Follow Us @andhikalady

Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts

Friday, October 27, 2017

[Retail Review] Ada Fashion Store di Jogja City Mal

October 27, 2017 2 Comments
Bisa dibilang, baju itu kebutuhan pokok yang semua orang pasti beli. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, adaaa aja outfit yang musti kamu pakai, baik di cowok maupun cewek. Nyatanya saat SD dulu kita diajari soal kebutuhan pokok manusia yang terdiri dari sandang, pangan, papan. Tanpa salah satunya, manusia nggak bisa hidup layak. Yakali, memangnya ada yang bisa hidup tanpa baju? Yang benar saja sih?
Well, back on track. Di mana biasanya kamu beli baju? Online kah? Offline?
Kalau saya sih fleksibel, bisa offline ataupun online. Tapi seringnya tetap offline, karena saya bisa sambil mencobanya, meraba bahannya enak apa enggak, dan suka suasana toko baju. Kalau kepepet, kepengin banget, atau udah nyari di offline tapi nggak ada, barulah beli online.

Beruntung saya tinggal di Jogja, di mana di sini banyakk banget toko-toko baju atau butik baju yang bisa didatengin. Makin senang lagi saat ada butik kece yang 'anak muda banget' buka cabang baru di Jogja City Mal, Ada Buti Store.


di Ada Buti Store

Sesuai namanya, di sana itu semuanya serba ada. Mulai dari baju cewek, baju cowok, scarf, dan baju panjang untuk yang berhijab pun ada. Jadi rasanya makin betah di sini karena punya banyak pilihan. Selain itu, saat pertama kali ke toko ini, saya langsung ngeh bahwa koleksi pakaian di sini itu up to date banget. Ada banyak koleksi sabrina, flanel, dan baju easy-to-wear lainnya. Jadi pas dong, sama tren berbusana sekarang yang makin simpel makin asyik. Makin longgar makin segar.

Oh iya, baju-baju yang dijual di Ada Buti Store kebanyakan yang bertipe kasual. Memang ada baju yang formal, tapi jumlahnya nggak sebanyak yang kasual. So, kalau kamu ingin mencari baju main atau ngampus, di sinilah tempatnya.

Suasana toko

Foto di atas adalah gambaran suasana toko yang didesain semi retro dan millenials banget. Sekilas memang bikin betah, apalagi ditambah kakak-kakak pramuniaganya yang ramah-ramah dan nggak annoying. Eh, pernah nggak sih, kamu dateng ke toko dan dibuntutin terus sama penjaga tokonya? Lagi milih baju, dikit-dikit ditanya:
Dicoba aja Kakak
Ukuran lain masih ada lho
Beli yang ini aja Kak, lebih cocok untuk Kakak
Yaelah, kalau dibuntutin begitu yang ada malah risi sendiri. Kitanya lagi asyik milih-milih baju eh di-interup pakai pertanyaan dan saran yang nggak perlu. Menurutku, cukup dengan disambut aja, terus dipersilakan memilih baju sendiri, sampai proses membayar aja sudah ideal kok. Kayak yang sudah Ada Buti lakukan.

Banyak diskon, tenang saja!
Soal diskon, jangan khawatir. Selain baju-baju yang dipajang di etalase atau gantungan, juga banyak diskon bertebaran. Saat opening kemarin seminggu yang lalu, diskonnya bahkan sampai ada yang 50-70%. Saya membawa pulang tunik flanel kotak-kotak cuma dengan 50ribuan saja dari harga awal 160ribuan. Plus sabrina atasan dengan harga awal 130ribu, bisa dibeli dengan harga 30ribu saja!

Cuma 30 ribuan

Menggiurkan banget nggak sih? Apalagi di kantong mahasiswa yang baru lulus seperti saya. Kabarnya Ada Buti akan selalu memberikan diskon di tokonya lho. Rasanya worth banget saat kamu mendapatkan baju berkualitas dengan bahan yang nyaman dipakai, tapi bisa dibeli dengan harga yang terjangkau. Huwaw!

Oh iya, dulunya saya bukan orang yang cukup aware dan care dengan pilihan bahan kain di baju yang saya pakai. Pokoknya asal enak dilihat dan harganya murah, yasudah, beli. Tapi makin ke sini alias makin tua, saya mulai memerhatikan bahan pakaian yang saya pakai. Soalnya sangat pengaruh banget ke mood dan kesehatan kulit saat kita memakai baju yang bahannya kurang tepat. Dulu mungkin saya bersedia pakai baju yang kurang nyaman atau bikin gerah, asalkan enak dilihat. Tapi kalau sekarang, saya pikir-pikir lagi deh.

Believe me, you will do the same. Kelak kamu akan menyortir dan mengganti pakaian dalam, bra, panties, jilbab, baju, dan pakaian lainnya dengan yang sedikit lebih berkualitas secara perlahan. Risikonya paling koleksimu akan lebih sedikit, sebab harga baju yang berkualitas dan nyaman nggak bisa dibilang murah juga.

Nah, kalau kamu sudah semacam 'naik level', kamu akan berterimakasih sekali dengan butik-butik seperti Ada Buti. Karena selain mereka menyediakan baju yang berkualitas dan nyaman, juga harganya aman di kantong.

Ada buti sabrina
Di sini saya memakai blouse denim sabrina dari Ada Buti. Iya, sabrina yang dirancang untuk memperlihatkan bagian bahu juga bisa dipakai oleh cewek berhijab kok. Solusinya pakai kaos di dalamnya supaya bahumu nggak terekspose.

Gitu aja sih tipsnya, kalau soal padu-padan warna dan lainnya saya merasa kurang begitu expert di bagian ini. Pokoknya asal warnanya nyambung, gitu saja udah sip. Jadi maafkan ya kalau misal paduannya agak wagu dan bikin kelihatan gemuk. Hahaha.

I am not expert at mix n match, but yeah, I'm trying.

Ada Buti
Well, thank you for Ada Buti Store, semoga makin laris dan ramai tokonya. Saya pasti datang lagi kok, soalnya nyenengin banget tokonya. :D

With fellow blogger. Denia, Lady, Rahma, Agi
Ada fashion store bisa kamu temukan di: Jogja City Mal lantai Upper Ground

@andhikalady

Monday, August 10, 2015

[Traveling] Ke Istana Maemoon Medan

August 10, 2015 4 Comments
Kalau kamu ke kota Medan, cobalah jangan hanya kunjungi Merdeka Walk yang punya Dimsum super enak, atau wisata mainstream seperti ngemal rasa kota paling ngehip di Sumatra. Luangkan waktumu untuk berkunjung ke situs budaya kota setempat, seperti istana peninggalan kerajaan Deli di tahun 1800an ini. Namanya adalah Istana Maemoon. Dugaan saya, istana ini dibangun khusus untuk seorang wanita cantik bernama Maemoon yang mampu menjadi permaisuri kecintaan Sultan dan menurunkan banyak keturunan untuk sultan. Eh, itu mah kisah Jodha Akbar ya, sori, sori. :D

Dinamakan Istana Maemoon, karena lokasi alamatnya berada di kecamatan Medan Maemun. Dahulunya tempat ini dikenal dengan kerajaan Islam Deli. Kawasan ini satu komplek dengan Masjid Raya Al Maksum Medan yang dibangun oleh kerajaan yang sama, di kurun waktu yang kurang lebih sama. 

Ehm, sebetulnya saya agak kecewa dengan fakta ini. Saya sudah membayangkan kisah romantika Ratu Maemoon dari Deli yang berhasil mempesona Sultan Mahmud Al Rasjid. Lalu si Ratu Maemoon punya banyak musuh yang ingin membunuh dan menggantikan posisinya sebagai ratu. Tetapi Raja tetap setia pada sang Ratu, dst, dst sampai berdirilah istana ini untuk mengenang sang Ratu. Ternyata, tidak ada romantika yang terjadi, bahkan tidak ada wanita bernama Maemoon yang menjadi ratu. Yasudahlah, kita nikmati saja isi dan arsitektur istana ini, sambil membayangkan imajinasi versi kalian sendiri, hohohoho.

Pose dulu di depan istana.
Tampak luar istana ini berwarna kuning mewah khas Sumatra. Kuningnya itu mengingatkan saya pada alat-alat dan kain emas asal Melayu. Istananya sendiri bertingkat dua, dan untuk bisa masuk ke dalamnya, pengunjung harus melepas alas kaki. Tiket masuknya murah banget, hanya lima ribu per orang, sewa baju sepuluh ribu, dan foto sepuluh ribu. Jadi total untuk berwisata di Istana Maemoon sekitar dua puluh lima ribu. Menurut saya ini murah banget untuk bisa menapak tilas di istana peninggalan kerajaan Indonesia di masa lalu.


Di dalamnya kita akan melihat bermacam benda-benda pajangan peninggalan kerajaan Deli. Istana ini rupanya difungsikan sebagai museum juga oleh pengelola. Bermacam barang-barang tersebut adalah: singgasana raja (boleh diduduki), kamar tidur raja (tidak boleh diduduki), piring-piring, alat musik, foto-foto, sampai foto kunjungan Sultan Yogyakarta juga pun dipajang di sini. Hehe, saya selalu senang kalau ada hal-hal yang berbau Yogyakarta di manapun itu berada. Lalu ada pula kios penjualan souvenir dan batu akik. Kayaknya jaman sekarang kalau toko nggak jual batu akik itu kurang endhes gitu ya?

Tempat tidur kerajaan.

Ada sesuatu yang catchy dari benda yang memiliki tuts hitam dan putih.

Dulunya piring-piring ini adalah piring makan, sekarang menjadi pajangan.
Well, cukup disayangkan ketika saya berkunjung ke sana, hanya kamera handphone yang saya bawa. Alhasil kurang bisa menangkap cahaya dengan bagus. FYI, pencahayaan di dalam istana agak gelap, karena minim lampu dan jendelanya hampir selalu tertutup. Tapi di sini juga keunikannya, istananya terasa adem meskipun tak ber-AC. Jika kamu akan ke sini, pertimbangkan untuk membawa kamera yang lebih niat.

Salah satu keseruan yang bisa kamu lakukan di sini adalah menyewa baju adat Deli untuk dipakai foto-foto di istana. Ada banyak macam pilihan warna, juga ada baju couple kalau kamu datang bersama pasangan. Saya juga nyewa dong, supaya bisa eksis. LoL. Cuman karena di dalam istana cahayanya nggak begitu bagus, saya foto-foto di luar.



Kesan selama mengunjungi Istana Maemoon Medan:

1. Istana ini merupakan kebanggaan warga Medan. Miniatur dan wallpaper gambar Istana Maemoon terpajang di Bandara Medan dan dinas pariwisata setempat. Oleh karena itu, mengunjungi Medan adalah sama dengan wajib mengunjungi Istana Maemoon.

2. Cukup disayangkan bahwa istana ini sebagian telah digunakan sebagai tempat tinggal untuk para warga keturunan Sultan Deli. Memang sih, ini istana warisan keluarga kerajaan. Tapi apa pemerintah setempat nggak berinisiatif untuk buatkan hunian untuk para keturunan Sultan tersebut supaya keseluruhan kompleks istana ini digunakan sebagai cagar budaya dan wisata? Ini adalah masalah klasik istana-istana peninggalan di Indonesia. Contoh yang dekat dengan saya adalah Taman Sari Yogyakarta. Kawasan ini sudah menjadi tempat padat penduduk, sehingga setiap mengunjungi sana, saya bingung ini mana yang istana, mana yang tempat jemur-jemur pakaian. :(

3. Untuk ke tempat ini, nggak perlu effort banyak karena lokasinya di tengah kota dan pusat peradaban. Kamu tinggal nyegat bentor (becak motor) yang ada di setiap sudut jalan kota Medan, lalu minta abang-abangnya untuk antarin ke Istana Maemoon. Naik bentor itu murah dan seru loh. Jalan-jalan itu nggak perlu manja selalu naik taksi kan?

4. Mengunjungi Istana Maemoon juga nggak butuh waktu lama sampai seharian. Cukup sejam - dua jam saja sudah bisa full keliling-keliling istana sudah termasuk foto-foto sampai puas. Saya kemarin ke sini pagi hari jam 9an, lalu pulang jam 10an untuk kejar pesawat. Wong rencananya ke Istana Maemoon juga nyuri-nyuri waktu disempet-sempetin. 

Tips untuk mengunjungi Istana Maemoon:

1. Datang pagi-pagi ketika istana baru buka, yaitu sekitar pukul 8.00 WIB. Supaya pengunjungnya belum banyak dan bisa haha hihi dan nggak ngantri foto.
2. Pakai makeup tipis-tipis yang foto-able. Soalnya bakalan wagu kalau pakai baju adat bagus tetapi mukanya kurang makeup. Sebetulnya di lokasi ada jasa makeup, tapi lebih baik makeup-an sendiri dari rumah. Ayolahh, pembaca jenganten.com pasti udah pada pinter makeup kan?
3. Bawa kamera yang 'niat', kamu akan kepingin punya foto-foto yang bagus. Entah untuk dokumentasi, untuk update IG, untuk FB, Path, dll, dll.
4. Mengunjungi Istana Maemoon akan lebih lengkap kalau juga datang ke Masjid Raya Al Maksum Medan. Arsitekturnya mirip dan kece banget.


Nah itu kisah perjalanan singkat ke Istana Maemoon, Medan. Traveling saya nggak pakai drama #tanpapengaman #liburanberdua #hubunganintim #sekamarberdua #mukakekotaan , terus pulangnya bikin blog khusus untuk ngebahas kronologi #lovelymoment dan nuntut pertanggungjawaban anak artis kok. Saya sudah punya blog Jenganten sejak tiga tahun yang lalu dan ini sama sekali bukan liburan.

Bandara Medan yang baru letaknya jauh, harus naik kereta sejam dulu.


Sunday, May 3, 2015

Candi Abang Bersama Gang Girang

May 03, 2015 0 Comments
Di salah satu agenda bulan lalu, saya dan kawan-kawan (sebut saja Gang Girang) pergi tamasya dan rame-rame melakukan photosession untuk kado nikahan salah satu kawan kami, Utari. Kami pengen memberikan sesuatu yang spesial dan anti mainstream untuk pernikahan sahabat kami. Lalu, disusunkan konsep foto sesyen yang melibatkan kami berempat, termasuk sang bride-to-be (sekarang udah merit). Lokasinya dipilih di Candi Abang, Berbah. Sekitar 20 km arah timur kota Yogyakarta.

Candi Abang, errr, agak susah menjelaskannya. Namanya memang candi, tapi penampakannya tidak lebih dari gundukan bukit kecil yang keseluruhannya ditutupi rumput. Kabarnya candi yang sesungguhnya tersembunyi di bawah gundukan tanah ini. Saya kepo sekilas ke Wikipedia, memang benar, di Candi Abang ini ada setumpukan bebatuan candi beserta simbol Yoni di kawasannya. 


Kini selain jadi obyek wisata sejarah, Candi Abang juga jadi tempat favorit para fotografer yang ingin mencari spot-spot menarik untuk difoto. Memang, pemandangan di sini bagus. Lokasinya agak naik di atas bukit dan dapat melihat pemandangan kota Jogja dari atas. Tiket masuknya nol rupiah, tapi kamu harus bayar parkir untuk kendaraanmu. Ohya, jangan lupa untuk beli-beli makanan kecil yang dijual penduduk setempat ya. Hitung-hitung membantu perekonomian masyarakat sekitar.

Saya, Utari, Monica, dan Ajeng
Untuk mencapai tempat ini, tinggal menelusuri jalan menuju Berbah. Atau dari kawasan Bandara Adisutjito ke arah selatan. Atau gampangnya, klik di sini deh untuk referensi lokasi. Dari parkiran ke lokasi, kamu harus jalan kaki melewati bebatuan yang agak menanjak. Hindari memakai sepatu berhak tinggi. Kalau memang mau foto-foto cantik, pakai sendal tepos atau jepit sekalian dahulu untuk jalan kaki naik. Lalu di atas, baru deh, ganti alas kakimu pakai sepatu princess untuk foto-foto.



Tempatnya terbuka dan masyaallah panas nian, apalagi kalau datang di siang hari. Tapi gimana ya, cahaya terbaik untuk foto-foto ya siang hari itu. Maka, demi kualitas foto, kami abaikan dulu kenyamanan dan rasa panas. Hihi. Tips dari saya kalau mau niat foto-foto di sini:

1. Datang pagi hari, kurang dari jam 8.
2. Buka ramalan cuaca dulu. Pastikan nggak mendung banget.
3. Bawa payung!
4. Bawa sandal nyaman untuk naik bukit.
5. Pake sunblock, suncsreen dan sejenisnya. Dengan kadar SPF tinggi.
6. Bawa minum yang banyak. Atau beli saja dari masyarakat sekitar yang suka buka lapak.
7. Jika pengen foto di sore hari, datanglah sore hari. Kabarnya sunset di sini keren. Sayang kemarin kami pulang ketika masih siang.

Jealously melanda, karena dia yang menikah duluan di antara kami. Hohoho.
Ada insiden ketika saya maksain naik bukit pakai hak tinggi, terus saja jatuh. Sebelum jatuh, saya sempet mau meraih tangan Monica, tapi belum sampai meraih, saya sudah duluan nyakar secara nggak sengaja. Huohoho. Maafkan aku Muomooonn, semoga nggak jadi luka seumur hidup.

 Nah, kira-kira hasil akhir pemotretannya jadi kayak gini:
Kami nge-kiss Utari pas pakai lipstik merah (harus lipstik merah), lalu nyuruh doi pulang ke rumah tetapi nggak boleh menghapus bekas lipstik di mukanya! Wkwkwk. Konsep yang seru, kalau kami bilang. Karena gift seperti ini bakal terkenang karena Utari harus majang foto kita ini di dinding rumahnya dan kalau anaknya kelak bertanya, terpaksalah aib kami harus dibongkar, lalu keaiban kami akan diketahui anak-anaknya Utari selama tujuh turunan yang namanya sahabat harus tetep dikenang seumur hidup.

Who cares? I'm awesome.
Sesi foto-fotoan ini tak akan bisa berjalan lancar tanpa peran orang-orang hebat ini:
1. Ajeng. Monica, Utari.
2. Sang fotografer yang sangat berbakat, Enand. Untuk melihat karya-karya Enand, bisa dilihat di sini:


It's not the ending, it's beginning.
+Andhika Lady Maharsi

Monday, December 29, 2014

Gallery: Aceh dan Tsunami

December 29, 2014 2 Comments
Aceh saat ini. Pelabuhan Ule Lheue.
Sepuluh tahun yang lalu, 26 Desember 2004, saudara kita di ujung pula Sumatera terkena hempasan dahsyat ombak Tsunami. Ratusan ribu dinyatakan tewas dalam kejadian ini. Sisanya harus hidup bergantung pada pengungsian. Bencana ini tak hanya jadi sorotan berita nasional, melainkan gema bingarnya sampai ke ujung dunia. Sejenak dunia perberitaan nasional (dan juga internasional) melupakan isu-isu pergerakan gerakan merdeka dari daerah ini. Isu kemanusiaan menjadi paling utama. Setiap bahagian penduduk bumi ini memberikan sumbangsih yang mereka bisa.

Kini Aceh telah banyak berbenah. Meskipun bencana Tsunami tidak mungkin dihapus dari jejak sejarah kota ini, penduduk Aceh tengah beranjak move on dari kesedihan. Bekas-bekas Tsunami dijadikan monumen dan museum. Hampir di setiap masjid, hotel dan tempat umum, selalu dipajang foto-foto kondisi ketika diterjang tsunami. Bahkan di kantor yang saya kunjungi, di pintu masuk dibuat semacam garis setinggi paha orang dewasa yang bertuliskan "ketinggian air Tsunami". Orang Aceh yang pernah saya temui mengatakan "Tidak apa tanah kami terkena hempasan, tapi lihatlah tempat kami, sekarang indah, swadaya dan makmur".


Masjid Baiturrahim, masih teguh berdiri dan menjadi satu-satunya bangunan yang masih utuh ketika diterjang tsunami.
Hampir di setiap bangunan memiliki penanda ketinggin air seperti ini.
Kemakmuran Aceh bisa dilihat di sudut-sudut perkotaan dan taman-taman yang tertata apik. Bekas-bekas Tsunami dijadikan museum peringatan. Contohnya Museum Tsunami. Kuliner Aceh juga berbenah menjadi tempat yang makanannya enak-enak. Warung-warung kopi Aceh yang terkenal lezat sekali menjamur dan menjadi tempat bergaul nge-hip pemuda-pemudi Aceh. Kalau di kota kamu abege-abege main di mal, nonton bioskop, atau karaoke, abege-abege Aceh main di warung kopi sambil menonton klub bola kesukaan. Orang Aceh tidak masalah ketika pemerintah daerah melarang pendirian diskotik, karena mereka rasa itu tidak perlu. Para keluarga di Aceh yang punya anak kecil juga tidak masalah jika di Aceh tidak dibangun mal besar dengan wahana Timezone, kan mereka tetap bisa ajak anak-anak main ke taman-taman kota yang lengkap dengan perosotan dan ayunan.





Mie Aceh Kepiting. Menu dengan kepiting sebesar ini, harganya cuman 25-30 ribu doang!
Saya baru sekali berkunjung ke Aceh dan saya langsung jatuh cinta dengan kotanya. Kulinernya enak-enak dan masyarakatnya santun-santun. Apakah jika ada cewek nggak hijab di tempat umum lantas ditangkap terus dibungkus kepalanya? Tidak tuh. Apakah jika ada cewek yang bonceng ngangkang lalu ditangkap polisi? Enggak juga, beberapa di antara yang saya lihat, tidak sedikit juga yang pakai celana jins. Syariah Islam memang menjadi etiket di provinsi Aceh, tapi bukan berarti tidak menghargai yang tidak mengikutinya. Malahan saya heran kok ketika saya Googling tentang Aceh, berita yang muncul adalah 'Upacara rajam pemuda-pemudi yang ketahuan pacaran', 'Aceh menerapkan hukum yang dinilai melanggar HAM', 'Isu larangan non jilbab' dkk. Kenapa jarang sekali berita tentang kopi Aceh yang enak banget, atau artikel di majalan mode yang bilang tas-tas dan batik khas Aceh itu lucu-lucu? Mungkin awak medianya yang kurang piknik kali ya? Semoga saya salah, barangkali saya saja yang kurang kepo berita tentang Aceh. :p


Masjid Raya Baiturrahman, masjid terbesar kota Banda Aceh.
Interior Masjid Baiturrahman.
Masih di Pelabuhan Ule Lheue. Pelabuhan menuju pulau Sabang
Tempat mana saja yang bisa kita kunjungi selama di Aceh? Kalau kamu punya waktu dan dana cukup, disarankan untuk mampir menyeberang ke pulau Weh/kota Sabang. Di sana kamu bisa jalan-jalan dan menuju titik nol, yakni titik ujung paling barat Negara Indonesa. Tetapi jika waktunya sedikit, tempat asik di sekitar kota pun nggak kalah seru. Misalnya mengunjungi warung-warung kopi (di warung manapun, semua kopinya enak), ke museum dan monumen, dan juga ke pantai.

Rumoh Aceh, warung kopi yang juga menjual kopi Luwak.
Dan tentu saja, jangan sampai kamu melewatkan Museum Tsunami. Museum yang didesain oleh Pak Ridwan Kamil sebelum menjadi walikota Bandung ini menampung banyakk cerita tentang Tsunami. Dari foto-foto tsunami, kisah seorang anak yang kehilangan keluarganya ketika bencana, sampai sebuah jam dinding -sumbangan dari seorang penduduk- yang jarumnya menunjuk ke waktu kejadian tsunami. Konon jarum jam tersebut tetap tidak mau kembali ke jarum semula.



Di salah satu bagian museum, terdapat ruang yang dinamai Ruang Doa, di situ ditulis nama-nama korban yang wafat akibat tsunami sepuluh tahun yang lalu. Ruangan tersebut berbentuk kubah gelap. Hanya ada satu cahaya yang menerangi, yaitu sebuah lubang di puncak kubah, yang dari bawahnya kita bisa melihat ada tulisan asma Allah di sana. Ruangan ini juga diiringi sayup lagu tradisional Aceh yang makin membuat bulu kuduk merinding.






Backpacker ke Aceh, mungkinkah? Mungkin banget. Katakanlah tiket pesawat nggak dihitung (hitung sendiri dari tempat tinggal masing-masing ya), penginapan di Aceh harganya kisaran 200ribu sampai 300ribu. 300 ribu itu saja sudah mendapat hotel yang bagus banget, tinggal dibagi beberapa orang yang kamu ajak jalan-jalan deh. Coba cek Hotel Medan. Untuk makanan, sejauh yang saya amati harganya nggak terlalu mahal banget kok (kepiting aja harganya 25ribuan). Segelas kopi harganya 3 ribu rupiah. Biaya masuk ke museum-museum, semuanya gratis. Di Aceh, banyak tersedia angkot-angkot yang muter-muter ke tempat-tempat seru.

Saya belum mencoba jalan-jalan ke Aceh ala backpacker, kemarin ini kebetulan karena ada pekerjaan di sana. Tapi suatu saat semoga kesampean ke Aceh lagi. Ke pulau Weh! Nyegur atau snorkel di sana. Winkkk.

By the way, kenapa saya menulis post traveling di beauty blog Jenganten? Pertama, saya pengen ikut memperingati satu dasawarsa tsunami. Kedua, saya pengen pembaca-pembaca tahu bahwa Aceh itu nggak sebegitunya kok. Aceh nggak seekstrim yang diberitakan di media-media berita. Aceh itu seru dan nyaman untuk dikunjungi. Aceh juga menggabungkan antara iklim Islami yang kental, plus toleransi yang dijunjung tinggi. Ketiga, saya ingin meneruskan pesan yang disampaikan seorang Bapak yang saya temui di Aceh yaitu: ajaklah orang untuk ke Aceh, Aceh itu aman, beritahukan pada semua orang bahwa di sini kalian akan dijamu dan dimanja dengan keramahtamahan khas Aceh.

Selamat pagi,
+Andhika Lady Maharsi

Saturday, November 1, 2014

Himalaya Facial Wash, Scrub & Sneak Peek Manado

November 01, 2014 6 Comments

Saya ada sedikit curhatan soal kulit muka nih. Beberapa bulan lalu, saya menemui bahwa kulit muka saya agak sensitif dan mudah kemerahan. Apalagi kalau kena matahari, sampe-sampe temen saya bilang 'kamu mukanya kayak Ratu Atut'. Hihi, maksud temen itu, muka saya kelihatan glowly pink kayak muka Ratu Atut. Tapi saya kan nggak terima dong masa muka saya disamain kayak muka koruptor? Biar gimanapun saya tetep lebih senang kalo dibilang muka saya kayak Raisa. #teteub

Oke, abaikan soal Ratu Atut. Jadi ceritanya muka saya jadi agak sensitif, padahal sudah saya pakein sunblock biar gak kena matahari. Terus, saya coba riset kecil-kecilan sambil Googling. Hampir semua mengatakan kalau penyebabnya adalah salah kosmetik, atau skin carenya terlalu berat. Terus saya mikir dan bikin list kosmetik apa saja yang sedang saya pake, terus ngecek ulang apakah ada bahan-bahan alergen atau tidak, ada nomor BPOM atau tidak, dkk. Nah, setelah saya cek kok aman semua? Gimana dong inih kulit?

Lalu karena banyak pertimbangan, saya memutuskan untuk mengurangi pemakaian skin care. Dari yang tadinya pake 3 lapis, cukup 1 lapis saja. Dari yang tadinya pake krim malem bejibun, saya kurangi jarang-jarang. Contoh yang saya kurangi adalah Tretinoin dan Kelly (sekarang udah lepas blas dari Kelly). Lalu saya juga mulai melirik produk sabun muka bebas SLS. Itung-itung mengurangi alergi. Ini contoh produk pembersih bebas SLS yang saat ini sedang saya pake (dan cukup puas sama hasilnya)

1. Himalaya Herbal Purifying Neem Face Wash

Saya beli sama scrubnya. :)
Produk ini mengklaim tidak mengandung Paraben dan SLS. Paraben adalah bahan pengawet kosmetik. Sejauh ini memang belum ada penelitian yang menyebutkan bahwa paraben itu berbahaya. Namun bagi beberapa orang, Paraben bisa menimbulkan alergi. Sedangkan SLS adalah singkatan dari Sodium Lauryl Sulphate yang mana bertanggungjawab terhadap banyaknya busa yang keluar ketika sebuah produk sabun kamu gosok-gosok. Memang menyenangkan bisa mandi atau cuci muka dengan busa melimpah, tapi yang sering terjadi adalah kulit menjadi lebih kering ketika baru saja dikenai busa banyak.


Kesan saya memakai Himalaya Neem Facial Wash:
+ Bebas SLS, busa yang ditimbulkan tidak terlalu banyak. Lebih aman untuk kulit.
+ Berwarna hijau bening dengan aroma lembut.
+ Mengandung kunyit yang berguna mengontrol jerawat. Btw, saya pernah posting masker dari kunyit di sini loh.
+ Ada versi kemasan kecil yang cocok dibawa traveling.
+ Produk India, tapi mudah dicari di Indonesia
+ Tidak membuat kulit kering.
+ Wadahnya transparan, kamu akan tahu kapan saatnya membeli facial wash baru.

2. Himalaya Herbals Purifying Scrub


Ada macam-macam jenis scrub, contohnya yang harus diolah dulu dengan dicampur air, ada juga yang praktis kayak gini. Tinggal bersihkan wajah terlebih dahulu pake cleanser, kemudian basahi pakai air, lalu tinggal dipakekan scrub ke seluruh muka kecuali area mata.


Kesan memakai Himalaya Neem Scrub:

+ Butiran scrubnya pas, tidak terlalu besar/kecil. Butiran ini adalah bagian dari buah Aprikot yang berguna mengangkat komedo.
+ Praktis dipakai, tinggal dimasukkin ke daftar alat-alat mandi.
+ Asik dibawa traveling. Misalnya kamu habis panas-panasan di luar dan mukanya jadi kusam. Pas pulang ke penginapan tinggal pakai scrub ini, kesan kusam bisa langsung ilang.

Ngomong-ngomong traveling, selama dua bulan ini saya lagi banyak banget kerjaan yang menuntuk untuk bepergian. For the first time in forever saya merasa kayak cewek karir sungguhan (tapi tetep hore). Setiap minggu menenteng koper ke Bandara, ngantri cek in, harus siap kerja remote dari mana saja, menenteng dokumen yang beratnya segaban, pulang cuman pas weekend. Abis itu, itinerary datang lagi, ke tempat yang berbeda lagi. Buat saya dinikmati sajalah, alhamdulillah dikasih kesempatan untuk bisa melihat tempat-tempat keren di seluruh Indonesia. Kayak minggu kemarin, saya baru dari Manado (kota tanpa cewek jelek, LOL), di mana saya menginap di hotel yang pleasurable-nya keren banget. Hotel ini berinisial 'N' yang lokasinya dekat Bandara.




Ngisi jambangan.
Pakpung dulu. :3
Salam,

@andhikalady

Friday, October 3, 2014

Pengumuman Giveway Jenganten & Sophie Paris Muslimah Cosmetics

October 03, 2014 4 Comments
Sebelum menuju ke pengumuman #JengantenGiveway, yuk mari lihat foto pemandangan yang kece ini:

Keterangan: yang kece itu pemandangannya lho ya, bukan fotonya. Kalau teknik pengambilan foto, lightning, camera dan editing sih sini juga masih banyak belajar. :)

Terbang paralayang di atas Waduk Gajahmungkur, Wonogiri, Jawa Tengah. Jangan salah paham, ini bukan saya kok. Hehe. Dipotret saat menjelang senja hari.

Telaga warna, Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah.


Kawasan Kawah Sikidang, Dieng, Jawa Tengah.

Sunrise di perkemahan Gajahmungkur, Wonogiri, Jawa Tengah.
Daerah-daerah yang ada di foto di atas itu nggak jauh lho, dari kota Jogja. Kurang dari tiga jam perjalanan. Tiga jam itu nggak lama kan ya? Kalau kamu kebetulan selo dan ada waktu, cocok banget nih buat mengunjungi tempat-tempat itu sebagai penyegaran emosi jiwa. Bayangkan deh, di tengah penatnya bekerja atau belajar, lalu menyempatkan diri mengunjungi tempat yang hijau dan penuh dengan gemericik air, rasanya surga banget.

Nah, sekarang saatnya pengumuman #JengantenGiveway. Lalala.
Saya senang sekali banyak yang ikut dan urun cerita masing-masing. Semua ceritanya seru-seru sampai bikin saya ketawa karena lucu. Terimakasih ya, yang sudah ikutan giveway ini. Terimakasih juga buat yang sudah bantu share sana-sini. Mohon maaf kalau giveway kali ini hadiahnya baru kosmetik saja (ada yang tanya, kalau hadiahnya kopi luwak gimana?). Duh Mas, mbok ya nek hadiahnya kosmetik, situ kan tetep bisa ikut giveway buat ngasih ke mbak pacar kek, kakak kek, ibu kek, mbak-mbak yang nge- friendzone -in kamu kek, atau siapa kek. Lagian ini bukan kosmetik sembarangan lho, tapi kosmetik yang dijamin halal sehingga aman dan nyaman dipakai. :)

Akhirnya, dengan pengundian cap cip cup pakai aplikasi random.org, terpilihlah pemenang giveway adalah:

Ikha Nurul Hidayat

Cerita seru dari Jeng Ikha adalah: 

"Kenangan tentang makeup yang paling saya sukai dan selalu saya ingat adalah make up pertama saya yaitu sebuah face powder. saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dan teman-teman aku semua pada gila sama bedak. jadinya tiap jam pulang sekolah bedak saya di pake rame-rame sekelas dan hasilnya belom cukup 2 minggu udah habis bedaknya :)"

Demikian, selamat ya Jeng Ikha. Mohon kirim data diri, alamat, dan CP ke email andhika.lady[at]gmail.com, ditunggu 24 jam ya. Kalau nggak ngirim email juga, tak pek dewe lho hadiah Muslimah Eyeshadow Jaspernya. :D

Okeyy, buat yang sudah ikut giveway tapi belum beruntung, jangan patah semangat ya. Produk-produk keren dan halal dari Muslimah Sophie Paris bisa dibeli secara online di sini lhoo.Variannya juga macam-macam, dari toiletries sampai makeup semuanya ada.

Kalau masih patah semangat, coba lagi deh scroll ke atas, kan ada foto pemandangan tuh. Coba deh cuss ke tempat-tempat itu, siapa tahu patah semangatnya bisa langsung hilang. :)