Wednesday, October 31, 2012

Traditional Dance : Oleg Tambulilingan dan Nguri-uri Budaya


Aslinya saya bukan penari. Menurut saya, penari itu adalah orang yang profesinya adalah menari dan berseni. Penari mencari nafkah dengan menari. Sementara saya? Cari nafkahnya dengan jual diri. #winkk
Oke, jual diri maksudnya adalah merelakan diri dimanfaatkan kemampuannya untuk cari nafkah.

Karena saya orangnya suka terpesona sama hal-hal seni, ditambah saya pun memiliki minat yang terbumbui racun salah satu teman saya, sayapun meniatkan diri belajar menari. Bukan mempelajari loh ya. Menurut saya, belajar dan mempelajari memiliki pengertian yang berbeda. Belajar itu adalah melatih diri terhadap suatu pengetahuan atau ketrampilan. Sementara mempelajari itu, selain dia belajar, juga memperkaya pengetahuan diri dengan mengapa, bagaimana dan apa alasan dia harus belajar.

Kalau dilihat dari ketangguhan ilmunya sih, jelas mempelajari jauh lebih berat dibanding belajar.

~buset omongan saya sudah macam bahasa skripsi saja~

Jadi intinya, saya belajar tari Bali.


Sebenarnya menari itu cuma sebentar. Paling-paling lima hingga lima belas menit di atas panggung. Tapii, proses latihan, rias dan kostumnya itu sungguh lama. Dari latihan, kita harus merelakan tubuh pegal-pegal karena memperagakan agem dan melentikkan jari. Pun tidak cukup waktu sehari-dua. Butuh berbulan-bulan untuk dapat menguasai satu tarian dengan baik. Tari Oleg saja, saya butuh waktu lima bulan baru boleh melakukan ujian.


Nah, kali ini saya mau share bagaimana proses dandan penari secara umum. Pada dasarnya, persiapan pra tari tradisional itu jauh lebih rempong dibanding persiapan untuk modeling, pemotretan, dsb.
  • Tubuh. Jika kostumnya memperlihatkan kulit, tubuh penari terlebih dahulu diluluri dengan foundation atau bedak kocok. Lebih bagus lagi jika foundation yang dipakai memiliki shimmer, sehingga ketika tertimpa cahaya, kulit penari itu terlihat bersinar.
  • Jari. Kebanyakan penari memoles kukunya terlebih dahulu untuk menambah kesan cantik. Biasanya warnanya disesuaikan dengan karakter tarian yang dibawakannya. Misal peran antagonis, warna kuku yang dipakai adalah hitam. Untuk peran protagonist, cukup warna merah atau pink. 
Polish kuku dengan cat merah
  • Shaving. Hmm, bagi yang memelihara,,errr, bulu-bulu di bagian tubuh tertentu. Penari itu harus melakukan shaving dulu. (Kecuali penari itu adalah penari cowok yang memerankan Hanoman. Itu bulu dadanya bisa dibiarin panjang. Eh)
  • Make up wajah. Ini bagian yang cukup rempong. Setiap tarian memiliki ciri khas makeup yang berbeda-beda. Pembedanya tergantung dari asal tarian, karakter yang dibawakan dan perannya di tarian.
  1. Ciri khas rias tari Bali adalah eyeshadow warna pink, kuning dan biru. Ditambah titik di antara dua mata, dan masing-masing tiga titik putih di pelipis mata.
  2. Untuk tari Jawa, kebanyakan yang dipakai adalah biru, cokelat dan emas. Belum lagi ditambah pakem look tarian seperti alis menjangan, paes, dll.
  3. Ramuan makeup bisa memakai merk apapun asal berkualitas. Syarat makeup panggung untuk tarian konsepnya adalah : harus cerah, harus mencolok, warna harus kontras, dan mimik mukanya tegas. Jadi sudah bukan saatnya lagi pakai makeup natural. Kenapa banyak Beauty Blogger bilang alat makeup adalah alat Lenongan? Mungkin itu maksudnya adalah alat yang dipakai untuk menari. Padahal makeup tari tidak senatural makeup sehari-hari.
  4. Kemarin saya sempat mengira traincase yang dipakai MUA adalah makeup mahal macam produk impor, tapi ternyata yang dipakai apa saudara? E.s Sariayu Merak Kasmaran, Kelimutu, Inez, Mirabella, bedak Viva dan sederet merk makeup lokal yang kualitasnya terjamin. Satu-satunya produk impor yang dipakai adalah foundation Kryolan. Meski begitu, makeup yang saya pakai tetap dapat bertahan berjam-jam tanpa touch up plus ditambah keringatan sehabis menari.
  • Hair do. Kostum boleh mirip-mirip, tapi hair do harus berbeda beda.
  1. Hair do khas Bali berciri hiasan gelung dan udeng berwarna emas, cemara rambut, dengan hiasan bunga kamboja pada mahkota atau rambutnya. Contohnya Tari Pendet, hairdo terdiri dari cemara rambut yang diuntai ke bahu, dan dihiasi dengan kamboja dan konde emas untuk mempercantik tampilan. Untuk tari Oleg, penari mengenakan cemara dan mahkota warna emas plus konde-konde yang ditusukkan ke rambut.
  2. Hair do tari Jawa bermacam-macam. Rata-rata menggunakan melati dan sanggul. Ada pula mahkota berbulu, berkepala merak, dan lain-lain. Jika tari Bali rata-rata menggunakan bunga Kamboja, maka tari Jawa menggunakan Melati.
  • Kostum. Tidak kalah rempong dengan hair do dan makeup, di sini saya akan share tata kostum tari Oleg Bali :
  1. Get ready dengan long torso/korset/strapless. Adakah yang tidak tau Long Torso itu apa? Dia adalah semacam korset yang memiliki wadah payudara. Kenapa penari harus pakai? Tentu saja untuk menjaga agar payudara tidak bergeser, terangkat dan berisi. #eh.
  2. Memakai kain tenun Bali untuk bawahan yang berciri khas menyapu lantai, kemudian pakaikan stagen. Stagen dipakai sampai menutup dada lho.
  3. Setelah lapisan stagen 1, dilanjutkan dengan pemasangan stagen 2. Stagen 2 adalah stagen busana Bali yang berciri warna emas, tipis dan panjangnya bisa mencapai 3 meter. Stagen ini dililitkan kencang sekali (I mean, kencang sekali!!) ke tubuh penari supaya hasil kembenan tidak melorot.
  4. Lengkapi dengan sampur berwarna kuning.
  5. Tambah aksesori kalung gold, hiasan pinggang (saya lupa namanya), hiasan lengan.
Sesama penari saling membantu memakaikan kostum. Err, dek bercelana kuning, saya ijin pasang fotomu dari belakang yaa.. >.<
~kalau dihitung-hitung, jumlah lapisan yang dipakai untuk melilit tubuh penari Bali itu ada, errr, empat lapis!! Bayangkan cwiiin~

Setelah kostum, hair do, make up siap, barulah si penari bisa menari. Look seperti ini bisa dibayangkan kan ribetnya gimana.




Bersama sesama rekan penari Oleg.






Meski kelihatannya ribet, tapi saya tetap senang melakukannya. Pokoknya apapun yang berbau budaya tradisional, saya pasti suka. Seandainya ada yang menawari saya belajar alat musik Rindik atau Sasando, pasti saya senang banget. Sayangnya di Jogja belum ada kelas musik tradisional itu. Adapun baru sebatas angklung dan gamelan Jawa. 

Jenganten Sekararum juga nonton lhoo.
Selain menari, saya juga suka mempelajari filosofi masing-masing tarian. Kalau kata orang, “di balik sebuah lagu, ada kisah yang ingin disampaikan”, begitu pula dengan tarian. Tari Oleg Tambulilingan adalah tarian yang menggambarkan romantisme, keceriaan dan pengharapan akan datangnya seorang kekasih (yeah, mirip-mirip gitu sama kisah saya). Penggambaran itu dilambangkan dengan tarian sepasang lebah yang sedang menari di sebuah taman (Tambulilingan : lebah). Tari Oleg ini, awalnya diciptakan oleh Ketut Mario pada tahun 70an. Tarian ini juga kerap dipentaskan pada upacara pernikahan adat Bali.

Pose Penari Galau.
Saya dengan pasangan tari saya. Say Hello untuk mbak @ajenksanti

Tari Oleg ditarikan berpasangan. Penari wanita menari lebih dulu, kemudian setelah beberapa menit, penari prianya datang. Penari wanita dicirikan menggunakan sampur dan penari pria membawa kipas. Sampur direpresentasikan sebagai sayap kumbang yang sedang beterbangan. Anw, saya punya satu penari Oleg favorit saya, beliau bernama Ni Ketut Sri Laksmi, video tari Olegnya sudah saya tonton berulang kali. Gerakan tarinya luwes bangettt :



~bersamaan dengan ini saya mau minta tolong, jika ada pembaca blog saya yang kenal dengan beliau, saya kepingin banget dikenalin. Suwer deh. Saya kepingin belajar banyak tentang filosofi tarian Bali~

Pada dasarnya saya suka banget kesenian khas Indonesia. Beruntung banget saya tinggal di kota yang hampir setiap minggu ada event kesenian. Semacam pentas tari, musik, festival, kirab budaya dan sebagainya. Kebetulan yang paling saya minati saat ini adalah tari Bali. Tapi tidak menutup kemungkinan suatu saat saya tertarik dengan tarian lain. Buat saya, belajar seni itu menyenangkan lho. Entah itu tarian, musik tradisional, seni sastra, batik, bahkan makeup! Saya punya blog ini salah satu tujuannya adalah menyalurkan keinginan untuk belajar seni makeup.

Aniway, yang sering menyebut alat makeup sebagai alat Lenongan itu pada bisa tari Lenong nggak ya? Ini nih, saya kasih contoh video Tari Lenong :



Keterangan :

Sebenarnya saya sudah cerita tentang tari Oleg Tambulilingan di sini. Tapi kok mendadak jadi ingin cerita lagi di sini. Terutama seputar makeup dan behind the scene.
 
@andhikalady

Monday, October 29, 2012

OOTD Kondangan Teman

Semua mecing kecuali, backgroudnya. Parkiran motor. >.<


Beberapa waktu lalu, teman kuliah sekaligus teman kantor saya menikah. Kami kondangan (ya iyalah!). Kami berfoto-foto, dan saya merasa ada yang kurang jika tidak share OOTD sewaktu kondangan. 

My look.

Tak akan kubiarkan siapapun mengambil clucth bagku, Nyai.


Bareng Vivi.
Sasti & Me.

With Friends.

Semua meching, kecuali, errr, wedgesnya.

Pose bareng Kombregirls.
Foto pengantinnya mana? Ini saya ambilkan dari Twitter :

Yoga Hanggara & Istri, Lailatul Badriyah

Foto kelas.

Selamat. Semoga menjadi keluarga Sakinah, Mawadah, Warrahmah.

Fanbo Freebies & Fantastic Matte Lipstick



Beberapa waktu yang lalu, karena bejo, saya berkesempatan untuk mendapat free paket produk dari Fanbo yang terdiri dari kosmetik sbb :



Eyeshadow Kit Pesona Kupu, Lulur Madu, TWC, Bedak Padat, Milk Cleanser RoseToner Rose, Body Lotion Rose, Lipstick, Lipstick Matte, Eye Pen Liner, Eyebrow Pencil, Liquid Foundation


Nah, daripada postingan ini berisi pameran tok, saya juga sekalian mau mereview salah satu item di atas, yaitu Lipstick Matte.


Lipstick Matte. Apa sih yang membedakan lisptik matte dengan lipstick biasa? Lipstick matte itu adalah pewarna bibir yang dibuat dengan coverage maksimal, hasil yang minim kilau (matte), tahan lama dan mampu menutupi warna alami bibir. Tekstur lipstick matte biasanya sangat padat dan miskin pelembap. Karena sedikit pelembap itulah, lipstick matte harus diaplikasikan pada bibir yang sudah sehat dan lembap.Kalau tidak begitu, maka hasil pengolesan lipstick matte cenderung terlihat kering dan kelupasan bibir menjadi lebih jelas.

Berbeda dengan lipstick biasa yang bertekstur creamy. Memiliki pelembap banyak, dapat langsung dipakai bahkan untuk bibir kering sekalipun, tapi warnanya cenderung sheer dan tidak bertahan lama.
Jadi, apakah Fanbo Matte Lipstick ini sudah seperti matte lipstick pada umumnya. Yuk mari kita review.

  • Kemasan

 Saya suka warna merah yang digabung dengan warna gold. Ini baru cocok. Warna hangat dan warna hangat. Selain itu, kesan kilau yang ditimbulkan membuat lipstick ini terlihat elegan. Tapi sayang sekali, tulisan Fanbo yang berwarna emas itu mudah sekali pudar. Satu kali kegores saja, tulisannya sudah berubah bukan Fanbo lagi tapi Fabo. Hehehe.

 

Kemasannya berbentuk mini seperti pensil. Isinya juga tipis panjang. Buat yang bentuk bibirnya kecil tidak perlu khawatir mengoleskan langsung ke bibir dari lipsticknya.

  • Warna

Saya memiliki dua warna lipstick. Yang satu adalah nomor 2, satunya nomor 7. Lipstick nomor 7 berwarna pink cokelat natural. Kalau saya bilang sih, ini jenis warna lipstick yang malu-malu. Alias cocok dipakai sama yang masih malumalu pakai lipstick. #eh. Hasilnya di bibir warna natural, semi nude, dan nutup dosa-dosa di tepi bibir alias punya cover yang bagus. Cucok banget deh, malu-malunya. 

Kiri no 7, kanan no 2
Dan warna yang nomor 2 adalah warna pink fuchia, agak semi ungu. Ketika diapply di bibir, warnanya cakeep banget. Kalau saya deskripsikan, warnanya ngejreng abis. Saya suka dengan hasilnya di bibir. Gak malu-malu. (berati saya malu-maluin, gitu).

Swatch di tangan.

  • Swatch di Bibir
No 2


No 7


  • Stay Power


Lipstick ini stay powernya lumayan. Cukup tahan lama di bibir. Bisa betah dipakai selama kurang lebih 4 jam. Tapi ketahan lembapnya masih kurang di bibir saya. Kalau dipakai, lama-lama membekas garis-garis di bibir. Jadi bibir saya terkesan banget memakai lipstick dan kurang rata. Untuk menghindari hal tersebut, saya sih seringnya memakai lipbalm dulu sebelum memakai lipstick ini. 

Yang kurang saya sukai adalah lipstick ini membuat bibir saya kering. Tapi gimana doong, saya suka warnanya. Lipstick matte memang punya ciri khas dapat membuat bibir kering karena kandungan pelembapnya yang minim. Tapi bisa juga diantisipasi dengan menggunakan lipbalm sebelum pemakaian. Boleh juga setelah mengoles lipstick ditambah lagi dengan lipgloss untuk hasil yang shiny.

Kesimpulannya, lipstick matte punya Fanbo ini recommend untuk yang ingin lipstick lokal berwarna cover, orang yang bibirnya tidak kering, dan yang tidak bermasalah dengan kemasan yang mudah mengelupas. Hehehe.


Monday, October 22, 2012

Semuanya Demi Nyai..



Happy Halloween!! Akhirnya kita dipertemukan kembali dengan Makeup Nista Challenge. 

Halloween. Sesuai namanya, ini adalah momen masyarakat di mana tradisi ini berasal merayakannya dengan berbagi permen (ada yang mau permen?), berkostum menyeramkan, dan menggambari labu dengan mulut gigi tajam dan alis menanjak.

Untungnya Makeup Nista memberi kebebasan siapapun yang hendak ikutan tantangan untuk menafsirkan setiap challenge yang diadakan. Untuk itu, saya memilih untuk pura-pura menjadi ...

Demi Langit dan Bumi dan Laut dan Darat, nanananana…

-
-
-
-
-
-
 - 













Saya merepresentasikan look Halloween di atas sebagai seorang Nyai. Kesannya memang seperti tidak ada seram-seramnya. Disebut Suzzana, silahkan. Disebut Jenganten bermelati, boleh. Disebut perempuan kesasar, juga tak apa. Tapi kalau disebut Nyai Roro Kidul, apalagi Kanjeng Ratu Kidul, saya merasa jauuuh dari pantas. Saya tinggal di Nagari Jogjakarta. Di mana mitos dan legenda masyarakat tentang sesosok penguasa Laut Selatan hampir-hampir dapat dikatakan nyata. Jadi, untuk menghormati segala pihak, saya menegaskan kalau ini bukan bermaksud menyerupai beliau.

Awalnya, saya juga bermaksud mengikutkan ini ke Makeup Challenge Looxpeeriments, Deep Blue Sea, seminggu yang lalu. (boleh dong, masuk Deep Blue Sea karena roknya warna biru laut? Hehehe) Tapi sepertinya sudah telat. Hehehe.

Bukan Makeup Nista namanya kalau tidak ada keseruan di balik pembuatan look ini. Inilah ...

Momon : Aduuh, rambutmu kepotong!!!. Arum : Udu aku, udu aku. Saya : Haaah!!!

Momon : Diem ya, rambutmu lagi aku gundulin.

Foto over blurring. Biar rada serem dikit aku kasih liat rambutnya Tintaz. *peace Tintaz*
Terimakasih buat teman-teman Nista yang mau menampung saya. Sebenarnya kami mau nagih Jeng Arum untuk makeup tiiiiit *sensor*, tapi kok kemarin batal ya. #kuciwo...


Bonus, Foto yang sudah diedit Instagram

Enjoy,