Tuesday, January 31, 2012

Bapak Sardjono, Keuletan di Balik Kegelapan

Pagi ini, saya dan tiga rekan PKM saya, yaitu #veryerwina #ritaudin dan #minarti mengunjungi kediaman Bapak Sardjono. Seorang wirausahawan sukses yang berkecimpung dalam bidang kriya seni. Hal yang unik dari beliau adalah beliau seorang wirausahawan sekaligus akademisi penyandang tuna netra.

Maksud awal kunjungan kami ke rumahnya adalah untuk melihat contoh Talking Calculator yang merupakan topik yang kami angkat di PKM. Ketika kami mendatangi rumahnya yang beralamat di daerah Tentara Pelajar, ternyata tidak hanya kalkulator saja yang kami lihat. Bapak Sardjono juga menyuguhi kami dengan bercerita banyak hal. Tentang penyakit yang menyebabkannya menjadi tuna netra yang dideritanya sebelum masuk kuliah, tentang suka duka beliau ketika masih menjadi satu-satunya mahasiswa tuna netra di PKH IKIP (sekarang PLB UNY), tentang betapa bangganya beliau mengetahui rekan PKHnya ada yang berhasil menjadi rektor (Prof. Rohmat Wahab), dan tentang wirausahanya.

Pertama masuk ke rumahnya yang mirip museum itu, kami segera disambut ramah oleh istri beliau. Perlu menunggu beberapa menit untuk ditemui oleh beliau karena waktu itu beliau masih melayani klien yang berkaitan dengan bisnis kerajinannya.
Rumahnya sangat mirip dengan gudang barang antik. Di ruang tamu saja banyak sekali patung-patung, wayang kulit, wayang golek, dan kerajinan lain yang sengaja dipajang untuk dijual. Bapak Sardjono dan sang istri memang melakoni bisnis kerajinan tradisional (kebanyakan seni patung, wayang, dsb).



Sedikit melihat ruang sebelah, ternyata masih ada lagi lukisan wayang besar yang terakhir saya ketahui sebagai gambar tokoh Werkudara selebar dua kali dua meter. Ada pula satu set gamelan yang berada di ruang yang sama dengan lukisan Werkudara tersebut.

Saya sedikit merenung, bagaimana seorang tuna netra mampu menciptakan barang seni sebagus ini?
Obrolan mengenai kalkulator berlangsung cukup singkat. Untung rekan saya, #ritaudin cepat tanggap dan langsung mengerti kinerja kalkulator yang Bapak Sardjono tunjukan. Kami memang berencana membuat sebuah kalkulator dengan keypad braille dan output suara untuk membantu tuna netra dalam hitung menghitung. Sedangkan contoh yang dipunyai Bapak Sardjono baru memiliki fasilitas suara saja, belum memiliki fasilitas braille. Itupun sangat jarang dijual secara umum. Bapak Sardjono bercerita jika kalkulator talking yang dimilikinya dibeli di Singapura pada tahun 91. Sudah lama sekali, dan harganya bisa jadi sangat mahal dan sulit dijangkau kalangan tuna netra Indonesia menengah ke bawah.

Setelah obrolan tentang kalkulator selesai, segera Bapak Sardjono bercerita tentang kehidupannya. Beliau berkata, beliau bisa hidup normal, memasak, nyetir mobil pun masih ingat. Memahat dan meneliti apakah topeng yang beliau buat juga bisa. Misal sebuah topeng itu alisnya naik satu atau tidak. Atau mengecek apa pola wayang kulit gunungan sudah benar apa belum. "Saya bisa tau bedanya topeng bener sama topeng peyot", ujarnya sambil tertawa memecahkan suasana di museum kecil itu.

Mendengar pernyataan serupa itu, saya hanya bisa terkagum-kagum. Ketika ditanya bagaimana beliau belajar? Beliau menjawab "Semua manusia punya indera kinestetik, yaitu gerak anggota tubuh. Analoginya, kalau orang naik motor, mau ngerem, apa perlu kita melihat dulu mana remnya? Contoh lain juga, orang yang awas, dan biasa ngetik sepuluh jari, apa masih perlu melihat susunan keyboarnya? Itulah indera kinestetik".

Sayapun semakin kagum sama beliau, dan tiba-tiba malu sendiri jadi ingat ternyata saya mengetik keyboard memakai qwerty, pun masih belum sepuluh jari.. :p

@andhikalady
purple room
tigapuluh januari

Saturday, January 28, 2012

Note for mySelf (Semacam surat cinta untuk empat orang)

Aku ingin kembali menulis diary lagi.

Aku ingin menulis pesan dan menyimpannya dalam botol kedap air. Kemudian membuangnya di laut atau sungai. Kemudian berimajinasi suatu saat ada cinta sejatiku menemukan dan membaca pesan di dalamnya.

Aku ingin menulis cita-cita impian bersamanya, dalam sebuah perkamen lusuh berwarna coklat. Dan kami menyimpannya dalam sebuah kotak. Kemudian kami menguburkannya bersama di bawah tanah. Di sebuah tempat yang tidak asing untuk kami. Mungkin di bawah pohon rindang yang ada ayunan dari ban bekasnya. Ayunan yang di situ kami sering bermain bersama atau saling dorong-mendorong satu sama lain. Bersaing siapa yang dorongannya paling tinggi.
Dan kotak tulisan yang kami kubur itu, akan kami buka bersama kembali. Entah kapan. Sepuluh atau dua puluh tahun lagi.

Aku ingin menulis surat untuk ibuku. Aku ingin berterima kasih telah mendatangkanku ke dunia. Aku ingin mengatakan, "Ibu, aku sayang kamu". Mungkin dengan menempelkannya di pintu kulkas atau di atas meja makan favoritnya, supaya Ibu bisa membacanya sepulang dari pasar dan sebelum Ibu menyiapkan makan siang lezat penuh selera. Dan kemudian semangkuk sop ayam, sambal, kerupuk dan mendoan akan terhidang satu jam setelah Ibu membaca pesan kulkasku.

Aku ingin menulis surat untuk anak perempuanku. Aku ingin memberitahu, "Belajarlah dari Ibu nak, ambil yang baik, jangan tiru yang tidak baik". Aku ingin anak perempuanku tumbuh besar menjadi perempuan yang anggun dan kuat. Seperti mawar berduri yang tumbuh di tepi jurang.
Oh iya. Aku juga akan memasak untuknya. Semangkuk sop ayam, resep warisan dari Ibuku, dan hidangan lain yang dia suka, boleh dia pilih sendiri. Dia juga boleh ikut membantuku menyiapkan hidangan. Dan saat itu, kami akan membicarakan tentang sekolahnya, tentang resep sop ayam, atau tentang cowok kelas sebelah yang menyukainya.

Aku ingin menulis untukku sendiri, ketika aku menikah, ketika aku punya anak, ketika aku berumur lima puluh, ketika aku punya cucu, ketika aku pertama naik haji.

Bayangkan, jika kelak aku sudah lima puluh tahun, tiba-tiba aku menemukan surat untukku dari Aku yang berumur duapuluhsatu?

Atau jika kelak aku menikah, kemudian membaca diary-diary galauku tentang si itu, itu, dan itu yang ternyata bukan jadi suamiku?

Ah, banyak sekali yang ingin kutulis. Demi senyum di kemudian hari, :-)

P.S. :
Aku suka masak sop ayam. Kemiri adalah bumbu utamanya.

@andhikalady
Purple Room
tanggal duapuluh delapan Januari

Friday, January 27, 2012

Tentang Harga dan Kebutuhan

Jika kamu punya apel, berikanlah pada orang yang suka apel. Bukan pada penjual apel.

Jika kamu punya roti, berikan pada orang yang kelaparan. Bukan pada orang yang baru saja memakan nasi.

Jika kamu punya air, berikan pada orang yang kehausan. Bukan pada orang yang menenteng sebotol air isotonik.

Jika kamu punya buku tulis, berikanlah pada orang yang suka menulis. Bukan pada orang yang punya selusin buku tulis warna-warni di rumahnya.

Jika kamu punya waktu, bantulah orang yang membutuhkan waktumu. Bukan pada orang yang memiliki banyak penyumbang waktu.

Jika kamu punya cat, berikan pada orang yang suka melukis. Bukan pada orang yang suka menyanyi.

Jika kamu punya ilmu, ajarkanlah pada orang yang mau belajar. Bukan pada orang yang malas belajar.

Jika kamu punya perhatian, berikanlah pada orang yang membutuhkan perhatianmu. Bukan pada orang yang kelebihan perhatian.

Jika kamu punya cinta, berikanlah pada orang yang menganggap cintamu adalah hal yang paling berharga. Bukan pada orang yang memberi harga murah untuk cintamu.

Sesuatu yang berharga, bisa berubah menjadi tidak berharga untuk orang yang tidak butuh.

Jangan pernah menuntut balas budi dari orang yang kamu beri sesuatumu yang berharga, tapi dia tidak butuh sesuatumu.

...

Wednesday, January 25, 2012

Pesan Terakhir

Cerita ini dimulai sekitar sepuluh tahun yang lalu. Ketika aku berumur sebelas dan kamu duabelas waktu itu. Kita bertemu di sebuah perlombaan di kecamatan kita. Masing-masing dari kita mengenalkan diri sebagai anak SD ini, desa ini, dengan nama ini. Kamu mengenalkan namamu, aku mengenalkan namaku. Perkenalan biasa. Mudah sekali dilupakan. Itu saja yang kuingat di awal pertemuan kita.

Lalu kita ditakdirkan untuk berlanjut ke pertemuan kita berikutnya. Kembali ke sebuah lomba. Waktu itu diadakan perlombaan lain, kali ini perlombaan harus dilangsungkan di alam bebas dan berlangsung selama beberapa hari di desa S. Ohya, tidak seperti sebelumnya, kali ini lombanya berramai-ramai. Waktu itu aku sudah melupakan perkenalan kita sebelumnya. Tapi kemudian kamu secara ajaib mengenalkan diri kembali. Ajaib, karena temanmulah yang mengenalkan kita. Ajaib, karena yang membuatku sadar bahwa kamu ada adalah teriakan teman-temanmu yang membahana cekikikan ketika kita berpapasan. Aku tau, kamu masih kecil, masih terlalu malu untuk berkata lugas "Hai, masih ingat aku kan?".. Kemudian serta merta sikap defensifku mulai kuperlihatkan. Aku sungguh tidak nyaman. Aku merasa dikuntit orang tidak dikenal yang selalu mengganggu dan cekikian ke arahku di setiap jalan. Jalan di antara tenda-tenda.

Aku masih ingat ketika kamu menuliskan surat itu untukku. Surat yang kamu kirimkan melalui temanmu. Surat yang datang bersamaan dengan gelang anyaman kecil berwarna hijau putih yang kau berikan padaku. Surat yang berisi bahwa kamu menyukaiku dan ingin mengenalku. Aku tertawa geli, sekaligus tidak nyaman. Tertawa geli, seperti inikah rasanya mendapat surat cinta? Kok tidak indah sama sekali ya? Aku menolaknya. Tapi teman-temanku? Ah, bajingan-bajingan kecil itu seperti mendapat umpan lezat untuk membullyku. Tahukan kamu? Dikirimi surat cinta di depan teman-temanku adalah hal yang sangat memalukan untuk anak kecil seusiaku? Wajahku merah padam. Jauh dari kalimat merah merona dibakar api cinta surat cinta pertama. Ditambah lagi, waktu itu ada guru dan Ayahku! Surat dan pemberian kecilmu itu direbut dan dibaca keras-keras oleh salah satu temanku di depan tenda kami. Semua tertawa. Teman, guru, ayahku. Dan ayahku, beliau tersenyum. Yang senyumnya terlihat sangat aneh untuk anak kecil seusiaku.
Sebelum mereka selesai membacanya, surat itu aku ambil dan aku sobek-sobek menjadi serpihan kertas kecil. Dan gelang itu, aku lempar dan entah kena di tangan siapa.
Aku berlari sambil menangis. Aku malu. Malu dengan teman-teman. Malu dengan guru. Malu dengan Ayah.
Peristiwa memalukan itu telah terlanjur tertanam di memori anak perempuan kecil kelas enam esde itu. Aku.
Akupun menghabiskan sisa sekolah dasarku dengan ejekan tanpa henti dari teman-temanku.
Terima kasih, kamu telah berhasil membuat anak kecil yang bahkan tidak kenal dengan kamu, harus menderita tanpa henti dibully oleh teman-temannya.

Ketika aku lulus, aku sudah lupakan peristiwa itu. Tapi takdir mempertemukan kita kembali di sekolah menengah pertama. Dan Apa?! Kita satu kelas?! Ohmaigat, aku kembali teringat saat kamu mempermalukanku. Aku tidak mau itu terjadi lagi. Aku menjauh darimu. Aku menghindar darimu. Aku tak mau bicara denganmu. Bangku tempat dudukku aku atur supaya jauh dari posisimu.

Aku anggap hidupku tenang. Tapi ternyata tidak.

Ada perempuan tetangga kelas yang bermuka sinis padaku. Aku tak kenal dia. Tapi, akhirnya ada sumber yang mengatakan, perempuan itu teman SDmu. Dia menyukaimu. Dan dia tidak menyukaiku karena kamu pernah memberi surat cinta untukku. Yaampuun? Penderitaan apa lagi ini? Kamu dan perempuan itu, aku tak kenal? Kenapa aku harus jadi korban kebenciannya?

Aku bertahan dengan sikapku. Aku menjaga jarak darimu. Secara harfiah, aku membencimu.

Tapi aku tidak tahu kapan tepatnya. Aku merasa sinar mukamu itu lain. Dan aroma jejakmu membekas. Ternyata aku jadi menyukaimu. Aku terlalu banyak memikirkan kebencianku sampai aku tidak sadar bahwa aku mulai terpesona. Ya, aku menyukaimu. Aku tak tahu kenapa. Aku berubah menjadi sosok puitis. Aku menulis di diary yang kupunya, aku menuliskan inisialmu. Waktu itu belum ada facebook atau twitter. Aku menumpahkan perasaanku dengan menulis diary. Masih ada, kalau mau aku tunjukan. Ah, aku terlalu malu untuk mengakuinya padamu. Meski kamu waktu itu juga sering menggodaku. Aku terlalu malu. Aku pilih untuk memendamnya.

Hmm, tapi teman-temanku masih hobi meledek kita' Ledekan yang kala itu menjengkelkan, sekarang berubah menyenangkan. Contohnya, sewaktu melihat ramalan perjodohan dengan zodiak. Ah, lucu sekali mengingat masa dulu aku masih percaya zodiak dan perjodohan macam itu. Temanku berkata, Leo itu jodoh dengan Libra. Aku tau kamu lahir sebelas oktober dan aku duapuluh enam juli. Walaupun aku menampiknya, tentu ada rasa binar di mataku. Aku masih pilih memendamnya.

Tetapi, tak lama setelah itu, kamu malah memacari sahabatku. Dan memacari sahabatku yang lainnya lagi. Dan aku tahu kalau kamu, Playboy. Huh, waktu itu aku cupu. Ga kenal laki, dan ga ngerti istilah Playboy. Itu adalah patah hati sekaligus rasa syukurku yang pertama. Bayangkan? Dua sahabatku kamu embat?

Aku bersyukur tidak menjadi -korban- mu. Tapi aku menyesalkan. Karena kedua sahabatku yang pernah kamu pacari, menjadi memusuhi satu sama lain. Jahat sekali kamu. Dan jahatmu itu mampu memenuhi diaryku. Aku memang tidak menangis. Aku menumpahkan dalam tulisan galau di diaryku.

Dan mendadak perasaan itu mulai luntur. Aku sudah tidak menyukaimu lagi. Sudah terlalu banyak akibat buruk yang kau timbulkan untukku. Aku kehilangan sahabat. Aku merasakan kepedihan anak remaja usia SMP yang persahabatannya hancur karena cowok. ah, klasik sekali ya? Jika kamu mengingatnya pasti terdengar lucu.

Someday, mungkin sekitar enam atau tujuh tahun kamu menghilang tanpa kabar, kamu kembali menghubungiku. Mengucap selamat tidur atau selamat pagi tiga atau empat kali seminggu. Hmm, kamu hanya sahabat. Akupun tau, waktu itu kamu juga punya pacar kan? Pesan-pesanmu kadang kutanggapi, kadang pula tidak. Hingga suatu hari kamu bertanya :

"Menurutmu aku dulu ini seperti apa sih? Perasaanmu dulu ke aku gimana?"
"Met bubu ya, aku minta maaf kalo ada salah"

SMS sederhana yang kuanggap tidak penting itu kuhapus, dan tidak kubalas.

Sehari setelah SMSmu itu, dini hari aku terbangun. Salah satu sahabat kita mengirim pesan :

"Telah meninggal dunia...... Karena kecelakaan"

Aku hampir pingsan membaca namamu disebut di kabar duka itu.

Lebaran tahun lalu aku mengunjungi nisanmu. Tertulis namamu yang masih baru. Dan taburan kenanga yang telah layu.

Dan rasa yang kau tanyakan itu, mungkin sudah takdirmu untuk tak pernah tau. Atau kebodohanku yang tak segera membalas pesan terakhirmu.


P.S. :
Aku sudah menemukan Libra yang lain. Maaf jika kumenyanyanginya lebih darimu. Dia lahir sepuluh Oktober. Selisih satu denganmu.

@andhikalady

Tuesday, January 24, 2012

Hari ini Aku Memakai Polish Hitam

Salah,,

Yang lebih tepatnya adalah aku hari ini memakai cat kuku hitam. Ya, hitam. Tapi kucampur dengan topping glossy silver yang waktu itu kubeli bersama kamu.

"Aku beli yang hitam ya?"
"Jangan hitam, hitam itu seram. Yang ini aja", katamu sambil mengambil kitek berwarna pink.
"Tapi aku sudah punya yang merah", jawabku.
"Ya udah, yang lain aja, eh, yang ini aja", kamu menawarkan cat kuku silver glossy padaku.
"Well, oke"..

Jadi intinya cat kuku silver itulah yang kubawa pulang.

But, I'm chetaing. Aku kemudian membeli cat kuku hitam. Dan hari ini, aku memakainya.

Mengapa hitam? Karena aku macam hendak berkabung. Berkabung karena merindukan sinaran mata indahmu yang saat ini tidak kumiliki.

"kutrima suratmu, dan kubaca, dan aku mengerti.
Betapa merindunya dirimu akan hadirnya diriku,
dan belai lembut kasihku, di dalam hari harimu"
-Kangen, Dewa-

Dan silver glossy, warna yang kau pilihkan untukku. Adalah penanda, bahwa masih ada sisa serpihan sinar kemilau matamu di jemariku.

Walau dia tak mampu menutup sempurna warna hitam berkabung-ku..

Seram, katamu? ya sudah, aku pake aseton deh.
:-D

Monday, January 23, 2012

Rayuan Astronomi

Jika ada yang mengatakan rayuan itu sejenis bujukan halus, gombalan mulus, atau permintaan tulus (lho) itu memang ada benarnya.

"Jika aku ibarat mesin, kamu pasti yang jadi olienya"
"loh, kenapa?"
"soalnya tiap ketemu kamu, aku jadi oling in love with you"

itu adalah rayuan berjenis gombalan. Benar.

Lalu, ada apa dengan astronomi? Aku jadi ingat jaman membela sekolah sekitar empat atau lima tahun yang lalu. Kamu, yang waktu itu follow komputer, dianggap sejoli denganku oleh teman-teman kita. Ingatkah kamu?

Waktu itu aku tidak menemukan cara menjangkau imajinasi deratan array atau algoritma-algoritma yang membingungkan. Bahkan looping akupun tak mengerti.
Aku hanya mengerti matahari, bulan, bintang, blackhole, virgo, dan nebula.

Hmm, dan mulailah aku, secara pribadi menciptakan gombalan-gombalan aneh dengan bahasa astronomi:

"Jika aku bulan dan kamu matahari, aku sangat menanti gerhana matahari. Kita bertemu, sekali dalam sekian tahun. Dan seluruh penduduk bumi menjadi saksi, sampai kapan aku menunggu saat itu?"

"Kamu seperti blackhole, tenang, tapi mampu menyerap masuk jiwaku ke dalamnya"

"Tahukan kamu, bintang-bintang itu? mereka bukan masa depan. Tapi masa lalu. Cahaya yang kita lihat itu cahaya bintang itu ratusan tahun yang lalu. Kita tidak tahu mereka masih ada atau tidak. Tapi cahaya cintaku, abadi untukmu"

"Kamu tau sungai bintang itu? Itu bernama milky way. Jalan susu. Imajinasikan kita sedang terbang menyeberangi sungai itu"

Dan kita, mendiskusikannya di bawah sinaran bintang. Atau di bawah langit biru bercampur desiran angin sejuk di pinggir pantai. Atau di perpustakaan. Atau di sela-sela jam istirahat. Atau di depan google. Atau di lapangan hijau depan sekolah. Atau di bawah guyuran hujan. Atau sewaktu makan siang di kantin. Atau di saat-saat yang sangat tidak penting untuk mendiskusikan hal macam begini.

Kamu? Hmm, mana bisa menggantinya menjadi "Kamu seperti looping tak berkesudahan, untuk selamanya kamu ada di hatiku".
Hedeeeh, itu absurd sekali pada empat atau lima tahun lalu. Hehe.
Kaupun memilih diam.
Kamu memang penuh dengan logika, disaat pandanganku luas menembus cakrawala.
Aku menang.
Aku dapat memperoleh ucapan lugas darimu dan mendapatkan efek blush on gratis.

Empat tahun berlalu. Sekarang aku sudah mengerti logika yang kamu terapkan dulu.

Aku sudah lupa kapan terakhir kita melihat bintang, menyaksikan pelangi, atau merasakan sentuhan lembut angin laut di kulit dan rambut kita.

Tanpa itu semua, akupun kaget, bisa-bisanya kamu menghujaniku dengan gombalan macam "oling in love"..
Atau :

"Ibumu dulu hamil kamu nyidam kopi ya?"
"kok tau"
"karena setiap mikirin kamu aku tidak bisa tidur"
"ooh, tak kira karena aku item.."
hahahahaa..

Aku tidak bisa menjawabnya.

Aku kalah.

...


Purple Room,
duapuluh tiga januari jam satu siang
This entry was posted in

Sunday, January 22, 2012

Tentang Kadaluarsa dan Energi Cinta

...

aku sadar, cinta itu bukan roti kemasan yang memiliki tanggal tenggat waktu kelayakan makan.

tenang, aku tidak akan memakan apa yang disebut cinta disini. karena cinta memang tidak bisa dimakan. :-D

atas dasar itu, aku jadi tau, aku tidak akan mati jika mengkonsumsi cinta yang satu itu. (mengkonsumsi bukan berarti memakan, kan? hehe).

tapi bodohnya aku, atas kesadaran konyol bahwa aku-tak-akan-mati-mengkonsumsi-cinta-yang-kadaluarsa membuatku makin rapuh dengan mengkrikiti cinta yang sudah jelas tanggal expirednya.

aku memang tidak mati (buktinya masih bisa nulis ini). tapi aku kosong. Aku berharap Fisika memiliki hukum kekekalan -cinta-, seperti halnya energi. Karena aku yakin, cinta itu termasuk energi. Jadi ketika aku kehilangan -cinta-, aku masih memiliki energi ini, walau dalam bentuk lain.

seseorang (atau setulisan yang aku baca) memberitahuku. Tebarkan cinta yang kau miliki, maka dunia akan berbalik mencintaimu.
Atau tebarkan energi positif ke manapun kamu melangkah, maka keuntunganlah yang akan kamu peroleh.

dan aku sebal sama proyek #30HariMenulisSuratCinta . Karena mengadakan proyek ini ketika aku sudah minim sekali energi dan emosi -cinta-..

Whooops, aku barusan menebar energi negatif, ya?

....
This entry was posted in

Saturday, January 21, 2012

Untuk Orang yang Memberi Saya Nama Lady

...

Lo mikir ga si, pas ngasih gw nama?
Andhika.
Andhika? Kenapa harus Andhika sih?
Maharsi? Hemmm, dapet darimana nih nama?

Yeah, tau, situ pengen punya anak cowok. Tapi halooo, ini cewe lhoo.
Yang gw inget, perlakuan elo yang bener-bener menganggap gw bayi perempuan ya pas elo nindik kuping gw doang. Itu aja..

Mainan? Masa elo belin gw mobil-mobilan?
Baju? Masa elo belin gw celana sama kemeja?
Rambut? Masa gw gak boleh manjangin rambut sama potong poni coba?
Gw tu iri sama istri lo! Rambutnye panjaaaaang, bisa mpe paha,digelung tiap hari. Lha gw?
Gw diajak lo mancing, ke sawah nyari keong, nyegur kali, n.u.k.a.n.g. Nambal ban juga pernah.
Alhasil gw jadi ngrasa, kayanya gw emang dilahirkan jadi cowo apa ya, bro?

Foto TK gw kaya cowo. Dimana-mana banyak orang manggil mas Andhika. Temen main gw, cowo. Temen berantem gw, cowo juga. Temen nyegur sungai, cowo juga. Jatuh bangun bedarah-darah juga biasa.

Tapi suatu saat lo ngasi tau gw, arti nama gw.
Andhika itu artinya Kamu, Maharsi itu artinya Memiliki Kelebihan dan Kebijaksanaan. Ieh, masa lo gak ngasi tau sejak dulu si? Istri lo juga diem aja. Ah bawel.

"Dan Lady, nama tengah. itu khusus buat Lo, sosok perempuan yang akan memiliki keanggunan dan kekuatan seorang "Lady"."

Ohhhh, gitu ya, Pah?
Sejak itu gw jadi perempuan.

...

Friday, January 20, 2012

Tentang Kuliner

Nulis posting tentang kuliner itu sebaiknya ditulis dalam keadaan setengah lapar. Karena kalau sudah kenyang, lezatnya rasa masakan itu langsung hilang.

Kekenyangan dot com.
Padahal makanannya enak.

-___-"..

Thursday, January 19, 2012

Arie, Musuh* Sekandung



Saya punya dua younger brothers, Arie dan Aby. Dilihat dari huruf depan namanya, ketahuan sekali ortu saya memang hobi ngasih nama anak-anaknya dengan awalan huruf A. Andhika, Arie, Abyan. Harapannya, dengan memberi nama depan berawalan A, kami -anak-anaknya- akan selalu menjadi nomor satu dalam banyak hal.. aamiin.. :-D

Tapi saat ini aku akan menyoroti adik saya yang namanya Arie. Hari ini ulang tahunnya. Saya sempat mengira bakal cuma punya satu saudara kandung seumur hidup, sebelum adik saya yang kecil, Aby lahir empat tahun yang lalu.

Jadi beginilah si Arie itu,,

Adik saya Arie ini, lahir enambelas tahun silam. Kata Ibu saya, dia adalah anak yang paling susah dilahirkan. Ibuku mengalami banyak pendarahan ketika melahirkannya. Masa kecilnya dilewati dengan cukup menyedihkan. Bobot badan kurang, sakit-sakitan, susah makan, nakal, dan sebagainya. Saat berumur empat puluh haripun, Arie sempat kena infeksi pernapasan yang mengharuskannya untuk rawat inap dan diberi obat dosis tinggi. Bayangkan, bayi merah tapi sudah diberi infus, dikasi alat bantu napas, dll !

Sakitnya Arie dan tumpangnya perhatian keluarga ke satu bayi itu jelas sekali membuatku (yang waktu itu dianggap anak yang sehat sehingga tidak-perlu-dikhawatirkan) merasa diabaikan. Waktu itu saya masih TK. Saya sudah diharuskan tidak boleh rewel, tidak boleh manja, ngapa-ngapain sendiri, mandi sendiri, makan bikin sendiri. Jaaan. Padahal jaman TK itu jamannya lagi manja-manja sama ortu ya? :-)..

Well, kembali lagi. Jadi, dengan riwayat sakitnya si Arie ini menghabiskan lima tahun setelahnya dengan minum obat, bolak-balik rumah sakit, dan tempat tidur. Namun alhamdulillah akhirnya dia sembuh.

Dan sekian tahun setelah dia benar-benar sembuh adalah dia-jadi-musuhku. Ya, musuh sungguhan. Berantem, rebutan jajan, rebutan mainan. Ejek-ejekan. Aku pernah membuat nyanyian ejekan yang berbunyi :

Awi Awo Awawa Ewu.

Dan Arie juga membuat nyanyian hinaan serupa :

Benil Benol Benanal Benul.

Ejekan yang sama sekali tidak mengandung makna. Tapi tiap aku menyanyikan itu, dia pasti jengkel dan memukul aku sambil menyanyikan "hinaannya". Kemudian aku balas mukul. Dia balas lagi. Lalu kejar-kejaran. Lalu pihak yang terkejar. masuk kamar, menyelamatkan diri, mengunci diri. Sementara pihak yang mengejar menggedor-gedor pintu. Aksi gedor-gedor pintu kamar itu tidak akan berhenti hingga ada orang tua, bapak atau ibu yang turun tangan. Dan biasanya selalu ada korban yang harus disalahkan. Karena filosofi orang tua yang "sing tua ngalah", otomatis saya yang harus ngalah, meminta maaf, walaupun jelas-jelas si Arie ini yang salah. #wtf

Dan peristiwa itu hampir terjadi setiap hari. Sepanjang bulan. Sepanjang tahun. Jarang sekali kami akur. Sempat saya tidak betah di rumah dan berujar "Dika pengin cepet SMA, cepet ngekost, cepet pisah sama si Awi ini!".. Dari kejauhan (biasanya dari samping rumah) si Arie menyaut "iya sana! Pergi ja".. :|

Tapi semenjak aku SMA, dan beneran tinggal terpisah. Kelakuannya berubah. Jadi kalem, baik, pinter, lucu, imut. Dan badannya, naudzubillah, gendut ndut!! Ah, sudahlah, ntar anaknya GeEr..

Dan akhirnya adikku yang lain lahir, Abyan. Dilahirkan dari Ibu yang berusia 38tahun, ayah 43tahun. Dan selisih usianya denganku 17tahun. Hadiah sweet seventeen inii. Sejak itu saya divonis untuk dipanggil Mba Ditang ( karena Aby belum bisa ngomong Mba Dika). Dan Arie dipanggil Aa. #wtf, padahal keluarga saya gak ada darah Sundanya sama sekali. Tapi ya itu maunya Ibu ya gimana.

Yew, kembali (lagi) ke masalah Arie. Yeah, bukan soulmate rasanya kalo gak ejek-ejekan lagi. Aku masih suka jahil bahkan sampai sekarang. Contohnya aja ya, aku iseng mengajari Aby yang baru bisa ngomong untuk ngomong :

Aa aya tut
Aa aya tut
Aa aya tut

Dan ternyata si Aby ini malah beneran hafal! Hampir setiap hari dia menyanyikan frasa di atas di depan Aa nya. Mungkin Aby pahamnya si Arie ini bernama Aa aya tut, bukan Aa Arie. Reaksi si Arie? Jelas marah bukan buatan. Yeah, sayanya juga salah sih. Tapi ya gimana, aku puas je, ngerjain Arie. Haha. Perkembangan selanjutnya, si Aby malah memodifikasinya menjadi :

Aa kaya entut
Aa kaya entut
Aa kaya entut

Tentunya setelah Aby mengerti arti sebenarnya. Dan alhasil si Arie kelabakan dan kemarahannya makin membrutal.

Karena makin parah dan dianggap ngajarin yang ga bener (emang iya sih). Saya ditegur ortu dan memintaku berhenti memancing Aby untuk ngomong itu.

Lama kelamaan Aby lupa dan tidak membrutal lagi..

Tapi kadang aku kangen pengen ejek-ejekan lagi ya. Hmm, padahal saya sudah 21 dan dia 16. Sudah jelas tentu kami memiliki kadar ke-Alay-an yang berbeda bukan?

Yeah saya belum mengira, kalau salah satu dari kami telah hidup sendiri. Berumah tangga. Apakah masih ejek-ejekan?


Tiga hari yang lalu, adik saya tercinta ini baru saja sakit Hepatitis A. Tulisan ini saya dedikasikan untuk dia. Mudah-mudahan cepat sembuh. Dan selamat ulang tahun ya Dul!

Aa aya tut!!


Purple Room
tanggal sembilan belas januari dua ribu dua belas
jam setengan satu malam

Wednesday, January 18, 2012

Fashion di Mataku

Fashion di Mataku

Ngomong-ngomong tentang fashion, tentu saja saya bukan ahlinya. Satu-satunya hal yang mengaitkan fashion dengan saya hanya fakta bahwa waktu kecil dulu saya pernah terobsesi menjadi fashion designer. Saya suka menggambar wanita-wanita langsing bertubuh semampai dan "mengklambeni"nya dengan baju-baju kreasi hasil imajinasi saya. Itu saja..

Tetapi, suka tidak suka fashion, sebagai perempuan saya jelas membutuhkannya. Saya juga yakin hal ini berlaku untuk semua perempuan. Yeah, analoginya, kalau dulu (tahun 2000an) celana jins cutbray lonceng masih menjadi tren. Sekarang, orang-orang berramai-ramai memakai celana pensil. Celana cutbray dianggap sudah jadul dan sangat "dangdut".. Tak hanya persoalan celana saja. Seorang perempuan yang tadinya tidak berjilbab kemudian berjilbab pun harus berkreasi dengan busananya. Minim-minimnya ya menyesuaikan busana lah. Yang tadinya ketat, kemudian akibat berjilbab,, tidak lagi ketat..

Saya suka memperhatikan orang. Yang paling kentara jelas dari penampilan. Penampilan yang dimaksud termasuk gaya busana, gaya make up, postur tubuh (postur tubuh ini bukan gendut kurus lho, tapi lebih ke cara berjalan, cara duduk, dsb). Dan tak bisa dipungkiri, value orang yang bersangkutan bisa langsung ketahuan dari itu semua. Jadi pepatah jawa "Ajining diri saka lathi, ajining raga soko busana" itu benar brosist.. Yeah, ke kampus aja harus pakai kemeja, pakai sepatu. Ga pakai kemeja, terus pakai celana pendek ke kampus?? Mana bisa disebut mahasiswa berpendidikan dan berkesopanan?..

Mengenai seni dalam fashion, tentu saya minim sekali pengetahuan dalam hal ini. Tapi bagi saya, fashion itu merunut cara orang berpakaian yang pantas, sopan, pada tempatnya, rapi dan (bonusnya) enak di lihat..

Siapa yang tau, orang jadi suka dengan gaya berpakaian kita, atau jatuh cinta dengan pesona keanggunan yang ditimbulkannya..

Lagi-lagi #eaaaMoment terjadi.. ;-)

Purple Room
With Sony Ericsson Xperia Mini Pro
17 Januari 2012

Film tentang Fashion

Film fashion tidak harus film yang membahas fashion aja. Tapi film yang (menurut saya) banyak menyuguhkan inspirasi-inspirasi busana disamping ceriteranya. Yeah, pada intinya, aku kagum sama penata kostum yang bisa bikin baju yang #wuiah bangeuud.. :-P... Berikut filmnya yang wajib tonton :

1. September Issues
2. Victoria's Secret Runaway
3. Devils Wears Prada
4. The Duchess
5. Memoirs of Geisha
6. Sex and The City
7. My Fair Lady
8. The Extraordinary Adventures of Adele Blanc-Sec
9. 27 Dresses
10. Marie Antoinette
11. Enchanted
12. Bride Wars
13. The Proposal
14. Gossip Girl
15. The Other Boleyn Girl
16. The Perfume
17. Wedding Singer
18.
19.

Masih editable nih.. Karena bisa sewaktu-waktu nambah..

Ada saran?

Tuesday, January 17, 2012

Kiddyligent, Kesuksesan Hanya Milik Orang yang Rajin dan Tekun

Kiddyligent, bayiku duniaku..

Sudah kurang lebih satu tahun sejak saya mencetuskan ide Kiddyligent sebagai wadah tentoring ( saya sebut tentor, karena sebutan guru masih terlalu tinggi bagi saya yang juga calon guru ) bagi anak-anak sekolah yang membutuhkan bimbingan belajar. Ide ini tercetus begitu saja ketika saya sering dimintai menjadi channel pencari tentor-tentor yang berkompeten untuk memberi jasa bimbingan belajar privat.

Saya memang sudah terbiasa menjadi tentor les privat sejak semester 1. Waktu itu saya masih terikat dengan bimbel lain. Kemudian berhubung saya sudah lama tidak diminta les lagi, saya coba untuk mencari peluang jasa les independen. Saya memasang iklan secara online. Tawaran demi tawaran pun datang. Satu hal yang saya tau, senang karena mengetahui media online sangat ampuh untuk marketing, sedih dan keteteran lantaran banyaknya tawaran yang datang. Beberapa dari tawaran itu saya limpahkan pada teman yang berminat menjadi tentor. Kejadian ini berlangsung beberapa kali sampai akhirnya saya berpikir, kenapa tidak dibuatkan wadah tentor saja?

Setelah beberapa kali pemikiran, ide itu muncul dengan dimulainya saya menemukan sebutan Kiddyligent untuk nama wadah dan perkumpulan tentor tersebut. Sesuai dengan namanya, Kiddyligent berarti anak yang rajin. Filosofi kami adalah Kesuksesan hanya milik orang yang rajin dan tekun. Kami mengajarkan anak-anak untuk paham dengan dirinya, menggali potensi yang ada di dirinya, dan menggunggulkan kerajinan dan ketekunan untuk meraih potensinya.

Tak hanya faktor siswa saja yang diharap berpotensi Diligent seperti disebut di atas. Tetapi juga tentor-tentor yang berdedikasi menjunjung filosofi tersebut. Ternyata banyak juga tanggapan positif dari mahasiswa-mahasiswi yang berminat menjadi tentor (kami memang hanya merekrut tentor yang masih menjadi mahasiswa aktif). Kepuasan hati bertambah ketika saya bisa membantu orang lain. Terutama kepuasan karena mahasiswa tentor tersebut jadi memiliki tambahan uang jajan, walaupun sangat tidak seberapa. :-D . Nazar pertama setahun yang lalu adalah untuk lima klien pertama yang datang , semua fee saya limpahkan untuk tentor. Alhamdulillah target lima klien tercapai dalam waktu kurang dari dua bulan. :-D..

Setelah cukup tertatih mengelola wadah ini, (karena disambi kuliah) alhamdulillah ternyata masih bertahan selama satu tahun. Saya tidak mungkin ngesot sendirian menanting Kiddyligent hingga pada tahap ini. Beberapa rekan yang sangat banyak membantu saya yaitu @juliaalela sebagai marketing. @saanttt tentor B. Indonesia, @cancand tentor B. Jawa, @dekresty tentor Kimia, @jillyratria tentor Matematika #dety tentor Matematika, #tya tentor Matematika, #Ardhi tentor Biola, #dwiriswanto tentor Matematika, #ayunoviarti tentor B.inggris, #retno tentor B.Arab, #yania tentor B.inggris dan Akuntansi, dan masih banyak lagi yang harus saya ucapi banyak terima kasih..

Semoga untuk ke depannya Kiddyligent bisa terus maju dan terus maju. :-D


Nb : posting ini editable selama masih ada ucapan terima kasih untuk tentor yang belum saya sebut.


Purple Room..
With Sony Ericsson Xperia Mini Pro
17 Januari 2012
23.00

Ads