Pagi ini, saya dan tiga rekan PKM saya, yaitu #veryerwina #ritaudin dan #minarti mengunjungi kediaman Bapak Sardjono. Seorang wirausahawan sukses yang berkecimpung dalam bidang kriya seni. Hal yang unik dari beliau adalah beliau seorang wirausahawan sekaligus akademisi penyandang tuna netra.
Maksud awal kunjungan kami ke rumahnya adalah untuk melihat contoh Talking Calculator yang merupakan topik yang kami angkat di PKM. Ketika kami mendatangi rumahnya yang beralamat di daerah Tentara Pelajar, ternyata tidak hanya kalkulator saja yang kami lihat. Bapak Sardjono juga menyuguhi kami dengan bercerita banyak hal. Tentang penyakit yang menyebabkannya menjadi tuna netra yang dideritanya sebelum masuk kuliah, tentang suka duka beliau ketika masih menjadi satu-satunya mahasiswa tuna netra di PKH IKIP (sekarang PLB UNY), tentang betapa bangganya beliau mengetahui rekan PKHnya ada yang berhasil menjadi rektor (Prof. Rohmat Wahab), dan tentang wirausahanya.
Pertama masuk ke rumahnya yang mirip museum itu, kami segera disambut ramah oleh istri beliau. Perlu menunggu beberapa menit untuk ditemui oleh beliau karena waktu itu beliau masih melayani klien yang berkaitan dengan bisnis kerajinannya.
Rumahnya sangat mirip dengan gudang barang antik. Di ruang tamu saja banyak sekali patung-patung, wayang kulit, wayang golek, dan kerajinan lain yang sengaja dipajang untuk dijual. Bapak Sardjono dan sang istri memang melakoni bisnis kerajinan tradisional (kebanyakan seni patung, wayang, dsb).
Sedikit melihat ruang sebelah, ternyata masih ada lagi lukisan wayang besar yang terakhir saya ketahui sebagai gambar tokoh Werkudara selebar dua kali dua meter. Ada pula satu set gamelan yang berada di ruang yang sama dengan lukisan Werkudara tersebut.
Saya sedikit merenung, bagaimana seorang tuna netra mampu menciptakan barang seni sebagus ini?
Obrolan mengenai kalkulator berlangsung cukup singkat. Untung rekan saya, #ritaudin cepat tanggap dan langsung mengerti kinerja kalkulator yang Bapak Sardjono tunjukan. Kami memang berencana membuat sebuah kalkulator dengan keypad braille dan output suara untuk membantu tuna netra dalam hitung menghitung. Sedangkan contoh yang dipunyai Bapak Sardjono baru memiliki fasilitas suara saja, belum memiliki fasilitas braille. Itupun sangat jarang dijual secara umum. Bapak Sardjono bercerita jika kalkulator talking yang dimilikinya dibeli di Singapura pada tahun 91. Sudah lama sekali, dan harganya bisa jadi sangat mahal dan sulit dijangkau kalangan tuna netra Indonesia menengah ke bawah.
Setelah obrolan tentang kalkulator selesai, segera Bapak Sardjono bercerita tentang kehidupannya. Beliau berkata, beliau bisa hidup normal, memasak, nyetir mobil pun masih ingat. Memahat dan meneliti apakah topeng yang beliau buat juga bisa. Misal sebuah topeng itu alisnya naik satu atau tidak. Atau mengecek apa pola wayang kulit gunungan sudah benar apa belum. "Saya bisa tau bedanya topeng bener sama topeng peyot", ujarnya sambil tertawa memecahkan suasana di museum kecil itu.
Mendengar pernyataan serupa itu, saya hanya bisa terkagum-kagum. Ketika ditanya bagaimana beliau belajar? Beliau menjawab "Semua manusia punya indera kinestetik, yaitu gerak anggota tubuh. Analoginya, kalau orang naik motor, mau ngerem, apa perlu kita melihat dulu mana remnya? Contoh lain juga, orang yang awas, dan biasa ngetik sepuluh jari, apa masih perlu melihat susunan keyboarnya? Itulah indera kinestetik".
Sayapun semakin kagum sama beliau, dan tiba-tiba malu sendiri jadi ingat ternyata saya mengetik keyboard memakai qwerty, pun masih belum sepuluh jari.. :p
@andhikalady
purple room
tigapuluh januari
Maksud awal kunjungan kami ke rumahnya adalah untuk melihat contoh Talking Calculator yang merupakan topik yang kami angkat di PKM. Ketika kami mendatangi rumahnya yang beralamat di daerah Tentara Pelajar, ternyata tidak hanya kalkulator saja yang kami lihat. Bapak Sardjono juga menyuguhi kami dengan bercerita banyak hal. Tentang penyakit yang menyebabkannya menjadi tuna netra yang dideritanya sebelum masuk kuliah, tentang suka duka beliau ketika masih menjadi satu-satunya mahasiswa tuna netra di PKH IKIP (sekarang PLB UNY), tentang betapa bangganya beliau mengetahui rekan PKHnya ada yang berhasil menjadi rektor (Prof. Rohmat Wahab), dan tentang wirausahanya.
Pertama masuk ke rumahnya yang mirip museum itu, kami segera disambut ramah oleh istri beliau. Perlu menunggu beberapa menit untuk ditemui oleh beliau karena waktu itu beliau masih melayani klien yang berkaitan dengan bisnis kerajinannya.
Rumahnya sangat mirip dengan gudang barang antik. Di ruang tamu saja banyak sekali patung-patung, wayang kulit, wayang golek, dan kerajinan lain yang sengaja dipajang untuk dijual. Bapak Sardjono dan sang istri memang melakoni bisnis kerajinan tradisional (kebanyakan seni patung, wayang, dsb).
Sedikit melihat ruang sebelah, ternyata masih ada lagi lukisan wayang besar yang terakhir saya ketahui sebagai gambar tokoh Werkudara selebar dua kali dua meter. Ada pula satu set gamelan yang berada di ruang yang sama dengan lukisan Werkudara tersebut.
Saya sedikit merenung, bagaimana seorang tuna netra mampu menciptakan barang seni sebagus ini?
Obrolan mengenai kalkulator berlangsung cukup singkat. Untung rekan saya, #ritaudin cepat tanggap dan langsung mengerti kinerja kalkulator yang Bapak Sardjono tunjukan. Kami memang berencana membuat sebuah kalkulator dengan keypad braille dan output suara untuk membantu tuna netra dalam hitung menghitung. Sedangkan contoh yang dipunyai Bapak Sardjono baru memiliki fasilitas suara saja, belum memiliki fasilitas braille. Itupun sangat jarang dijual secara umum. Bapak Sardjono bercerita jika kalkulator talking yang dimilikinya dibeli di Singapura pada tahun 91. Sudah lama sekali, dan harganya bisa jadi sangat mahal dan sulit dijangkau kalangan tuna netra Indonesia menengah ke bawah.
Setelah obrolan tentang kalkulator selesai, segera Bapak Sardjono bercerita tentang kehidupannya. Beliau berkata, beliau bisa hidup normal, memasak, nyetir mobil pun masih ingat. Memahat dan meneliti apakah topeng yang beliau buat juga bisa. Misal sebuah topeng itu alisnya naik satu atau tidak. Atau mengecek apa pola wayang kulit gunungan sudah benar apa belum. "Saya bisa tau bedanya topeng bener sama topeng peyot", ujarnya sambil tertawa memecahkan suasana di museum kecil itu.
Mendengar pernyataan serupa itu, saya hanya bisa terkagum-kagum. Ketika ditanya bagaimana beliau belajar? Beliau menjawab "Semua manusia punya indera kinestetik, yaitu gerak anggota tubuh. Analoginya, kalau orang naik motor, mau ngerem, apa perlu kita melihat dulu mana remnya? Contoh lain juga, orang yang awas, dan biasa ngetik sepuluh jari, apa masih perlu melihat susunan keyboarnya? Itulah indera kinestetik".
Sayapun semakin kagum sama beliau, dan tiba-tiba malu sendiri jadi ingat ternyata saya mengetik keyboard memakai qwerty, pun masih belum sepuluh jari.. :p
@andhikalady
purple room
tigapuluh januari

