Thursday, August 30, 2012

Tips : Maskara Sangar

Pertama-tama, saya ingin banget ngucapin terima kasih untuk kamu, siapapun kamu, di manapun kamu, yang sedang membaca dan mungkin rajin mengunjungi blog sederhana ini. Banyak kejutan yang menghampiri saya melalui blog ini. Dari follower yang bertambah sedikit demi sedikit, kunjungan yang semakin naik. Satu hal penting yang saya rasa = saya jadi merasa memiliki banyak kawan baru. :’).

Beberapa ada yang bilang kalau mereka telah banyak terbantu dengan membaca blog ini. Ada yang bilang beruntung bisa nemu tips sederhana, review make up yang ramah di kantong, dan ada pula yang minta untuk diajarin. Wow, ini betul-betul membuat saya terharu to the max pokoknya. Padahal saya sendiri masih newbie. Apa yang saya tulis di sini bukanlah hal yang saya dapat dari hasil kursus make up macem-macem atau gimana. Murni dari hasil kepo saya dengan orang-orang lain atau coba-cobi dengan alat make up.

Hehe, seperti biasanya, saya juga mau ngasih sedikit tips lagi. Kali ini tentang hal sederhana lainnya yaitu : Mempertebal maskara.

Aslinya, bulu mata saya ini sangat-sangat tidak sangar. Saya bukan orang yang terlahir memiliki bulu mata panjang lebat sempurna. >.<
Mata asli saya.
Memang dapat diakali dengan bulu mata palsu. Tapi apakah saya mampu menyisakan lima belas menit sendiri setiap hari untuk pasang bulu mata? Ya enggak lah. Rempong banget. Kecuali memang ada acara khusus. Jadi saya mengandalkan maskara. Tapi tidak jarang pula maskara yang saya pakai tidak menghasilkan apa-apa di bulu mata saya. Tidak ada hasil yang signifikan dan masih saya terlihat tipis.

So, jadi harus pakai apa untuk membuat maskara yang sangar? Saya memakai bedak bayi. 

Johnson baby powder dan maskara Pixy
Bedak Johnson Pink Blossom ini favorit saya banget. Teksturnya lembut, aromanya harum dan enggak bikin iritasi. Tapi untuk tips ini, bisa juga memakai bedak bayi merk lain. Maskara Pixy adalah satu-satunya maskara yang sedang saya punyai sekarang. Dia waterproof, dan mudah dipakai. Karena daya simpan maskara itu pendek, saya jadi tidak pernah menyetok maskara. Tidak harus menggunakan maskara bermerk Pixy. Pakailah maskara apapun yang kamu punyai. :)

Jadi caranya adalah begini :


Pakai maskara, lapisi dengan bedak bayi.
1. Rias mata (pake eyeshadow, eyeliner, dsb) terlebih dahulu kalau perlu.
2. Jepit terlebih dahulu bulu mata. Karena jepitan saya hilang, saya menyekip proses ini.
3. Pakai maskara. Saya biasanya memakai dengan gerakan kanan-kiri-atas, geser-geser perlahan di sela bulu mata agar merata.
4. Dengan menggunakan tangan, lapisi bulu mata yang masih basah karena maskara dengan bedak bayi tipis-tipis.
5. Tunggu hingga bulu mata kering.

Lap tipis pakai tissue, pakai maskara lagi, dan hasil akhir.
6. Setelah bedak kering, lap tipis-tipis bedak yang tidak menempel memakai tissue.
7. Ulangi lagi memakai maskara.
8. Jadii.

Hasil akhir. Perbedaan mata yang memakai dan tidak memakai.

Bulu mata sangarku.
  • Membersihkan
Untuk membersihkan pekerjaan sangar macam begini, memang harus sedikit telaten. Memakai eye make up remover atau milk cleanser menurut saya kurang mantep untuk menghilangkan sisa maskara dan bedak. Kita harus menggunakan oil cleanser. Jika tidak ada, dapat memakai olive oil. Jika masih tidak ada, gunakan baby oil.

Saya memakai Cussons Baby Oil.

Cara membersihkan :

Mata dengan baby oil. Ewww.
1. Bersihkan dulu kulit kamu dengan milk cleanser atau cleansing oil, angkat pakai kapas.
    Kenapa muka dulu? Banyak yang lebih suka membersihkan mata dulu, tapi saya lebih suka muka dulu. Karena jika muka belum bersih, proses membersihkan mata kurang maksimal. Tissue-tissue yang harusnya dipakai untuk membersihkan eyeshadow/maskara dkk akan terganggu dengan foundation dari sekitar mata.
2. Olesi bulu mata dengan baby oil dengan cara ditepuk-tepuk
3. Angkat pakai tissue/kapas.
4. Baru bersihkan dengan eye make up remover / cleanser.
5. Cuci muka.
6. Pakai toner.
7. Tidur.
8. Jangan lupa senyum. :)

Adonan Mata
- Viva Eyeshadow Black
- Viva Eyebrow Brown
- My Darling Eyeliner

Harga :
- Pixy Mascara : Rp 34.000,00
- Johnsons's baby powder pink blossom : Rp 6.000,00
- Cussons baby oil : Rp 5.000,00
- Viva Face tonik & Cleanser Green Tea : @ Rp 4.000,00

* harga dapat berbeda-beda di masing-masing tempat.

Cheers, semoga tips ini berguna ya, Jenganten.


XOXO, untuk para Jenganten di manapun kalian berada.

@andhikalady

Updated

Ternyata saudari Jenganten Anita Widi sudah duluan pernah memosting tips serupa di sini . Kebetulan saya memang belum baca, Jenganten. :). Saya mendapat tips ini dari teman saya yang nggak mau namanya disebut. Untuk kesamaan tips dan lain-lain merupakan hal yang nggak disengaja, Jenganten. Stay peace, dan semoga membantu. :)

Tuesday, August 28, 2012

Beauty of Friendship, Reunion

Entri ini ditulis untuk memenangkan free entry untuk Looxclass Beauty Blogging & Make Up Workshop Jogja (plus hadiah paket makeup sebesar sampai Rp. 250.000). Klik ini deh untuk detil acaranya : http://www.looxperiments.com/2012/07/yogyakarta-looxclass-beauty-blogging.html dan klik ini deh, kalau mau ikutan blog contest-nya : http://www.looxperiments.com/2012/08/blog-contest-beauty-of-friendship-rules.html

Haloo, Jenganten. Gimana? Sudah baca paragraf pertama postingan ini? Yups, bener banget. Saya sedang bermaksud mengikuti blog-contest dari beauty blog paling hip saat ini, @looxperiments. Bagi yang penasaran, bisa langsung cek di websitenya www.looxperiments.com . 
Di dalamnya ada bermacam-macam review make-up, tips make-up, tips fashion, hasil kompetisi make-up, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan kecantikan. Perempuan banci make-up macam saya tentu saja sangat senang bisa nemu blog semacam ini. Ditambah lagi, setiap dua minggu, Looxperiments selalu mengadakan make-up challenge. Mereka menantang setiap orang -iya, benar, setiap orang, nggak peduli gender, pokoknya suka make up- untuk bermain merias diri dengan tema tertentu yang berbeda-beda setiap edisi. (setiap edisi, kayak sinetron ajah. Hihi). Pokoknya seru deh, sesuai dengan tag mereka, Mari Bermain dengan Make-up.

Tapi, untuk bulan ini, tantangan mereka agak berbeda. Tapi tetap tidak jauh-jauh dari beauty. Mereka menantang setiap orang untuk menulis sesuatu yang bertemakan Beauty of Friendship. Meski bukan tema make-up, tapi tantangan ini menarik juga lho, untuk diikuti. Terimakasih Looxperiments, saya jadi membuka-buka foto lama dengan shabat yang akan saya ceritakan di sini. :).

Bicara soal beauty dan persahabatan, saya langsung teringat dengan salah dua sahabat saya. Mereka teman satu kelas sejak masuk kuliah. Sekarang kami masing-masing sudah bisa disebut menjadi -orang-. Vivi, lulusan tercepat dan mendapat predikat cumlaude. Dia berhasil mendapat beasiswa S2 dari Dikti. Sekarang sedang mengambil gelar master sambil nyambi bekerja. Dua atau tiga tahun lagi barangkali dia sudah berhak memegang title Bu Dosen. Eka, yang ternyata di tahun kedua kuliah dia diterima di STAN dan sekarang sedang berkutat dengan tugas akhir, wisuda dan penempatannya. Tidak lama lagi, pasti dia sudah mengantongi Blackberry edisi terbaru, atau iPad seri terakhir, atau melingkarkan cincin kawin di jari manisnya. Saya, yeah, meskipun judunya kuliah sambil bekerja, kini saya masih berkutat di skripsi S1, pun masih galau menyoal asmara. Menyedihkan? Mungkin. Tapi saya sangat bersyukur dengan apa yang saya miliki sekarang. Karena saya -boleh jadi- bisa lah, disebut sebagai blogger yang suka jalan-jalan.
Re : -jalan-jalan di pikiran kamu- Hehe. :)

Kalau ngobrolin tentang -sudah jadi apa kami sekarang- saya jadi teringat masa-masa di saat kami masih menjadi sekelompok wanita yang suka ngeluyur dari jam kuliah dan makan pizza mie. Itu loh, indomie yang disajikan dengan omelet telur dadar. Atau menggosip tentang daftar pria kece no #1 di kelas kami. FYI, wanita merupakan makhluk langka di kampus kami. Saking banyaknya makhluk bergen Y di sana, sehingga kami mudah sekali menyusun daftar cowok paling hip se-antero kampus. Tapi ujung-ujungnya pasti kembali ke daftar kelas sendiri. Makan kisah temen sendiri, berbisik tentang mas X,Y,Z yang tiba-tiba tertidur di kelas sambil memuntahkan ilernya. Salah satu dari kami, Vivi bahkan berhasil mendekati salah satu pria di kelas. Tapi entah karena sebab yang tidak diinginkan, pendekatan itu bubar jalan.

Pernah suatu ketika kepanitiaan membutuhkan uluran tenaga kami untuk menjadi pemandu ospek. Kami bela-bela tidak liburan pertengahan tahun, demi cari muka dan caper terselubung dengan brondong menjadi mahasiswa yang berguna dan berdedikasi bagi lembaga kepanitiaan.  Karena lokasinya paling dekat kampus, kost saya selalu menjadi basecamp pujaan kami, bahkan hingga sekarang. Di dalamnya kami menonton film Korea sampai pagi, menyeruput kopi, bermasker atau ngemil melebarkan badan saya. Pernah pula kami mencuci rok hitam yang setadi siangnya baru dipakai berkubang rumput basah di lapangan, tapi harus dipakai keesokan harinya untuk memandu ospek lagi. Hai, Vi, ingat ketika kita memutar-mutar rok seperti Bruce Lee memainkan rantai andalannya, di jemuran supaya airnya cepat tiris? Hihi :)

Tugas kuliah merupakan hal yang tidak bisa dihindari. Kami pernah bareng-bareng menggotong PC dan seperangkat monitor tabung milik saya ke salah satu kost teman untuk membuat tugas jaringan. Atau pernah juga copy-paste tugas pemrograman dari teman yang mahir bahasa Java, herannya kami tetap saja dapet B. Nilai yang bisa dibilang nilai sial. Hihi. Jangan tanya berapa kali pintu kostan saya digedor malam-malam untuk misi mengerjakan tugas berjamaah yang deadlinenya besok harinya. Sekali dua, kerap juga basecamp mengerjakan tugas gantian dengan kost Nisa, kos Eka, kos Siti, dan teman-teman lain yang sudi kostan dan cemilannya kami jajah. Yang penting kami bersama-sama. :)

Banyak kisah menyelimuti kebersamaan kami dulu. Soal asmara yang pahit manis, kabur dari jam kuliah (jebul kaburnya buat makan atau shoping) --> tolong jangan ditiru ya, Jenganten. Berkuliner kemana-mana, mencoba eyeshadow atau blushon baru sambil nggosip rekan sebelah.

Sekarang kebersamaan sekitar ngabur di kampus itu sudah jadi kenangan di benak saya. Ada saat di mana saya pengen banget mengulang saat membeli siomay, nasi telor, indomie, atau mengicip manisnya pizza mie sepiring bertiga. Pun juga ketika merangkai cerita asal-asalan. Seperti saat kami pernah menginap di rumah Vivi, kami malah merangkai kisah wagu tentang salah satu orang di kelas kami. Jadinya cerita utuh tapi aneh. Seru. Alhasil kami ngakak tanpa henti sampai pagi.

Kurang dari dua bulan lalu, kami bertiga sepakat melakukan reuni kecil-kecilan di kota tempat kami kuliah, Yogyakarta. Eka bahkan bela-bela datang jauh dari kampusnya di Jakarta untuk berkunjung dan napak tilas di Jogja. Katanya sih mau mencari kebaya untuk wisudanya, jadii, mari kita rock seantero Jogja mencari kebaya. Hehehe.

Pada hari itu, kami berempat (ada satu orang lagi yaitu adiknya Eka), kami mbubur ayam di warung langganan ketika kuliah dulu. Beralih menuju jalan Solo untuk mencari kain kebaya. Lanjut ke Bringharjo dan Petra untuk membeli aksesori. Lebih tepatnya, kami menjajah seluruh pasar Beringharjo untuk menyentuh semua barang yang ada demi mendapat barang idaman : kebaya. Aktifitas macam begini sudah biasa bagi kami, hanya berbeda dalam barang yang kami beli. Dahulu kami mengubek-ubek toko buku untuk mencari buku tentang Algoritma, sekarang kebaya untuk wisuda. Hehe. Sesuai yang saya pernah tulis di blog andhikalady.blogspot.com sekitar dua bulan lalu, bunyinya begini :

Awalnya kami bertiga ketemuan di depan KPLT UNY - Ngomongin cowo - makan bubur di depan Cheers - Nggosipin cowo - Nyari kain di jalan Solo - Dapet gosip si X ternyata nyepik si Y - Nyari kebaya di Beringharjo - Nyeletuk "kapan aku pake kebaya manten kaya begituan ya?" - Lihat aksesoris di Petra - "Eh, ini mahkotanya bagus loh, buat di pelaminan. Eh" - Maem siang bakso siomay mie ayam di Pakuningratan - Ngomongin "kemarin aku abis ketemu si Y loh" - Shopping di Sakola - "Whatt? Si itu mau bubaran? Sih!" - Main narsis di kost ku - "Aku nikah satu tahun lagi, kalau kamu?" - Foto-foto - Tobat.



Hari yang menyenangkan. Apalagi sekarang kami kian susah untuk bertemu. Meski di Jogja, Vivi sekarang sibuk dengan kuliahnya, Eka dengan pekerjaannya, saya (tentu saja) dengan jalan-jalan saya. Hehehe.

Kiri ke kanan, Eka, saya, Vivi


Hemm, sebetulnya ada banyak foto-foto menggila kami. Sayanganya hanya diijinkan untuk upload lima biji. Padahal masih banyak foto reuni, termasuk foto aib. Jika mau melihatnya, tinggal hubungi saya dengan catatan : Wani Piro. Hihihi.
Sekian tahun, ternyata kami nggak berubah juga ya? Hehe. A lil bit of friendship can make a bigger applause, tons of laughter and much much love.

xoxo, untuk Vivi, Eka, dan semua pembaca yang berbaik hati membaca tulisan ini. :)

@andhikalady 

Note :
Jebul : ternyata
Wagu : aneh

Friday, August 24, 2012

EOTD Merah Putih & Behind the Scene


Selamat hari Kemerdekaan Indonesia!

Meski sudah lewat dari 17 Agustus, tapi aroma proklamasi masih terasa hingga akhir bulan. Buktinya, darah saya masih merah, tulang saya masih putih. Nanti bulan September, darah saya berubah jadi biru. Jadii, cairan artifisial pada iklan pembalut itu akan sama dengan saya. :))
#kemudianhening

Baiklah, saya habis ngelantur. Mari lanjut ke postingan utama.

Akhirnya saya baru bisa membayar utang makeup chalenge bulan Agustus, yaitu KEMERDEKAAN. Dan inilah hasil saya coret-coret muka saya, walaupun hasilnya ala kadarnya banget ngett.

Fail Forehead. :p
Saya mbikin ini ditemenin oleh Jenganten Arum loh. Beberapa adonan malah saya pakai punya dia, kaya shading, lipstick, eyeliner, dan asisten untuk foto-foti. Hihi. Kalau dijelaskan detail demi detail, ada banyak banget cerita terselubung di balik Chalenge ini. Dari kisah awal saya kepingin ditemenin Ses Arum untuk membeli tas ke Malioboro, eh, jebul di sana ban belakang motor saya bocor. Tepat di depan hotel Inna. Alhasil saya menuntun motor saya ke gang yang nggak jauh dari TKP untuk menambal ban. Ternyata bocornya lumayan parah, sampai-sampai harus ganti ban dalam dan luar. Dahsyat bukan?
Karena uang saya sudah kepake untuk motor tersayang, akhirnya saya urung membeli tas. Mumpung mood jalan-jalan masih ada, sisa sore tersebut kami pakai untuk muter-muter Malioboro. Di antaranya ke Ramai mal, Malioboro mal, dan menyusuri pedagang kaki lima di pinggiran jalan. Saya juga sempet membawa pulang buah anggur dan kabuki brush dari Ramai mal. Kemudian kami lanjut buka puasa di Nasi Goreng Sapi di Kotabaru. Ngobrol ngalor ngidul dari topik make up hingga financial planing.

Haha, jebul selain jago jadi beauty blogger, Jeng Arum ini ahli dalam masalah rencana keuangan lho. Maklum basicnya Akuntansi. Jadi saya sore itu banyak belajar dari beliau. #uhuk.

Setelah ngobrol begitu, kami lanjut ke rumah Jeng Arum untuk ngambil alat perang untuk mencoret-coret muka. Dan tebak apa yang terjadi? Ban motor saya bocor lagi untuk kedua kalinya! Yasudah lah, mungkin ini alarm motor saya kalau dia lagi kepingin diperhatikan.

Besoknya saya langsung melakukan prosesi siraman kembang untuk motor saya. :p

Sementara Jeng Arum terlihat sedang menyayang-nyayang kukunya. Ternyata, kuku dia patah dan mengeluarkan darah. Duh,

Diambil dari blog sekararumw.blogspot.com

Kabarnya Jeng Arum kemudian melakukan prosesi ruwatan pada kukunya dengan me-manicure pada hari berikutnya.

Agenda berikutnya adalah mencoret-coret muka yang disiapkan ala kadarnya. Nggak pake bulu mata, dan hasilnya masih kurang alus. Tapi tetep saya posting. Walau bagaimanapun, ini adalah hasil saya. Dengan behind the scene yang berkesan juga buat saya.



Dilihat dari samping

Dari depan pakai kacamata.

Adonan :

Muka :
- Moisturizer
- BB Cream Caring Everlast
- Caring Microfine Loose Powder
- Pixy TWC Acnebrite
- Fanbo Hihglight & Shading

Mata :
- Merah & Putih, Sariayu

Bibir :
- Just Miss Lipstick
- Estee Lauder Lipstick

Cons :
Meski sudah berupaya memberi warna ke wajah dan mata saya, look ini masih jauh dari sempurna. Karena noda hitam di pelipis saya belum sembuh akibat sisa-sisa purging, dan muka saya masih kondisi cape dan berminyak (dan berkantung mata pula).

Sesudahnya saya mohon maaf apabila ada kesamaan nama, tempat, dan kejadian, semua ini bukan hanya rekayasa belaka. Saya juga mohon maaf jika tulisan saya di atas berantakan. Karena saya nulisnya very fast dan mengalir begitu saja. Termasuk typo dan ketidakakuratan cerita, saya juga mohon maaf.

Banyakin mohon maaf, mumpung masih suasana Lebaran. :))

@andhikalady

Merapikan Alis


Saya bukan orang yang terlahir dengan alis tebal rapi sempurna. Alis saya ini cenderung memiliki rambut yang jarang, tumbuhnya liar kaya rumput teki, berantakan dan susah diatur. Saya memang bisa menggunakan pensil alis untuk menebalkannya, tapi meskipun sudah tebal dan membentuk, rambut-rambut liar alis saya tetep nggak mau disuruh duduk manis tetap di tempatnya. Alias gampang banget berantakan. 

Alisku yang belum rapi.
Padahal saya kepingin juga dong, punya alis yang rapi dengan rambut yang tidak berantakan.

Apa solusi untuk ini? Mencukur atau mencabutnya terkadang menjadi pilihan. Tapi beberapa orang berpantang untuk mencukur atau mencabut alis dengan alasan tertentu. Nah, kalo begini, gimana caranya supaya alis tetep rapi dong? Kalau untuk kasus saya, jika cuma memakai sikat alis saja, ketahannya cuma kurang dari dua jam. Setelah itu? Ya balik lagi ke keadaan semula.

Saya punya tips yang bekerja baik untuk alis saya. Semoga berguna juga buat Jenganten reader ya,.. 
Marii silahkan diminum tehnya…

Caranya adalah menggunakan sekelumit hair foam! Kalau tidak punya hair foam, bisa diganti dengan mascara tak berwarna, leave in conditioner, atau hair styler yang lainnya (seperti Brisk, Clear, Minyak Urang-aringnya kakek juga bisa dipakai kalau nyaman sama baunya. LOL), yang penting bisa mengatur rambut.

Hair Foam

Selain Hair Foam, ada lagi yang perlu dipersiapkan. Bahan-bahan yang diperlukan adalah :

  1. Sikat alis. In case ora nduwe alias nggak punya, bisa pakai sikat gigi kok.
  2. Eyeshadow warna hitam atau cokelat. (optional, ini cuma untuk menegaskan warna alis. Jika tidak ada, poin ini dapat diabaikan. Tujuan utama kita di awal kan biar alis tetap rapi)
  3. Hair Foam. Atau bahan subtitusi lain.
Caranya adalah sebagai berikut :

  1. Usrek-usrek sikat alis ke eyeshadow.
  2. Sikat alis untuk memberi warna.
  3. Keluarkan foam rambut dari botolnya.
  4. Celupkan ujung sikat alis ke foam.
  5. Sikat alis dari pangkal ke ujung lagi untuk mempertahankan kerapian.
  6. Jika ada foam yang tersisa, lapkan aja ke rambut. Hehe.
Gampang kan? Dengan cara ini, bentuk alis akan bertahan lama seharian. Ohya, karena alis sangat dekat dengan mata, gunakan foam sedikit saja. Walaupun cuma sedikit foam yang dipakai tapi efeknya sudah bagus di alis kok.

Hasil akhir.
Semoga berguna tipsnya, Jenganten. :)
 
Well, sekedar mengingatkan, bulan Agustus belum usai lho. Makeup Nista juga masih membuka peluang untuk melakukan makeup chalenge bulan Agustus yang bertema KEMERDEKAAN. Ayuk ikutan. :)

Monday, August 20, 2012

Tentang Berdandan


Beberapa hari yang lalu ketika saya belum pulang ke kampung halaman, seorang teman meminta saran ke saya untuk dipilihkan sebuah produk yang mampu melindungi kulit dan bibir dari sinar matahari. Teman tersebut rupanya menang sebuah kompetisi yang kegiatannya adalah berlayar di kapal pesiar menjelajahi kepulauan Indonesia. Kabarnya mau sampai ke Raja Ampat segala. Huah, sebagai perempuan yang suka jalan-jalan, sudah pasti saya iri-to-the-max. :((

FYI, teman saya ini cowok. Sebagai cowo, dia menyerahkan segala keperluan kebutuhan pelindung kulitnya pada saya sepenuhnya. "Wes, pokoknya saya kasih uang segini, saya nggak ngerti kosmetik apalagi dandan, tolong pilihkan produk yang bagus dan bisa dipake sebulan gak abis".

Tak panjang jalan, kemudian kami menuju toko kosmetik legendaris Yogyakarta = Mutiara. Sampai sana, saya pilihkan produk sunblock tubuh merk Parasol, sunblock wajah Loreal dan sebuah lip balm merk Inez. Kesemuanya bernilai sekitar seratus limapuluh ribu. Selesai. Bayar. Pulang. Teman saya senang, saya senang. Semuanya senang.

Akhirul, sampai di base camp (tempat kerjaan teman saya, saya dan temannya teman saya), hasil belanjaan kami dibuka ramai-ramai. Salah satu orang bilang "Berati, kalau sudah menikah, seorang pria harus mengeluarkan kocek minimal dua ratus ribu untuk dandan istrinya", "Wah, kamu high cost juga yah", "Gakpapa, dandan kan buat suami juga", dan sederet kata Wah wah yang lain.

Perlu diketahui, gerombolan itu hanya terdiri dari pria-pria dari jurusan teknik saja. Ceweknya cuma dua orang salah satunya adalah saya. Jadi, menuju siapa lagi sambutan wah wah itu kalau bukan untuk saya? Cuma saya yang saat itu memakai maskara dan eyeliner. Cuma saya yang suka teriak-teriak melihat diskonan kosmetik di counter-counter mal. Hehehe.

Banyak yang bilang, berdandan, baik itu makeup, skin care, dan segala hal berbau grooming itu adalah hal nomor sekian yang perlu diperhatikan setelah hal lain. Anggapan high cost (cewe yang suka dandan pasti biaya hidupnya tinggi), sombong (yang eyelinernya tebal pasti anaknya judes), kerap kali menghampiri beberapa perempuan yang menghabiskan 30 menit di awal harinya untuk menyisir rambut, menghias kerudung dan mengoleskan blush on. Padahal, kalau dicerna lebih lanjut, nggak begitu juga kali. Semua orang termasuk perempuan itu juga memiliki kebutuhan hidup, sandang, pangan dan papan. Itu pernyataan yang kita dapatkan ketika pelajaran IPS SD. Tapi ada satu lagi kebutuhan yang tidak kalah penting. Yaitu kebutuhan untuk mengaktualisasi diri, untuk dikenal, untuk dihargai, dan untuk merasa senang. Oke, kita punya makanan lezat beserta pelayan, pakaian a la putri raja dan rumah besar bak istana. Tapi kalau kita tidak nyaman, tidak bahagia lantaran eksistensi kita tidak diakui? Sudahkah lengkap kebutuhan pokok kita? Saya tidak bilang kalau berdandan adalah satu-satunya hal untuk meraih hal tersebut, tapi dandan adalah salah satu alat untuk menuju hal tersebut.

Apa dandan bisa membuat kita senang? Bisa banget. Buat saya, dandan sendiri adalah terapi. Mari kita hitung indera kita. Kenapa indera? Karena sumber terapi kesenangan berasal dari indera.
  • Indera Penglihatan.
Ketika berdandan, mata kita dimanja dengan warna-warni eyeshadow, blush on, lipstick dan lain-lain. Tulisan pada kemasan produk skin care dan klaim-klaimnya (bisa memutihkan, mencerahkan, melembabkan) itupun bisa membuat hati senang. Angan akan kondisi kulit menjadi cantik bisa membuat kita senang kan? Berlanjut lagi ke wadah-wadah kosmetik lucu, iklan yang menarik dan semua yang dapat dipandang mata menjadi hiburan untuk kita. Terlebih lagi ketika selesai berdandan dan kita mendapati wajah kita makin cantik, makin sedap dipandang. Makin senang deh kita. :)
  • Indera Penciuman
Mencium produk make up dan skin care juga menstimulasi rasa senang. Lembutnya lotion, harumnya sabun mandi yang kita pakai mampu membuat mood kita naik. Beberapa produk pun sudah memiliki kandungan aromaterapi yang mampu meredakan stress. Jadi benar sekali kan, kalau berdandan itu bisa membuat mood kita naik melalui aroma?
  • Indera Peraba alias Kulit
Kulit! Siapa yang tidak senang memiliki kulit sehat karena perawatan skin care? Taruhlah ada yang berkata "lebih baik cantik alami, tidak pakai dokter kulit, tidak pakai alat kosmetik mahal, dsb". Baiklah kalau kita terlahir dengan kulit yang sempurna? Kalau seperti saya ini yang kulitnya nggak sempurna, tentunya pingin dong, memiliki kulit yang sehat juga. Apalagi kulit, kuku dan rambut adalah bagian pertama yang dilihat dari luar. Indikator tubuh sehat juga bisa dilihat dari sehatnya kuku, kulit dan rambut. Logikanya, jika kulit terlihat sehat, maka secara keseluruhan tubuh juga dapat disimpulkan sehat juga.
  • Kinestetik
Sebenarnya bukan termasuk indera ya, tapi bagian ini perlu disebutkan karena nggak bisa dilepaskan dari kegiatan ber make up. Sebagai orang yang berdandan, tentunya tangan kita dipakai dengan sangat teliti untuk menepuk foundation, menepuk bedak, menggaris eyeliner, membentuk alis, membaurkan eyeshadow dan sebagainya. Hal ini jika dibuat kebiasaan, makin lama akan terus terlatih. Bentuk terlatih inilah yang membuat kita senang. Sama halnya ketika orang rajin ke gym dan mendapati tubuh mereka makin langsing.
  • Emosi
Dengan berdandan, kita juga terlatih untuk mengatur emosi dan kesabaran. Menepuk foundation harus pelan-pelan supaya hasilnya rata, bersabar untuk menyembuhkan jerawat setelah bermasker, bersabar untuk menggaris eyeliner dengan rapi, dan sebagainya. Dan yang nggak kalah penting, khusus untuk yang sudah level MUA (Make Up Artist), kita harus membangun ikatan komitmen emosi dan kesabaran yang luar biasa. Berdasarkan pengamatan, tidak sedikit seorang MUA menghadapi klien yang rempong yang minta macem-macem. Dengan melatih emosi dan kesabaran, maka hasil make up dan kepuasan kita (atau klien) menjadi hal yang luar biasa membahagiakan. Baru-baru ini saya telah membaca cerpen tentang seorang dukun manten, judulnya lucu, Bu Geni di Bulan Desember cerpenkompas.wordpress.com/2012/05/20/bu-geni-di-bulan-desember/ . Silahkan dibaca, barangkali Jenganten akan menemukan nilai komitmen dan hati menjadi seorang MUA. :)

Banyak sekali ya, unsur yang membuat orang ber-make-up itu bahagia. Saya punya asumsi (just my humble opinion), berdandan itu mungkin dapat mencerdaskan otak. Menurut pendapat saya pribadi, melatih beberapa indera sekaligus mampu membuat otak bekerja lebih giat. Jika otak bekerja lebih baik, maka keberlangsungan hidup otak akan terjaga. Kita akan lebih lama produktif dan jauh dari kepikunan (cuma pendapat pribadi, untuk fakta yang lebih valid, ada baiknya membuka jurnal penelitian).

Dan buat saya sendiri, perempuan yang berdandan itu lebih disiplin dan telaten. Mereka sanggup bangun lebih pagi untuk sekedar memastikan dirinya sendiri lebih rapi. Mengenai high cost, saya sangat setuju jika kosmetik adalah kebutuhan nomor sekian yang tidak lebih penting dari sandang dan pangan. Tapi tidakkah berpikir jika orang membeli kosmetik itu merupakan indikator bahwa sandang dan pangan sudah terpenuhi? Taruhlah wanita memiliki kosmetik mahal. Yew, kalau dia mampu, kenapa tidak? Jikapun tidak mampu atau karena sayang dengan harga mahal, gunakanlah kecerdasan kita. Kosmetik tidak semua mahal. Bahan tradisonal dimana-mana ada dan mudah diolah untuk merawat diri. Air putih melimpah. Minumlah sebanyak yang Jenganten bisa.

Hehe, menelusuri catatan sendiri, kok rasa-rasanya saya betulan pro (pro loh ya, bukan profesional) dengan aktifitas ini ya? Yes, ini adalah hobi. Bermain PES dan bermain bola adalah salah sekian hobi manusia (terutama laki-laki) yang belum saya mengerti sampai saat ini. Tapi saya dapat melihat pelaku hobi itu dapat merasa bahagia dengan kegiatan mereka. Kesimpulan saya, hobi bisa membuat orang senang. Dan untuk masalah ini, sepertinya hanya ranah pribadi masing-masing yang mampu menilainya.

@andhikalady

Merias Diri dengan Kosmetik Halal di Hari yang Fitri


Sebelum menulis lebih lanjut, Andhika Lady beserta keluarga tempat saya dibesarkan (karena belum punya keluarga yang saya bangun) mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 19 Agustus 2012 untuk umat Muslim di seluruh dunia. Mohon maaf lahir batin, semoga kita menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. 

Semoga istilah “menjadi manusia yang lebih baik” tidak hanya wacana saja tapi benar-benar direalisasikan. Dari yang punya dendam terpendam, menjadi maaf yang  luar biasa. Dari yang tidak disiplin, menjadi disiplin. Dari yang masih belajar, menjadi pembelajar. Bukan hanya untuk umat Muslim saja, tapi semua orang. Rasa-rasanya siapapun, tidak peduli agama, hari raya dan usia harus menjadi lebih baik dibanding sebelumnya. Bukankah ada istilah, “manusia yang sama dengan hari kemarin adalah manusia yang rugi”?

Termasuk hari ini. Di saat Idul Fitri. Saya dan Ibu saya sengaja mempersiapkan diri untuk melakukan hal sebaik-baiknya di hari istimewa. Dari acara masak memasak, membuat ketupat, bersih-bersih rumah, memilih baju Lebaran (Alhamdulillah punya rejeki untuk sekadar membeli baju lebaran), membayar zakat, dan tentu saja : Tampil cantik dengan merias wajah untuk acara Idul Fitri di Masjid dan silaturahim setelahnya. Maklum, saya dan Ibu memang pasangan wanita ganjen. Hehehe.

Saya dan Ibu pilah-pilih banget dalam memakai kosmetik. Yang pertama, harus sudah memiliki nomor BPOM. Yang kedua harus yang terbukti aman di kulit. Dan yang nggak kalah penting, kosmetik yang kami pakai harus yang halal. Apa saja sih, parameter sebuah kosmetik bisa disebut halal? Mari kita simak daftarnya :
  1. Tidak terbuat dari saripati hewan yang diharamkan untuk dimakan.
  2. Tidak terbuat dari saripati hewan halal yang disembelih dengan cara yang tidak Islami.
  3. Tidak terbuat dari saripati binatang yang sudah mati tanpa proses penyembelihan terlebih dahulu, alias dibuat dari bangkai. Hyiiii.. >.<
  4. Tidak hanya bahan kosmetik saja, tapi kuas dan spons juga perlu dipastikan tidak terbuat dari bulu binatang yang diharamkan. Misal : Bulu Babi.
  5. Kosmetik itu dibeli bukan dari hasil korupsi. (mau kosmetik sehalal, semahal apapun kalo dibeli dari duit korupsi tetep aja jadinya haram. LOL)
  6. Kosmetik itu bukan didapat dari hasil mencuri. (ya iyalah. Sama kaya poin lima kalo begini. Hehe)
Hehehe. Banyak juga ya, poin-poinnya? Tapi tenang saja, saat ini sudah banyak produk kosmetik yang sudah memiliki daftar kehalalan yang diresmikan oleh badan BPOM dan LP MUI kok. Salah satunya adalah produk Wardah. 



Siapa yang tidak tahu Wardah? Kosmetik yang sedang naik daun seiring dengan kampanye kosmetik halal ini memang sedang giat-giatnya menunjukkan taring. (emang harimau punya taring? Hehe). Di mana-mana ada iklan Wardah, di toko manapun dijual Wardah. Terakhir kali, saya melihat kosmetik Indonesian Idol pun memakai Wardah. Terlebih banyak beauty blogger yang mereview produk Wardah yang katanya bagus-bagus. Gimana saya nggak penasaran? 

Rasa penasaran itu berlanjut ketika hari Idul Fitri. Guess what, di mana tempat shalat Ied di kampong halaman saya? Di lapangan! Panas-panasan, debu dan lalu lalang kendaraan menjadi hal yang tidak dapat dihindari. Saya dan Ibu sepakat harus menggunakan pelindung wajah dari debu dan panas. Apa pilihan kami? Kami menggunakan Wardah Suscreen Gel untuk keperluan tersebut. Sunscreen ini berfungsi untuk menghalau sinar UV yang merusak kulit. Nggak mau kan, oleh-oleh dari ibadah adalah muka gosong akibat kejemur matahari. Ohya, FYI, aku pernah mereview sunscreen ini di blog ini loh. Cek di sini.


Setelah sunscreen apa lagi yang kami butuhkan? Bedak yang menjamin riasan tahan lama sampai sore. Di kampung saya ada tradisi, setelah ibadah shalat Ied di lapangan, kegiatan selanjutnya adalah keliling rumah saudara untuk bersilaturahim bermaaf-maafan. Jadi, riasan yang dipakai wajib tahan dipakai untuk semua acara itu. Apalagi jika udah dalam suasana fitri, yang namanya air mata, haru dan bahagia jadi satu, pasti udah nggak inget riasan lagi. Pokoknya yang kami inginkan adalah riasan yang bagus, minim touch up, acara silaruhaim lancar. Simple deh. Hehe.


Untuk keperluan bedak-berbedak ini, saya dan Ibu memakai Wardah Compact Powder. Bedak ini stay powernya bagus, bisa tahan lama untuk kulit berminyak (saya dan Ibu sama-sama punya wajah berminyak). Terbukti dari jam enam pagi hingga jam 12 siang (enam jam), bedaknya masih setia nempel di kulit saya. Kemasannya berwarna hijau semi toska yang elegan. Selain itu bentuknya juga kecil, jadi bisa kami bawa-bawa di tas, alias nggak menuh-menuhi tas ketika dijejalkan dengan mukena dan sajadah. Jadi kalau mau touch up, bisa langsung capcuz. 

Karena terbuat dari bahan yang halal, kami nggak khawatir bakal membatalkan wudhu. Hehe. Pernah ada kejadian di Lebaran beberapa tahun yang lalu. Saya sudah mandi, sudah full make-up. Tiba-tiba baru inget kalau belum wudhu. Aaaaak. Akhirnya buru-buru wudhu terus pake make-up lagi dua kali. Sampai lapangan, shalatnya sudah dimulai. Hihi. Untung tahun ini nggak terulang lagi.
Meski produknya sama, kami punya dua bedak. Satu untuk Ibu satu punya saya. Saya dan Ibu juga punya aturan, meski kami sering share kosmetik, tapi khusus untuk kosmetik yang berbentuk jar, bedak, dsb itu sebisa mungkin jangan dipakai bareng-bareng, atau minimal memakai dua saput. Demi kehigienisan masing-masing wajah sih. Hehehe.

Mau tau kekompakan saya dan Ibu di hari Lebaran? Nih saya share foto-fotonya.



Share juga foto famili saat silaturahim.
Ohya, jika ada yang bertanya produk Wardah itu saya beli di mana, jawabannya : di mana-mana ada. Dari toko kecil, mini market, hingga toserba yang besar dapat ditemui produk Wardah. Nggak cuma bedak dan sunscreen saja, Wardah juga mengeluarkan produk kosmetik lainnya seperti eyeshadow, lipstick, lipgloss dan lainnya. Skin carenya juga sangat lengkap, dari seri whitening, acne care, hingga paket untuk ibadah haji pun ada. Jadi nggak usah ragu memakai produk Wardah. Dia memiliki ijin BPOM, terbuat dari bahan berkualitas dan dijamin halal. 



Note :
Tulisan ini saya maksudkan untuk mengikuti kompetensi blog yang diadakan blogdetik.com, bekerjasama dengan Wardah dan MUI. Kalau mau ikutan, lihat di link ini ya. Buruaan, masih ada waktu hingga tanggal 24 Agustus.



Bagi yang baru pertama kali mengunjungi blog ini, saya ucapkan selamat datang di Negeri Para Jenganten.  Blog ini adalah diary saya yang berisi tentang review-review produk beauty yang mayoritas berharga terjangkau (kurang dari seratus ribu rupiah). Setiap minggu selalu ada posting baru. Silahkan follow melalui Google Friend Connect untuk mengikuti postingan-postingan berikutnya.

Salam hangat, Jenganten. :)