Ketika saya masih kecil, saya sangat menyukai cerita fantasi.
Baik itu cerita dari televisi, dongeng dari komik, kartun yang saya tonton
setiap hari Minggu, atapun dongeng khas Nusantara yang sering diceritakan
orangtua saya. Saya masih ingat salah satu lagu beserta cerita rekaan Ayah
saya.
“Menthok, menthok, tak
kandhani megal-megol angisin-isini. Hambok ojo menthok ono kandhang wae.
Enak-enak ngorok ora nyambut gawe”
Kemudian si Ayah bercerita, supaya jadi manusia harus bekerja
keras dan tidak boleh malas-malasan. Jangan menunggu uluran kebaikan tangan
orang lain. Lakukan sendiri dengan tanganmu. Beliau menganalogikan kemalasan
sebagai seekor itik yang megal-megol kurang gesit yang lebih suka berada di
kandang dan enggan bekerja. Well, nice
story, Daddy.
Saya juga belajar banyak dari cerita fantasi jenis lainnya.
Yang paling banter misalnya komik dan kartun. Selain lucu, dari cerita-cerita
itu saya dapat menangkap satu hal : kebaikan selalu menang dengan proses
perjuangan yang panjang. Beberapa tokoh kartun favorit saya adalah ini :
![]() |
| Calon arang itu kisah rakyat dari Bali. |
![]() |
| Tadinya saya kepingin dandan Mario Bros tapi kebingungan cari kumis. Dan lagi era kumis kan sudah lewat digantikan era kotak-kotak. Hwehehehe |
Dari sekian banyak cerita dan pemahaman perjuangan yang saya
dapatkan, saya jadi cenderung kurang menyukai tokoh yang cenderung kurang
berkarakter. Atau berkarakter tapi tidak begitu memiliki aura inner. Karakter serupa
ini banyak ditemui dalam tokoh Princess. Iya, benar kalau tokoh Princess sering
menjadi tokoh sentral dalam sebuah cerita. Tapi menurut saya, tidak semua tokoh
Princess adalah tokoh yang berkarakter. Contohnya saja Princess Jasmine. Dia
hidup sebagai anak raja, menunggu Alladin datang mengajak jalan-jalan naik
karpet terbang. Kemudian menikah dan bahagia selamanya. Gitu doang? Mana
perjuangan yang Princess Jasmine lakukan? Masa gitu aja bisa meraih happy
ending.
Atau Dewi Shinta. Dia juga putri raja. Menunggu pengumuman
sayembara untuk mendapatkan suaminya. Kemudian hidup bersama suaminya, Rama.
Diculik Rahwana. Ketika diculik, yang dia lakukan Cuma menunggu si Rama (pasti
nunggunya sambil merasa galau tanpa henti) menyelamatkan dirinya dari kekangan
Rahwana. Dia Cuma berperan sebagai tokoh yang “menunggu”, tidak bertindak
duluan untuk berjuang menggapai apa yang dia mau.
Ada pula cerita yang kita semua sudah pasti tau. Sleeping beauty. Ceritanya kurang lebih dia dikutuk
tidur, kemudian menunggu (lagi?) sang pangeran datang mencium dan menyelamatkannya. Setelah menunggu sekian lama, baru deh bisa bahagia
selamanya. Cerita Tangled? Kisah Putri Rapunzel yang terpenjara di sebuah kastil tinggi oleh si Wanita Jahat pun
begitu. Semua kisah peputrian di atas hanya sebatas menunggu sang pangeran berkuda putih datang
menyelamatkannya.
Duh, kalau pikiran kamu sama seperti pikiran saya, kok saya
ngerasa Princess-princess di atas kerjanya cuma jadi tokoh yang rapuh, cukup
berperan sebagai penunggu penyelamatan, karakternya cuma gitu-gitu aja ya. Apa
coba, yang bisa diteladani dari tokoh Sleeping beauty? Tidur, barangkali.
Hehehe. I want more. Justru menurut
saya, si Ratu jahat adalah tokoh yang lebih berkarakter dibanding putri yang
jadi musuhnya.
Bandingkan dengan Mulan, Katara, Ariel, tokoh Barbie
Fairytopia, Dewi Drupadi, Dewi Amba, Cinderella (walau ‘usaha’nya lebih
sedikit), Nawang Wulan (keteguhannya memegang prinsip adalah contoh yang baik)
dan tokoh-tokoh lain yang menjadi sentral karakter yang signaturenya bakal
diingat-ingat terus sepanjang masa. Mereka adalah tokoh yang berjuang,
berkarakter dan punya peranan yang banyak di dalam cerita.
Untuk itu, saya memilih satu tokoh kartun yang (saya anggap)
berkarakter. Princess Diana Prince alias Wonder woman. Tokoh Wonder Woman
dideskripsikan sebagai “secantik Aphrodite, sebijak Athena, sekuat Hercules,
dan setangkas Hermes”
Dan ini Wonder Women versi saya.
![]() |
| Dimohon dengan sangat untuk mengabaikan backgroud. Hihihi. Ditabok Jeng Arum. Bhihihiik |
![]() |
| Detail |
Anyway, terimakasih untuk Jeng Arum yang telah berjasa membatu hidup saya untuk memotret, meminjami palet, dan menemani saya dandan sepanjang hari. Nihihihihi.
Terimakasih pula untuk Princess Diana Prince. Sosok Wonder Women yang berkarakter dan berkekuatan.















