Showing posts with label Masker. Show all posts
Showing posts with label Masker. Show all posts

Wednesday, September 10, 2014

Tentang Adonan Masker DIY dari Dapur

Pertama-tama saya mau ngucapin terimakasih sama Jeng Hanitis yang sudah share resep DIY masker ini. Postingan dia yang kece bisa disimak di sini. Oh iya, FYI, blognya Jeng Hanitis ini banyak berkisah tentang DIY-DIY skin care yang seru banget buat ditongkrongi dan dicoba di rumah. Apalagi sambil nonton telenovela.

Pada suatu hari ketika sedang menyimak beberapa blog, saya sampai pada postingan Jeng Hanitis itu. Kemudian saya jadi tergoda buat mencobanya bareng sama temen seperjuangan +Fitrah Annisaa' . Karena kebetulan semua bahan-bahan sudah ada di dapur, jadinya kami hore-hore nyobain masker DIY ini.

Bahan-bahannya simpel dan mudah dicari di toko terdekat:
- Tepung beras
- Bubuk kayu manis/cinnamon
- Bubuk kunyit
- Madu
- Air sedikit




Kunyit

Tepung beras

Kayu manis.

Madu
Cara membuatnya adalah campurkan semua bahan dengan perbandingan tepung beras : kayu manis : kunyit : madu = 3 : 1 : 1 : 1, kemudian tambahkan air secukupnya. Porsi perbandingan ini nggak mutlak, karena kebutuhan dan resisten kulit itu berbeda-beda. Jeng Hanitis contohnya, dia pakai perbandingan 2 : 2 : 2 : 1. Namun porsi itu justru membikin kulit saya perih ketika pakai masker. :(, akhirnya saya atasi dengan mengurangi porsi untuk kunyit dan kayumanisnya. Kok bisa perih? Kalau menurut beberapa sumber, kunyit dan kayu manis punya karakter pembunuh bakteri, sehingga rasa celekat-celekit itu bisa muncul.

Tapi lain halnya kalau kamu suka masker yang celekat-celekit. Adakalanya makin nyelekit, makin kerasa kalau maskernya bekerja. Kalau pendapat saya, selama itu tidak menyakiti dan tidak menimbulkan iritasi, maka sah-sah saja pakai perbandingan apa saja, toh ini masker DIY sehingga relatif aman.

Campurkan bahan.

Aduk-aduk
Tekstur masker ini encer (tergantung seberapa banyak air yang digunakan), dengan tambahan warna kuning kunyit dan butiran-butiran bubuk kayu manis. Aromanya harum khas jamu. Saya pribadi suka bau jamu. :)


Dioles ke kulit
Ketika dioleskan ke kulit, jangan kaget kalau agak perih, apalagi di bagian-bagian yang berpori besar dan berjerawat. Diamkan masker selama 15 menit, nggak perlu nunggu sampai masker kering karena kayumanis bisa menghangatkan kulit. Kalau pengen lebih jelas tata cara pakai dll, bisa cek kembali di blognya Jeng Hanitis ya.

Saya nulis pengalaman pakai masker ini karena saya suka sama hasilnya. Jerawat jadi mudah kering dan kulit satu tingkat lebih halus dan enteng.

Errr, gimana ya caranya menggambarkan kulit enteng? Kalau kulit halus, cerah, putih itu kan mudah diukur ya, kalau kulit enteng? Ya pokoknya begitulah. :p

Saya biasa pakai 3hari sekali atau saat lagi jerawatan. Memang sedikit repot karena harus bikin adonan sendiri dan menakar-nakar sendiri, tapi justru di situ serunya. Ketika kita paham bahwa masker ini berasal dari bahan alami, DIY dan tanpa pengawet, maka rasa aman memakai produk ini akan timbul, apalagi kalau hasilnya bagus.

Apa hubungannya gambar kipas angin dan masker DIY? Anggap saja ada.

@andhikalady

Tuesday, May 20, 2014

Masker dan Lulur Rempah Hitam Roro Mendut

Pada suatu hari, Roro Mendut bertemu dengan Jenganten Meniran. Mereka duduk-duduk cantik di sebuah kafe Pizza sambil membawa bawaan masing-masing. Tentang bagaimana apa yang mereka bawa, dari mana belinya, bagaimana kisah cinta mereka masing-masing, bagaimana keadaan rumah mereka, termasuk bagian tentang kenapa dua wanita berumur duapuluh-sekian ini bertemu dan ngobrol di cafe Pizza sambil memesan wedang berbentuk busa yang kemudian mereka ketahui namanya adalah latte, tidak perlu diceritakan panjang lebar seperti kalimat ini.

Wanita yang mengenakan kain batik itu terlihat berkeringat deras -rupanya habis tergesa-gesa, buru-buru mengenakan selendangnya yang berwarna kuning di bahunya yang selembut bayi. Sambil memegang kaca, tangan satunya membetulkan letak sanggulnya dengan hati-hati. Beberapa kali kalimat kekhawatiran tentang lipstiknya luntur sudah terucap lima atau enam kali. Wanita itu bernama Roro Mendut.

"Mas Wiraguna, tetap saja memaksa, aku harus gimana dong Jeng? Sudah bermacam cara ditempuh, Mas Wira tetep saja ngotot. Kemarin malah mengirimkan satu truk es krim ke depan rumah. Untung tamanku nggak rusak macam Bulungan" kata Roro Mendut sambil mengeluh kesah. Beberapa kali dia terlihat harap-harap cemas sambil melirik ke handphone-nya.

...

Karena saya nggak menemukan kalimat yang pas diucapkan oleh Jengaten Meniran, anggap saja cerita selesai. Kalau masih penasaran, tonton saja film Roro Mendut yang diperankan oleh Meriam Belina, baca buku Roro Mendut karya Romo Mangunwijaya, atau kalau kamu sangat malas, cukup baca halaman Wikipedia tentang Roro Mendut.

Baiklah, demikian adalah cerita rekaan belaka dari kisah Roro Mendut.Yang ingin saya ceritakan lebih lanjut di sini adalah tentang produk perawatan tubuh Roro Mendut. Yuk kenalan yuk.

Setelah gambar dilihat selama lebih dari satu menit, kamu akan melihat Lulur Selulit, Lulur Rempah Hitam, Masker Rempah Hitam, Lulur Manten, dan Lulur Ketiak Rempah Hitam.

Roro Mendut adalah nama merk produk perawatan tradisional khas keraton Yogyakarta. Berbagai bahan tradisional seperti rempah-rempah dan kopi organik, diramu sedemikian rupa sehingga menjadi lulur dan masker berkualitas yang berguna untuk merawat kulit. Mempertahankan konsep tradisional, produk ini juga dikemasani dengan kemasan khas Jawa, yaitu bercorak batik dan berbagai ornamen khas Yogyakarta. Selain itu, kemasan Produk Roro Mendut terbuat dari kertas dan plastik yang berkualitas bagus. Nah, ada lagi keunggulan dari sisi marketing dan kemasan, yaitu produk Roro Mendut juga sudah mengantongi label Halal MUI.

Halal dan Organik.

Ada bermacam ramuan alias produk keluaran Roro Mendut, salah duanya adalah Lulur dan Masker Rempah Hitam.

1. Lulur Rempah Hitam

Penampakan di wajah.

Lulur Rempah Hitam dapat digunakan untuk merawat tubuh ataupun wajah. Tidak perlu khawatir dengan bahan-bahannya, karena semua berasal dari produk organik. Lulur ini memiliki butiran yang cukup mempan jika digunakan untuk meluruhkan sel kulit mati ataupun menghaluskan kulit. Aromanya adalah kombinasi rempah-rempah dan kopi. Saya menduga, scrub yang ada dalam lulur ini berasal dari butiran kopi. Kalau kamu ingin sensasi luluran dengan aroma kopi, lulur ini sangat berguna banget. Namun hati-hati untuk penggunaan terhadap wajah yang sensitif, jangan digosok terlalu keras untuk menghindari iritasi.

2. Masker Rempah Hitam


Biasanya, setelah scrubbing atau luluran, hal yang berikut dilakukan adalah memakai masker. Masker rempah hitam ini memiliki butiran yang kecil-kecil, sama-sama beraroma kopi seperti Lulur Rempah Hitam dan memiliki efek menghaluskan kulit yang bagus sekali. Masker ini juga tidak menimbulkan alergi pada kulit saya yang sensitif.

Ritual perawatan masker seperti di atas (scrubbing + maskeran), biasanya saya lakukan 1-2 kali seminggu, tergantung kebutuhan kulit. Kalau kulit sedang berjerawat, saya menghindari pemakaian lulur atau scrubbing berlebihan. Kulit yang berjerawat sebaiknya tidak dilakukan pemijatan atau pengelupasan seperti yang dilakukan ketika scrubbing. Cukup pakai masker yang bersifat menghaluskan atau anti jerawat. 

Selain kedua produk di atas, Roro Mendut juga mempunyai berbagai produk Lulur dan Masker, di antaranya:

1. Masker Payudara Rempah Hitam



Masker Payudara Rempah Hitam berguna untuk memperindah dan mengencangkan payudara. Ada kalanya, lulur biasa kurang mampu mengakomodir kondisi kulit di sekitar payudara yang sedikit berbeda dengan bagian kulit lain. Nah, solusinya adalah menggunakan produk khusus untuk mengencangkan payudara.

2. Lulur Manten Keraton


Judulnya memang Royal Wedding Scrub, tapi lulur ini tidak hanya ditujukan untuk mereka yang mau menikah saja. Yang belum menikah boleh, yang sudah menikah beranak lima kayak Pandhawa juga boleh kok. Pokoknya lulur ini boleh dipakai siapa saja yang menginginkan sensasi perawatan badan Putri Kerajaan khas keraton ketika akan menikah. Kamu pengen ngerasain sensasinya? Sama. Saya juga. Cuman kurang ndoro kangmasnya tukang lulurnya saja. Soalnya, bayangan saya yang namanya Putri Raja, kalau mau luluran pasti dilulurin tukang lulur khusus. Yamosok luluran sendiri. Hoho. Untung ada Roro Mendut, luluran sendiripun tetap senang. Hehe.

3. Lulur Ketiak Rempah Hitam


Lulur ini berguna banget untuk mencegah bau badan. Dipakai ketika mandi, gosok-gosokan sebentar di bagian ketiak (maaf nggak terima permintaan spoiler luluran di kelek. LOL), kemudian bilas. Memang agak lebih repot dari memakai deodoran biasa, tapiii bahan lulur tradisional ini malahan yang lebih saya sukai karena minim bahan kimia.

4. V-Scrub Rempah Hitam


Saya ambil deskripsi dari website resmi Roro Mendut di http://roromendut.co.id/, kurang lebih sebagai berikut:

RORO MENDUT ROYAL BLACK SPICE - V SCRUB PEMUTIH SELANGKANGAN ORGANIK merupakan perawatan kulit tradtional organic pertama yang diformulasikan dari resep traditional perawatan kulit khas kerajaan.
RORO MENDUT ROYAL BLACK SPICE - V SCRUB PEMUTIH SELANGKANGAN ORGANIK memadukan khasiat dari daun sirih, kayu rapet, lemon, teh hitam, rumput laut, rempah-rempah dan ketan hitam organic yang terkenal dapat menghilangkan bakteri dan mencerahkan kehitaman/kekusaman yang membandel, mengencangkan serta menciptakan keindahan sempurna pada kulit di sekitar area kewanitaan.

Nah, demikian penjelasan dari website Roro Mendut tentang V-Scrub Rempah Hitam. Selain V-Scrub, ada pula produk perawatan kewanitaan Ratus seduh Roro Mendut. Jadi, semua produk Roro Mendut memang nggak hanya merawat bagian luar saja, tetapi juga bagian dalam. Buat kamu yang peduli dengan perawatan dalam, sudah menikah dan ingin semuanya terawat, produk ini bisa jadi solusi. :)

Produk Roro Mendut bisa dibeli secara online di http://roromendut.co.id. Tapi bagi yang tinggal di Jogja dan sekitarnya, bisa mengunjungi Mirota Batik di Malioboro. Orang Jogja pasti tahu Mirota Batik. :)

......

"Tak perlu kau risau, kisahmu sudah tertulis, juga cintamu kepada Pranacitra. Sini ajari saya bagaimana cara menggelung rambut serapi itu, atau bagaimana teknik marketing yang ciamik semacam yang kamu lakukan dengan rokok jualanmu itu" ucap Jenganten Meniran sambil membayangkan bertemu dengan Roro Mendut sungguhan di dunia paralel.

Wednesday, April 23, 2014

Inez Beauty. Deep Cleansing Clay Mask

Ada banyak jenis masker yang beredar di pasaran, di antaranya masker clay, masker peel off, masker scrub, dan spesies-spesiel masker lainnya. Setiap jenis masker diciptakan untuk tujuan yang berbeda-beda. Misalnya masker scrub, selain untuk menutrisi kulit, juga diciptakan untuk membantu meluruhkan sel kulit mati. Masker peel off, yang cara penggunaannya menyenangkan sekali, terutama ketika menguliti (belum nemu istilah yang pas, cek saja salah satu review masker peel off saya di sini), dibuat untuk membantu mengurangi kulit kusam. Adapun masker clay, dibuat untuk membersihkan kulit secara lebih mendalam. Kulit berminyak dan berpori-pori besar kayak saya, biasanya cocok memakai masker bertekstur clay karena masker jenis ini mampu membersihkan hingga jauh ke dalam pori. 

Nah, kemarin saya mencoba masker Inez ini: 



Kemasannya simple dengan signature tutup warna biru khas Inez. Tulisan di kemasan juga nggak neko-neko. Masker ini tidak menuliskan janji-janji muluk yang biasa tertulis dalam kemasan produk kosmetik semisal "Dapatkan kulit putih dalam dua jam", "Menghilangkan jerawat dalam hitungan detik", "Membuat kulit cerah bersinar, flawless, putih seperti perempuan Nigeria", "Dibuat dengan khasiat susu tapir dari Brazil yang terbukti mampu melawan garis penuaan" dsb.


Akibatnya, saya jadi berkesimpulan kalau produk skincare milik Inez bukanlah senjata utama dalam pemasaran produk mereka. Padahal sejauh ini, saya kerap di-PDKT embak-embak BA Inez di toko kosmetik, mereka tak henti-henti menawarkan produk skincare kayak moisturizer, masker, body wash, lip balm, sampai scrub badan. Meskipun yang saya tanyakan cuman eyeshadow saja. Kesimpulannya, saya jadi tahu kalau Inez juga mengeluarkan produk skincare dan bodycare. Tadinya saya kira Inez itu hanya produk makeup saja. Hehe.

Tekstur
Masker ini bertekstur lembut, tidak ada scrub sama sekali dan sangat mudah mengering dalam hitungan kurang dari 5 menit. Kemudian ketika dipakai di muka, ada sensasi dingin-dingin hore. Kulit mendadak terasa terhidrasi dan dimanja. Buat beberapa orang, memakai masker ini terasa celekat-celekit di kulit, tetapi saya tidak mengalami hal itu. Memang setahu saya, memakai masker apapun rasanya bisa berbeda-beda untuk masing-masing orang. Asumsi saya sih itu karena kondisi pori-pori kulit orang beda-beda. Yang berpori dalam, tentunya masker bisa masuk lebih dalam dan mampu menyentuh sensor saraf perasa sehingga terasa agak celekat-celekit (CMIIW ya).


Setelah memakai masker ini, kulit berasa langsung seger setelah dibasuh. Saya sebenernya nggak begitu berharap muluk-muluk dengan masker ini, karena 1) Tidak tertulis secara spesifik keunggulan masker ini di kemasan, 2) Produk Inez kebanyakan beroperasi di keunggulan makeup, bukan skincare, 3) Saya melihat masker ini tidak begitu spesial jika disejajarkan dengan masker-masker lain.

Tapi ternyata saya puas banget sama masker ini. Aromanya juga enak dan membuat kulit lebih bersih. :D. Menurut saya sangat worth untuk repurchase ulang. Atau untuk mengganti sementara masker Garnier Sauna Mask dengan harga yang jauh lebih murah. 

Harga: Rp 23.000,00 (bervariasi tergantung toko)

Follow Instagram saya di www.instagram.com/andhikalady untuk random update, tips-tips seputar makeup dan selingan review singkat kosmetik.

Thursday, March 21, 2013

Masih tentang Garnier Lightening Peel Off Mask


Hai Jenganten, apa kabar? Lama nian ya, saya nggak posting. Berhubung saya ini orangnya punya kadar pede narsis tingkat akut, jadi sekalian saja saya mau bilang “Kalian pasti pada kangen kan, sama akkoh? Ngaku nggak? Ngaku!!”. #mintaditimpuk


Jadi, kalau saya tetiba lama posting di blog ini biasanya karena kemungkinan-kemungkinan ini =

1. Lagi nulis di blog yang sonoh. 2. Lagi ada kerjaan. 3. Lagi ada tugas kuliah. 4. Lagi miskin produk yang mau direview (ada yang mau nyumbang?). 5. Lagi memiliki kondisi muka yang nggak cocok dipake FOTD. 6. Lagi punya kuku yang gak oke buat NOTD. 7. Lagi males. 8. Lagi mengalami hal nomor 7. 8. Lagi mengalami hal nomor 8. 9. Dst
 


Buset banyak banget ya? Okeh, lanjut ke cerita utama. Saat ini, masih tentang cerita Masker Garnier. Sudah sebulanan ini saya rutin pakai masker-masker ini secara bergantian tiap 3 hari sekali. Masker yang GarnierSelf Heating Mask sudah pernah direview di sini. Kali ini saya mau cerita tentang Garnier Lightening Peel Off Mask.

Ini wujudnya.
Kok pakai dua-duanya? Yes, saya merasa butuh dua-duanya. Kulit saya kan tipenya berminyak dan kadang kusam. Jadi yang satu untuk menyerap minyak, satunya lagi untuk mengangkat kekusaman kulit. #maruk.

Masker ini warnanya kuning bening kental! Aromanya lemon banget. Dan ketika dioles ke muka rasanya brrrr, dingiiin! Beda dengan saudaranya yang cenderung terasa panas di kulit.

Klaim dari masker ini adalah dapat mencerahkan wajah dan menghilangkan kekusaman pada wajah. Selain itu, disebut juga bahwa masker ini dapat menghaluskan kulit wajah.
Kesan pertama merasakan sentuhan masker ini di wajah saya adalah terasa nyaman. Aromanya saja sudah memanjakan hidung, masih ditambah sejuk teksturnya di kulit. Pakai ini sambil pakai kolor longgar dan tanktop favorit, terus disambil tiduran dan dengerin lagu Pachelbel Canon Piano seraya menunggu maskernya kering itu surga!!

Gimana bentuk masker ini ketika ditampol ke muka? Meski warna dasarnya adalah kuning bening kental, ketika dipakai di muka, warnanya bukan jadi kuning, tapi cenderung bening berkilau. Tekstur ini mendadak mengingatkan saya pada mainan balon tiup yang sering dimainkan pas SD dulu. :3

 


Tunggu sekitar 15 menit atau sampai maskernya kering. Lalalala. Kemudian, setelah menunggu yang nyaman itu, sampailah kita di saat paling membahagiakan di dunia yaitu = pengelupasan masker peel off!! Kelupas perlahan dari wajah bagian bawah dan angkat ke atas. Rasakan sensasinya.

Saat-saat paling membahagiakan

Ketika masker dikelupas itu, rasanya semua sel kulit mati itu ikut terangkat bersama maskernya. Wajah seketika terasa ringan dan bersih.

Ketika masker dikelupas, kulit menjadi terasa ringan.
Saya biasanya pakai masker ini bergantian sama masker yang satunya, 3 hari sekali. Dan selama itu pula kulit saya jadi lebih terhidrasi dan minyak nggak terlalu keroyokan menghampiri muka saya.


Hasil panen kulit mati di muka. Semoga kalian tidak membayangkan ini adalah karet bekas.

Harga : Rp 12.000,00 (dua kali pakai)

Positif :
- Aroma enak.
- Sejuk dipakai.
- Cukup mengangkat kekusaman.
- Sensasi mengelupasnya itu Jeng!!

Negatif :
- Nggak ada.

@andhikalady

Wednesday, March 6, 2013

Garnier Oil Clear Self Heating Sauna Mask

Jadi ceritanya saya suka maskeran. Tapi untuk masker yang saya pakai kali ini adalah masker instan. Yang kalau kata iklan itu tinggal "leb". Eh, itu iklan tepung silinder rasa daging ya? Oke, saya bercanda. 

Itu karena saya suka sok membeda-bedakan jenis-jenis masker muka. Ada masker yang cara bikinnya harus diolah dulu, dicampur madu, dicampur tomat, dicampur air mawar, dan lain-lain (Mau cantik aja ribet. -____-). Tapi ada pula masker yang instan, tinggal plek plok taruhin ke muka, tunggu sebentar, bersihkan, jadi, muka seger, senang dan bahagia.

Kali ini saya mau mereview masker yang tinggal plek-plok-terus-kemasannya-dibuang berjudul Garnier Oil Clear Self Heating Mask. Masker serupa ini praktis dan higienis karena dibungkus dalam sebuah kemasan sekali pakai dengan dosis yang cukup untuk membalur seluruh muka. 

Yang mukanya terlalu lebar sampai-sampai satu bungkus masker ini nggak cukup menutup muka, yeah, kasihan deh.

Tapi tenang saja, isinya lumayan banyak kok, muka saya saja sampai ditumpuk-tumpuk untuk menghabiskan isi masker.



Maskernya bisa disobek jadi dua. Aww.
Kenapa saya bisa tertarik dengan masker ini? Karena dia mengklaim dapat mengecilkan pori-pori, dan yang paling penting, dapat mengurangi kadar minyak berlebih. Untuk muka kilang minyak macam saya tentu saja tergila-gila dengan produk yang oil reduce. Selain itu kalimat Deeply purifies pores for 7 days pada kemasan juga sangat menarik untuk dicoba.



Ada satu kata kunci lagi, yaitu Self heating sauna mask. Yang itu juga bikin saya penasaran. Bayangan aneh-aneh mulai muncul ke kepala. Apakah masker ini bikin muka saya jadi keluar asap kaya di sauna? Atau bakal bikin muka saya panas terbakar luar biasa? Dan ternyataa...

Benar sekali Jenganten! Masker ini bikin muka 'panas'!! Begitu masker ini saya oleskan ke muka, langsung nyessss, rasa hangat agak panas langsung menyelimuti wajah saya yang memang sudah dari sononya hangat ini. Ulalaa. Sensasi hangat ini hanya berlangsung beberapa detik di awal saja. Lama-lama terasa biasa saja.

Monyong
Biasanya nih, kalau masker itu kan makin lama dipakai, makin kaku dan keras di muka. Nah, kalau ini enggak. Dia tetep bertekstur clay dan tetap lembut dan hangat (ini lagi ngomongin masker apa calon istri idaman?). Pokoknya masker ini nggak dibawa-tidur-able deh (kok malah lanjut ngomongin dibawa tidur segala!!!!). Soalnya sudah pasti bakal mengotori bantal.

Aroma masker ini juga tidak mengganggu. Tetep lembut samar dan tidak begitu kentara. Cuma, yang saya agak aneh, ini masker hangat, tapi kok warnanya biru? Menurut saya, apapun yang warnanya semi kebiruan itu harusnya dingin. Hehehe. Tapi biarlah, kita kan nggak ngambil manfaat masker dari warnanya toh? Mau warnanya cokelat gelap kalau bisa bikin muka cantik ya teteub dipake saja toh?

Oke, masker sudah dicoba, terus hasilnya gimana?

Yes. Klaim bahwa masker ini mampu mengurangi minyak di wajah itu benar adanya. Lihat saja gambar di bawah ini :

Kiri = sebelum pakai masker. Kanan = setelah pakai masker
Kalau Jenganten bisa melihat dengan seksama, pasti bisa melihat, kalau wajah saya sebelah kanan (setelah pakai masker) itu minyaknya sudah berkurang banyak? Padahal, muka saya yang sebelah kiri itu sudah saya bersihkan lho, pakai milk cleanser - facial wash - toner. Ternyata masker ini ampuh banget buat mengangkat minyak di wajah yang tidak mampu diangkat oleh pembersih biasa.

Apakah mengecilkan pori-pori?

Pori-pori saya itu sudah terlanjur besar-besar dari sononya. Tapi ketika saya amati, lumayan kok. Pori-pori cukup terringkas. 

Beneran 7 hari bebas minyak?

Kata kemasan maskernya sih begitu. Tapi ketika saya baca di belakang kemasan, aturan pakai masker ini adalah dua kali seminggu, alias 3 hari sekali. Memang benar, sekitar dua-tiga hari setelah saya pakai masker, minyak saya lebih terkontrol dari biasanya. 

Harga = Rp 12.000,00 dua kali pakai.

Pakai masker dan having fun!!

Anyway, supaya para Jenganten nggak bosen lihat muka saya yang maskeran, saya mau pamer foto narsis sama Dek Bubu @arinbubi ahh....


Tetep having fun.

Tuesday, September 4, 2012

Peeling & Review

What is peeling?

Semacam alat untuk mengepel lantai kah? Atau obat yang ditelan itu? Or, something gummy inside your noses? Hihihihi.

Peeling yang saya maksud adalah sesuatu yang digunakan untuk penipisan kulit. Loh? Kulit kok ditipisin? Buat apa? Secara harfiah, peeling artinya adalah penipisan. Tapi enggak sefrontal itu, Jenganten. Fungsi utama peeling adalah mengikis kulit mati yang masih berada di kulit. Setahu saya, setiap saat sel kulit selalu memperbaharui dirinya untuk kelangsungan eksistensi dan perlindungan kulit. Sel-sel yang sudah pensiun dari tugas mulianya melindungi tubuh kita ke mana dong? Nah, sel-sel yang lama itu akan terdorong ke bagian luar dan menyisakan lapisan paling luar kulit kita yang sering disebut sel kulit mati. Kabarnya, sel-sel baru itu tidak pernah berhenti berproduksi dan sel kulit mati akan tetap ada. Sel kulit mati ini jika dibiarkan akan menumpuk dan terakumulasi menjadi citraan kulit yang kusam.

Gimana supaya tidak kusam? Jawabannya adalah rajin dibersihkan. Membersihkan kulit dapat menggunakan oil cleanser, milk cleanser, dan sebagainya. Dan yang tidak kalah penting adalah rutin melakukan pengikisan yang disebut peeling. Harapannya, setelah kulit kita di peeling, maka akan menjadi bersih dari sisa-sisa kulit mati, kulit akan menjadi halus dan tidak kusam.

Mendadak saya jadi melankolis sendiri mengingat sel-sel kulit kita yang habis manis sepah dibuang. Sudah banyak berjasa ke tubuh kita tapi setelah pensiun di buang begitu aja. Hiks hiks. Yanasip, kulit.
Maaf Jenganten, saya memang biasa ngelantur.:p

Kenapa harus peeling? Peeling itu manfaatnya banyak. Buat saya pribadi, peeling bisa berfungsi sebagai berikut :
  1. Menghaluskan kulit secara instant.
  2. Mengikis komedo dan sel kulit mati.
  3. Menyiapkan kulit supaya masker mudah diserap kulit. (sebelum maskeran, peelingan dulu)
  4. Menghilangkan kekusaman setelah = olahraga, naik motor jarak jauh, abis bersih-bersih sesuatu yang banyak debunya.
  5. Jika kulit saya sedang mengering, mengelupas dan kusam, saya pakai peeling.
  6. Lagi kepingin peelingan aja. :)
Contoh peeling banyak macamnya. Ada yang disebut scrub, soap scrub, krim peeling, peeling gel, dsb. Yang penting gunanya sama : mengikis sel kulit mati. Kali ini saya berikan dua contoh peeling merk lokal yang cukup berkualitas dan bagus menurut saya. Yaitu :
  •  Mustika Ratu Peeling Mundisari
Peeling Mundisari Mustika Ratu
Deskripsi :
Bagi yang mendamba kehigienisan, wadah tube seperti Peeling Mundisari ini sangat cocok. Mulut tube yang cukup kecil juga membuat isinya tidak mudah berceceran. Wadahnya berwarna putih dengan label kemasan berwarna hijau. Tekstur peeling ini agak cair dengan butiran scrub yang kentara. Jika dioles ke kulit, aroma jejamuan tradisional langsung mengena. Buat saya, aroma ini lumayan enak, tidak terlalu menganggu. Setelah di pakai, kulit jadi terasa lembut dan halus.  Daki-daki, kotoran, komedo dan semuanya mampu terangkat dengan baik dan bersih.

Namun untuk beberapa kali pemakaian, yang mana ketika kulit saya pas sedang sensitif (misal habis sinar matahari), produk ini menyisakan rasa perih dan kurang nyaman untuk kulit. Mungkin karena butirannya yang cukup besar ya? Alhasil, saya menggunakan peeling ini jika kondisi kulit saya tidak sensitif.

Tertulis dalam kemasannya seperti ini :  
Kegunaan:
Membantu membersihkan dan mengangkat sel kulit mati. Mengandung Ekstrak Daun Kemuning untuk membantu melembutkan kulit serta diperkaya dengan Ekstrak Klabet dan Serbuk Temugiring yang membantu mengangkat sel kulit mati dan kotoran di kulit.

Saya belum begitu mengenal ekstrak Klabet sebagai produk kecantikan. Tapi saya pernah mendengar Daun Kemuning dan Temugiring adalah bahan perawat kulit yang sudah ada sejak dulu. Kabarnya bahan ini dapat membantu mengkuningkan kulit. Dulu, sebelum iklan pemutih marak di media, kulit yang cantik dideskripsikan sebagai kulit yang kuning langsat, bukan kulit yang berwarna putih macam yang iklan produk pemutih kampanyekan.

Tekstur Peeling Mundisari
Well, selain bentuk tube seperti ini, Mustika Ratu juga mengeluarkan varian peeling Mundisari yang berbentuk sachet. Untuk membuatnya, cukup dicampur dengan air mawar atau air putih matang yang bersih dengan takaran tertentu.
Sumber
Sebetulnya tidak ada perbedaan kualitas antara peeling jadi ataupun peeling sachet. Tapi buat beberapa orang, peeling sachet lebih 'mantep' dan lebih baik membersihkan sel kulit mati dibanding peeling jadi. Lagi-lagi, itu kembali ke masing-masing orang. Tapi buat saya sendiri, tidak masalah mau memakai peeling sachet ataupun yang jadi. Dua-duanya sama-sama bersih dan sama-sama mampu mengangkat kulit mati dengan sangat baik.

Harga : Rp 9.000,00 (botol 60ml), Rp 6.000,00 (sachet 5 gram)

Positif :
- Bersih dan halus di kulit
- Aroma jamu yang menyegarkan
- In my opinion, peeling ini mampu mengangkat komedo kecil-kecil
- Cocok untuk kulit yang sangat kusam

Negatif :
- Scrubnya geday-geday, jika dipakai untuk kulit yang sedang sensitif dapat menyebabkan kesan perih sebentar.
  • Viva Peeling Cream

Viva Peeling Cream
Ternyata brand Viva juga mengeluarkan varian peeling lho. Namanya Viva Peeling Cream.

Deskripsi :

Kemasan berbentuk pot yang mudah di ambil. Pot ini tidak ada sekat dengan tutupnya. Jadi begitu dibuka tutupnya, kita langsung berhadapan dengan isi peelingnya. Hmm, buat saya ini kurang higienis. Mungkin lebih baik jika Viva menyertakan sekat berbentuk kertas alumunium / plastik penutup tambahan.
Baik, kita skip dulu bentuk kemasannya yes?
Isinya berbentuk krim yang sedikit lebih kental dibanding Peeling Mundisari. Butiran scrubnya sangat halus tapi tetap ada. Butiran halus ini sangat menolong saya untuk tetap melakukan peeling tanpa merasa perih. Kesimpulannya, saya suka dengan butirannya. Lebih alus. :)
Aromanya tidak seperti aroma jamu. Lebih ke aroma kosmetik biasa khas Viva.
Tidak ada keterangan khusus mengenai kegunaan, cara pakai, dan sebagainya. Mungkin Viva sudah merasa pengguna sudah tahu duluan kali ya?
Kesan di kulit setelah memakai ini, adalah adanya sel kulit mati saya berguguran. Bersih. Serupa bersihnya dengan Peeling Mundisari. Hanya lebih minim rasa perih. Saya memakai peeling Viva jika kulit saya sedang butuh pengikisan tapi tidak kusam-kusam banget. Karena bentuknya cream, saya berkesimpulan, produk ini lebih cocok digunakan untuk kulit kering.

Tekstur Viva. Pengaplikasian ke tangan. Bisa Jenganten lihat daki-daki saya berguguran? Hihi
Harga : Rp 5.000,00

Positif :
- Butiran halus
- Bersih dan lembut di kulit
- Efek daki kering berguguran
- Cocok untuk kulit kering

Negatif :
- Wadahnya kurang higienis
- Tidak ada keterangan bahan produk (saya hanya mengandalkan label BPOM dan merk Viva jadi masih percaya kalau produk ini aman)

Tulisan ini bukan bermaksud untuk melakukan compare dua produk peeling. Karena dua produk di atas adalah produk yang sangat berbeda. Yang satu berbentuk cair dan sachet. Dan yang satu berbentuk krim. Jika kulit Jenganten berminyak, baiknya pilih Peeling Mundisari, dan kalau kulit kering, pilihlah Viva Peeling. 
  • Tips
  1. Setelah melakukan peeling wajah dan dibersihkan, sangat baik melanjutkan perawatan dengan masker. Kulit memang menjadi halus setelah peeling. Tapi kulit juga membutuhkan penambahan nutrisi dalam bentuk masker atau pelembab.
  2. Jangan lupa, sebelum peeling, pastikan wajah dalam kondisi sudah dibersihkan dengan cleanser atau facial foam.
  3. Hindari melakukan peeling ketika kulit berjerawat. Atau jerawat jadi makin parah. Cara peeling yang benar adalah dipijat-pijat perlahan sampai sel kulit berjatuhan. Bisa dibayangkan jika jerawat yang sedang meradang kita paksa pijat-pijat?
  4. Jika tangan atau kaki terasa kasar, bisa tuh, peeling wajah dipakai di kaki. (my "hehehe" tips).

@andhikalady  << perempuan yang merasa wajahnya sangat mudah kusam sehingga perlu peeling. >.<* 


Semacam quote : "waktu terus berjalan. Suatu hari nanti, semua pemilik jiwa akan purna tugas karena kehendak alam. Hanya mereka yang sungguhan berkarya dengan hatilah yang akan dikenang selamanya"

Termasuk kulit kita. Kita. Orang tua kita. Dan siapapun manusia yang pernah hidup dalam sejarah yang selalu berkarya.

Ads