Showing posts with label wisuda. Show all posts
Showing posts with label wisuda. Show all posts

Thursday, August 6, 2015

[Makeup Job] List Job Makeup Untuk Bulan Juni - Agustus

Oke, saya ngeblog lagi. 

Setelah tadinya saya ngepost tentang perkenalan Besok Siang yang keren itu, kali ini saya kembali ke habitat mainstream beauty blogger, yaitu bikin post tentang makeup. Meskipun blog ini sebetulnya nggak terlalu berkutat di biuti-biuti juga sih. Kadang saya ngepost tentang hal-hal random yang tiba-tiba merasuk di pikiran. Pembaca, percayalah bahwa segala jenis kerasukan itu nggak menyenangkan, termasuk tiba-tiba kerasukan pikiran. Maka dari itu, saya bikin blog dan menulis supaya tetap waras. #ambiliketkepala

Jadi ceritanya, selama bulan Juni - Agustus, saya mendapatkan beberapa kawan yang ingin dirias. Ada yang untuk among tamu, wisuda, sampai foto studio untuk wisuda. Well, karena foto-foto ini sudah numpuk banyak, akhirnya saya pajang juga di blog ini. Ohya, kali ini saya memberanikan diri memakai tagar #makeupjob , karena lama-lama alhamdulillah makin banyak juga kawan-kawan yang mau dikorbankan dirias sama saya. 

Tentang Makeup Job, Tukang Rias, MUA, dan Dukun Manten

Masih bicara tentang makeup job, tukang rias, perias, atau bahkan MUA ternyata ada hal yang merasuk pikiran saya (lagi-lagi kerasukan pikiran. Dan saya kerasukannya rame-rame bersama tim Besok Siang). Sebetulnya sebutan yang pas untuk orang yang berprofesi mendandani orang lain itu apa? Perias, yes. Tukang rias, yes. Dukun manten, uhmm, kayaknya butuh kriteria khusus untuk bisa disebut dukun. MUA alias Make Up Artist, yee, ehmm, ini pun kayaknya butuh syarat tertentu yang nggak gampang untuk dapat menyebut diri sebagai MUA. Di bayangan saya, MUA itu adalah profesi yang menjadikan makeup sebagai suatu seni kreatif dan di salah satu indikatornya, adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup. cmiiw. Seperti dikutip dari laman ini, kata artist artinya adalah: 
a person who produces works in any of the arts that are primarily subject to aesthetic criteria.

Seperti halnya seniman, pelukis, dokter, koki, guru, tukang kayu, dll, setiap profesi itu membutuhkan syarat khusus untuk dapat disebut dengan label tersebut. Dokter harus kuliah selama enam tahun sebelum bisa menyandang gelar dokter. Koki juga harus menempuh belajar dulu bertahun-tahun, menghafalkan nama-nama bahan makanan yang aneh-aneh seperti foie gras, dll, untuk baru dapat disebut sebagai koki. 

Cuman yang sering saya temui sehari-hari lebih seringnya adalah orang yang baru berhasil memasak bubur kacang ijo saja sudah bisa menyebut diri chef. Atau orang yang baru bisa ngerias temannya saja sudah menyebut diri sebagai MUA. Saya bisa juga dong nyebut diri sebagai dukun manten, kalau saya pernah merias manten?

Menyandang sebuah profesi itu punya tanggung jawab tersendiri yang nggak main-main. Kalau kamu guru, pasti kamu ingin memberi contoh yang baik kepada anak didik supaya murid-muridmu menjadi anak-anak pandai bukan? Bisa memberi contoh yang baik sekaligus mendidik adalah tugas besar dan ada bagian tanggung jawab di dalamnya. Maka dari itulah aku belum pengen jadi guru meskipun punya gelar S.Pd. Termasuk profesi MUA atau Dukun Manten, yang bisa dibilang istilah itu adalah kasta tertinggi dunia rias-merias. Hehehe. Jadi kalau cuman bisa ngerias temen-temen, sementara di lain hari cuman ongkang-ongkang kaki sambil nonton film, masih jauh lah, kalau disebut MUA. Nah kalau itu saya banget. Hehehe.

Sejauh saya me-makeup orang dengan senang, saya sudah senang. Seperti teman-teman saya ini:

1. Julia Alela, rias untuk keluarga manten.



Ini sudah yang ke-3 kalinya saya ngerias Elaraisa (karena mirip sama Raisa. L). Dari mulai doi mau belajar rias untuk lamaran, prewedding, dan ini untuk rias keluarga manten. Ohya, Ela sedang hamil anak ke-2 loh, selamat ya.

2. Kiki, Wisuda UAD




Mba Kiki ini wisuda UAD, ingin dirias simpel. Semuanya serba simpel, mulai dari hijab dan rias yang no cukur alis. Selamat atas wisudanya.

3. Prima, Foto Studio





Mbak Prima ini termasuk salah satu orang yang rela rambutnya saya sasak untuk dibuat sanggul. Padahal rambutnya pendek banget, sempet kesulitan di awal, tetapi alhamdulillah akhirnya jadi juga sanggul yang lucu-lucu simpel. Ini dipakai untuk foto studio. FYI, UNY itu mensyaratkan foto ijazahnya harus pakai konde untuk lulusannya. Selamat ya sudah lulus, semoga karir jurnalisnya makin cemerlang.

Akhirul kata, dukung cita-cita saya menjadi MUA dan Dukun Manten dengan follow IG @jenganten


Sunday, January 25, 2015

Wisuda S2 UGM 2015, Mbak Seftina & Mbak Darma

 


Kawan pertama tahun 2015 yang saya rias wisuda adalah Mbak Seftina, M. Sc & Mbak Darma, M.Sc. Selamat ya, semoga ilmunya bermanfaat dan cepet nular.

Ada cerita ketika mendapat testimoni dari mereka. Ketika ketemu lagi keesokan harinya, saya tanya "Gimana riasannya, masih tahan sampai sore? Bulu matanya anti badai nggak? Jilbabnya jadi berantakan nggak?". Pokoknya saya tanyanya udah kayak orang rempong banget. Ya gimana ya, saya perlu memastikan bahwa riasan hijab-do mereka nyaman dan bikin merasa cantik. Ehm, sebenernya sih karena saya masih tahap belajar jadi suka khawatir kalau riasannya bermasalah. Mereka jawabnya "Awet banget Lady, bulu matanya nggak lepas sama sekali. Terus bedaknya nggak luntur sampai sore, jadi penasaran produk yang dipakai apa aja. Temen-temen pada bilang ini alus dan natural, ada tiga loh yang antri didandanin kamu". Alhamdulillah, rasa was-was saya hilang seketika. Meskipun banyak yang saya rasa masih kurang, saya tetap senang bisa merias lagi untuk ke sekian kalinya. :)

 

Sunday, December 7, 2014

Selamat Wisuda, Mifta, M.Pd & Niluh, M.Pd

Layaknya hari Sabtu seperti biasanya, tapi pagi kali ini beda. Saya bangun lebih pagi sekitar jam 3.00 untuk merias sahabatku, Mifta dan temannya, Niluh. Mifta adalah kawan saya semasa KKN, doi lulus S1 3,5 tahun dan langsung dapet beasiswa S2 dari kampus. Sekarang sudah menikah dan sedang hamil 3 bulan.

Kayaknya asik nih, wisuda lagi hamil dan ditemenin sama suamik. Ceilahh...

Nah, pendek kata, saya senang ahirnya dimintai untuk membantu merias dia saat wisuda. Memang saya belum pernah secara resmi membuka jasa rias-riasan/MUA-MUAan, tapi alhamdulillah hampir selalu aja ada yang minta diriasin ketika acara-acara seperti ini. Biasanya temen-temen lama, atau temen-temennya si temen. #temenception

Niluh dan Mifta


Jangan dibandingin sama yang tengah ya, saya lagi nggak pake makeup blass, dan belum mandi.
Di kesempatan ini saya juga ikut membantu pasang sanggul untuk Mbak Niluh. Saya eksaitid banget, karena baru kali ini saya dapet kawan yang wisudanya minta pakai sanggul. Biasanya saya cuman menyanggul untuk menari Bali, yang mana sasaknya nggak begitu ribet-ribet banget. Kalau sanggul untuk wisuda, kan harus rapian dikit dong. :). Yeah, akhirnya sanggul ala Jenganten berhasil dipasang deh,,,,




Lalu untuk Mbak Mifta, ada special request kalau hijabnya pengen pake topi. Katanya sudah kebiasaan pakai topi, jadi pas saya tawarin untuk memakai inner, doi menolaknya. Hehe. Tak apa, toh pake topi pun masih bisa dibentuk biar lucu kayak hijab wisuda.

Jarum-jarum di samping itu belum dibenerin. :)
Rumah Mbak Mifta tepat di depan Kali Code. Jadi bisa foto-foto sambil ilhat sunrise.
Ya begitulah aktifitas Sabtu pagi saya, pulangnya saya sarapan, nyanyi-nyanyi dan nonton TV dengan bahagia. 



Wednesday, November 19, 2014

Makeup Wisuda untuk Zana & Novita


Selamat untuk Zana, M. Si dan Novita, M. Si atas wisuda S2nya. Nggak nyangka temen satu angkatan di SMA dulu, sekarang sudah menyandang gelar Master dalam usia semuda ini. :3. Iya, 24 itu masih masuk muda kan ya? Hehehe. Merupakan kehormatan bagi saya menjadi perias kalian di hari itu. Mudah-mudahan gelar Masternya segera menular. Aamiin. :)


Aktifitas rias-merias pas wisuda kemarin sekaligus jadi ajang reuni kami. Soalnya memang sudah sejak SMA kami belum pernah ketemu, yeahh sekitar 6 tahun yang lalu deh. Sudah lama ya? Pokoknya semua hal diobrolin, dari si A yang akhirnya nikah sama B, si B yang dapet beasiswa ke luar negeri, dan semua kisah-kisah khas jaman SMA yang seru banget dibahas. Ohya, karena sebuah alasan, saya tidak memotret foto before mereka. Dan, foto afternya ternyata nggak begitu bagus dan agak ngeblur. Tapi meskipun begitu, nggak jadi persoalan kan, kalau saya menulis aktifitas ini sebagai cerita bahwa 'Eh, saya abis reuni sama kawan SMA loh, memangnya cuman Cinta yang bisa reuni? Meskipun nggak ada tokoh Rangga di sini'. Haha.

Selamat sore,
Tulisan ini ditulis dengan sepenuh hati,
+Andhika Lady Maharsi

Thursday, June 19, 2014

Wisuda Dedek Arma

 Yeeey, setelah saya wisuda beneran, akhirnya saya bisa ngedandanin temen yang juga mau wisuda lagi deh. Dia adalah Arma, adeknya suaminya temenku (duh, kepanjangan ya nyebutnya?). Ya pokoknya itu deh. :3. Dedek Arma ini baru lulus SMA, tapi seremoni wisuda SMA dia udah seperti wisuda universitas, alias ada acara pakai kebaya, dandan, pakai medali kelulusan, dan sebagainya.

Merias wisuda SMA,jujur saja lumayan tricky, karena kita harus bisa membuat wajah menjadi fresh cantik tapi tidak menor seperti wisuda Universitas atau makeup pernikahan. Menurut pendapat saya, seorang abegeh ya dandanlah seperti abegeh, tidak perlu berlebihan.


 Salah satu tips dandan untuk mendapatkan tampilan natural dan young adalah dengan bermain warna secara tepat. Lupakan cara untuk membentuk ulang alis. Karena alis anak muda biasanya masih natural dan tidak perlu diubah-ubah lagi. Selebihnya, aplikasikan makeup seperti biasa (foundation + shading + bedak + blusher + eyeshadow + lipstik).

Pengaplikasian warna yang saya lakukan untuk Dek Arma adalah menambahkan eyeliner warna tosca di waterline (di garis mata bagian bawah). Ini bertujuan supaya kesan fun-nya tetep ada. Kebetulan Dek Arma ini memang sudah fun dari sononya (LOL), sehingga menurut saya pas banget kalau dipakaikan warna-warni makeup yang cetar di bagian tertentu.


Kemudian untuk hijab, karena Dek Arma sudah menyiapkan hijabnya sendiri, saya tinggal mengolahnya supaya lebih tertata pakai peniti-peniti. Bikin model hijab begini nggak susah kok, hanya butuh dua helai hijab, satu inner ninja dan beberapa jarum paku. Jarum paku itu adalah jarum penyemat yang tidak punya kepala seperti jarum pentul, bentuknya seperti paku yang kecil-kecil.



Okay, demikian cerita singkat tempo hari. Selamat buat Dek Arma, semoga ilmunya bermanfaat dan berlanjut terus dengan berhasil. :)

Friday, March 28, 2014

Dandan Sendiri Buat Wisuda, Why Not?

Alhamdulillah, bulan ini saya berhasil diwisuda. Horeee. Ehm, kayaknya saya sedikit lebih telat bercerita di blog ini, mengingat wisudanya sudah sebulan yang lalu. Hehe. Akhirnya saya bisa selesai kuliah di bangku S1, meskipun pas kuliah saya nggak pernah duduk di bangku betulan. Pokoknya wisuda itu, rasanya ya kayak wisuda. Bayangin aja saat di mana kamu merasa kuilminasi ilmu yang kamu pelajari sekian tahun di perkuliahan akhirnya menuai hasil juga. :p

Lalala.
Dulu selagi saya baru pertama-tama mulai menulis blog Jenganten, saya pernah berangan-angan suatu hari nanti akan bikin posting 'cara dandan sendiri buat wisuda'. Tapi nasib membikin saya wisudanya agak molor dari waktu ideal, sehingga baru bisa menulis sekarang. Memang sih beberapa kali dandanin wisuda temen, tapi kan, akan lebih afdol lagi kalo yang ngasih tips juga sudah wisuda. Wkwk.

Jadi saya mulai saja ya. Sebenarnya dandan wisuda sendiri itu mudah, temen-temen saya juga banyak yang dandan sendiri untuk wisuda. Lagipula dandan sendiri punya banyak nilai positif dibanding dandan di salon atau didandanin orang lain. Syarat dasarnya cuman tiga aja kok: kamu cewek, kamu niat, dan kamu pede.



1. Kamu cewek.

Sebelum dilanjutkan, saya mau meluruskan bahwa tips dandan buat wisuda itu ditujukan untuk cewek. Ya elah, masa saya ngasih tips hijab sama pake maskara buat cowok (yakalo suka sih silahkan saja. Hehe). Buat cowok mah, pake toga rapi sama sepatu kinclong aja udah ganteng. Well, dengan asumsi kamu adalah cewek, saya menyimpulkan bahwa secara default, mayoritas cewek pasti kepingin tampil menarik. Iya kan? Iya dong.

Sebagai cewek, kamu pasti punya bayangan mau seperti apa penampilan kamu ketika wisuda nanti. Ada yang pengen sanggul, pengen hijab glamor, pengen hijab sederhana dan sebagainya. Nah, mulai dari ini, silahkan tentukan visimu apa.

Yuk lanjut ke poin dua.

2. Kamu niat.

Yes, ini poin kedua nggak kalah pentingnya dari poin pertama. Untuk bisa dandan wisuda sendiri, kamu harus niat! Niat yang paling minimal adalah niat menyelesaikan skripsi/thesis/TAmu supaya bisa ikut prosesi wisuda. Duh, jleb banget memang, apalagi kalau saya denger kalimat ini enam bulan lalu, fyuhhh. #eh #mengenangMasaBerjuang.

Niat yang berikutnya adalah: 1) niat rawat muka, 2) niat belajar makeup, 3) niat mencari referensi dandan dari manapun, dan 4) niat menabung untuk membeli alat makeup. Saya paham banget ketika saya masih jaman mahasiswa dan masih minta duit orang tua, harga makeup itu rasanya mahaaal banget. Pokoknya buat beli lipstik aja musti mikir sepuluh kali supaya -meskipun bibir saya berwarna- mulut saya nggak berhenti mengunyah cokelat favorit. #eh

Jika terkendala dengan niat nomor 4, bisa juga diakali dengan meminjam alat makeup dari Ibu/Kakak/temen dsb. Namun tidak ada salahnya memiliki eyeliner, lipstik, foundation, eyebrow, mascara, blush on dan bedak untuk menunjang dandanan kamu ketika wisuda. Toh barang-barang itu kelak nggak cuma dipakai untuk wisuda saja, melainkan bisa juga dipakai untuk interview kerja, kondangan, hangout atau acara formal yang membutuhkan berdandan.

Tapi perlu dicatat juga, saya di sini nggak serta merta mengajari untuk boros membeli makeup. Jangan sampai kamu gila-gilaan belanja makeup, tapi uang kos belum dibayar, atau spp belum lunas, atau bela-belain makan mi instan tiap hari sampe sakit. Duh, jangan ya. Tapi saya yakin Jenganten-jenganten mahasiswi cantik yang membaca post ini sudah sangat bijak mengelola finansial masing-masing. Bukan begitu?

Niat merawat muka itu penting sebab untuk menghasilkan makeup yang sempurna, kondisi kanvas alias kulitknya harus terawat. Jangan males untuk rutin membersihkan muka tiap hari dan pakai pelembap yang cocok untuk kulit. Atau kalau kamu lebih niat lagi, coba rutin pakai masker yang bikin kulit lebih terhidrasi.

Lalu niat belajar makeup. Perlu diketahui, makeup wisuda itu nggak seperti makeup sehari-hari yang cuman butuh pelembap sama bedak doang. Kamu harus mengira-ngira: Jenis kulitmu apa, foundation apa yang cocok di warna kulit kamu dan bisa tahan lama seharian, cara memasang bulu mata, cara memakai eyeliner, cara pakai blush on supaya pipi merona, cara memakai hijab/hair do yang cantik, cara blending eyeshadow, dan cara membentuk alis.

Sudah niat belajar, lalu dari mana kita belajarnya? Sekarang ada internet dan para suhu beauty blogger baik dari dalam maupun luar negeri yang rajin mereview produk makeup. Manfaatkan pula hijab tutorial/hair do tutorial dari Youtube atau mbak-mbak Hiijaber yang kini sedang naik daun. Atau dapat juga datang ke salon dan minta les singkat cara bermakeup. Intinya kalau semua sudah diawali dengan niat, mau pakai cara apapun untuk belajar, pasti ada jalan.

Sesuaikan juga dengan visi-misi kamu ketika hendak dandan sendiri untuk wisuda. Kamu yang ingin wisuda dengan hijab dan makeup minimalis, carilah tutorial yang menampilkan tips hijab tutorial. Kamu yang ingin hair do sanggul cantik carilah tutorial menyasak rambut. Intinya semuanya terserah kamu. :)

Btw, beberapa tutorial hijab dan makeup wisuda cantik yang ditulis beauty blogger kondang Jeng Vindy Yang Ajaib bisa dicek lho di sini, di sini, dan di sini.

3. Kamu Pede

Kamu sudah mengakui kalau kamu cewek. Kamu sudah memiliki gambaran mau tampil bagaimana ketika wisuda. Kamu sudah niat belajar makeup. Lalu apa lagi? Yups, kamu harus pede dengan dandanan kamu. Lakukan try out jauh-jauh hari sebelum hari H. Cobalah beberapa macam dandanan dan teknik yang berbeda-beda. Foto wajahmu before-after dan simpan di direktori PC/Laptop kamu. Lihat hasilnya, kamu suka nggak? Atau ada yang kurang sreg? Nah, di sinilah kamu mulai belajar dan mengenal kontur wajahmu sendiri. Makin sering kamu coba, makin PD dan makin terampil menggunakan alat-alat makeup.

Keuntungan dandan wisuda sendiri:

1. Tidak perlu bayar jasa makeup ke salon.
2. Bisa bangun lebih siang karena nggak perlu ngantri di salon. LOL
3. Bisa berdandan sendiri merupakan nilai tambah buat kamu untuk step-step selanjutnya setelah lulus, misalnya untuk interview bekerja atau bekerja juga.
4. Kamu bisa ikut dandanin anggota keluarga lain yang cewek, misal Ibu kamu. Rasanya seneng banget lho, kalo bisa dandanin Ibu sendiri ketika hari spesial.
5. ,,, dan lain-lain sebutkan sendiri.

Lalu ketika hari H, kamu udah cantik hasil dandanan sendiri, lakukanlah hal yang sama: pede. Kamu sudah bangun pagi, dandan sendiri, banggalah dengan karyamu sendiri meskipun kamu merasa belum sempurna dan perlu banyak belajar (kayak saya). Kalau sudah begitu, tinggal duduk manis, nyanyi Indonesia Raya dan siap-siap maju mengambil ijazah.. :D

 




Friday, February 7, 2014

Wardah Lip Palette Chocoaholic



Beberapa waktu lalu, saya sudah mereview Wardah Lip Palette Perfect Red di sini. Kesimpulannya: saya suka sama lipstik palet tersebut. Meskipun sana-sini banyak yang bilang kekurangannya banyak, seperti teksturnya nggak nyatu di bibir, pas dipakai sedikit berbeda dengan lipstik aslinya, gampang kering, dll. Tapi sejauh ini, saya masih oke-oke saja dengan lipstik yang datang ramai-ramai delapan warna dalam satu wadah itu. 




Saya suka dengan lipstik yang datang berramai-ramai. Ihihi. Melihat warna-warni lipstik dalam satu waktu itu rasanya surga. #eh

Kiri: Chocoaholic, kanan: Perfect Red (sudah dicolek)

Oke, kembali ke topik. Wardah sebagai produsen kosmetik lokal memproduksi tiga jenis palet lipstik yang terdiri dari varian lipstik keluaran Wardah. Masing-masing palet tersebut berisi delapan variasi warna yang berbeda. Tipe Perfect Redadalah kumpulan lipstik nuansa warna merah. Tipe Pinky Peach kumpulan warna pink, dan yang akan saya review singkat kali ini adalah tipe Chocoaholic, yaitu kumpulan lipstik dengan nuansa warna cokelat/nude natural. 


Menurut saya, tipe kemasan lipstik palet begini cocok diterapkan untuk kawan-kawan yang suka bereksperimen dengan warna-warni lipstik. Cara pakainya menggunakan kuas dan bisa dicampur dengan warna lainnya. Selain itu, karena faktor harganya yang cukup murah, tipe lipstik palet ini juga cocok dipakai kawan-kawan yang ingin belajar pakai lipstik macam-macam tanpa harus membeli banyak warna. Lebih hemat kan?

Yuk kita bahas soal warnanya, 



Wardah Chocoaholic, meskipun judulnya cocoa/nude/cokelat, tetapi pada kenyataannya warna-warna lisptiknya sangat bervariasi. Dari warna merah menyala, merah darah, pink agak peach sampai warna nude natural ada dalam satu palet. Begini warna-warnanya:
 

Exclusive 44:Berwarna merah gelap, agak seperti merah darah. Tekstur lembut dan mudah menempel ke bibir tanpa menggumpal.
Matte 09:Berwarna merah hangat/warm menyala. Teksturnya matte, hampir tidak ada kilap sama sekali. Cocok untuk makeup retro. Seperti temen saya, Santi yang memakai makeup Arabian.





Excluseive 26:Berwarna merah dingin/cool dengan level kemerahan yang lebih natural dari Matte 09. Cocok untuk kawan-kawan yang berkulit cool.
Exclusive 41:Warna peach natural.
Exclusive 49:Warna peach dengan hint orange.
Matte 20:Warna nude yang sempurna menutup bibir. Tekstur matte. Cocok dipakai untuk yang pengen pakai lipstik tapi nggak kelihatan pakai lipstik.

Saya memakai Matte 20. Seperti tidak memakai lipstik, namun mampu menutup kekurangan pada bibir.

Exclusive 48:Warna pink dengan hint cokelat yang natural.

Exclusive 37:Warna pink hint cokelat dengan kondisi warna yang hampir mirip dengan Exclusive 48.
  

Oh iya, review tentang kuas, kemasan, tekstur, dan lain-lain bisa tengok di post saya yang Review Perfect Red Lip Palette.

Yang foto terakhir, saya pinjem gambar mbak Aprissya dan Desiana untuk ngikut nampang di jenganten.com. Hihi. Foto tersebut diambil ketika kami Yudisium di Fakultas Teknik bulan kemarin. Alhamdulillah, akhirnya saya yudisium juga. Status mahasiswa S1 hilang sudah. Kelak impian saya dandanin wisuda yang bukan ke orang lain akan terlaksana juga.:')

Kabar lain, saya sekarang sedang di Manokwari untuk urusan kerjaan. Kalau kata Jeng Hana Anindhita, makanan di sini enak-enak, makannya saya kemarin kulineran Papeda yang katanya makanan khas sini. Apa sih Papeda? Itu semacam makanan terbuat dari sagu, bentuknya kenyal kayak lem. Rasanya tawar, tetapi ketika dihidang bersama kuah ikan dan cah kangkung, rasanya jadi 10 kali lipat lebih nikmat!! Apalagi dimakan di daerah asalnya.

Papeda

Btw, btw, saya ke Papua cuma bawa satu palet lipstik ini loh. Dan selesailah semua masalah pergincuan. Hehe.


 

Ads