Liburan ke mana aja Kak?
Udah sampe mana skripsinya?
Kapan nikahnya?
Kerja apa sekarang?
... Pertanyaan yang amat sangat membuat aku annoying... #pengakuan :p
Tapi semua bermuara pada satu pertanyaan
"Seberapa jauh sih, kamu memanfaatkan hari-harimu?"
"How productive your day?"
"Produktif mana lo sama gueee!??" #pertanyaanTerselubung.. :p
.....
Pun seperti usia manusia. Aku kenal sebagian orang yang kurang suka diucapi selamat ulang tahun dengan lanjutan -yang ke sekian-. Katanya berasa tua. Aku jadi penasaran, emangnya ada apa sih, dengan tambah usia? Bukannya kita ga sendirian? Semua orang kan punya fase lahir-balita-anak-remaja-4LaY-dewasa-manula-meninggal. Oke, kalo ada yang ga trima fase 4LaY termasuk, silahkan tidak usah dibaca.. :p. Takut tambah keriputkah? Takut mati kah? Padahal semua makhluk hidup ya punya ajal ya? Kecuali, jika ada manusia yang awet muda abadi. Bolehlaah, khawatir menjadi tua.
Ternyata, setelah mengamati, sebagian besar orang justru bukan keriput atau matinya yang dikhawatirkan. Tapi tentang pencapaian. Pencapaian apa? Pencapaian apa lagi kalau bukan pencapaian hidup.
Oke. #mulaiserius
Pencapaian hidup bisa bermacam-macam. Seperti pertanyaan di awal notes ini. Yang cukup umum adalah pencapaian rejeki dengan tanya kerja di mana, pencapaian jodoh dengan tanya sudah menikah, pencapaian keeksisan dengan tanya liburan ke mana. Dan masih banyak pencapaian lain, baik yang tangible ataupun intangible. (halaaah, apaan ini? :p). Tangible itu pencapaian yang bisa dilihat, diraba, ditrawang. (emang duitt? Ya duit salah satunya). Yang intangible itu pencapaian yang tidak bisa dilihat. Meliputi kecerdasan, ilmu, kebijaksanaan dan lain-lain yang penting enggak berbentuk benda.
Jadi kekhawatiran tentang usia pada dasarnya berujung pada pemikiran "Aku sudah sekian tahun, ngapain aja aku sejak lahir sampai usia sekian? Sudahkan bermanfaat? Sudahkah tercapai keinginan aku?"
Hidupku ini dipakai buat apa sih?
Sepertinya tanggungjawabnya gede banget yak, kalau udah ditanya masalah hidup? #makinannoying
Aku pernah membaca cerita tentang jarum detik jam. Pembuat jam : PJ. Jarum Jam : JB.
Pj : Jb, maukah kamu bergerak 31536000 setahun?
Jb : wah, itu terlalu banyak, saya pasti capek.
Pj : bagaimana kalau 2592000 sebulan?
Jb : itu masih terlalu banyak, saya belum sanggup.
Pj : bagimana jika 86400 sehari?
Jb : bisakah dikurangi lagi?
Pj : masih kurang juga? Baiklah 3600 per jam?
Jb : bisakah...
Pj : 60 kali per menit?
Jb : saya bisa ngos ngosan..
Pj : baiklah, ini tawaran terakhir, kamu cukup bergerak satu kali per detik. Mau?
Jb : baik. Aku sanggup.
So, jika ibarat Jam, hidup adalah tahun. Kenapa tidak memperkecil jangkauan menjadi detik?
Jadi pertanyaan di awal notes ini (jodoh karir rejeki) wajar saja. Para penanya itu tanpa disadari hanya ingin memperkecil dan menyederhanakan pertanyaan. Hidup kita pun tersusun dari hal-hal sederhana tersebut. Tersusun dari detik menit jam hari bulan tahun tahunan. Hari yang sederhana. Waktu yang sederhana yang dibuat menjadi luar biasa.
Seberapa produktif harimu?
Nah, lebih mudah dijawab kan daripada "Seberapa produktif hidupmu?"? Berasa tanggungjawabnya lebih kecil ketika ditanyai "Ngapain aja seharian ini?", ketimbang "Ngapain aja kuliahmu?". #toyoooor
(un)productive days bisa menjadi (un)productive week. (un)productive weeks bisa menjadi (un)productive month. (un)productive months bisa menjadi (un)productive year. Parahnya (un)productive years bisa menjadi (un)productive life..!!!!
Silahkan hilangkan (un) nya.
Cherioooo...
@andhikalady
Kost Seruni tanggal 24 Februari
Udah sampe mana skripsinya?
Kapan nikahnya?
Kerja apa sekarang?
... Pertanyaan yang amat sangat membuat aku annoying... #pengakuan :p
Tapi semua bermuara pada satu pertanyaan
"Seberapa jauh sih, kamu memanfaatkan hari-harimu?"
"How productive your day?"
"Produktif mana lo sama gueee!??" #pertanyaanTerselubung.. :p
.....
Pun seperti usia manusia. Aku kenal sebagian orang yang kurang suka diucapi selamat ulang tahun dengan lanjutan -yang ke sekian-. Katanya berasa tua. Aku jadi penasaran, emangnya ada apa sih, dengan tambah usia? Bukannya kita ga sendirian? Semua orang kan punya fase lahir-balita-anak-remaja-4LaY-dewasa-manula-meninggal. Oke, kalo ada yang ga trima fase 4LaY termasuk, silahkan tidak usah dibaca.. :p. Takut tambah keriputkah? Takut mati kah? Padahal semua makhluk hidup ya punya ajal ya? Kecuali, jika ada manusia yang awet muda abadi. Bolehlaah, khawatir menjadi tua.
Ternyata, setelah mengamati, sebagian besar orang justru bukan keriput atau matinya yang dikhawatirkan. Tapi tentang pencapaian. Pencapaian apa? Pencapaian apa lagi kalau bukan pencapaian hidup.
Oke. #mulaiserius
Pencapaian hidup bisa bermacam-macam. Seperti pertanyaan di awal notes ini. Yang cukup umum adalah pencapaian rejeki dengan tanya kerja di mana, pencapaian jodoh dengan tanya sudah menikah, pencapaian keeksisan dengan tanya liburan ke mana. Dan masih banyak pencapaian lain, baik yang tangible ataupun intangible. (halaaah, apaan ini? :p). Tangible itu pencapaian yang bisa dilihat, diraba, ditrawang. (emang duitt? Ya duit salah satunya). Yang intangible itu pencapaian yang tidak bisa dilihat. Meliputi kecerdasan, ilmu, kebijaksanaan dan lain-lain yang penting enggak berbentuk benda.
Jadi kekhawatiran tentang usia pada dasarnya berujung pada pemikiran "Aku sudah sekian tahun, ngapain aja aku sejak lahir sampai usia sekian? Sudahkan bermanfaat? Sudahkah tercapai keinginan aku?"
Hidupku ini dipakai buat apa sih?
Sepertinya tanggungjawabnya gede banget yak, kalau udah ditanya masalah hidup? #makinannoying
Aku pernah membaca cerita tentang jarum detik jam. Pembuat jam : PJ. Jarum Jam : JB.
Pj : Jb, maukah kamu bergerak 31536000 setahun?
Jb : wah, itu terlalu banyak, saya pasti capek.
Pj : bagaimana kalau 2592000 sebulan?
Jb : itu masih terlalu banyak, saya belum sanggup.
Pj : bagimana jika 86400 sehari?
Jb : bisakah dikurangi lagi?
Pj : masih kurang juga? Baiklah 3600 per jam?
Jb : bisakah...
Pj : 60 kali per menit?
Jb : saya bisa ngos ngosan..
Pj : baiklah, ini tawaran terakhir, kamu cukup bergerak satu kali per detik. Mau?
Jb : baik. Aku sanggup.
So, jika ibarat Jam, hidup adalah tahun. Kenapa tidak memperkecil jangkauan menjadi detik?
Jadi pertanyaan di awal notes ini (jodoh karir rejeki) wajar saja. Para penanya itu tanpa disadari hanya ingin memperkecil dan menyederhanakan pertanyaan. Hidup kita pun tersusun dari hal-hal sederhana tersebut. Tersusun dari detik menit jam hari bulan tahun tahunan. Hari yang sederhana. Waktu yang sederhana yang dibuat menjadi luar biasa.
Seberapa produktif harimu?
Nah, lebih mudah dijawab kan daripada "Seberapa produktif hidupmu?"? Berasa tanggungjawabnya lebih kecil ketika ditanyai "Ngapain aja seharian ini?", ketimbang "Ngapain aja kuliahmu?". #toyoooor
(un)productive days bisa menjadi (un)productive week. (un)productive weeks bisa menjadi (un)productive month. (un)productive months bisa menjadi (un)productive year. Parahnya (un)productive years bisa menjadi (un)productive life..!!!!
Silahkan hilangkan (un) nya.
Cherioooo...
@andhikalady
Kost Seruni tanggal 24 Februari
posted from Bloggeroid


