa repot-repot. Kalau kamu bagaimana?
 
Kesan pemakaian



Serum ini sangatlah ringan, jauh dari kata lengket tetapi mudah meresap. Jadi, tidak perlu lama-lama untuk mengaplikasikan sunscreen apabila mau dipakai di pagi hari. Oh iya, serum ini bisa dipakai baik pagi maupun malam yaa.

Ini adalah wujud foto before-after pemakaian Skintific selama 5 hari. Terlihat jerawat di bagian dagu dan leher tampak berkurang dan kempes. Ini bocoran rutinitas skincare aku:

Pagi.
Cleanser – Toner/Spray – Skintific Acne Serum – Sunscreen

Malam.
Cleanser – Toner/Spray – Skintific Acne Serum – Moisturizer
Nah untuk melakukan pembelian, kamu bisa cek di link ini. Jangan lupa untuk follow Instagram Skintific juga yuk.

Andhika Lady
Fellow member of JBB.
Continue reading Mengatasi Jerawat dengan Skintific Anti Acne Serum 2% Salicylic Acid

Sunday, July 17, 2022

, , , , , , , ,

Pentingnya Optimasi Bisnis dengan Google Map

Kalau sedang gabut, seringkali saya membuka sebuah aplikasi di handphone. Sebuah aplikasi yang ada di layar prioritas, karena saking seringnya dipakai. 

Aplikasi tersebut bukan game favorit, social media, atau aplikasi edit foto sekalipun.

Nama aplikasinya, Google Map.

Google map menjadi aplikasi prioritas di layar handphone saya.

Semenjak saya sekeluarga pindah rumah, kegiatan tengok-tengok Google Map jadi semakin sering dilakukan. Meskipun masih dekat ke jalan besar yang menuju ke kota, tempat tinggal kami boleh disebut sebagai pedesaan. Tempatnya masih berada di area persawahan, pegunungan, dengan udara sejuk dan air yang jernih. Itulah beberapa alasan kami pindah dari lokasi yang lebih urban. Tujuan kami memang ingin tinggal di wilayah yang lebih asri dan bebas dari hiruk pikuk kota. Selain, tentu saja, kami ingin mencari lingkungan yang lebih ramah anak-anak untuk putra kami yang baru 2 tahun.

Rumah kami sebelumnya kurang cukup luas untuk lari-lari anak. Sementara di rumah baru, anak saya lebih leluasa koprol.

Sembari mengenal lingkungan sekitar, saya suka iseng sambil membuka Google Map. Buat apa? Oh ada banyak manfaatnya:

- Saya jadi tahu bahwa lima puluh meter dari rumah, ada warung yang menjual gas elpiji. Jadi sewaktu-waktu gas habis, bisa langsung pesan saat itu juga.

- Saya juga tahu bilamana membutuhkan service AC panggilan, nomor Whatsapp mana yang dituju.

- Juga kalau membutuhkan wisata healing ala-ala seperti makan di restoran berpemandangan sawah, saya langsung tahu ke mana harus melangkah.

- Kemarin, saat saya riset calon sekolah TK untuk anak saya, Linam (2 tahun), saya langsung membekali beberapa nama sekolah yang cukup prospek dimasuki.

- Tidak hanya itu, kadang saya mengaktifkan fitur layering Satelit untuk melihat, mana yang sekiranya punya lingkungan hijau-hijau dan pemandangan menarik untuk dikunjungi. 

Meskipun di pedesaan, agaknya masyarakat sini sudah melek teknologi dan merasakan manfaat internet. Buktinya banyak titik-titik bisnis yang bermunculan saat saya membuka Google Map. Ada bengkel, toserba, puskesmas, rumah sakit, taman bermain, SPBU dan fasum sejenis. Bahkan penjual gorengan pun menancapkan lokasi bisnisnya. Luar biasa bukan?

Secara tidak langsung saya jadi ketergantungan sama Google Map. Kalau saya mau krimbat di salon misalnya. Yang saya cek pertama kali adalah: di mana salon terdekat. Kedua, bagaimana ulasan dan komentar di dalamnya. Kalau pelayanannya bagus, pasti saya kunjungi. Ketiga, baru harga. Itupun kalau pemilik bisnis mencantumkan harga di titik map tersebut.

Tidak mau kalah, saya juga ikut mengaktifkan fitur bisnis Google Map dong. Kebetulan saya punya usaha rias pengantin dan wisuda. Sebelum kenal Google Map, jasa MUA saya baru dipromosikan via Instagram. Trafik konversi masih berupa pencarian terhadap hastag #makeupwisudajogja atau #MUAweddingjogja. Semakin ke sini, MUA semakin banyak. Hastag yang dulu saya andalkan mulai dipakai MUA-MUA lain. Alhasil persaingan semakin banyak. Orang-orang yang tertarik dengan jasa saya dari Instagram semakin sedikit.

Lalu aku coba merambah ke promosi melalui Google Map. Saya tetapkan titik lokasi, unggah foto, hastag, dan informasi selengkap-lengkapnya di sana. Harapan saya, orang-orang yang dekat lokasi saya bisa mengakses jasa saya melalui fitur pencarian di Google Map.

Sebelumnya, saya riset dulu. Saya coba cari MUA terdekat lokasi tempat tinggal saya. Ternyata sedikit sekali, bahkan tidak ada. Wah, menarik nih. Akhirnya, saya coba untuk menancapkan 'daerah kekuasaan' dengan membuat lokasi spesifik untuk Jenganten Makeup Artist.

Betul juga, tidak lama kemudian, ada Whatsapp masuk. Menanyakan rate makeup untuk rias wisuda sekolah. Untung tak bisa ditolak, akhirnya deal! Alhamdulillah, satu dua client mulai masuk melalui jalur Google Map.

Rasa-rasanya saya baru saja melakukan langkah yang benar. Tidak lupa, setiap client yang sudah makeup, saya berikan link testimoni dan rating untuk memberikan feedback. Alhasil testimoni Google Map saya makin naik, dan pencarian makin banyak.



Beberapa testimoni di Google Map Jenganten MUA


Rumah saya sendiri sebetulnya tidak terletak di pinggir jalan besar. Namun karena menggunakan trik ini, orang-orang tetap tahu bahwa saya menjual jasa MUA. Jadi, buatmu yang tinggal di pedesaan, maupun yang rumahnya tidak di pinggir jalan besar, janganlah berkecil hati. 

Daftarkan saja bisnismu di Google Map, niscaya orang akan mencari juga kok. Soal koneksi, tidak perlu khawatir. IndiHome dari Telkom Indonesia bisa memberikan layanan maksimal meski kamu berada di daerah remote

Jadi, siap untuk menyambut Internetnya Indonesia semakin maju di masa depan?


Andhika Lady.

Continue reading Pentingnya Optimasi Bisnis dengan Google Map

Wednesday, July 6, 2022

Happy Blogpost. Resep Marinasi Lele yang Membuat Nak Lanang Berhenti GTM

Dua tahun silam, waktu Linam baru awal mula MPASI, aku menyiapkan segala rupanya dengan begitu cermat. Aku membeli buku-buku tentang MPASI, belajar gizi seimbang, membeli peralatan MPASI paling mutakhir, sampai ikut kelas MPASI yang diadakan komunitas ibu-ibu di tempatku.

Perubahan kentara berat badan Linam yang terlihat


“MPASI yang baik itu yang ada lemak tambahannya”, kata salah seorang praktisi MPASI sambil menuangkan tiga tetes minyak goreng ke bubur bayi yang sudah kami buat.

Iya, minyak goreng merupakan salah satu lemak tambahan yang bisa ditambahkan ke MPASI. Bayi, khususnya yang usia di bawah 2 tahun membutuhkan lemak yang banyak untuk membantu perkembangan otak. Berbeda dengan orang dewasa ya Bun, kita-kita yang BMI-nya sudah limit atas sih disarankan untuk mengurangi lemak dan juga gula.

Begitulah. Saban pagi aku rajin menyiapkan MPASI makan sehat tanpa lelah. Disaring, diblender, dikukus, dan segala rupa cara masak yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Satu bulan pertama MPASI adalah masa pengenalan. Bayi masih mudah disuruh membuka mulut. Ia masih menerima segala rupa makanan yang aku berikan untuknya. Brokoli puree? Daging sapi giling lembut? Nasi tim? Ikan blender? Semua hayuk. Tandas ludes masuk perut.

Tiga bulan berikutnya saatnya naik tekstur. Yang tadinya 100% lembut mulai dibuat ada kasar-kasarnya dikit. Nasi tim, bubur kacang hijau lunak, agar-agar, mulai dikenalkan ke Linam. Alhamdulillah masih mau.

6 bulan pertama MPASI adalah masa-masa penuh membahagiakan. Mayoritas masakanku dimakan dengan lancar jaya tanpa ada keluhan apa-apa.

Hingga tibalah saat-saat kelam itu.

Linam berusia 1 tahun dan mulai tumbuh giginya. Ia kian mengenal beraneka jenis rasa dan tekstur makanan. Preferensinya mulai terbentuk.

Ia menunjukkan tanda-tanda yang disebut orang sebagai GTM (Gerakan Tutup Mulut). Mulutnya terkunci saat kusodori sendok. Setiap hari setiap saat.

Parahnya lagi, waktu itu dibarengi dengan diagnosis GDD yang dialami Linam. Sudahlah harus rutin terapi seminggu dua kali, ditambah GTM, susah komunikasi pula.

Baca juga: GDD Linam & Terapinya.

Jadi aku sama sekali nggak tahu dan susah mengira-ngira apa hal yang membuat Linam nggak mau makan. Akhirnya drama makan pun hampir terjadi setiap hari. Pertarungan tanpa henti dari seorang batita dan aku, ibunya, seperti hal yang sulit dihindarkan.

Kalau kata suami, jangan berani-berani cari masalah sama aku yang sedang menyuapi anak karena dijamin semprotan yang akan keluar. Hahaha.

Sebuah sifat yang sangat tidak Lady-like apalagi memenuhi standar ibu ideal khas mamak-mamak Instagram.

Hal ini berefek secara tidak langsung ke perkembangan Linam. Aku melihat BBnya susah naik, dan terapinya seperti tidak kunjung membuahkan hasil. Aku sempet down dan merasa gagal menjadi Ibu. Ditambah melihat anak-anak seusia Linam yang sudah berlari-lari dan badannya gemuk-gemuk. Belum lagi ditambah omongan dari orang lain bernada mencibir yang terlanjur kumasukkan ke dalam hati.

Saat itu aku belum sadar bahwa sepertinya akupun berhak mengeluh, dan berhak berpikir jernih supaya keadaan lebih terkendali.

Hingga saat Linam berusia 2 tahun, perkembangan Linam datang bertubi-tubi. Dalam satu malam (sebagai hiperbolis), Linam tahu-tahu bisa jalan, bisa ngomong, dan MAU MAKAN. Luar biasa bukan?

Waktu itulah aku merasa doaku sebagai ibu terjawab.

Bahkan saking senangnya aku, kata dokter, Linam sudah menunjukkan kognitif setara anak usia 3 tahun waktu itu. Terbukti dari perilaku dan rasa penasarannya yang kian berkembang. Aku kini tidak susah berkomunikasi dengannya.

Fokusnya sudah matang, BBnya ideal, dan mampu mengatakan makanan apa yang disukainya. Baru aku ketahui bahwa dia suka makan ikan lele. Ikan air tawar yang rasanya enak gurih itu ternyata lebih masuk mulutnya daripada salmon, daging, dan protein hewani lain. Syukurlah, akhirnya ketemu makanan favoritnya.

Ini resep marinasi lele andalan Linam.

Bahan: 1 kg lele yang sudah dibuang perutnya

Bumbu: 

- 3 siung bawang putih
- 5 siung bawang merah
- 2 ruas kunir
- 2 ruas jahe
- merica, ketumbar
- jeruk nipis
- kemiri
- garam secukupnya

Cara membuat:

- Blender semua bumbu kecuali jeruk nipis
- Balurkan ke seluruh ikan lele termasuk di dalam perut
- Taburi dengan jeruk nipis
- Disimpan di freezer untuk diolah kemudian 
- Dapat segera digoreng atau dimangut sesuai selera

 



Semenjak saat itu, aku sering banget memasakkan ikan lele untuknya. Dimangut, digoreng, diolah apa pun dia suka. Rasanya belum pernah menyuapi anak semudah ini.

Selain itu, aku juga pakai cara komunikasi ke anak untuk mengenalkan makanan-makanan lain. Misalnya saat aku masak sop rolade, aku sambil ceritakan ke dia proses pembuatannya. Alhamdulillah, anaknya antusias dan tujuan utama tercapai: mau makan.

So, untuk ibu-ibu yang mungkin masih berjuang mengatasi GTM anak, ingat kata-kata ini:

“Semua akan berlalu, anaklah yang akan meminta makan pada waktunya kelak”

Dan tentu saja, sampai itu terjadi, jangan patah semangat ya Bun....


#IbuJuara

Continue reading Happy Blogpost. Resep Marinasi Lele yang Membuat Nak Lanang Berhenti GTM

Saturday, June 18, 2022

Anak Desa Pergi ke Kota. Pengalaman ke Jakarta dengan Bus Non AC.



Waktu itu tahun 2003.

Usiaku baru menginjak 13 tahun, dan duduk di bangku kelas 2 SMP. Aku bersekolah di sekolah yang terletak di desa pesisir, jauh dari keramaian. Apa yang kami anggap kota adalah sebuah tempat di mana terdapat supermarket. Pokoknya jika di sebuah tempat ada supermarketnya, maka itu sah dikatakan k-o-t-a.

Imajinasiku tentang kota memang baru sebatas adanya supermarket.

Bayanganku tentang Jakarta – kotanya kota, adalah sebuah tempat imajiner yang hanya kaum tertentu yang bisa ke sana. Gedung-gedung tinggi, rumah mewah memiliki pembantu seperti sinetron Bidadari yang terkenal saat itu, dan orang-orang pergi ke kantor setelah menyantap sarapan roti. Yah, semacam itulah.

Aku yang setiap hari makan tahu tempe dan disuruh-suruh cuci piring cannot related, Bun!

Barulah pada waktu 2003 itu, sekolahku melaksanakan study tour ke Jakarta. Aku dan teman-teman senang bukan main. Maklum saja, Jakarta itu dalam benakku adalah kota yang wow. Ia cuma ada di televisi dan semua orang yang habis pulang dari Jakarta, menurutku terlihat keren dengan cerita-cerita mereka.

“Di Jakarta nggak ada sawah. Adanya gedung tinggi”

Begitu kata tetanggaku yang mudik Lebaran habis pulang dari Jakarta. Waktu itu internet belum masuk kampung, jangankan internet rumah, warnet saja belum ada.

Kembali ke perjalanan study tour. kami yang berjumlah tidak kurang dari tiga ratus siswa dikumpulkan dan dibagi per bus. Soal fashion, janganlah ditanya. Kami memakai style baju paling norak keren menurut kami. Tapi tidak lama setelah masuk bus, timbullah beberapa suara hoek-hoek anak-anak mabuk kendaraan. Ternyata kombinasi tidak menyenangkan antara; parfum yang dipakai anak-anak, tidak terbiasa naik bus, bau bensin yang menyeruak ke dalam badan bus, dan busnya tidak pakai AC.

Yups, kamu tidak salah baca. Bus yang kami tumpangi dari sekolah pesisir di Jateng sampai Jakarta selama lima hari TIDAK PAKAI AC sama sekali. 

Bisa dibayangkan panasnya seperti apa. Dan aromanya, beuhhh. Udah mirip angkutan kota.

Mengapa pihak SMP tidak mengadakan bus yang ber-AC saja?

Hingga kini pun jadi misteri. Namun kemungkinan besarnya adalah karena ingin menurunkan biaya iuran untuk study tour ke Jakarta. Dengan akomodasi menyedihkan sederhana saja tidak semua siswa sanggup membayar. Apalagi dengan angkutan premium seperti bus AC. Kami adalah anak-anak dari kampung, yang mana banyak dari orang tua kami berasal dari kalangan kurang mampu.

Aku masih ingat, waktu itu kami disuruh bayar Rp 300 ribu untuk perjalanan study tour ke Jakarta. Itu sudah termasuk biaya bensin, tiket masuk, makan, penginapan, dll. Biayanya bisa murah, karena memang ditekan seminimal mungkin. Saking minimalnya, perjalanan berangkat dan pulang sengaja dibuat malam hari untuk mengurangi biaya penginapan. Anak-anak diminta membawa bekal sendiri untuk makan malam di jalan.

Sebuah bekal yang tidak jadi dimakan akibat mabuk kendaraan, atau jyjyk dengan sekresi lambung dari teman sebangku.

Jadilah malam pertama perjalanan ke Jakarta berlangsung dengan jauh dari khidmat. Bayangan mau ramai-ramai karaoke musnah sudah tergantikan dengan hoek-hoek yang tidak berhenti. Guru pendamping tak henti-hentinya menyalurkan antimo dan minyak kayu putih – yang baunya tidak memperbaiki keadaan malah justru memperparah.

Barulah saat jam 12 malam ketika bus (mungkin) sudah sampai Cirebon, suasana menjadi hening karena kami tertidur pulas. 

Saat di pagi subuh, tibalah kami di lokasi pertama. Masjid Istiqlal. Lupakan check in di penginapan. Agen study tour lebih memilih mampir di Masjid Istiqlal untuk mandi dan ganti baju. Lagi-lagi karena ingin ngirit. Barulah setelah itu berangkat ke tujuan hari pertama.

Hari pertama perjalanan wisata kami adalah berkunjung ke Monas. Tentu saja. Karena lokasinya dekat dengan Masjid Istiqlal tempat mandi kami tadi. Aku merasa, Monas kok bagus sekali ya. Bisa ada apinya di atas, tinggi, megah, dan memukau siapa pun yang lewat di sampingnya. Begitu masuk, kami disambut dengan kang pemotong rumput yang bahkan alatnya belum pernah aku lihat. Itu lho, yang alatnya berputar-putar untuk memotong rumput. Pantas saja rumput di Jakarta rapi-rapi. Alatnya saja canggih begitu.

Sampai di Monas, pertama kalinya aku mencoba naik lift. Awalnya pusing dan ada rasa khawatir karena ruangannya kecil. Begitu di dalam, malah keasyikan karena ada sensasi naik dan turun. Begitu sampai puncaknya, aku senang sekali karena bisa melihat pemandangan kota Jakarta dari puncak Monas. Ini adalah bangunan tertinggi pertama yang pernah aku naiki. 

Masih di hari yang sama, perjalanan dilanjutkan ke TMII. Namun sayangnya malah hujan deras. Akhirnya tamasya yang direncanakan turun sambil jalan-jalan di area TMII harus diganti dengan jalan-jalan sambil tetap di dalam bus. Pihak tur guide alias bapak supir sendiri sambil menjelaskan apa yang ada di kiri dan kanan. Ada bangunan tradisional dari Aceh sampai Papua di sana.

Lanjut, kemudian sore harinya kami check in di penginapan. Tolong jangan bayangkan penginapan yang bertaraf hotel bintang lima, yang satu kamar isinya satu sampai tiga orang. Tolong jangan.

Penginapan yang dipilih oleh planner study tour adalah asrama haji (atau mungkin pesantren) yang satu kamarnya diisi sepuluh orang. Mandinya, oho, tentu saja harus bergantian. Teman duduk aku, Romi, dia lupa membawa handuk. Yang akhirnya pinjam meminjam punyaku. Ah, Romi memang dikenal suka lupaan dengan barang yang mesti dibawanya..

Malam hari, saatnya para siswi-siswi berbincang ria. Mereka saling adu kehebatan tentang apa yang dilakukan seharian tadi. 

“Aku di puncak Monas sampai hampir jatuh ke bawah, tahu!”

“Masa sih? Aku di TMII lihat kolam renang”

“Kalian sih sepele. Aku tadi dapat kenalan cowok lho!”

“HAH? SIAPA?”

“Itu, pengamen ganteng yang tadi nyanyi lagunya Sheila on 7 yang Kupetik Bintang”

-......-

Tentu saja kami menggunakan bahasa daerah yang aku ragu orang Jakarta akan mengerti. 

Malam semakin larut, hari bergeming, dan petualangan perjalanan dilanjutkan hari kedua.

Hari kedua.

Kami packing sekalian check out penginapan. Inilah hari paling membahagiakan yang kami nanti-nanti selama setahun. Main ke DUFAN!

Hari itu kami sepakat pakai baju olahraga supaya tidak hilang. Bajunya khas baju olahraga sekolah di desa. Nggak ada yang namanya ukuran S, L, M XL. Adanya hanya XXL. Hanya satu ukuran untuk semua. Sangat tidak estetik untuk dipakai foto bareng Mickey Mouse. Tapi siapa peduli, toh dulu belum ada Tiktok dan aplikasi pencitraan bernama Instagram. Jangankan sosial media, hp berkamera saja tidak ada. Kami pakai hape monophonic Nokia 3315 atau 3310. Itupun bangganya sudah luber-luber. Dikalungin ke mana-mana dan dipeluk setiap malam saat tidur karena takut dicuri. Kontras sekali dengan sekarang di mana rumah-rumah sudah dipasangi internet rumah sekaligus perlengkapan elektronik yang canggih-canggih.

Jadilah hari di mana kami ke Dufan adalah momen live to the fullest. Kami nggak mau menyia-nyiakan waktu dan mencoba segala wahana yang ada. Meskipun ini piknik mode murah meriah, Dufan tidak boleh dianggap sepele. Dufan adalah HIDUP itu sendiri. Tentang menikmati hidup dan masa bodo dengan apa yang terjadi di luar sana.

Meski cuma pakai baju olahraga sekolah, meski pakai sendal ala kadarnya, meski nggak bawa uang banyak, bodo amat. Aku mau bersenang-senang di Dufan.

Waktu itu pertama kalinya aku melihat begitu banyak wahana permainan yang modern dan berkelas. Di mana kalau di kampung, yang aku tahu cuma odong-odong pasar malam. Dufan tentu saja lima kali lipat lebih besar dan memukau. Aku mencoba masuk ke Istana Boneka, Halilintar, Bianglala, Kuda-kudaan, dan mungkin masih dua atau tiga lagi. Sebetulnya kurang puas, tetapi mau bagaimana lagi, antrenya itu lho. :D

Usai dari Dufan, aku merasa telah resmi menjadi anak gaul segaul-gaulnya. Aku merasa sudah sah ngomong lu- gue sambil membusungkan dada. Wahai Jakarta, engkau telah aku taklukkan – dengan naik Halilintar Dufan.

Itulah sekelumit kisah kampunganku pertama kali ke Jakarta. Seorang anak desa yang tidak tahu apa-apa, menginjakkan kaki untuk pertama kali ke kota besar. Terkagum-kagum tanpa henti dan ingin kembali lagi. 

Di masa-masa mendatang, saat lingkungan dan perekonomian ku membaik, aku beberapa kali pergi ke Jakarta. Entah untuk perjalanan dinas, ataupun mengunjungi relasi. Kini aku tidak lagi menggunakan hape monophonic. Eranya digital telah membuat smartphone seharga kacang sebungkus, dan tiap rumah dapat memasang jaringan internet menyatukan Indonesia.

Jakarta sudah berkali-kali merayakan HUT yang tiap tahun selalu ramai. Aku bisa dengan mudah mengakses info Jakarta melalui Internet Rumah dengan Wifi Cepat. Untung layanan Telkom Grup IndiHome sudah sangat memadai. Sehingga pekerjaanku jauh lebih cepat.

Sebuah pekerjaan yang kadang-kadang membawaku pergi lagi ke Jakarta. Meski berkunjung beberapa kali, sampai kapanpun tidak akan lupa kali pertama ke Jakarta di tahun 2003. Selamat Ulang Tahun Jakarta yang ke-495.


Andhika Lady
Continue reading Anak Desa Pergi ke Kota. Pengalaman ke Jakarta dengan Bus Non AC.

Monday, May 16, 2022

Review: Kehebatan Generasi ke-7 Blue Hyaluronic Acid di Laneige Water Bank

Pasti kamu sudah kenal dengan brand skincare kawakan asal Korea, Laneige (baca: le-nej). Dulu sebelum demam skincare seperti sekarang, Laneige sudah lebih unggul mengenalkan produk pelembap yang menjadi rahasia kulit glowing ala Korea. Mereka percaya, bahwa asal muasal kulit sehat terawat adalah kulit yang lembap. Oleh karena itu, Laneige menciptakan inovasi-inovasi baru yang membantu kulit menjadi lembap, seperti kulit sehat yang seharusnya.

Kamu juga pasti ingat, Laneige Lip Mask & Laneige Sleeping Mask yang dulu ramai dibicarakan? Nah, aku juga pakai tuh. Setelah memakai itu, rasanya kulit seperti habis disiram dengan seember air tanpa terasa basah. Kerennya, kelembapan itu terkunci dan menyatu dengan kulit seakan-akan berasal dari dalam.



Laneige New Water Bank

Sekarang, Laneige kembali mengeluarkan inovasi terbarunya. Adalah Water Bank, serangkaian skincare yang mengandung BLUE Hyaluronic Acid yang memiliki butiran 1/2000 kali lebih kecil dari Hyaluronic biasa. Ia juga diklaim 300% lebih efektif memulihkan kulit. Nah inilah kunci dari Blue Hyaluronic Acid. Logikanya, semakin kecil molekul maka semakin mudah terserap oleh permukaan kulit dan memiliki manfaat yang lebih baik.

Packaging



Laneige Water Bank datang dalam bentuk kemasan warna biru yang dikasih box lucubanget! Mau tahu? Ini bentuknya:




Selain itu, desainnya juga futuristik. Khusus untuk serum, cara membukanya adalah dengan diputar lalu akan keluar tonjolan untuk mengeluarkan isi serum. Praktis, tidak perlu buka tutup, dan nyaman dipandang saat ditaruh di meja skincare. Kemudian pelembapnya juga sangat elegan sekali bentuk kotak dan tidak kalah dengan serum di sebelahnya.

Key Ingredients






1.       Blue Hyaluronic Acid

Oke, izinkan aku untuk menjelaskan, apa sih sebetulnya Blue Hyaluronic Acid itu?

Laneige telah melakukan riset selama 38 tahun untuk menghasilkan Blue Hyaluronic Acid yang memiliki molekul 1/2000 dari Hyaluronic biasa. Ia juga diklaim membantu penyerapan 263x lebih cepat ke dalam kulit.

Setelah proses pengecilan molekul Hyaluronic Acid, kemudian dilakukan fermentasi menggunakan Alga Fucoidan. Fucoidan adalah substansi yang dihasilkan alga cokelat seperti mustard laut dan kelp, untuk perlindungan diri dari kekeringan yang disebabkan oleh sinar matagari dan juga luka yang disebabkan oleh ombak.

Dari kedua langkah di atas, menghasilkan ingredients yang dapat memulihkan kulit 300% lebih kuat.

2.       Ceramide

Ceramide adalah ingredients skincare yang juga dihasilkan kulit untuk menjaga skin barrier. Adakalanya kita butuh ceramide tambahan dari luat untuk menjaga skin barrier kulit. Soal skin barrier ini menurutku jangan sampai sembarangan diabaikan. Pasalnya seringkali kulit kita terkena exfoliasi, penekanan berlebihan, iritasi, penyesuaian skincare, penggunaan retinol, dll. Itu bisa mengakibatkan lapisan kulit agak menipis. Agak ya bukan menipis banget. Nah ini bisa dibantu dengan ritual skincare Ceramide. Untungnya Laneige Water Bank itu kandungannya healing banget jadi nggak perlu khawatir.

3.       Beta Glucan

Beta Glucan juga bermanfaat sebagai skin soothing & antiaging. Kombinasi antara hyaluronic dan beta glucan diklaim mampu untuk memberi kelembapan ekstra sekaligus memberi efek plum dan mengurangi tampilan kerutan halus.

Menurut Female Daily, saat ini belum banyak skincare yang menjadikan Beta Glucan sebagai ingredients utama lho. So, Laneige is one of a kind.

4.       Panthenol

Pantenol bekerja sebagai pengunci kelembapan kulit supaya tidak ke mana-mana. Jadi, setelah dilembapkan oleh Hyaluron, Beta Glucan, dan Ceramide, semua itu dikunci supaya kulit tetap lembap dan ideal.

 

Cara Pakai





Saat kulit dalam kondisi bersih, usapkan serum Laneige Water Bank Blue Hyaluronic secukupnya. Kalau di aku nggak perlu banyak-banyak karena bisa over moisture. Setelah itu ditap-tap sampai agak kering. Kemudian ambil secukupnya Laneige Water Bank Blue Hyaluronic Cream ke seluruh wajah.

Tidak perlu skincare tambahan, kecuali kalau siang hari perlu ditambah sunblock. Ini bisa dipakai baik AM maupun PM.

 

Efek setelah pemakaian





Efek lembap dari Laneige memang tidak diragukan lagi. Plumpynya instant, lembapnya bisa langsung dirasakan. Aku pakai ini selama 2 minggu, kulitku juga membaik dari segi tekstur dan kenyamanan. Oh iya, kadang aku juga pakai exfoliant yang mana sering terjadi kulit pecah-pecah. Namun sejak pakai Laneige Water Bank, itu tidak terjadi lagi.

Yuk #RechargeYourDay dengan rangkaian Water Bank dari Laneige. Jangan lupa untuk follow official Instagram @laneigeid

@andhikalady

Continue reading Review: Kehebatan Generasi ke-7 Blue Hyaluronic Acid di Laneige Water Bank

Saturday, March 26, 2022

, , , , , ,

Review Facial Wash Avoskin Natural Sublime - Si Sage Green Ajaib Bikin Wajah Bersih

Memilih pembersih wajah yang pas itu gampang-gampang susah. Terutama untuk yang kulitnya rewel seperti aku. Ada beberapa tipe pembersih yang bukannya bikin kulitku tambah bersih, tapi malah jadi kering dan mengelupas. Oleh karena itu, aku cukup picky dengan facial wash. Karena, sekali kulit mengelupas, sakitnya bisa berhari-hari dan cukup mengganggu aktivitas.

Nah baru-baru ini aku nemuin facial wash yang fluffy, empuk, dan punya efek lembut yang ajaib sekali. Namanya Avoskin Sublime Facial Cleanser.




Packaging




Avoskin Sublime Facial Cleanser datang dengan kemasan berwarna hijau sage. Menurut mereka, pacaking ini terbuat dari material yang sustainable dari sisa limbah industri gula. Wah, legit sekali nih, selain ikut menyelamatkan lingkungan, juga mengurangi rasa bersalah karena kalap belanja skincare.

Kemudian poin plus berikutnya yaitu saat paket datang, ia tidak menggunakan bubble wrap dari plastik, tetapi dari KERTAS DAUR ULANG saudara-saudara! Yang mana ini selain satisfying di mata juga kembali lagi tentang mengusung konsep cinta lingkungan yang dicanangkan Avoskin.

Soal packaging dari Avoskin, aku sudah percaya tidak ada yang gagal. Dari bentukannya terlihat sangat jelas sudah dilakukan proses riset mendalam tentang bagaimana produk dimunculkan.


Key Ingredients


Facial cleanser ini mengandung setidaknya enam bahan utama:

-          Hyaluronic acid

-          Merula Oil

-          Kale Extract

-          Niacinamide

-          Pentavitin

Hyaluronic acid mengandung substansi yang membuat kulit terjaga kelembapan dan kekenyalan. Merula oil tinggi antioksidan dan vitamin E, Kale extract untuk antioksidan dan antimikroba – sangat cocok untuk bahan facial cleanser. Niacinamide juga untuk merawat kulit yang mana sudah terbukti manfaat luar biasanya. Dan Pentavitin untuk menjaga dan memperbaiki skin barrier.

Agaknya tidak berlebihan kalau Avosin sungguh-sungguh niat memasukkan seabrek bahan bermanfaat di atas ke dalam facial cleanser. Umumnya sabun wajah merek lain cukup pelit memasukkan kandungan istimewa di dalamnya selain pembersih.

Selain itu, produk ini juga diklaim tanpa alkohol, tanpa pewangi, dan tanpa animal testing. Para wanita pejuang lingkungan, ayo merapat. Kita nikmati dan coba tekstur dan kesan pemakaian Avoskin Sublime Facial Cleanser.


Tekstur



Definisi yang tepat adalah: empuk. Teksturnya kenyal seperti gel. Sempat bertanya-tanya. Ini serum atau cleanser sih sebenarnya? Tapi begitu aku coba bubuhkan air, ada sedikit busa keluar. Yang mana aku kembali yakin bahwa ini adalah facial cleanser. Hahaha.

Saat diaplikasikan ke kulit, rasanya seperti dishayang. Beneran! Kulitku terasa dimanjakan dengan kelembutan. Aku kaget, kok bisa sih ada cleanser seempuk ini? Yakin nggak ya, kotorannya terangkat? Sempat berpikir seperti itu.

Lagi-lagi produk ini membuat aku berlama-lama mencuci wajah. Rasanya ingin dipijat-pijat terus lebih lama. Nah, penting banget nih punya produk facial cleanser yang membuatmu betah memakainya. Pasalnya pernah aku baca di sebuah web skincare, durasi optimal untuk membersihkan wajah adalah 30-60 detik. Cukup lama lho, kalau bosan sama facial cleansernya paling cuma usrek-usrek bilas.


Cara Pemakaian

Cara pemakaiannya mirip seperti facial cleanser pada umumnya. Tuang secukupnya di telapak tangan, lalu busakan sampai jumlah yang cukup. Usap dan pijatkan ke seluruh wajah secara hati-hati sampai bersih. Setelah itu, bilas dengan air sampai bersih.

#jengantenTips

Menurut pakar perawatan wajah Korea, hindari mengelap wajah dengan handuk badan. Sebisa mungkin siapkan handuk khusus untuk wajah untuk menghindari kontaminasi bakteri antar anggota tubuh.


Kesan Pemakaian




Setelah aku pakai, kesan instant yang muncul adalah kulitku menjadi lebih bersih dan kenyal. Aku merasa ritual bersih-bersih muka menjadi lebih naik kelas setelah pakai Avoskin Sublime Facial Cleanser.

Dalam jangka waktu 14 hari sejak pertama pemakaian, aku juga merasa wajahku lebih terawat dan terhindar dari masalah klasik akibat salah pilih facial cleanser.

 

Andhika Lady

@jakartabeautyblogger @avoskinbeauty #JakartaBeautyBloggerFeatAVOSKIN

Continue reading Review Facial Wash Avoskin Natural Sublime - Si Sage Green Ajaib Bikin Wajah Bersih

Tuesday, March 8, 2022

Review Maxim Sensitive Antiperspirant Roll-On

Aku termasuk orang yang pilih-pilih terhadap produk ketiak. Pasalnya, aku punya tipe ketiak yang mudah berkeringat. Apalagi kalau sedang pakai baju yang mudah basah, makin kelihatan itu ketiak basahnya. Selain bikin nggak PD, adanya basah pada ketiak juga mengundang banyak bakteri yang jika berkumpul, mereka akan mengadakan pesta 'barbeque' dengan bau yang menyengat.

Ketiak basah dengan kombinasi bau badan adalah kejadian yang kita hindari.

Untuk itulah aku merasa butuh produk keringat yang memadai, untuk mengatasi keringat berlebih tersebut. Biasanya yang kita kenal itu deodoran dan antiperspirant. Mungkin selintas agak mirip, padahal sama sekali tidak lho.

Deodoran adalah produk berbahan alkohol yang fungsinya untuk mengendalikan bakteri di area ketiak. Harapannya, ini akan membuat keringat menjadi tidak bau. Tapi apakah deodoran mampu mengurangi keringat? Jawabannya, tidak. Keringat tetap keluar seperti biasanya tetapi tidak bau. Itu saja.

Adapun antiperspirant adalah produk berbahan klorida atau senyawa alumunium lain yang berfungsi untuk mengendalikan keringat berlebih. Caranya adalah dengan menghalangi kelenjar keringat untuk berproduksi. Ini penting sekali untuk yang punya keringat berlebih di area ketiak, seperti aku contohnya.

Bayangkan, kamu sedang beraktifitas di siang bolong, menggunakan pakaian warna terang yang mudah basah. Kemudian karena kamu sangat aktif, area ketiakmu mulai memunculkan tanda-tanda keringat berlebih. Nah, untuk situasi seperti inilah penemu antiperspirant layak masuk surga. :'P

Namun adakalanya antiperspirant memunculkan efek samping, seperti iritasi dan gatal. Tapi lain halnya dengan antiperspirant yang satu ini..



Maxim Sensitive Antiperspirant Roll-On


Diformulasikan khusus oleh dokter di USA untuk menciptakan antiperspirant yang efektif mengurangi keringat berlebih bahkan untuk kulit sensitif sekalipun. Maxim Sensitive ini merupakan sejenis roll on untuk perawatan ketiak, khususnya untuk yang berkeringat berlebih.

Ingat para keringat + bakteri yang berpesta 'barbeque'? Nah, Maxim Sensitive ini berperan membuat keringat macet di perjalanan menuju ketiak sehingga bakteri dan keringat gagal bertemu. Sehingga ketiak basah & bau badan tidak sampai terjadi.


Aroma & packaging





Maxim Sensitive diformulasikan tanpa aroma sama sekali. Tahu sendiri kan, kulit sensitif kerap tidak berteman dengan wewangian yang terlalu keras. So, untuk itulah Maxim secara ajaib bisa membuat keringat berkurang tanpa bekas apa-apa.

Jangan salah lho, wangi produk ketiak yang kurang sip juga bisa jadi sumber pesta 'barbeque' bakteri yang justru menghasilkan bau badan tipe lain. 

Nah, packagingnya juga sudah tertulis secara jelas nama produk dan ingredients nya. Selain itu juga tertulis keterangan "Doctor Recommended" dan "Prescription Strength". Jadi memang secara kandungan dibuat lebih kuat untuk tujuan menghambat keringat berlebih secara jangka panjang.


Key ingredients





Maxim Sensitive mengandung Alumunium Chloride 10,8% yang berfungsi untuk menghambat perpirasi/keluarnya keringat pada kelenjar ketiak. Produk ini juga hanya dipakai di luar tubuh dan tidak boleh diterapkan pada kulit yang terluka.


Cara pemakaian


Maxim Sensitive Antiperspirant Roll-on lebih efektif digunakan saat malam hari. Caranya adalah dengan membersihkan area yang berkeringat (baca: mandi), kemudian langsung oleskan Maxim Sensitive Antiperspirant secukupnya di area ketiak. Diamkan semalaman sampai keesokan harinya.

Nah untuk pemakaian siang hari, kurang dianjurkan. Karena produk ini bisa ikut luntur dengan keringat. Untuk pemakaian pertama kali, usahakan dipakai rutin setiap hari. Setelah keringat mulai berkurang/berhenti, pemakaian bisa dikurangi menjadi 2 hari sekali atau 2 kali seminggu sesuai kebutuhan.

Harap diingat, Maxim Sensitive Antiperspirant memang bertujuan mengurangi keringat jangka panjang. So, kalau tiba-tiba keringat langsung berkurang, jangan kaget yaa.


Kesan Pemakaian


Saat pemakaian pertama kali, aku langsung takjub dengan produknya yang hampir tidak ada wangi sama sekali. Aku malah senang lho, sama produk yang wanginya samar/sama sekali nggak ada. Pasalnya kulitku cenderung yang rewel dan tidak suka dengan wewangian. Bahkan kalau aku pakai parfum, mending aku semprotkan ke baju daripada ke kulit. Hehe.

Kemudian keesokan harinya aku langsung merasakan keringat berkurang secara signifikan. Yang tadinya nggak PD dengan ketiak basah, alhamdulillah jadi lebih terkontrol. 


Keunggulan


Produk ini diformulasikan tanpa alkohol sehingga meminimalisir iritasi. Fungsi utamanya adalah mengurangi produksi keringat dalam jangka panjang sehingga perlu diterapkan secara rutin. 

Pada siang hari, apabila kamu ingin memakai deodoran dengan wewangian, itu juga bebas kok. Karena Maxim hanya dipakai malam hari dan dibuat tanpa pewangi buatan, sehingga lebih aman digunakan.




Continue reading Review Maxim Sensitive Antiperspirant Roll-On

Thursday, March 3, 2022

Cerita 10 Tahun Blogging Sejak 2012 - 2022

 


 

Sepuluh tahun ngeblog dapat apa?

Tidak terasa sudah sepuluh tahun aku berkecimpung di dunia beauty blogging. Awalnya memang hanya iseng untuk mengisi waktu luang sembari mengulas produk-produk makeup yang aku punyai. Aku masih ingat, produk pertama yang aku ulas adalah Kelly Pearl Cream. Itu adalah cream sejuta umat di tahun ibu-ibu kamu saat remaja. Namun sampai sekarang aku masih menemukan orang yang memakainya.

Waktu itu bisa dibilang tulisanku cukup viral di masanya. Nyatanya banyak olshop yang mengambil fotoku (tanpa izin tentunya) untuk menjual produk mereka. Kalau dikenang, cukup bikin ketawa juga. Berasa jadi artis meski cuma sekadar terpampang di blog.

Setelah ulasan pertamaku tersebut, aku merambah ke aneka produk-produk kosmetik lainnya. Lipstik, hair care, toiletries, makeup, skincare, dan aneka perawatan kecantikan lainnya. Ada sebuah masa, aku sangat produktif sekali. Bisa setiap hari ada postingan. Pokoknya kalau punya makeup baru harus direview meski dengan foto seadanya. Tidak sekali dua, blog ini mengundang perhatian brand kosmetik yang bersedia bekerjasama dengan blog Jenganten.com.

Jangan ragu untuk bergabung dengan aneka komunitas blogger

Waktu itu keberadaan komunitas blogger sangatlah penting. Kita bisa bertukar backlink, saling komentar, mengadakan gathering, dan saling mendukung dan blogwalking satu sama lain. Aku pun bergabung dengan beberapa komunitas, Indonesia Beauty Blogger, Blogger Perempuan, Kumpulan Emak Blogger, dan yang sekarang masih aktif, Jogja Bloggirls.





Tahun demi tahun berlalu. Aku masih setia ngeblog, meski kadang ada on off. Semakin lama aku menyadari, penghasilan dari blog tidak selalu berupa kontrak-kontrak kerjasama, tetapi terbukanya banyak networking baru yang mengenalku karena membaca blog. Untuk itulah aku bisa bertahan sejauh ini.

Salah satunya pernah ditawari pekerjaan di media hanya karena mereka mengetahui profilku dari blog ini. Padahal basic pendidikanku adalah IT, bukan sastra, jurnalistik atau komunikasi. Namun, mereka tetap memberikan kepercayaan padaku dengan memberikan posisi sebagai editor.

Tulisan-tulisanmu di blog akan membuat orang lebih punya trust dan memperkuat portfolio.

Menulis blog juga membuat indeks kita tercatat di Google. Sejauh ini meski banyak gempuran aneka sosial media seperti Youtube, Instagram, Tiktok, Twitter, dll – blog masih menjadi primadona kalau untuk urusan indeks SEO. Coba aja, kamu posting soal – review mascara misal, kalau dipost di IG lama-lama postingan akan tenggelam kecuali ada orang selo yang scroll sampai ke bawah-bawah. Namun dengan blog, kamu tetap bisa menemukannya meski itu artikel yang sudah ditulis bertahun-tahun yang lalu.

Saingan utama blog menurutku bukanlah sosial media. Tetapi banyaknya media mainstream yang mengambil ceruk tulisan opini khas blogger. Misalnya ada website yang membahas topik mengenai review makeup. Ini tentunya menjadi tantangan para beauty blogger untuk dapat menyesuaikan perkembangan zaman. Kita perlu dan musti menjaga kesan autentik yang tidak dimiliki oleh blogger ataupun media manapun. Hanya kita, yang punya nilai spesifik yang tidak dapat ditiru oleh siapa pun.
Autentik itu dapat berupa konsistensi menjaga kualitas tulisan, writer persona, kualitas review, meningkatkan standar foto, dan melakukan langkah-langkah yang membuat blog kita semakin mudah dan cepat diakses.

Menjadi blogger yang autentik, layak untuk dijaga dan dipertahankan. 


Tentu kita sebal sekali apabila ketemu blog yang bagus tetapi lambat diakses. Atau bahkan kebanyakan iklan. Yang tadinya mau baca, eh ternyata disambut iklan berlapis-lapis, nggak jadi baca deh.
Salah satu keinginanku adalah mengubah platform blog ini menjadi Wordpress. Selain lebih banyak fitur, customisasinya juga lebih banyak. Dulu aku jiper sama Wordpress. Aku pikir, karena toolsnya sangat banyak, takutnya malah bikin aku bingung dan malah melalaikan kualitas konten. Pasalnya akan lebih banyak waktu terbuang untuk mengurus domain, hosting, endesbrey, endesbrey ketimbang mikirin ide tulisan.

Bukannya blogger itu utamanya adalah menciptakan konten? Bukannya mengurusi pritilan teknis yang bisa diserahkan ke ahlinya?

Kegalauanku ini cukup tercerahkan setelah membaca-baca tentang simple Wordpress di Niagahoster. Gampangnya, ini adalah layanan sederhana tapi powerfull yang mampu mendukung kinerja blog maupun website skala kecil-menengah. Bahkan ada juga fitur untuk online shop, khusus untuk UKM yang ogah bersaing perang harga di marketplace mainstream. Aku punya beberapa toko, dan kayaknya cocok juga kalau dipasangi Simple Wordpress.

 



Tahu nggak sih, sekarang ada promo diskon 70% dan tambahan 10% dengan kode ANDHIKALADY. Yuk segera cobain promo menariknya.

Kapan ya enaknya pindahnya?

@andhikalady

Continue reading Cerita 10 Tahun Blogging Sejak 2012 - 2022