MENULISAN (MENULIS TENTANG TULISAN)
Semua orang yang pernah mengenyam pendidikan SD pasti bisa membaca dan menulis. Minimal menulis “Ini Budi”, “Ini Ibu Budi”, “Budi Bermain Bola”, atau yang paling ekstrim “Budi Tidak Jadi Bermain Bola Karena Takut Bom”. Apalah itu, yang penting kita sudah diajari cara membaca dan menulis yang benar.
Tulisan memang sangat sederhana. Namun memiliki arti yang sangat besar. Apa yang membedakan zaman sejarah dan prasejarah? Tulisan. Bagaimana suatu peradaban dapat disebut maju? Cerita dan tulisan. Memang banyak poin penting lain dalam peradaban, misalnya budaya, karya seni, bangunan, atau gerak tari dan lagu. Tapi bagaimana kita dapat mengerti semua itu jika tidak ada yang menceritakannya lewat (tu)lisan?
Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca ada seorang sejarahwan yang menulis protes terhadap sikap pemerintah yang terlalu mengagung-agungkan RA. Kartini sampai-sampai menjadikan hari kelahirannya sebagai hari nasional. (maaf, sumber belum saya lampirkan, masih mencari file lama). Usut punya usut, ternyata sejarahwan tersebut baru saja mengadakan riset mengenai banyak tokoh wanita Indonesia lain diantaranya Dewi Sartika, dari Jawa Barat. Menurut beliau, apa yang dilakukan Kartini belum ada apa-apanya dibanding apa yang dilakukan Dewi Sartika. Kartini hanya mempunyai gagasan terhadap pendidikan wanita, tetapi belum sempat mewujudkannya dalam sebuah prototype pendidikan (mungkin karena terburu tutup usia di usia relatif muda). Sementara Dewi Sartika pada zamannya sudah mampu mendirikan sekolah yang dinamakan Sakola Kautamaan Istri dan mewujudkan pendidikan yang berpihak pada emansipasi wanita secara nyata. Walau ditentang adat yang berlaku saat itu, Dewi Sartika tetap bersikukuh untuk mendidik para wanita. Genting dan arangpun dijadikannya sebagai media pembelajaran. (sumber = www.wikipedia.com/Dewi-Sartika ). Sementara, Kartini belum melakukan hingga sejauh itu. Sisa -sisa perjuangan Kartini yang masih dapat kita lihat hanyalah kumpulan tulisan beliau yang terangkum dalam buku yang disebut Habis Gelap Terbitlah Terang. Namun tidak kita temukan hasil jasa beliau berupa sekolah atau karya lain yang membuktikan bahwa jasa beliau patut diapresiasi. Jadi kenapa harus ada Hari Kartini, sementara tidak ada Hari Sartika?
Pertanyaanya, kenapa Kartini lebih populer dibanding Dewi Sartika. Jawabannya adalah Kartini menulis sejarahnya sendiri lewat tulisan. Sementara perjuangan Dewi Sartika hanya diceritakan lewat lisan orang-orang terdekatnya atau keturunannya. Masih dalam taraf informasi yang berdasarkan observasi para peneliti sejarah. Tanpa bermaksud menghakimi sejarah, namun saya dapat mengambil kesimpulan bahwa tulisan pun dapat mempengaruhi persepsi orang. Bahkan hingga sekian generasi sesudahnya. Kartini menulis, sementara Dewi Sartika tidak.
Cerita berikutnya kudapat dari buku Biografi Inggit Garnasih. Beliau adalah istri kedua Soekarno. Saya tidak akan pernah mengetahui tokoh ini jika tidak membaca sinopsis biografi karya Reni Nuryanti itu. Inggit tidak sepopuler Fatmawati ataupun Ratna Sari Dewi alias Naoko Nemoto, imported wife nya Soekarno. Padahal Inggitlah sahabat, kekasih, dan Ibu bagi Soekarno ketika dalam masa perjuangan pra kemerdekaan. Jika dibandingkan dengan Fatmawati yang jasanya dikenal karena menjahit Bendera Merah Putih, Inggit telah mendampingi Soekarno selama dua puluh tahun dengan lebih banyak duka daripada sukanya. Berjalan sejauh 20 km setiap hari demi mengantar makanan untuk Soekarno yang kala itu sedang dipenjara di Suka Miskin. Atau merawat Soekarno ketika sakit malaria di Ende Flores. Namun perjuangannya seperti habis manis sepah dibuang. Soekarno jatuh cinta lagi pada wanita lain dan menceraikan Inggit tepat menjelang kemerdekaan Indonesia.
Bahkan tulisanpun dapat mengubah sejarah.
Berdasarkan informasi di atas, saya secara tiba-tiba mendapat inspirasi untuk menulis. Ya entah apapun. Tulislah sejarahmu sendiri. Karena kemungkinan orang lain menulis tentangmu itu sangat kecil kecuali kamu mempunyai jasa yang besar atau bakat yang luar biasa.
Kartini yang hanya dianugerahi usia relatif singkat selama 25 tahun pun sudah mampu mengubah paradigma bangsa dengan tulisannya. Ya. Tulisan Kartini dapat mengubah sejarah. Saya malu kepada Kartini. Dengan usia yang relatif singkat itu, Kartini sudah dapat memberikan kontribusi berharga bagi Bangsa Indonesia (saya tahun ini masuk 21 tahun dan belum merasa telah memberikan sumbangsih berarti untuk negeri tercinta ini).
Atau saudari Reni Nuryati yang mengarang biografi Inggit Garnasih yang mampu membuka mata saya akan tokoh wanita penting yang mengantar sang suami memimpin proklamasi. Mereka adalah tokoh yang patut diteladani.
Tulisan di atas ditulis berdasarkan obrolan singkat dengan sahabat saya tempo hari.
Yogyakarta, Purple Room
27 Maret 2011, 14.46
Semua orang yang pernah mengenyam pendidikan SD pasti bisa membaca dan menulis. Minimal menulis “Ini Budi”, “Ini Ibu Budi”, “Budi Bermain Bola”, atau yang paling ekstrim “Budi Tidak Jadi Bermain Bola Karena Takut Bom”. Apalah itu, yang penting kita sudah diajari cara membaca dan menulis yang benar.
Tulisan memang sangat sederhana. Namun memiliki arti yang sangat besar. Apa yang membedakan zaman sejarah dan prasejarah? Tulisan. Bagaimana suatu peradaban dapat disebut maju? Cerita dan tulisan. Memang banyak poin penting lain dalam peradaban, misalnya budaya, karya seni, bangunan, atau gerak tari dan lagu. Tapi bagaimana kita dapat mengerti semua itu jika tidak ada yang menceritakannya lewat (tu)lisan?
Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca ada seorang sejarahwan yang menulis protes terhadap sikap pemerintah yang terlalu mengagung-agungkan RA. Kartini sampai-sampai menjadikan hari kelahirannya sebagai hari nasional. (maaf, sumber belum saya lampirkan, masih mencari file lama). Usut punya usut, ternyata sejarahwan tersebut baru saja mengadakan riset mengenai banyak tokoh wanita Indonesia lain diantaranya Dewi Sartika, dari Jawa Barat. Menurut beliau, apa yang dilakukan Kartini belum ada apa-apanya dibanding apa yang dilakukan Dewi Sartika. Kartini hanya mempunyai gagasan terhadap pendidikan wanita, tetapi belum sempat mewujudkannya dalam sebuah prototype pendidikan (mungkin karena terburu tutup usia di usia relatif muda). Sementara Dewi Sartika pada zamannya sudah mampu mendirikan sekolah yang dinamakan Sakola Kautamaan Istri dan mewujudkan pendidikan yang berpihak pada emansipasi wanita secara nyata. Walau ditentang adat yang berlaku saat itu, Dewi Sartika tetap bersikukuh untuk mendidik para wanita. Genting dan arangpun dijadikannya sebagai media pembelajaran. (sumber = www.wikipedia.com/Dewi-Sartika ). Sementara, Kartini belum melakukan hingga sejauh itu. Sisa -sisa perjuangan Kartini yang masih dapat kita lihat hanyalah kumpulan tulisan beliau yang terangkum dalam buku yang disebut Habis Gelap Terbitlah Terang. Namun tidak kita temukan hasil jasa beliau berupa sekolah atau karya lain yang membuktikan bahwa jasa beliau patut diapresiasi. Jadi kenapa harus ada Hari Kartini, sementara tidak ada Hari Sartika?
Pertanyaanya, kenapa Kartini lebih populer dibanding Dewi Sartika. Jawabannya adalah Kartini menulis sejarahnya sendiri lewat tulisan. Sementara perjuangan Dewi Sartika hanya diceritakan lewat lisan orang-orang terdekatnya atau keturunannya. Masih dalam taraf informasi yang berdasarkan observasi para peneliti sejarah. Tanpa bermaksud menghakimi sejarah, namun saya dapat mengambil kesimpulan bahwa tulisan pun dapat mempengaruhi persepsi orang. Bahkan hingga sekian generasi sesudahnya. Kartini menulis, sementara Dewi Sartika tidak.
Cerita berikutnya kudapat dari buku Biografi Inggit Garnasih. Beliau adalah istri kedua Soekarno. Saya tidak akan pernah mengetahui tokoh ini jika tidak membaca sinopsis biografi karya Reni Nuryanti itu. Inggit tidak sepopuler Fatmawati ataupun Ratna Sari Dewi alias Naoko Nemoto, imported wife nya Soekarno. Padahal Inggitlah sahabat, kekasih, dan Ibu bagi Soekarno ketika dalam masa perjuangan pra kemerdekaan. Jika dibandingkan dengan Fatmawati yang jasanya dikenal karena menjahit Bendera Merah Putih, Inggit telah mendampingi Soekarno selama dua puluh tahun dengan lebih banyak duka daripada sukanya. Berjalan sejauh 20 km setiap hari demi mengantar makanan untuk Soekarno yang kala itu sedang dipenjara di Suka Miskin. Atau merawat Soekarno ketika sakit malaria di Ende Flores. Namun perjuangannya seperti habis manis sepah dibuang. Soekarno jatuh cinta lagi pada wanita lain dan menceraikan Inggit tepat menjelang kemerdekaan Indonesia.
Bahkan tulisanpun dapat mengubah sejarah.
Berdasarkan informasi di atas, saya secara tiba-tiba mendapat inspirasi untuk menulis. Ya entah apapun. Tulislah sejarahmu sendiri. Karena kemungkinan orang lain menulis tentangmu itu sangat kecil kecuali kamu mempunyai jasa yang besar atau bakat yang luar biasa.
Kartini yang hanya dianugerahi usia relatif singkat selama 25 tahun pun sudah mampu mengubah paradigma bangsa dengan tulisannya. Ya. Tulisan Kartini dapat mengubah sejarah. Saya malu kepada Kartini. Dengan usia yang relatif singkat itu, Kartini sudah dapat memberikan kontribusi berharga bagi Bangsa Indonesia (saya tahun ini masuk 21 tahun dan belum merasa telah memberikan sumbangsih berarti untuk negeri tercinta ini).
Atau saudari Reni Nuryati yang mengarang biografi Inggit Garnasih yang mampu membuka mata saya akan tokoh wanita penting yang mengantar sang suami memimpin proklamasi. Mereka adalah tokoh yang patut diteladani.
Tulisan di atas ditulis berdasarkan obrolan singkat dengan sahabat saya tempo hari.
Yogyakarta, Purple Room
27 Maret 2011, 14.46

