Nama tarian ini sekilas mirip dengan nama perempuan Jawa,
Puji Astuti. Yups, memang ada kemiripan, tetapi tarian klasik Jogja ini lebih
lazim dilafalkan atau dituliskan menggunakan ejaan Jawa, Pudyastuti. Tarian ini
adalah salah satu jenis tarian klasik Yogyakarta, sekawan dengan tari Bedhaya,
Tari Golek Sulung Dayung, Golek Kinyotinembe, dan lain-lain. Seperti tarian
Jogja pada umumnya, tari Pudyastuti juga ditarikan secara lemah lembut gemulai,
pelan (level pelannya pelan bangettt!) beserta mimik muka senyum menunduk
malu-malu. Hihihi.
Kemarin saya sempet ditanyain “Kok kamu nggak bisa nari Jawa?
Bukannya sama kayak tari Bali ya? Tinggal belajar gerakan saja kan?”
Iya, kalau ‘tinggal’ belajar gerakan saja sih semua orang
pasti sudah bisa tarian seluruh nusantara. -___-.
Khusus untuk tari Klasik
-tari manapun- pasti punya pakem-pakem khusus yang nggak boleh diubah.
Contohnya pada tari Bali, jemari tangan harus membuka dan selalu digerakkan,
tari Jogja harus tertutup, tari Solo badannya harus lebih menunduk. Jangankan
tari Bali dan tari Jawa, tari Jogja dan Solo yang sesama Jawa pun sudah berbeda
pakem. Jadi, akan cukup sulit untuk penari yang sudah terbiasa menari klasik
Bali lalu kemudian menari Jawa, begitu pula sebaliknya. Tapi level ‘cukup
sulit’ ini nggak berlaku untuk semua penari. Untuk penari profesional tentu
saja lebih mudah untuk belajar menari gaya apapun.
Well, kembali ke topik tari Pudyastuti. Jadi mau cerita
sedikit.
Kemarin, di sebuah acara yang mengundang penari, saya diminta
untuk mencari sepasang penari gaya Yogyakarta. Tadinya mau minta penari
Gambyong gaya Surakarta, tapi karena suatu hal akhirnya memilih yang Jogja
saja. Wuzh, Alhamdulillah akhirnya dapat. Lucunya, yang menari itu adalah guru
tari Bali saya, mbak Niluh, yang sudah memiliki jam terbang menari yang banyak
banget.
Tari Pudyastuti mengisahkan tentang rasa syukur dan ungkapan
gembira. Tarian ini menampilkan paparan seorang gadis remaja yang beranjak dewasa dan sedang berdandan.
Iya, betul, sedang berdandan! Jadi, dalam tarian itu ada gerakan-gerakan yang
biasa kita lakukan ketika merias diri di depan kaca, seperti memakai eyeshadow,
merapikan alis, berkaca, menata rambut, dan sebagainya. Kalau kamu berpikir
ritual pakai eyeshadow dan merapikan alis itu cuma milik perempuan modern
metropholithan, itu salah besar. Leluhur kita yang hidup berpuluh tahun yang
lalu, belum kenal beauty blogger,
sudah menggubah kegiatan wanita itu jadi sebuah gerakan tarian yang indah gemulai.
| Sedang merapikan alis / pakai perona mata. |
| Sedang merapikan rambut. |
Lalu gimana dengan riasnya? Nah, bagian rias-riasnya nih yang
bikin saya tertarik. Rias tari Pudyastuti itu mirip banget sama rias gaya
pengantin Paes Ageng Yogyakarta. Perbedaannya adalah pada penari Pudyastuti
tidak menggunakan paes dan alisnya tidak bercabang. Sementara bagian lain,
bokor sanggul, melati, dan hiasan-hiasan lain sama persis.
| Rias Paes Ageng. Sumber |
Karena inilah saya jadi berkesimpulan (tolong CMIIW ya kalau
kurang tepat) bahwa Tari Pudyastuti juga menjadi semacam lambang bagi wanita
muda yang sedang mempersiapkan kedewasaannya dengan cara berdandan a la
pengantin. Jadi, ketika remaja, belajar dandan untuk rambutnya dulu, baru nanti
pas udah jadi pengantin, tinggal disempurnakan dengan paesnya. Hihi.
| Boleh dong, foto sama penarinya. |

Woww keren banget ya... Sering-sering aja, dy ngepost ginian... Aku demen bacanya :D
ReplyDeleteInsyaAllah ya Jeng Mizha. Di Jogja banyak kok acara-acara tradisional begini. Hihihi...
DeleteWahh sukakkk,,, cantik penarinya, kirain yg nari Jenganten,,,
ReplyDeleteWahahah, aku belum bisa nari Jawa jeng.. :D
Delete