Perlu diketahui bahwa postingan ini bukan mau membahas tentang orang yang
ohmygod,
jangankan-mau-nikah-mau-pup-aja-musti-koar-koar-supaya-sedunia-tahu (??), tapi semacam OOTD dan acara ketemu teman-teman sayah sebagai pemilik blog
www.jenganten.com . Mwahahahaha. FYI, foto-foto yang ada di sini diurutkan berdasarkan skala prioritas. Makin duluan tertampil, makin pentinglah fotonya. Makin ke bawah, yeah, begitulah. :p
Ini adalah foto yang paling penting. Menayangkan
style fashion a la model papan atas OOTD selama jadi tamu di pernikahan paling besar abad ini.
- Foto kedua, foto bareng Mbak Astri dan putranya, Aswin.
- Foto ketiga, foto bareng geng Makeupnista, beauty blogger paling keceh sejagat.
 |
| Jeng Peny, Jeng Puput, Jeng Vicky, Jeng Connietta, Jeng Tintas, Jeng Nia, Jeng Momon, Lady, Jeng Ephong, Jeng Popon. |
- Foto keempat, lima, enam dan tujuh adalah sama sekali enggak penting.
Tapi demi kemaslahatan umat dan keselamatan nyawa saya, akhirnya dengan berat hati saya memajangnya. Yeah, abis gimana, saya nggak mau mendapati berlembar bon-bon seperti sewa hotel, berpiring nasi liwet, sate ayam, tengkleng, zuppa soup, dawet ayu, sampai ongkos transport Jogja - Solo tiba-tiba muncul di depan rumah saya. Tidaaaaaks!! Sudah susah-susah dandan pake bulu mata, pakai celana yang dikira stoking, sampai bangun pagi buta jam 5 demi kamuh, cuma demi kamuuh Braaa. Kamuuhh.. :p
 |
| Ikut menyusup di kamar manten setelah siraman. |
Jadi ceritanya saya sama
Momon harus rela diculik dua orang Om-om di pagi buta yang kemudian diketahui namanya adalah Ndok dan Titit (iya, namanya memang Titit) lalu dibawa kabur ke Solo seperti layaknya tuan putri (Hoek). Lalu kami ikut menyaksikan prosesi siraman, jualan dawet, dan midodareni. Sejujurnya sih saya baru pertama kali melihat prosesi seperti ini, soalnya jaman sekarang kebanyakan orang nikah dibikin simpel dengan meninggalkan berbagai macam ritual adat.
Dan ternyata, menyaksikan semua prosesi nikah si Bra Arum ini membuat saya senang. Dia hampir 100% menggunakan adat Solo, sebuah adat Jawa yang saat ini sudah mulai ditinggalkan. Pakai sanggul Bokor Mengkurep, pakai baju Solo Putri, pakai paes, sampai acara resepsinya pun
full musik gamelan.
 |
| Saya sama Momon ikut nimbrung di malam Midodareni. |
Keesokan harinya saya juga ikut ke Kapel untuk menyaksikan pemberkatan nikah. Ini juga pertama kalinya saya menyaksikan prosesi janji nikah di Gereja. Ada janji nikah, ada ucapan "
I do", ada doa-doa, ada nyanyian dan lain-lain di mana saya yakin sama magisnya dengan "Saya nikahkan" dan "Saya terima nikahnya". :')
 |
| Random pict ketika resepsi. Yaampun, Bra Arum cantik sekalii. |
Akhir kata, semoga pernikahan kalian diberkahi, bisa menjadi pelengkap satu sama lain, dianugerahi keturunan yang sehat, cakep, pintar, rejeki diperluas dan selalu berbahagia sampai akhir hayat. Dan yang paling penting, semoga Mas Suami tidak salah memilih istri yang mana saya sangat yakin sekali dia tidak salah. :')
FYI, saya nggondol souvenir, air siraman, sama roncean bunga melati. Yeah, siapa tahu saya the next. Ihihihi. Aamiin.
@andhikalady