Monday, January 27, 2014

Tari Klasik Yogyakarta Pudyastuti




Nama tarian ini sekilas mirip dengan nama perempuan Jawa, Puji Astuti. Yups, memang ada kemiripan, tetapi tarian klasik Jogja ini lebih lazim dilafalkan atau dituliskan menggunakan ejaan Jawa, Pudyastuti. Tarian ini adalah salah satu jenis tarian klasik Yogyakarta, sekawan dengan tari Bedhaya, Tari Golek Sulung Dayung, Golek Kinyotinembe, dan lain-lain. Seperti tarian Jogja pada umumnya, tari Pudyastuti juga ditarikan secara lemah lembut gemulai, pelan (level pelannya pelan bangettt!) beserta mimik muka senyum menunduk malu-malu. Hihihi. 

Kemarin saya sempet ditanyain “Kok kamu nggak bisa nari Jawa? Bukannya sama kayak tari Bali ya? Tinggal belajar gerakan saja kan?”

Iya, kalau ‘tinggal’ belajar gerakan saja sih semua orang pasti sudah bisa tarian seluruh nusantara. -___-.
Khusus untuk tari Klasik -tari manapun- pasti punya pakem-pakem khusus yang nggak boleh diubah. Contohnya pada tari Bali, jemari tangan harus membuka dan selalu digerakkan, tari Jogja harus tertutup, tari Solo badannya harus lebih menunduk. Jangankan tari Bali dan tari Jawa, tari Jogja dan Solo yang sesama Jawa pun sudah berbeda pakem. Jadi, akan cukup sulit untuk penari yang sudah terbiasa menari klasik Bali lalu kemudian menari Jawa, begitu pula sebaliknya. Tapi level ‘cukup sulit’ ini nggak berlaku untuk semua penari. Untuk penari profesional tentu saja lebih mudah untuk belajar menari gaya apapun.


Well, kembali ke topik tari Pudyastuti. Jadi mau cerita sedikit.

Kemarin, di sebuah acara yang mengundang penari, saya diminta untuk mencari sepasang penari gaya Yogyakarta. Tadinya mau minta penari Gambyong gaya Surakarta, tapi karena suatu hal akhirnya memilih yang Jogja saja. Wuzh, Alhamdulillah akhirnya dapat. Lucunya, yang menari itu adalah guru tari Bali saya, mbak Niluh, yang sudah memiliki jam terbang menari yang banyak banget.

Hmm, jadi EO tarian aja ya sekalian.

Tari Pudyastuti mengisahkan tentang rasa syukur dan ungkapan gembira. Tarian ini menampilkan paparan seorang gadis remaja yang beranjak dewasa dan sedang berdandan. Iya, betul, sedang berdandan! Jadi, dalam tarian itu ada gerakan-gerakan yang biasa kita lakukan ketika merias diri di depan kaca, seperti memakai eyeshadow, merapikan alis, berkaca, menata rambut, dan sebagainya. Kalau kamu berpikir ritual pakai eyeshadow dan merapikan alis itu cuma milik perempuan modern metropholithan, itu salah besar. Leluhur kita yang hidup berpuluh tahun yang lalu, belum kenal beauty blogger, sudah menggubah kegiatan wanita itu jadi sebuah gerakan tarian yang indah gemulai.

Sedang merapikan alis / pakai perona mata.
Sedang merapikan rambut.

Lalu gimana dengan riasnya? Nah, bagian rias-riasnya nih yang bikin saya tertarik. Rias tari Pudyastuti itu mirip banget sama rias gaya pengantin Paes Ageng Yogyakarta. Perbedaannya adalah pada penari Pudyastuti tidak menggunakan paes dan alisnya tidak bercabang. Sementara bagian lain, bokor sanggul, melati, dan hiasan-hiasan lain sama persis.


 
Rias Paes Ageng. Sumber
Karena inilah saya jadi berkesimpulan (tolong CMIIW ya kalau kurang tepat) bahwa Tari Pudyastuti juga menjadi semacam lambang bagi wanita muda yang sedang mempersiapkan kedewasaannya dengan cara berdandan a la pengantin. Jadi, ketika remaja, belajar dandan untuk rambutnya dulu, baru nanti pas udah jadi pengantin, tinggal disempurnakan dengan paesnya. Hihi. 





Boleh dong, foto sama penarinya.
@andhikalady
Reaksi:

4 comments:

  1. Woww keren banget ya... Sering-sering aja, dy ngepost ginian... Aku demen bacanya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. InsyaAllah ya Jeng Mizha. Di Jogja banyak kok acara-acara tradisional begini. Hihihi...

      Delete
  2. Wahh sukakkk,,, cantik penarinya, kirain yg nari Jenganten,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahah, aku belum bisa nari Jawa jeng.. :D

      Delete